
Cahaya mentari yang hangat menerobos jendela kaca kamar Arindi. Gordennya yang tipis tak mampu menghalangi sinarnya yang menyilaukan mata .
Arindi tertidur pulas semalam. Ia ingat sebelum merebahkan dirinya di tempat tidur, ia sempat melirik jam dindingnya, jamnya menunjukkan pukul sembilan. Pagi ini ia bangun dan melihat jarum jam tepat di angka sembilan.
"Gue tidur dua belas jam."
Arindi tersenyum senang dengan pencapaian itu. Ia pun menelentangkan tubuhnya, merentangkan tangannya dan membuka lebar kedua kakinya lalu memandang lurus ke langit langit kamarnya yang beraksen putih. Ia menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya teratur. Hari ini ia merasa sangat segar dan penuh energi positif.
Ia belum punya rencana bagaimana ia harus menghabiskan hari minggunya ini. Arindi pun duduk melipat kaki, ia mengambil hp-nya yang ia taruh di atas nakas disamping tempat tidur, ia berharap kemajuan teknologi dapat memberinya ide brilian untuk mengisi waktu liburnya.
Ia mengetuk layar hp-nya, membuka bar notifikasinya, membaca beberapa pemberitahuan yang terlewatkan semalam. Beberapa pemberitahuan dari akun media sosialnya dan beberapa email sampah. Ia membersihkan layarnya menyisakan dua hal ini.
70 pesan dari 5 chat.
4 panggilan tak terjawab.
Arindi memeriksa riwayat panggilan dan ternyata semuanya dari keempat sahabatnya. Lalu memeriksa pesan chat, empat chat adalah obrolan grup dan satu chat pribadi. Ia fokus pada chat pribadi itu. Ia tidak menyimpan nomor si pengirim tapi ia tahu siapa yang mengiriminya pesan itu. Ia pun membuka pesan obrolan yang dikirim Tristan semalam.
_________________________________________
082xxxxxxxxx
Udah tidur Rin? 21.58
Gimana tangannya? 22.00
Masih berasa sakit? 22.00
_________________________________________
"Humh...Gue udah tidur jam segitu."
Arindi teringat dengan tangannya yang terluka, ia melihat plester luka yang dipasangkan Tristan semalam masih menempel di lengannya. Ia tersenyum memandangnya. Entah karena energi positif itu atau apa, tapi Arindi sama sekali tidak merasakan kemarahan dalam dirinya saat memandang luka yang ia dapat karena kejadian semalam. Padahal kejadian kemarin sangat membuatnya ingin mengamuk.
"Bales ga ya? Bales sekarang gapapa kali ya?"
^^^___________________________________________^^^
^^^Udah tdur kak smlem. 09.15^^^
^^^G skit lgi, udah smbuh kyanya (。•̀ᴗ-)✧. 09.15^^^
^^^___________________________________________^^^
Membaca pesan itu membuat Arindi tiba-tiba mendapat sebuah ide. Ia sudah memutuskan akan melukis hari ini, melukis di sebuah kanvas besar. Ia akan membuat skala besar dari sketsanya kemarin yang ia buat saat di lokasi pengungsian.
"Humh sepertinya banyak yang harus gue beli, tapi sebelumnya ... gue harus nelpon Rasya dulu, kira kira ada ruang kosong ga ya hari ini?"
Ia membuka kontak di hp-nya, lalu mencari nama Rasya. Jika ingin melukis di kanvas besar biasanya Arindi meminjam salah satu ruang di studio foto Rasya. Ia tidak bisa menggunakan apartemennya, selain karena ruang geraknya bakal terbatas, juga sulit memindahkan ukuran kanvas yang besar dari bawah ke apartemennya di lantai 10.
...----------------...
