Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Kebohongan Anggi


__ADS_3

Tiriring ting. Sebuah pesan chat masuk ke hp Arindi. Ia pun membukanya lalu terdiam membaca pesannya dengan cermat. Melihat Arindi terdiam, Tristan merasa heran.


"Dari siapa?" tanya Tristan.


"Kak Anggi."


"Anggi? Kenapa?" tanyanya lagi.


Nadine, Vivian dan Rasya langsung saling bertatapan mata setelah Arindi menyebutkan nama itu. Mereka seperti tahu sesuatu mengenai Anggi.


"Uhm Arin sebenernya ga bisa bilang...."


"Kenapa sih Rin? Apa yang lo ga bisa bilang?" tanya Nadine ikut penasaran.


Tristan pun memiringkan duduknya, ia melihat ke arah Arindi. Ia terlihat mengkhawatirkan sesuatu. Tapi tak hanya Tristan, ketiga sahabatnya juga memikirkan yang sama.


"Iya, kenapa? Apa sesuatu yang penting?" tanya Tristan lagi.


Arindi bingung, jika ia tak mengatakannya Tristan dan yang lain akan semakin curiga, tapi jika ia mengatakannya ia merasa seperti berkhianat pada Anggi.


"Engga, ini kak Anggi mau minta tolong doang ke Arin," ujar Arindi kemudian.


"Kalo cuma minta tolong sih kenapa ga mau bilang?" tanya Rasya.


"Iyya, kecuali dia minta tolong sesuatu yang berbahaya," tambah Vivian.


Tristan masih menatap kearahnya, ia tak berkata lagi tapi jelas dimatanya menuntut Arindi untuk tak merahasiakan sesuatu darinya. Arindi yang merasa sudah tertekan lalu mau tak mau memberitahu mereka. "Jadi gini, dia mau minta tolong revisi laporan pertanggungjawaban keuangan."


"Revisi laporan pertanggungjawaban? Itu kan tugas dia?" tanya Tristan kemudian.


"Iya dia minta tolong banget soalnya dia bilang ada urusan pribadi dan harus dirahasiain, terutama dari kakak...," ujar Arindi. Anggi memang meminta ia untuk tidak memberitahu alasannya pada siapapun, terutama Tristan.


"Loh kenapa harus dirahasiain? Semua laporan nanti ujungnya masih ke kakak juga persetujuannya kan?" ujar Tristan menjelaskan.


Ia menatap Arindi penuh harap. Arindi tiba-tiba berfikir bahwa apa yang dikatakan Tristan benar, ia mulai meragukan alasan kenapa ia harus merahasiakannya dari Tristan.


Semua laporan yang Anggi buat pada akhirnya tetap harus sepengetahuan ketua BEM dan Tristan bukanlah ketua yang kejam kepada bawahannya, alasan yang dibuat Anggi pasti Tristan bisa mengerti. Akhirnya ia menceritakannya.


"Ya karena ada keadaan darurat, jadi kak Anggi harus pulang ke rumah sekarang. Dia bilang nyokapnya sakit, jadi dia mau ke rumah sakit lagi kak. Waktu itu juga dia bilang gitu, jadi Arin pikir mungkin sakitnya benar-benar mengkhawatirkan...."


"Tunggu, nyokap?" Tristan memotong kata-kata Arindi. "Maksudnya mamanya?"

__ADS_1


"Iyya kak, kenapa emang?"


"Trus waktu itu? Waktu Celyn dateng karena pesan dari hp kamu?" Tristan mencurigai sesuatu.


"Iyya kakak, waktu itu juga dia bilang gitu. Dia mungkin merasa ga enak kalo sering izin, makanya di minta dirahasiain. Arin minta kakak jangan marah ya ke kak Anggi, dia...."


"Dia bohong," ujar Tristan tiba-tiba. "Mamanya udah meninggal dua tahun lalu karena kanker."


"Apa?" Arindi terperangah.


"Apa? serius lu Tan?" tanya Nadine tak percaya.


"Kakak ga bohong kan?" Rasya pun begitu.


"Iuya, anak-anak pada dateng kok ke pemakamannya," jawab Tristan.


"Terus nyokap yang dia bilang?" ujar Vivian mulai gelisah.


"Jadi dia bohong? tuh kan bener... gue udah mikir ga enak sama anak itu...." timpal Rasya.


"Iyya bener... gue juga," ujar Nadine.


Arindi masih mematung tak percaya. Ia membayangkan ekspresi ceria yang selalu tergambar di wajah kak Anggi, ia tak menyangka seseorang yang memiliki ekspresi itu bisa berbohong dan mengatasnamakan seseorang yang telah meninggal, terlebih lagi itu orang tuanya sendiri.


Tristan menangkap ekspresi Arindi. Ia tahu ada emosi di matanya, perasaan marah yang tertahan di dalam hatinya.


"Rin, gapapa?" tanya Tristan khawatir.


"Apa alasan dia berbuat itu?" Mulut Arindi bergetar, matanya tetap menatap tajam pada gelas di depannya. Ia mengepalkan tangannya. "Kenapa dia bohong ke gue, kenapa dia tega berbohong dengan nama nyokapnya yang udah meninggal? Gue harus tanya sendiri ke dia apa alasannya."


