Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Pertemuan Dua Pria (1)


__ADS_3

Arindi menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia hampir merangkak untuk sampai disini. Hampir seharian ia duduk dibelakang kemudi.


Tangannya pegal, kakinya terasa seperti digantungi beban besar. Meski tubuhnya terasa lengket, ia tidak perduli. Ia hanya ingin segera memejamkan matanya.


...----------------...


Sementara itu siang tadi.


Tristan baru saja mematikan mesin motor sport-nya. Ia baru pulang dari kampus setelah menyelesaikan beberapa berkas untuk wisudanya. Tiba-tiba Rendy menelponnya.


"Kenapa Ren?"


"Tan lo ga kesini?" tanya Rendy pada Tristan. Saat ini mereka sedang ada pertemuan anggota klub motornya.


"Kayanya gue ga dulu deh Ren?" Tristan sama sekali tak berminat untuk keluar rumah hari ini karena perasaannya masih kacau sejak pagi tadi. Ia memaksakan diri untuk ke kampus hanya untuk mengurus berkas wisudanya saja. Jika bukan karena itu maka ia pun tidak akan pergi.


"Lo lagi kencan ya?"


"Kencan apaan? Ngaco banget mulut loe."


"Ga usah bohong. Lo lagi jalan sama Arindi kan?" tanya Rendy penuh selidik.


"Jalan sama Arindi?"


"Iya Arindi. Gue liat tadi mobilnya lewat depan gue. Sama cowok. Itu elo kan. Ck! katanya mau ke sini eh malah jalan sama Arindi. Kenapa ga bilang aja sih Tan. Gue kan bisa maklumi kalo itu alasannya. Ya udah lanjutlah kalo gitu!!"


Rendy yang salah paham langsung memutuskan telepon tanpa memberikan Tristan kesempatan untuk menjawab. Rupanya ia hanya ingin memastikan bahwa benar alasan Tristan tidak ada disana adalah Arindi. Tanpa perlu mendengar pendapat dan jawaban Tristan lagi.


Tristan membeku di atas motornya, mendengar kata-kata Rendy barusan membuat pikirannya melayang entah kemana. Ia yang belum pulih dari perasaan sedih karena kejadian pagi tadi sekarang ditambah pula dengan berita yang membuat hatinya berdenyut dan perasaannya terluka. Ia kacau balau.


Tristan meraih ponselnya. Dengan cepat ia menghubungi Arindi. Teleponnya tersambung tapi tidak kunjung dijawab. Ia mengulangi lagi panggilannya, tetap tidak diangkat meskipun sudah lima kali dicoba. Ia pun menyerah.


Dengan langkah gontai Tristan masuk ke dalam rumah. Ia bahkan rasanya tak sanggup menaiki tangga menuju lantai dua tempat kamarnya berada. Bayangan Arindi sedang tertawa bahagia bersama pria lain membuat ia kehilangan semangat seketika.


"Dia ga mungkin gitu. Rendy pasti salah lihat. Tapi dia kemana. Kenapa ga angkat telepon gue? apa dia ke kampus? Ga mungkin... Pundaknya belum sembuh benar... Tapi...."


Begitu banyak pertanyaan dalam benaknya. Ia sudah tak sanggup. Berpacaran bukanlah hal biasa bagi Tristan, jadi ia tak tahu bagaimana caranya mengatasi rasa sakit hati. Dunianya seakan runtuh dalam sekejap.


...----------------...

__ADS_1


Malam hampir tiba.


Tristan mencoba memejamkan matanya. Tubuhnya lelah, ia ingin malam ini cepat berlalu. Sudah ia putuskan keesokan pagi ia akan datang menemui Arindi di apartemennya. Ia ingin gadis itu menjelaskannya secara langsung kepadanya mengenai kebenaran berita tersebut.


Tring!


Ponselnya berbunyi. Tristan cepat membuka pesan obrolan yang baru saja masuk. Ia sangat berharap itu dari Arindi. Namun ia salah. Tertulis nama pengirimnya, nama yang membuat emosinya bangkit mengingat perbuatannya pada Arindi. Itu adalah Anggi.


[Lo liat kelakuan cewek yang lo suka dibelakang lo]


Begitu bunyi pesan yang dikirimkan Anggi. Tak lama sebuah pesan baru pun masuk lagi. Sebuah pesan video.


Tristan sangat syok melihat video yang baru saja dikirimkan Anggi. Terlihat Arindi sedang berjalan dengan seorang pria. Dari latarnya ia bisa tahu bahwa mereka sedang berjalan di mall yang memang tak jauh dari arah rumah Rendy. Tak lama di video itu menunjukkan bahwa lengan pria itu mengait pada leher Arindi.


Mata Tristan menegang. Berkali-kali ia memutar ulang video itu. Ia ingin memastikan bahwa itu benar sosok Arindi. Dan memang benar bahwa itu Arindi yang ia kenal. Tapi ia sama sekali tak pernah melihat sosok pria disampingnya. Tristan bertanya-tanya siapa sebenarnya pria itu.


Tristan pun menelpon Anggi cepat. Ia harus tahu bahwa Anggi tidak membuat-buat isi video itu.


"Kenapa lo ngirimi video ini?" ujar Tristan menahan emosinya.