Arindi baru selesai mandi dan berpakaian. Ia juga telah mengemas beberapa alat lukis yang bisa ia bawa di mobilnya. Beberapa barang pribadinya sudah di masukkan dalam tote bag-nya. Ia memeriksa hp nya sebelum dimasukkan dalam tas ternyata ada balasan dari Tristan. Tristan sedang online.
_________________________________________________
Ke rs dulu. 09.30
Biar diobatin bener bener. 09.30
^^^Ini bru mw prg kok 10.15^^^
Ke RS? 10.15
^^^Ga. Bli alat lukis 😆😆 10.15^^^
_________________________________________________
"Luka segini doang ke rumah sakit."
Arindi masih bisa bercanda saat Tristan bertanya serius. Ia tak pernah tahu bahwa Tristan benar-benar khawatir. Ia pun turun menuju mobilnya siap berangkat.
...----------------...
Arindi tiba di toko alat lukis, ada banyak barang yang ingin ia beli, kanvas ukuran besar, beberapa kaleng cat, kuas ukuran besar dan easel. Ia mematikan mesin mobilnya, tapi sebelum turun ia mengecek hp-nya lagi. Pesan balasan dari Tristan lagi, ia masih online.
________________________________________
Ga obati lukanya dulu? 10.16
^^^Ntar lah, ini dlu penting 10.50^^^
Obati lukanya dulu 10.50
________________________________________
"Langsung dibales? Ni orang gada kerjaan apa?"
"Lagian cerewet banget sih."
Arindi tak membalas pesan itu. Ia turun menuju ke toko alat lukis dan membeli cukup banyak peralatan lukis. Ia membawa beberapa barang yang ia bisa bawa masuk ke mobil, sisanya kanvas besar dan sejumlah kaleng cat akan dikirim langsung dengan mobil pengiriman toko.
Arindi belum naik ke mobil, ia berniat mampir ke toko roti yang berkelang satu blok dari toko alat lukis. Toko favoritnya. Arindi bukanlah penganut makan rutin 3 kali sehari. Ia makan hanya saat lapar dan ia hanya makan apa yang ia ingin makan.
Selesai membeli camilan, ia keluar dari toko roti favoritnya itu. Ditangan kirinya ia menenteng satu kantong penuh dengan camilan, yang berbau cokelat tentunya. Ia ingin segera pergi tapi ia teringat dengan luka gores ditangannya. Sebuah goresan yang cukup panjang, ia baru sadar setelah ia melepas plester lukanya tadi sebelum mandi. Ia berniat membeli plester yang baru.
Arindi mencari apotek didekat sana. Setelah berjalan beberapa blok akhirnya ia menemukan sebuah apotek. Ternyata ada dokter umum praktek di sana. Ia pun memutuskan untuk sekalian memeriksa lukanya, terpikir olehnya seandainya luka itu berbahaya.
"Goresannya tidak berbahaya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," pesan dokter yang memeriksa Arindi. Arindi lega mendengarnya. Arindi pun hanya membeli obat oles dan plester untuk menutupi lukanya.
Ia masih duduk di kursi tunggu di dalam apotek, ia mengeluarkan hp-nya lalu mengambil foto tangannya yang sudah diberi obat dan plester. Ia mengirim foto itu ke Tristan.
"Biar dia ga cerewet lagi."
Arindi baru akan berdiri, suara notifikasi hpnya berbunyi.
_________________________________________________
Cuma di plesterin? 11.30
^^^Udh ke dktr, dokterny blng aman kok 11.30^^^
__ADS_1
Oo. 11.31
Ok. 11.31
^^^👌 11.31^^^
Have a gud day 11.31
_________________________________________________
Ia pun menuju studio Rasya, hari mulai terik, ia berjalan cepat menuju mobilnya.
...----------------...
Arindi baru selesai menuntaskan makan siangnya, dua buah roti cokelat, sebatang cokelat dan satu botol air mineral. Ia telah berganti pakaian, rambutnya sudah dicepol, kanvas sudah terpasang. Ia siap berkarya. Tapi sebelum itu ia ingin mengirim pesan ke Tristan, balasan pesan Tristan terakhir masih menggantung bagi Arindi.