Arindi pun berdiri dari tempat duduknya. Tristan tahu emosi Arindi mulai tak terkendali, ia pun cepat berdiri dan menahan bahu gadis itu.


"Mau kemana? Kita ga bisa nyelesain hal kaya gini dengan emosi, kita harus tahu dulu apa alasan dia berbuat ini sekarang. Kita harus punya rencana ngadepin orang kaya dia." Tristan berusaha meyakinkan Arindi. Semua akan kacau kalau gadis itu mulai emosi.


Tiriring ting!!


Sebuah pesan obrolan masuk lagi. Arindi yang masih berdiri pun duduk kembali, ia membuka pesan chat baru yang dikirim Anggi.


Kak Anggi


_________________________________________________

__ADS_1


Rin, bisa kan dateng sekarang? 09.20


_________________________________________________


Arindi menatap tajam pada isi pesan itu. Lalu perlahan Tristan mengambil hp Arindi dan mematikan layarnya lalu menaruhnya di meja.


"Yang dibilang kak Tristan bener Rin. Tapi tenang gue punya ini." Vivian membuka laptopnya, ia membuka sebuah folder berjudul 'VolderAnggi' yang ada di desktop-nya. Didalam folder itu ada beberapa video. Ia pun membukanya satu persatu. Semua mata tertuju pada laptop Vivian.


"Jadi kak Tristan... Arin...." Vivian mulai menjelaskan. "Inget ga waktu kejadian Celyn ngelabrak Arin gara-gara sms provokasi yang dikirim dari hp Arin? Nah hari jumat kemaren waktu kalian jadi panitia Seni, gue sama Nadine diem-diem ngecek CCTV di depan gedung sekret, ternyata ga ada video yang nunjukin kalo Celyn masuk ke gedung itu sebelumnya. Di CCTV cuma nunjukin beberapa orang yang keluar dari gedung. Nah kita mikir kalo emang ga ada orang yang masuk tepat pada jam sebelum sms dikirim, itu berarti pelakunya emang sudah ada di dalam dan pelakuknya orang yang bisa dengan leluasa ada di samping Arin selama di dalam sana. Kita pun diem-diem ngecek CCTV di dalem ruangan kalian, nah inilah hasil yang kita dapat. Kalian liat kan?"


Vivian menunjukkan video itu pada Tristan dan Arindi yang masih bingung. "Ada cewek yang mendekat ke meja yang tadi Arin duduki, trus dia pegang hp Arin, kita ga tau siapa namanya, kita simpen aja video ini siapa tahu berguna, tapi kalo bener tebakan gue, ini kan yang namanya Anggi?"


"Si pengirim pesan sebenernya," ujar Nadine menyimpulkan.


"Trus ini video yang didapet Rasya dari toko didepan gedung serbaguna. Kita inisiatif aja pengen ngecek kesana karena menurut gue kayanya ga masuk akal kalo Celyn bisa tiba-tiba dateng ketempat kalian tanpa ada yang kasih tahu. Nah nih liat ada yang turun dari mobil, dia duduk di kursi belakang. Liat dia pegang hp nya. Keliatannya dia lagi ngetik sesuatu di hpnya. Dan liat 10 menit kemudian mobil siapa yang dateng tiba-tiba, Celyn kan? Jadi kemungkinan Celyn bisa tahu posisi kalian karena cewek itu kirim pesan ke Celyn," jelas Vivian lagi.


"Wah gue ga nyangka, diem-diem ternyata hatinya busuk juga," ujar Nadine gregetan.


"Humh, gue pikir gue waktu itu salah liat." Tiba-tiba Tristan teringat sesuatu. Arindi masih diam memperhatikan mereka.


"Kenapa emang kak?" tanya Rasya kemudian.


Semua mata pun memandang Tristan. "Waktu itu Celyn pernah nunjukin foto di hp nya, foto waktu gue sama Arindi di taman."


"Owh yang waktu Arindi ga bisa masuk gara- gara tasnya gue bawa, kalian waktu itu nunggu di taman kan?" tanya Nadine.


"Iya. Foto itu. Gue liat nomor pengirimnya nomor Anggi, gue sempet ga percaya, tapi dengan semua bukti ini gue yakin dia memang punya niat buruk ke Arindi," jelas Tristan.


"Rin hati-hati Rin, mending ga usah di temuin deh Rin," ujar Nadine sedikit cemas.


"Iya sayang gue ga mau lu kenapa-napa lagi," tambah Rasya.


"Tapi gue harus ketemu, kalo emang dia gitu gue pengen tahu alasannya kenapa dia gitu. Gue harus buat perhitungan ke dia," jawab Arindi.


"Tapi lo gapapa Rin?" tanya Nadine kemudian.


"Selama gue belum tahu alasannya gue ga bisa bilang gue gapapa, kirim Vi video nya ke hp gue."


"Ok, tapi gue minta hati-hati ya Arin."


"Kalo emang gitu, biar kakak temenin, buat jaga-jaga," jawab Tristan.

__ADS_1


Mereka berdua pun pamit ke yang lain dan segera pergi ke gedung sekretariat BEM.


__ADS_2