"Lo masih nanya? Kayanya emang Tuhan mau nunjukin ke elo siapa sebenernya dia di belakang lo. Ini bukan kebetulan gue ngeliat dia," jawab Anggi ketus di belakang teleponnya.


"Kebohongan lo bilang? Mata lo udah bener-bener ketutup sama cinta ya Tan. Jadi lo gak percaya? Lo mau bukti lagi. Sekarang lo liat." Tak lama panggilan terputus. Lalu disusul sebuah panggilan video dari Anggi.


Tristan menerima panggilan itu. Tristan terkejut, dari video itu ia bisa melihat Arindi bersama pria itu baru saja masuk ke sebuah butik. Mereka terlihat sangat dekat. Bahkan lengan pria itu tak bergeser sedikitpun dari leher Arindi sejak tadi.


Setelah merasa puas, Anggi pun memutuskan panggilan videonya. Disusul sebuah pesan obrolan baru berbunyi [Kalo lo masih bilang gue bohong, berarti elo emang udah buta Tan. Gue ngirim video ini ga ada maksud apa-apa. Gue cuma ga mau kalo elo disakiti oleh cewek ga bener kaya dia.]


Tristan membaca pesan itu dengan tatapan nanar. Ia tak tahu harus membalas apa. Dirinya mengakui bahwa saat ini Anggi sedang tak membohonginya. Video itu benar adanya, bukan sebuah manipulasi.


Tristan berharap bahwa ini semua salah tapi semua terlalu nyata baginya sekarang. Pria itu, rasa sakit dihatinya semua memenuhi dada Tristan. Rasanya sesak.


Tristan memutar ulang video yang dikirim Anggi tadi. Matanya melotot pada pria yang ada disamping Arindi. Dilihatnya dari caranya berpakaian pria itu lebih tua dari Arindi. Setelan jas lengkap yang dipakainya menunjukkan bahwa mungkin pria itu sudah bukan mahasiswa lagi. Terlebih lagi butik yang ia lihat mereka masuki, itu adalah butik yang khusus memproduksi dan menjual pakaian kerja formal.


"Siapa pria ini Rin?" bisiknya dalam hati.


...----------------...


Keesokan paginya.

__ADS_1


Tok tok tok. Pintu kamar Arindi diketuk berulang-ulang hingga Arindi terbangun dari tidurnya.


"Kenapa?" jerit Arindi dari dalam kamarnya. Ia tahu benar itu pasti perbuatan Anggara. "Bertahan Arindi, tinggal satu hari ini," ucapnya dalam hati menguatkan dirinya.


"Lo belom bangun? Lo bilang mau ke kampus?" teriak suara baritone Anggara depan pintu.


Arindi melirik jam di dinding. "Baru jam delapan. Kakak sialan jelas-jelas gue bilang masuk jam sepuluh. Kenapa udah bangunin sih," gumamnya kesal.


"Kalo mau sarapan pesen aja online...." teriak Arindi lagi.


"Gue masuk," ujar Anggara yang langsung membuka pintu kamar Arindi meskipun Arindi belum menjawab kata-katanya.


"Anggaraaaaaa...," teriak Arindi kesal. Ia pun langsung menarik selimutnya menutupi badannya.


"Manusia normal mana ada yang bangun siang," ujar Anggara sambil berjalan menuju jendela kaca besar di salah satu sisi dinding. Ia pun menyingkapkan tirainya sehingga sinar matahari menerobos masuk ke kamar Arindi.


"Kalo lo ga bangun, gue tarik selimut lo trus gue seret ke kamar mandi," ujar Anggara mengancam Arindi.


"Iyya gue bangun, tapi lo keluar dulu," teriak Arindi dari dalam selimutnya.


"Lima belas menit. Gue tunggu di luar. Kalo lewat terpaksa gue tinggal sehari lagi di apartemen lo. Dan ini hp lo," ujar Anggara meletakkan ponsel Arindi di atas meja riasnya. Lalu ia berjalan keluar dan menutup pintu.


Setelah pintu tertutup, Arindi yang mendengar ancaman itu buru-buru pergi dan masuk ke kamar mandi.


Beberapa menit pun berlalu. Arindi merapatkan jubah mandinya. Ia melilitkan sebuah handuk pada rambutnya yang basah. Dilihatnya jam baru berlalu sepuluh menit sejak ia masuk ke kamar mandi tadi.


Arindi menuju meja riasnya, ia mengambil ponselnya yang rasanya sudah lama tak ia pegang. Ada banyak notifikasi terabaikan olehnya.


Dari sekian banyak, hanya yang bertulis nama Tristan yang menarik perhatiannya. Seketika sosok wajah itu membayangi dirinya saat membaca nama itu.


"Lima panggilan tak terjawab dan sebuah pesan obrolan," ujar Arindi lalu membuka pesan itu.


-----


Hari ini ke kampus kan? Kakak jemput sekarang 07.45


-----


Mata Arindi menegang menatap pesan itu. Terlebih melihat jam saat ia mengirimi pesan.

__ADS_1


"Kalau ga macet pasti dia sekarang sudah dibawah," pikir Arindi. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari keluar kamarnya. Ia tak menyadari ia masih mengenakan jubah mandi dan handuk di rambutnya masih terlilit. Ia tak bisa membayangkan bagiamana jika kedua pria itu bertemu.


__ADS_2