
Celyyyynnnnn....!!!
Tiba-tiba suara teriakan yang Arindi kenal, suara Vivian dan Nadine bersamaan. Lalu tak lama suara Rendy dan Joe memanggil Tristan. Mereka berempat berusaha memegangi Celyn yang semakin menggila.
Rasa sakit merambat ke seluruh tubuh Tristan dengan cepat. Pegangannya pada Arindi makin melemah, ia merasa tenang mendengar suara temannya yang datang. Ia melepaskan pegangan tangannya pada Arindi. Ia berbalik pada temannya, meminta bantuan untuk mengurus Celyn.
Joe dan Rendy sekuat tenaga memegang Celyn, Nadine menelpon pihak keamanan. Vivi berusaha merebut tas tangan dan pisau yang dipegang Celyn. Mereka berusah keras menjauhkan gadis gila itu dari Tristan dan Arindi.
"Tan biar kami yang urus, lu buruan ke rumah sakit," ujar Rendy dari kejauhan.
Tristan hanya mengangguk, ia hampir saja ambruk, tubuhnya menahan sakit sejak tadi. Beruntung Arindi bergegas memegang kedua tangannya. Tristan pun mencoba menguatkan tubuhnya, ia menatap pada Arindi.
Gadis itu masih terisak menangis, tubuhnya gemetar, ia berusaha menahan suara tangisannya sambil berusaha memegangi Tristan.
Arindi semakin terisak melihat Tristan yang dipenuhi darah di bahunya.
"Kak... da-rahnya...," ujar Arindi lirih.
Tristan pun menegapkan tubuhnya yang mulai terasa seperti tersayat-sayat, dengan sisa tenaga yang ia miliki. Lalu...
Greep!! Tristan memeluk tubuh Arindi yang masih bergetar ketakutan. Ia melingkarkan tangan besarnya ke pinggang Arindi. Satu tangan lainnya menyandarkan perlahan kepala gadis itu kedadanya yang bidang. Ia mengusap perlahan rambut Arindi berusaha menenangkannya.
"Jangan liat, gue gapapa. Ga usah nangis lagi." Ia menyembunyikan kepala gadis itu dalam pelukannya. Ia tak ingin Arindi melihatnya terluka terlebih lagi ia tak ingin Arindi melihatnya tak berdaya seperti saat ini. Arindi hanya menutup mulutnya yang bergetar, air matanya terus mengalir.
Pelukan Tristan yang hangat akhirnya membuat Arindi tenang. Tristan memberi Arindi sedikit ruang setelah ia yakin Arindi lebih baikan. Arindi mengangkat kepalanya perlahan menatap pada wajah Tristan.
Tristan pun akhirnya melepaskan pelukannya, matanya tak lepas menatap pada Arindi yang masih sedikit terisak. Tristan menyeka air mata yang terus mengalir tanpa terkendali diwajah gadis itu.
Kedua tangan Tristan merengkuh wajah kecil Arindi. Arindi bisa merasakan kehangatan dari tangan Tristan. Tangan Arindi yang penuh darah memegang perlahan kedua tangan Tristan yang ada di wajahnya.
"Kita harus ke rumah sakit," ujar Arindi perlahan.
Tristan hanya mengangguk menyetujui permintaan gadis itu kali ini.
"Kita akan kerumah sakit, jangan nangis lagi," ujarnya menenangkan Arindi.
Arindi pun mengangguk. Tak lama mobil ambulance tiba. Arindi dan Tristan bergegas masuk ke mobil ambulance dan mobil pun melaju kencang menuju rumah sakit.
...----------------...
Arindi menunggu dengan gelisah di ruang tunggu pasien. Matanya masih sembab, hidungnya masih merah. Kepalanya tertunduk menahan rasa sakit setelah menangis lama tadi. Ia menolak saat dokter meminta untuknya berbaring di dalam untuk diperiksa.
Kreeek! Pintu ruangan dokter pun terbuka. Seorang pria tua dengan jas putih keluar dari dalam ruang perawatan bersamaan dengan Tristan berjalan di belakangnya. Dokter itu mendekat pada Arindi.
"Lukanya sudah selesai dijahit, namun tidak terlalu berbahaya karena tusukannya tak terlalu dalam, tapi ia cukup kehilangan darahnya, tapi tak apa saya sudah meresepkan obat untuk nak Tristan," ia berkata pada Arindi. Arindi pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada sang dokter.
Arindi dan Tristan masih duduk di ruang tunggu itu. Ia menatapi bahu Tristan yang tertutup baju dengan darah kering di atasnya. Kejadian tadi masih terbayang menghantuinya. Ia tak berkata apa apa sambil menatap kosong.
"Rin... Arindi...," Tristan memanggil nama Arindi beberapa kali baru perhatiannya pun beralih pada Tristan. Ia menatap kaget pada wajah Tristan. Ia merasa sangat bersalah melihat wajah itu.