_________________________________________________
^^^👌. 12.40^^^
^^^Gw mw berkarya dlu 12.40^^^
^^^Ntar gue ksh liat klo udh. 12.40^^^
Ok sip. Gue tunggu. 12.41
_________________________________________________
Arindi telah tenggelam dalam karyanya. Saat ia sedang fokus ia tidak bisa diganggu. Ia akan lupa waktu jika sudah menekuni hobinya ini. Terkadang ia bahkan lupa kalau hari sudah berlalu.
...----------------...
Sementara itu, siang ini Tristan dan Rendi sedang ada di rumah Joe. Mereka baru saja melihat orang tua Joe yang baru saja pulang dari rumah sakit. Mereka bertiga sedang mengobrol di halaman belakang rumah.
"Lu kenapa sih Tan, dari tadi senyam senyum sendiri ngeliatin hp, lu lagi chat sama siapa sih?" tanya Joe.
Joe menyadari ada hal yang berbeda dari Tristan hari ini. Tak biasanya Tristan sibuk dengan hp-nya, mengingat ia adalah pemegang gelar jomblo abadi.
"Arindi ya kan?" tebak Rendy.
"Kenapa sih? ga ada kok." Tristan menyimpan hp nya di saku celananya.
"Tuh kan makin bikin penasaran, tumben banget hp nya di simpen segala, biasa di taroh aja sampe di lalerin," ejek Joe.
"Ya biasa aja lah," jawab Tristan santai.
"Tan, lu lagi jatuh cinta ya?" ujar Rendy heran.
"Jatuh cinta apaan, mulai ngaco kan bedua."
"Udah Tan ngaku aja, aura orang lagi jatuh cinta itu terpancar, nih kaya elo ni sekarang," jelas Rendy.
"Uhhmm, Tan, lo liat kita berdua, udah berapa lama sih kita kenal, kita udah tau lo itu gimana, hari ini beda banget gak kek lu biasanya," cecar Joe.
Udah ah...."
"Uhm... Belom tau dia. Pokoknya Tan sebisa mungkin lu jangan suka sama Arindi, kalo lo ga pengen motor gue ilang."
"Tuh kan... lo lagi jatuh cinta kan?" ujar Rendy.
"Hahahha serius Tan, siap siap lo Ren, sama siapa Tan? Arindi? Serius sama dia?"
"Mau gue plites mulut lo?" ujar Tristan.
"Ati ati lo Tan. Oh ya ngomong ngomong katanya semalem dia berantem sama Celyn?" tanya Rendy.
"Lo tau dari mana?"
"Siapa yang berantem?" ujar Joe penasaran.
"Arindi sama Celyn, gue tau dari Anggi, dia nelpon pagi tadi. Trus gimana?" ujar Rendy.
Tristan pun menceritakan soal kemarin pada Rendi dan Joe. Kedua orang ini memang sahabat yang bisa dipercaya, mereka memang selalu bercerita satu sama lain jika ada masalah.
"Rrus gimana sekarang?" Joe masih penasaran.
"Ya sekarang Arindi sih biasa aja, kalo Celyn gue ga tau."
"Kalo Celyn udah tau dari dulu gimana sifatnya, Arindi... Ternyata berani juga, gue pernah tau sih dia pernah belajar bela diri, selaen temperamennya yang gampang emosian, ternyata dia berani juga," ujar Rendy.
"Wah, cewek tangguh, gue banget," celetuk Joe.
"Pa an sih lo, pacar lo mau di kemanain. Trus Tan lo mau gimana sekarang?"
"Emangnya gue harus apa?"
"Ya ambil keputusanlah," ujar Rendy.
