Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Pelantikan


__ADS_3

"Rin selamat ya, resmi anggota BEM yah sayang akuh ini," ujar Rasya.


"Iya Arin sayang, selamat ya, Vivi seneng liatnya."


"Ya ya ya ya... gue tau dengan jelas di muka elu, elu, elu pada ... betapa bahagianya kalian ngeliat gue susah," ujar Arindi sambil nepok jidat temannya satu-satu.


"Keliatan jelas banget ya? udahlah yuk foto lagi biar makin afdol kesusahan idup loh," sambung Nadine.


Keempat sahabat itu berswafoto di depan gedung sekretariat BEM seakan merayakan kebahagiaan, padahal Arindi mulai merasakan setumpuk beban menggelayuti pundaknya. Hari ini ia akan dilantik sebagai anggota BEM kampus. Ia lulus dengan skor yang baik. Ia pun secara resmi menjadi anggota BEM dan ditempatkan di divisi Seni Budaya.


...----------------...


Sementara itu di jendela lantai dua tempat kantor sekretariat BEM berada tepatnya, sepasang mata memandang ke arah mereka dari balik jendela kaca.


"Ren, ngapain? Lagi ngeliatin apaan?" Tristan menyapa sang pemilik mata yang adalah temannya bernama Rendi.


"Ooh Tan, itu." Rendy menunjuk ke arah Arindi dan teman-teman.


Tristan pun ikut melihat keluar karena penasaran.


"Mereka? Kenapa? Ada yang lu suka?" tanya Tristan penasaran.


"Bukan," jawab Rendy.


"Trus kenapa dari tadi lu serius banget liatinnya? Lu kenal? Kalo Nadine kan satu klub sama kita, yang dua lagi lu kenal?" Tristan penasaran.


"Hemm... Kenal banget. Tepatnya gue tahu tapi ya gue ga deket karena gue satu SMA dulu sama mereka."


"Owh. Temen SMA. Baguslah, seenggaknya sekarang lo punya satu temen lama di BEM," jawab Tristan.


"BEM? Maksud loh mereka ikut BEM?" Rendy terkejut mendengar jawaban Tristan.


"Ga semua, cuma Arindi."


"Arindi? Dia ikut BEM?" Lagi-lagi Rendy kaget.


"Kok lu kaget banget? Iyya Arindi. Yang itu yang rambutnya hitam panjang itu."


"Iya gue tahu, tapi maksud gue bukan itu. Lu yakin dia ikut BEM?"


"Kenapa sih Ren? Yakin, gue yang wawancara sendiri."


"Elu Tan? Tunggu bentar apa jangan-jangan Arindi yang di maksud Joe itu Arindi yang itu?"


"Joe? Oh jadi dia udah tau. Ya Arindi yang itu Ren."


"Uhm perasaan gue ga enak Tan."


"Lu kenapa sih, aneh. Lu salah makan tadi?" Tristan heran dengan sikap Rendy.


"Dengerin Tan... gue kenal mereka dari SMA, mereka berempat emang anak yang jago banget.. maksud gue pinter, lomba-lomba bergengsi sekolah, antar sekolah, bahkan olimpiade sains tingkat international udah pernah mereka sabet. Klub belajar mana yang ga pernah mereka ikuti, selama itu berhubungan dengan pelajaran mereka pasti terlibat. Tapi ini.... Organisasi??"


"Kenapa emang sih Ren?"

__ADS_1


"Mereka itu ga pernah sekalipun ikut terlibat dalam yang namanya organisasi, yah guru guru SMA gue dulu sih menganakemaskan mereka, mereka dibebaskan dari segala macem kegiatan ekskul."


"Yah berarti bagus kan ada orang berbakat di BEM kita?" Tristan masih santai mendengar pendapat Rendi. Ia hanya melipat tangannya kedepan dan terus memandang keempat sahabat itu.


"Iya bagus sih, tapi ada hal yang agak kurang baek juga sih dari mereka, walopun kabarnya itu ga seheboh pencapaian prestasi mereka," terang Rendy lagi.


"Lu ngomong ga jelas Ren, maksudnya apa?"


"Mereka berempat itu bisa dibilang ga punya hubungan baik dengan yang namanya lawan jenis, ah bukan berarti mereka ga bersosialisasi, mereka baek, berteman ga milih milih, tapi apa ya sebutannya? Uhm penyihir tiga hari, gitu gitu deh."


"Penyihir tiga hari? Lu beneran sakit Ren kayanya." Tristan tertawa kecil.


"Gue serius, mereka disebut gitu karena mereka terkenal hanya berpacaran selama tiga hari dengan cowok, ga pernah lebih. Bukan berarti mereka suka maenin cowo cowo juga, ya intinya siapa yang nembak salah satu dari mereka pasti di terima abis itu tiga hari berlalu putus, gitu," jelas Rendy lagi.


"Lu tau banget, jangan jangan lu korbannya?"


Rendi tersenyum kecut. "Ga bisa di bilang korban juga Tan. Iya sih gue akui gue pernah nembak Rasya, gue diterima dan hari ketiga gue di ajakin putus. Ga bisa di bilang korban juga karena gue yang ngajakin duluan."


"Serius lu Ren? Lu pernah gitu?" Tristan tertawa.


"Udah cerita lama juga. Tapi gue mau minta lu jangan anggap enteng mereka, mereka tuh memang di luar jangkauan. Tapi mereka emang baek kok, cuma karena ya level mereka itu terlalu tinggi jadi susah aja buat digapai sembarang orang. Bukan karena mereka sombong tapi yang ngedeketin udah rendah diri dulu, ga cuma dalam hal pacaran ya, bahkan untuk jadi temen juga gitu," jelas Rendy lagi.