Perasaan bersalahnya sangat besar. Ia merasa dirinya sangatlah egois. Ia selalu menepis rasa tulus Tristan padanya, ia mengabaikan telepon Tristan malam itu hanya karena salah paham tak jelas, ia bahkan tak menghargai bagaimana Tristan menyuarakan suara hatinya saat tampil di atas panggung. Ia selalu memutuskan semua secara sepihak. Dan sekarang ia terluka hanya karena ingin melindunginya
"Ooh,,, kak...," suaranya tergagap.
Arindi pun mencoba tersenyum meski ia belum bisa tersenyum lebar. Senyum sangatlah datar. Tristan pun membalas senyuman Arindi, senyuman tulus dari tubuh yang lelah.
__ADS_1
Arindi menatap senyuman itu. Rasanya sakit seolah hatinya yang tersayat pisau.
"Kenapa, kenapa lo masih bisa senyum ke gue disaat seperti ini, harusnya lo marah-marah, itu lebih baek. Kalo lo senyum gini gue bisa apa?" batin Arindi. Arindi pun menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap pada Tristan.
"Lebih enak kan kalo senyum dari pada nangis," ujar Tristan mencoba mencairkan suasana.
"Kalo nangis kenapa emang? Keliatan jelek?" ia menahan getaran pada bibirnya, sakit dihatinya terus mendorong sesuatu didalam dirinya untuk keluar.
"Ga kok tetep cantik," jawab Tristan pelan.
Tapi bagi Arindi suara dari kata-kata terakhirnya itu seperti tekanan yang mampu membobol semua pertahanan dirinya. Dan tanpa perlawanan, cairan hangat mengalir membahasi pipi Arindi sekali lagi.
Tristan jadi panik melihat Arindi kembali menangis. Ia tidak tahu kali ini harus berbuat apa. Ia hanya berpikir apakah kata-katanya salah. Tapi ia yakin bukan itu alasannya menangis kali ini.
Tristan tak mengatakan apa-apa lagi. Ia tahu ia harus memberi waktu pada Arindi untuk meluapkan semua perasaannya. Ia pun bergerak duduk lebih dekat pada Arindi dan memegang tangan kiri Arindi dengan tangan kanannya lalu dalam diamnya ia membiarkan Arindi menangis.
.
.
Selang beberapa lama suara tangisan Arindi hanya menyisakan isak kecil yang nyaris tak terdengar. Tristan tahu Arindi sudah lebih baik saat ini. Ia pun memiringkan tubuhnya menghadap Arindi, menunggu Arindi mengangkat kepalanya.
Setelah lebih baik, Arindi memberanikan diri untuk melihat wajah Tristan yang sejak tadi tak melepaskan genggaman tangannya padanya. Akhirnya wajah mereka pun bertaut.
Tristan melepaskan rambut Arindi yang menempel di pipinya karena kering bersama air mata dan mengaitkannya dengan lembut ke belakang telinga Arindi.
Deg deg deg!!
Arindi yang baru berhenti menangis jadi tertegun, ia tiba-tiba merasakan perasaan lain, entah kenapa ia seperti bisa mendengarkan suara degup jantungnya yang bergerak semakin cepat. Sentuhan tangan pria itu membuat ribuan kupu-kupu beterbangan memenuhi perutnya. Aliran kejut aneh menjalar disekujur tubuhnya.
"Kenapa pipinya jadi merah juga, apa ada yang sakit Rin?" suara Tristan menggema di telinga Arindi membuat Arindi baru sadar bahwa wajah mereka begitu dekat saat ini.
Tristan jadi panik melihat pipi Arindi yang merona tiba -tiba.
"Oh," ujar Arindi menarik tangannya dari genggaman Tristan lalu bergegas memegang kedua pipinya, ia merasa pipinya terasa hangat. Ia bahkan kaget dengan perasaan hangat yang tiba-tiba datang.
"Eengga ada kak," ujarnya menggeleng canggung.
Arindi pun hanya tertunduk sambil memegang pipinya. Ia tak berani memandang wajah itu. Entah kenapa sekarang ia merasa malu pada Tristan.
"Soal kemarin, kakak minta maaf," ucap Tristan tiba-tiba. Ia tahu Arindi merasa canggung.
"Ke-kemarin?" tanya Arindi sambil cepat melihat pada Tristan. Ia mencoba mengingat kejadian kemarin. "Oh soal itu? Pesan itu? Gapapa kok kak, kalo Arin di posisi kakak juga pasti akan percaya, buktinya juga udah jelas kok...."
"Kakak percaya, tapi kakak ga percaya kalo itu Arin yang kirim," jawab Tristan cepat.
"Bohong, kemarin kenapa mukanya gitu?" Arindi kaget dengan jawaban Tristan tapi mengingat ekspresi Tristan kemarin ia langsung cemberut.