"Bener Tan. Lu harus pilih lah. Lo harus pacaran sama Arindi, biar status lo jelas dan lo punya alasan buat ngelindungi dia dari Celyn, sekalian biar Celyn juga tahu perasaan lo atau lo jauhin Arindi, ya emang ga ada jaminan Celyn ga akan jauhin lo tapi paling engga dia ga bakal ganggu Arindi lagi," jelas Joe.
"Maksud lo?"
"Intinya gini , lu suka sama Arindi?" tanya Rendy.
"Kenapa tiba-tiba lo nanya gitu."
"Fyuuuuuh...Tan lo itu suka sama Arindi, coba lo inget inget pernah ga lu seperhatian itu sama cewek, kalo emang suka ya tembak lah. Jadi status lo itu jelas. Selama status lo open, Celyn bakal terus halu dan merasa lo punya dia," jelas Rendy lagi.
"Ahhh ga tau deh...," ujar Tristan bingung.
"Ya atau cara simple nya aja, biar gue gebet Arindi, gampang kan, semua bakal normal lagi kan?" jawab Joe asal.
"Normal pala lu...," jawab Rendy.
"Lo mau mati?" tanya Tristan kemudian.
"Jiiaaaaah...," ujar Joe dan Rendy berbarengan.
"Marah dia Ren, kenapa lo marah, lu cemburu?" tanya Joe.
"Akhhirnya sahabat gue ini normal...," tambah Rendy.
__ADS_1
"Ahahahhaha...."
"Ngomong ngomong lu yakin Anggi yang cerita soal itu?" tanya Tristan penasaran.
"Kuping gue belom budeg Tan, nih kalo ga percaya cek henpon gue," jelas Rendy.
Tristan hanya tak yakin Anggi bercerita dengan mudahnya soal kejadian semalam pada orang-orang.
...----------------...
Arindi menyudahi dulu pekerjaannya, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tangannya terasa pegal dan perutnya mulai lapar. Lagi pula pengerjaan lukisan di kanvas besar dengan teknik fat over lean harus benar benar memerlukan kesabaran jika ingin mendapatkan hasil yang bagus.
Arindi tak hanya ingin mendapatkan hasil yang bagus, ia ingin nilai yang sempurna untuk lukisan ini. Karena lukisan ini nantinya akan dijadikannya projek akhir semester.
Ia telah selesai mengganti bajunya, hp nya berbunyi dari tadi.
"Halo Sya." Arindi menelepon.
"Dimana? Buruan, gue tunggu di bawah...," jawab Rasya.
Suara Rasya berdenging di telepon. Rasya akan menutup studionya. Arindi pun bergegas turun.
Dibawah Rasya dan Nadine sudah menunggunya. Mereka juga baru saja selesai mengerjakan tugas maket mereka. Mereka ingin makan di luar malam ini. Vivian sudah lebih dulu pergi ke restoran yang dimaksud untuk mereservasi tempat.
...----------------...
Keempat sahabat itu makan di sebuah restoran Jepang. Mereka sedang duduk dalam satu ruangan pribadi. Di meja terhidang berbagai makanan khas Jepang. Sudah lama mereka tidak berkumpul bersama karena kesibukan yang berbeda- beda.
"Arin sayang, ini kenapa tangannya?"
Vivian menyadari plester luka di tangan Arindi saat mereka sedang mengobrol. Arindi pun menceritakan bagaimana ia bisa mendapat luka gores itu.
"Apa???" ujar Nadine sambil memukul meja.
"Astaga Rin, kenapa ga cerita sih Rin," ujar Rasya.
"Belom sempet aja Sya cerita."
"Dasar nenek lampir sialan *****#***"£#£".
Vivian yang biasanya bersuara manja menjadi mengeluarkan umpatan umpatan kasar.
"Vi? Sabar Vi," Ujar Arindi kemudian.
"Kita laporin ke pihak berwajib aja," ujar Rasya.
