
Dua minggu kemudian tepat di tanggal dua puluh tiga.
"Gue udah ok kan?" tanya Arindi pada ketiga sahabatnya.
"Rin, elu meragukan selera fashion gue. Udah pokoknya elu udah yang paling best deh diantara yang lain," jawab Rasya kemudian.
"Mana mungkin Sya gue meragukan kemampuan elo. Tapi serius gue... Rambut gue gapapa diginiin? Baju. gue lebay banget ga sih?" tanya Arindi lagi sambil memutar badannya memeriksa kelayakan dirinya.
"Udah deh Arin sayang, udah ok kok. Rambutnya, bajunya, sendalnya, make up nya, semua ok. Tenang ya cantik, calm down calm down... Tarik nafas... Buang... Tarik nafas.... Buang...," ujar Vivian menenangkan Arindi.
"Hadehhh... Norak banget sih. Udah santai aja kali!! Gitu aja heboh. Heran gue," gerutu Nadine seperti biasanya.
"Makasih Vivi sayang." Arindi memberikan senyum manisnya pada Vivian yang baru saja memujinya. "Kenapa sih Nad? Lagian kan ini tuh ga terjadi setiap hari, yah kudu ginilah persiapannya." Arindi pun memberi tatapan tajam pada sikap cuek Nadine.
"Ya tapi ga gitu juga kaleeeeee... Udah kaya orang mau kondangan...," jawab Nadine seperti biasa.
"Haaa? Masa sih? Sya serius gue senorak itu?" tanya Arindi lagi merasa cemas.
"Udah udah... Paan sih lu bedua. Rin pokoknya percaya sama gue, ini dress keluaran terbaru dan limited edition... Lu super cantik pokoknya... Ga usah dengerin Nadine deh," jelas Rasya merasa jengkel dengan kelakuan dua sahabatnya ini.
"Iyya sih Rin, udah tenang aja. Nih pegang buket bunganya yang bener," Vivi pun menimpali. Ia juga memberi tatapan tajam pada Nadine dan Nadine pun mengerucutkan bibirnya pada mereka.
"Gue kok deg deg seer gini sih...," oceh Arindi tak berkesudahan.
"Ya karena lu lebay...," ejek Nadine kemudian.
"Apa sih Nad, gue timpuk pake bunga ini mau lu?" ujar Arindi mulai menjejalkan buket bunganya ke wajah Nadine.
"Aahhh... Berisik deh lu bedua. Kaya anak kecil aja. Udah ga usah didengerin sih Rin. Nad udah deh...." Rasya bersikap layaknya seorang ibu yang mendamaikan anak yang bertengkar.
"Weeeek... Nadine iri sih, makanya punya pacar tuh manusia, jangan motor dipacari biar tahu rasanya jatuh cinta...," ujar Arindi sambil menjulurkan lidahnya mengejek pada Nadine.
"Buang-buang waktu...," jawab Nadine cepat.
Melihat sosok Tristan jauh disana, Rasya pun segera memotong perdebatan kedua sahabatnya itu. "Eh stop stop. Tuh liat Rin, Tristan udah keluar."
"Hah? Serius? Mana sih?" Arindi mencoba memastikan siluet tubuh pria yang sejak tadi ditunggu kehadirannya.
"Iyya Arin... Tuh disana. Samperin gih," terang Vivian menunjuk pada posisi Tristan.
"Oh iya. Ok gue kesana dulu ya."
Arindi pun bergegas berjalan menuju Tristan, senyumnya mengembang mendapati sosok pria dihadapannya itu. Tristan bahagia tak terkira, di hari wisudanya ia tak pernah menyangka ada seorang gadis yang akan berdiri disampingnya sebagai pacarnya.
Tristan pun berjalan cepat menghampiri Arindi yang sedang berjalan kearahnya. Arindi pun menyerahkan sebuah buket bunga pada Tristan saat pria itu sudah dihadapannya.
"Selamat ya sayang... yeay wisuda!" Matanya berbinar menatap wajah bahagia Tristan. "Semoga ini jadi awal yang baik untuk kakak melangkah ke depan," bisiknya pada Tristan.
