Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Peringatan


__ADS_3

Tristan dan Arindi berpamitan pada Anggara sebelum mereka meninggalkan apartemen Arindi.


"Kak Arin mau ke kampus ama Tristan," ujar Arindi pada Anggara yang baru masuk ke ruang tengah dengan membawa segelas kopi hangat.


"Naek apa lo kesini?" tanya Anggara pada Tristan.


"Motor kak," jawab Tristan sambil menyebutkan jenis motornya. Ia merasa heran kenapa Anggara bertanya seperti itu.


"Nih," Anggara melempar kunci mobil Arindi pada Tristan. "Pake mobil aja," lanjutnya.


"Enak pake motor kak, ga macet," jawab Arindi.


"Abis itu kalo lo gak ada kuliah atau kerjaan temenin gue ke bengkel. Gue ga tau bengkel yang bagus disini."


Anggara seolah tak mendengarkan kata-kata Arindi barusan dan terus berbicara pada Tristan. Arindi pun memandang jengkel pada Anggara.


Ia bukannya ingin sedang mengusili Arindi namun lebih karena ia merasa bersalah telah membuat adiknya menangis. Ia hanya tak suka menunjukkannya saja bahwa ia sayang pada adik semata wayangnya itu.


"Ehm ya kak, sekitar jam makan siang gue kesini," jawab Tristan cepat sambil memandang Arindi memberi kode agar mengiyakan saja perintah Anggara. Ia tak ingin adik kakak ini berdebat lagi.


"Hmmm... good. Ya udah sana pergi," jawab Anggara cuek.


.


.


"Maafin sikap kasar kak Anggara ya," ujar Arindi setelah mobil mereka melaju.


"Gapapa kok Rin. Dia gitu karena dia sayang sama adiknya."


"Sayang apaan. Gue udah kaya kacung dari kemarin...." Arindi pun menceritakan semua hal yang terjadi setelah Anggara datang ke apartemennya.

__ADS_1


Tristan hanya tersenyum setengah tertawa mendengar semua itu. Bukan karena ekspresi kesal Arindi saat bercerita saja. Tapi karena ia teringat betapa kesalnya dirinya kemarin saat Anggi memberinya video Arindi dan Anggara dan sekarang keadaan berubah seratus delapan puluh derajat dengan mudah.


"Kenapa senyum senyum sih kak?" ujar Arindi makin mengerucutkan bibirnya.


Tristan menoleh pada Arindi lalu menggenggam tangan gadis itu. "Gapapa kok, kakak cuma seneng karena semua salah paham ini akhirnya bisa selesai."


"Salah paham? Ooh soal tadi pagi?"


Tristan hanya mengangguk. Tentu saja banyak kesalahpahaman yang terjadi pada dirinya kemarin. Bukan semata karena Anggara tapi juga dari orang lain. Tristan merasa beruntung ia tidak menerima mentah-mentah berita negatif tentang Arindi.


.


.


"Selesai jam berapa kuliahnya?" tanya Tristan setelah mobil mereka tiba di depan gedung jurusan Arindi.


"Uhm malem mungkin kak, Arin mau ke studio hari ini. Ada praktek tambahan. Kakak mau kemana?"


"Mau ke jurusan, mau nyelesain pemberkasan."


"Kenapa? Kamu khawatir?" goda Tristan. "Jangan khawatir, buktinya kakak bertahan kan sampe sekarang?"


"Ya tapi kak... Kak Anggara itu...."


"Udah ya sayang. Kamu nanti telat loh," ujar Tristan sambil membelai lembut pipi gadis itu sebelum akhirnya mereka berpisah.


.


.


Tristan tiba di apartemen Arindi tepat sebelum jam makan siang. Pintu langsung terbuka setelah ia membunyikan bel seolah memang kedatanganya sudah di tunggu-tunggu.

__ADS_1


"Tepat waktu juga lo," ujar Anggara dingin seperti biasa sambil melihat jam ditangannya. Tidak ada Arindi disini. Jadi ia bisa berbuat hal sesuka hatinya, pikir Anggara.


"Kebetulan jalanan ga macet," jawab Tristan beralasan. Ia memang sengaja mengurus pekerjaannya di kampus dengan cepat. Karena ia tak ingin datang terlambat. Ia bukannya takut, ia hanya ingin terlihat baik di depan pria ini.


Pria yang saat ini telah mengenakan setelan jas lengkap dari atas kebawah dengan warna senada. Rambut tersisir rapi yang telah diberi gel rambut sebelumnya. Sepatu hitam mengkilapnya sama mengkilap dengan jam tangan mahal yang melingkar di lengan kirinya.


Anggara pun bangkit dari sofa yang tadi didudukinya. "Ayo ikut gue," perintahnya pada Tristan yang bahkan tak sempat melepas sepatunya.


Tristan hanya mengekor langkah cepat Anggara. Ia tahu tak perlu banyak berbicara menghadapi orang seperti ini. Cukup lakukan saja hal yang ia pinta selagi permintaannya masuk akal.


"Kita mau kemana?" tanya Tristan kemudian saat keduanya berada di dalam lift. Ia menyadari satu hal. Jika Anggara akan ke bengkel tidak mungkin ia mengenakan pakaian formal lengkap seperti ini.


"Kita ga akan ke bengkel. Gue bohong soal itu. Lo ga ada kuliah kan?"


"Gue udah mau selesai kuliah."


"Jadi lo udah mau wisuda?"


"Iya kak."


"Apa rencana lo kedepan?"


"Rencana ke depan...."


"Jangan pernah deketin adek gue kalo lo bahkan ga bisa buat rencana kedepannya. Gue ga akan ngebuat dia menyia-nyiakan waktu sama orang yang ga punya masa depan." Anggara memotong perkataan Tristan begitu saja. Ia bahkan mengatakan hal-hal yang ada di dalam hatinya tanpa berbasa-basi.


"Lo tau...," ujar Anggara lagi sebelum Tristan sempat berbicara. "Dia adek gue satu-satunya. Seberapapun jahat gue di matanya. Tapi di mata gue dia orang yang paling gue sayang," tambah Anggara.


Anggara berhenti tepat di samping mobil Arindi. Ia menatap lurus pada Tristan seolah kata-katanya barusan keluar dari matanya.


Tristan hanya diam membalas tatapan Anggara. Tinggi mereka berdua hampir sama sehingga mata mareka bisa menatap lurus satu sama lainnya. Ia tak ingin mendebat kata-kata Anggara barusan.

__ADS_1


Ia juga tahu ia tak harus memberikan penjelasan mengenai rasa sayangnya pada Arindi pada Anggara. Karena saat ini yang ingin Anggara lakukan pada Tristan adalah memberinya peringatan sebagai bentuk kasih sayang kakak pada adiknya.


Setelah itu Tristan diminta mengantarkan Anggara menuju tempatnya melakukan rapat bisnis. Namun ia tak meninta Tristan menunggu. Ia menyuruh Tristan untuk kembali ke kampusnya dari pada menunggunya.


__ADS_2