"Kenapa? Nyeremin? Ini bawaan lahir," ujar Tristan menggoda Arindi. Wajah Arindi yang cemberut terlihat lucu di mata Tristan hingga ia tersenyum sendiri.
Arindi tersenyum mendengar jawaban Tristan barusan. Melihat wajah yang sudah bisa tersenyum lagi itu pun membuat Tristan tak tahan untuk tak menyentuh gadis itu. Ia pun mengusap rambut Arindi dengan lembut.
Arindi yang mendapat perlakuan aneh dan sikap hangat dari Tristan merasakan bahwa jantungnya semakin berdegup dengan kencang.
"Udah jangan dipikirin, yok pulang, udah malem," ujar Tristan kemudian.
__ADS_1
Arindi dan Tristan berdiri mereka berjalan bersisian. Arindi masih memikirkan hal hal kecil yang dilakukan Tristan sejak tadi, hal yang membuat perasaannya hangat, hal yang membuat ia menyukainya.
.
.
Mereka pun sampai di tempat parkir. Nadine dan Vivian telah menunggu di mobil Arindi yang dibawa oleh Nadine tadi. Melihat kedatangan Arindi dan Tristan, kedua sahabatnya ini bergegas turun dari mobil dan menghambur ke arah Arindi.
"Arin sayang," ujar Vivian memeluk erat Arindi. Berganti menjadi Vivian yang menangis sekarang.
"Iih Vivi, panas tahu, lagian kenapa pake nangis segala sih," ujar Arindi yang merasa panas karena pelukan Vivian.
"Gimana keadaan elo Tan," ucap Nadine melihat pada Tristan yang tersenyum melihat kelakuan dua sahabat itu.
"Oh Nad, yah gue baik kok," ujar Tristan.
"Gue ga tau harus bilang apa, tapi gue makasih banget ke lo Tan, gua ga bisa bayangin kalo...." Nadine yang selalu bersikap kuat selama ini menjadi lemah memikirkan kejadian tadi.
"Udah ga usah dipikirin, semuanya udah baik baik aja sekarang," jawab Tristan memukul pundak Nadine cepat.
"Ya udah yuk kita pulang, udah malam juga," ujar Arindi mencairkan suasana. "Kak ayo ikut, nanti di anter sekalian," ajak Arindi.
"Oh ga usah, kakak bisa naik taksi dari sini," ujarnya pada Arindi.
"Tapi kak... Kakak masih terluka, kalo ada apa apa di jalan gimana?" Arindi benar-benar khawatir dengan keputusan Tristan kali ini.
"Iyya Tan, ikut kita aja... Tenang nanti aman kok di anter sampe rumah," ujar Nadine yang di ikuti anggukan Vivian.
"Hahaha... Engga kok gue bisa naek taksi, lagian udah gue pesen juga taksinya."
Tak lama sebuah lampu menyorot bergerak ke arah mereka. Sebuah mobil taksi bercat silver mendekat. Tristan memeriksa hp nya memastikan itu taksi yang dipesannya.
"Ya udah taksinya udah dateng, kalian pulang lah," ujar Tristan kemudian.
"Nad Vi duluan gih ke mobil, gue ada yang mau diomongin dulu," ujar Arindi pelan. Nadine dan Vivian pun hanya ikut saja apa keinginan Arindi.
"Kakak bener ga papa pulang sendirian?" ujar Arindi mendekat pada Tristan.
Tristan menatap bahagia melihat wajah yang terlihat sangat mengkhawatirkannya itu.
"Bener ga ada apa apa kok, Rin," jawab Tristan lembut sambil menatap wajah Arindi.
"Seenggaknya Arin bisa bantu kak pulang, Arin bingung harus bilang apa, terima kasih dan maaf, tapi harusnya kakak jangan lagi gitu, Arin ga suka liat kakak kesulitan terus karena Arin," ujar Arin yang bingung mau berkata apa lagi.
"Kakak ga pernah merasa kesulitan dan kakak lebih ga suka kalo liat Arin terluka," ujar Tristan membuat Arindi kebingungan.
"Apa? Kenapa?" tanya Arin yang masih belum peka.
Tristan tak langsung menjawab, ia tahu jantungnya berdegup kencang dari tadi, tapi ia harus menahan perasaannya. Ia pun menatap mata Arindi dengan tatapan yang begitu teduh.
"Karena.... Udah deh pulang dulu, ya." Ia pun bergegas membimbing Arindi untuk menuju ke dalam mobilnya. "Nanti kak telepon"," bisiknya pelan di telinga Arin membuat desiran aneh di diri Arindi.
Arindi tak bisa menolak, setiap tindakan dan perkataan Tristan bagai hipnotis yang membuat tubuhnya mengikuti saja perintah Tristan.
Tristan pun menutup pintu mobil. Nadine dan Vivian melambaikan tangan pada Tristan dari dalam mobil. Arindi yang duduk di kursi belakang hanya bisa menatap Tristan yang telah masuk ke taksinya dalam diam.
__ADS_1