"Makasih ya sayang. Tapi kakak berharap ini bukan cuma awal yang baik untuk kakak, tapi jadi awal yang baik untuk kita berdua," Tristan pun balas berbisik pada Arindi yang tak henti-hentinya tersenyum.
"Ada satu hal lagi," ujar Tristan tiba-tiba lalu ia menggenggam tangan Arindi membawanya menjauh dari kerumunan.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Arindi heran. Tristan hanya melemparkan senyumnya.
Lalu tak lama mereka tiba di mobil Tristan. Tristan pun dengan sigap membukakan pintu mobil untuknya. Setelah menutup kembali mobil, Tristan pun masuk dan duduk dibelakang kemudi. Ia pun menjalankan mobilnya.
"Kita mau kemana sih sayang?" Arindi benar-benar tak punya gambaran ke arah mana Tristan akan mengajaknya.
.
.
"Studio Rasya?" ujar Arindi setelah mobil mereka terparkir didepan studio milik Rasya. Mereka pun turun lalu masuk ke dalam studio.
"Kejutaaannn...," teriak Rasya, Nadine dan Vivian saat Arindi dan Tristan masuk.
Ratusan konfeti berwarna-warni menghambur ke udara menyambut kedatangan mereka. Pernak-pernik khas ulang tahun seperti balon, pita-pita, kue ulang tahun dan topi ulang tahun terhampar dihadapan Arindi sekarang. Entah sejak kapan dan bagaimana bagian depan studio milik Rasya ini didekorasi seperti ini.
"Selamat ulang tahun...," jerit ketiga sahabatnya berbarengan. Ditangan mereka masing-masing membawa sebuah buket bunga. Mereka bertiga pun menjejalkannya dalam pelukan Arindi membuat Arindi kewalahan. Tristan dengan sigap menahan tubuh Arindi dan merapatkannya pada tubuhnya.
"Kalian ini... Kok bisa?" Arindi masih tak percaya. Hari yang seharusnya untuk merayakan kelulusan Tristan berubah menjadi hari kejutan ulang tahun untuknya.
"Tentu dong kita inget, kita kan sahabat lo dari dulu sampe sekarang dan seterusnya," jawab Rasya lalu memeluk Arindi. Vivian dan Nadine pun ikut memeluknya. Mereka pun saling berpelukan.
Setelah cukup lama akhirnya mereka melepaskan Arindi. "Ya udah yuk tiup lilinnya," ujar Vivian bak anak kecil.
Arindi hanya menurut saja kemana para sahabatnya mengajaknya termasuk untuk meniup lilin ulang tahun yang sedari tadi sudah menyala.
"Buat permohonan dong," ujar Rasya gemas.
"Udah sih lakuin aja," ujar Nadine kemudian.
Arindi pun menyerah. Ia mengatupkan tangannya lalu menutup matanya dan membuat permohonan. Ia tak memohon hal yang berlebihan, ia hanya meminta agar ia selalu bisa bersama orang-orang yang ia sayangi.
Arindi membuka mata tanda ia telah selesai membuat permohonan.
"Selamat ulang tahun ya sayang. Ya udah kita kebelakang dulu ya mau siapin buat kita makan-makan," ujar Rasya dengan genitnya.
"Mau kemana sih?" tanya Arindi.
"Kita ini peka tahu. Ya udah bye." Nadine, Rasya dan Vivian pun meninggalkan mereka berdua.
"Mereka bener-bener...," Arindi bahkan tak tahu harus berkata apa lagi dengan semua keharuan yang membuncah di hatinya saat ini.
"Makasih ya sayang," bisiknya pada Tristan yang sedari tadi terus tersenyum memandang pada Arindi dan sahabat-sahabatnya.
"Kenapa makasih sama kakak sih. Oh iya ada satu hal lagi...." Wajah Tristan terlihat sangat serius sambil memasukkan tangan ke saku jasnya seolah sedang mencari sesuatu.
"Apaan?" Arindi pun ikut heran melihat keseriusan wajah Tristan sekarang.
Tristan pun mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan pita rose gold merekat di atasnya. Wajahnya yang tadi terlihat serius berganti menjadi wajah yang penuh kegugupan dan kebahagiaan.
Kotak kecil itu menarik perhatian Arindi. Sekejap ia sangat bingung, ia belum menyadari arti kotak kecil tersebut. Setelah Tristan membuka kotak itu di hadapannya. Arindi pun baru tersadar setelah melihat sebuah cincin tersemat di dalam kotak itu.