"Bener Sya, atau ga kita sewa pengacara, Sya firma hukum bokap lu aja, sewa satu pengacara handal aja Rin," tambah Nadine.
"Kalian apa apaan sih?"
Arindi lanjut makan seolah tak perduli dengan kekhawatiran dan kemarahan sahabatnya.
"Rin yang kaya begini tuh udah kelewatan," jelas Rasya.
"Iyya Arin sayang, dia nganggap remeh kita banget," tambah Vivian.
"Iya Rin, lu kok santai aja sih?" Nadine terlihat heran.
"Iyya Rin tumben lu santai banget," ujar Rasya juga.
"Ya santai aja lah, ngapain di bikin pusing, orang kaya itu mah buang ke laut, lagian gue gada apa apa sama Tristan."
"Lu sakit Rin?" tanya Nadine masih heran.
"Trus Rin lu udah jadian sama Tristan?" ujar Vivian polos.
Bruuus!!
Arindi tiba-tiba menyemburkan makanannya, beruntung ia cepat menutupkan serbet makan ke mulutnya.
"Uhuukk, lu ngomong apa sih Vi?"
"Lu jadian ya Rin?" tanya Nadine kemudian.
"Iyya, lu kayanya akrab banget sekarang?" tambah Rasya.
"alian apaan sih? Gue deket salah, bukannya seneng, kan artinya gue menjalankan taruhan sesuai aturan lo kan. Lagian gue ga akan nyerahin harta gue ke kalian, tenang. Gue cuma mau cepet-cepet nyelesain 100 hari."
"Serius sebatas itu? Kok kayanya engga?" Nadine mulai curiga.
"Maksud lu apa Nad?"
"Maksudnya lo beneran suka sama Tristan. Gitu?" tanya Rasya.
"Jangan ngaco deh ya. Suka? Gue suka dia? Mana mungkin."
"Tapi yang lebih lenting lu harus hati hati sama nenek lampir Rin. Trus malem itu dia bisa samperin lo, dia tau dari mana?" ujar Vivian mencurigai sesuatu.
"Ya ga tau, gue juga sempet mikir dia kok bisa muncul disana? Kebetulan atau apa? Gue ga punya ide sih."
"Kejadian di perpus juga masih bikin bingung, apa jangan - jangan itu ulah dia juga?" tanya Rasya lagi.
"Gue ga mau asal nebak sih, tapi ga mungkin juga dia kan."
"Apa batalin aja sih Sya, Nad kesepakatan kita, kalo sampe Arindi ada apa apa gimana?" tanya Vivian mulai khawatir.
"Gapapa, lu tenang aja... lagian gue ga mungkin kan ngelanggar janji gue juga."
"Tapi Rin lu harus hati hati lagi mulai sekarang," seru Nadine.
"Kalo ada apa apa kabari kita ya Rin," Rasya menambahkan.
"Gue bakal siap bantu apapun Rin, tenang aja," tambah Vivian.
"Uuuuuuu kalian yang terbaek," jawab Arindi.
"Rin ngomong ngomong acara Gelaran Seni Budaya kapan diadain?" tanya Nadine.
"Empat minggu lagi. Minggu ini kan kita kuis dulu. Pusing dulu..."
Mereka pun menikmati makan malam mereka sambil mengobrol santai, tak lagi membicarakan soal Celyn atau Tristan. Tapi di pikiran ketiga sahabatnya, mereka masih memikirkan kelakuan berbahaya Celyn, mereka mengkhawatirkan Arindi.
__ADS_1
Energi positif di tubuh arindi rupanya bisa bertahan selama ini. Apa alasannya Arindi tak pernah menyadarinya. Dia bukan orang yang mudah merasa baikan jika dirinya diperlakukan tidak adil, tapi sekali ini masalah kemarin seolah tak berarti apapun baginya, hanya kenangan indah yang terekam dengan baik di memorinya. Sekali lagi ia tak menyadarinya.