__ADS_1
"Ini...," ia ragu mengatakan apa yang ada di pikirannya. "Ini untuk Arin?"
Tristan mengangguk. Senyumnya melengkung indah melihat Arindi merasa gugup.
"Tapi untuk apa...."
"Selamat ulang tahun," ucap Tristan cepat sebelum Arindi menyelesaikan kata-katanya.
Arindi terdiam menatap dalam pada Tristan. Ia tak menyadari bahwa Tristan pun telah menyiapkan sesuatu yang spesial untuknya hari ini.
Matanya menjadi panas dan berkaca-kaca. Ia terharu. Ia tak menyangka bahkan Tristan tahu tentang hari ulang tahunnya.
"Kakak tahu ulang tahun Arin?"
Tristan membalas pertanyaan Arindi dengan senyuman.
"Lebih dari itu Rin. Gue menantikan hari ini datang lebih dari menantikan wisuda gue sendiri. Kalo aja hari itu gue menolak keberadaan lo, gue ga yakin kita bisa berhadapan seperti ini," batin Tristan.
.
.
Tristan mengingat lagi di hari Arindi wawancara dengannya. Awalnya ia memantapkan hatinya untuk menolak Arindi menjadi bagian dari anggota BEM karena meskipun ia sangat penasaran dengan gadis itu tapi Tristan yang kaku pada aturan tak ingin menerima orang yang tidak menganggap serius hal-hal yang sangat penting baginya.
Sekali lihat ia tahu Arindi hanya menganggap remeh organisasi yang ia ketuai. Namun saat terakhir wawancara, uluran tangan gadis itu yang disertai senyuman indahnya seolah menghipnotis dirinya. Pikirannya berubah tiba-tiba.
"Senyumannya. Apa gue salah kalo gue masih pengen ngeliat senyuman itu." Saat itu Tristan untuk pertama kalinya melewati batasan yang sudah ia buat. Ia tak ingin kehilangan kesempatan yang sudah mendatanginya sekalipun mungkin keputusan yang dibuatnya melanggar prisnipnya. Ia tak ingin menyesal untuk kedua kalinya.
Saat itu tanpa ia sadari bahwa ia sudah jatuh hati pada gadis itu sejak pertama kali melihatnya dua tahun lalu.
.
.
Tristan meraih tangan Arindi lalu memakaikan cincin itu di jari manis gadis itu. "Ternyata pas," ujar Tristan merasa lega. "Gimana... kamu suka?"
Arindi memandangi jari tempat cincin itu melingkar. Ia tak mampu menahan rasa harunya. Ia pun menganggukkan kepalanya. "Arin suka. Sangat suka."
Ia pun mengalihkan pandangannya pada Tristan dan menatap mata jernih pria yang sedang berbahagia itu. Tristan membalas tatapan Arindi. Mata mereka pun saling menatap dengan tatapan hangat dan penuh cinta.
Perlahan Tristan mendekatkan wajahnya pada wajah Arindi. Matanya menelusuri wajah itu hingga berhenti dan terpaku pada bibir Arindi. Arindi pun mengikuti arah pandangan Tristan dan ia pun perlahan menutup matanya.
Bibir mereka pun bertaut. Tristan mengecup lembut bibir Arindi. Ia melingkarkan lengannya pada pinggang gadis itu dan merapatkan ke tubuhnya.
...----------------...
Mereka tak pernah membayangkan jika hari ini mereka akan menjadi dua orang yang saling mencintai. Dua tahun lalu mereka saling memandang dengan perasaan benci.
Semua bisa terjadi, sekalipun kau tak mempercayai takdir, tapi percayalah tak ada yang namanya kebetulan. Tak perlu mempelajari cinta, karena cinta akan mengajarkan semua hal padamu, cukup percaya bahwa kau memilikinya didalam hatimu.
Kisah mereka berdua ibarat sebuah sketsa hitam putih diatas kanvas. Kehangatan, kelercayaan, kasih sayang dan cinta yang mereka miliki satu sama lainnya bagai cat berwarna-warni yang mempercantik lukisan itu.
__ADS_1
...°°° Tamat °°°...