"Itu perasaan lu aja Ren... sama aja kok kaya kita."


"Gue serius lu ati ati. Jangan sampe lu jatuh hati. Yaah untuk seorang Tristan gue tau elu jomblo abadi tapi yaaaa...." Rendy Tertawa ngakak.


"Udah ah, lu mulai ngaco, ayo lah acara mau dimulai." Tristan pun berjalan mendahului Rendi meninggalkan nya yang terus menertawakan dirinya. Yah memang kenyataan kalau Tristan disebut jomblo abadi, sejak kuliah ia cuma berpacaran sekali yaitu dengan Celyn, itupun karena saat ospek ia dan Celyn dijodoh jodohkan oleh kakak tingkat.


Akhirnya mereka berpacaran selama satu semester. Terdengar kabar di semester dua mereka sudah putus. Tapi sampai sekarang Celyn masih terus mengikuti kemana Tristan pergi. Cewek cewek yang ngedeketin Tristan pergi minggat sebelum kena damprat Celyn.


...----------------...


"Haaah akhirnya selesai juga, lu bedua masih disini aja?" ujar Arindi pada kedua sahabatnya.


"Waaaa...," Rasya mulai heboh. "Hari ini sahabat gue akan menjalani babak baru dalam hidupnya, harus dong gue disini. Lagian si Vivi ada kelas pagi."


"Gue sih ada acara tapi Rasya maksain disini, terpaksa gue disini," jawab Nadine cuek.


"Jujur beud sih Nad, anyway selamat ya sayang."


"Hahahaha makasih ya sahabat sahabatku yang baik hati." Arindi memeluk mereka berdua, tapi sambil membisikkan sesuatu ke telinga kedua sahabatnya. "Puas lu bedua sekarang?"


Rasya berusaha melepaskan pelukan Arindi yang terasa mencekik tapi Arindi semakin kuat memeluk leher kedua orang itu. "Inget ya, neraka ini bakal gue bagi bagi ke lu bedua juga."


"Uhk uhk Rin, mati gue Rin, le...pa...siinn...," ujar Nadine.


Arindi pun melepas pelukannya. "Makasih banyak ya."


"Eh Rin Rin Rin, itu Tristan di belakang, buruan samperin, sana buruan." Rasya melihat sosok Tristan yang sedang turun tangga di belakang Arindi.


"Ngapain lagi sih, males gue."


"Buruan deh Rin, biar ada progress gitu kedekatan lu." Nadine mendorong Arindi sekuat tenaga.

__ADS_1


"Awwww...." Arindi terdorong ke belakang, dan Tristan hampir berjalan mendekati. Arindi hampir terjatuh tapi ia berdiri tegak seketika, lalu berjalan menghadap ke Tristan.


"Eh kak," Arindi menghadang Tristan.


Tristan yang disapa oleh Arindi hanya diam dan menatap datar membalas sapaan Arindi.


"Gu... saya... Mau mengucapkan terima kasih, karena kakak sudah meluluskan saya. Terima kasih kak,'' ucap Arindi.


"Tunjukkin aja dengan loyalitas lo kalau memang berterima kasih."


"Ah, baik kak." Arindi senyum terpaksa.


Tristan berjalan menjauhi Arindi dengan begitu dingin.


"Sumpah ya, #*##!';_&£***$¥|}°." Arindi memaki dalam hatinya.


Arindi menatap tajam punggung Tristan yang berjalan menjauh. Ia sangat ingin memukulkan sesuatu di punggung itu. Rasya dan Nadine langsung mendekatinya.


"Kenapa sayang, kenapa mukanya gitu?" ujar Rasya tiba-tiba.


"Sini lu bedua." Arindi melingkarkan tangannya ke leher kedua sahabatnya. Lalu berjalan cepat, membuat Rasya dan Nadine harus mengikuti langkah cepat Arindi jika tidak ingin kesakitan.


"Rin lepas... sakit...." Rasya kesakitan.


"Rin, iya gue tau lu jago karate, tapi ini sakit banget Rin," tambah Nadine.


"Bagus lu tau, hari ini gue mau nonjok orang gara gara si Tristan se*** bang*** anj****, apa susahnya ngomong yang baek baek ke gue, emang gue tong sampah, mulutnya bang*** naj*** sampah semua yang keluar,'' umpat Arindi.


"Rin... tolong Rin, Nad tolong gue Nad."


"Sa... sa... sa... kit Rin," ujar Nadine.


"Diem lu bedua, kalo ga gara gara lu bedua gue ga bakal dihina kek begini," ujar Arindi.


Hari ke tiga berlalu begitu saja, Arindi bahkan tak habis pikir kenapa Tristan sebegitu bencinya padanya. Padahal ia sudah berusaha mengambil hatinya dengan bersikap sopan dan manis.


...----------------...


Sementara itu.


"Tan, lu di mana?" Rendy nenelpon Tristan.


"Gue jalan ke kelas," balas Tristan.


"Lu ga nungguin gue, kita kan satu kelas Tan?" tanya Rendy.


"Oh... Gue tiba-tiba ada perlu sama dosen PA gue."


"Oowh gitu. Ok," jawab Rendy.


Klik. Sambungan terputus.


Tristan masih duduk di atas motornya. Ia bahkan belum menghidupkan mesin motornya, ia masih di halaman belakang gedung sekretariat. Dia mengetuk-ngetuk helm dengan kunci motor. Ia hanya sedang berpikir kenapa dia tadi terburu-buru keluar bahkan meninggalkan teman satu kelasnya d idalam sana.

__ADS_1


Apa yang membuat ia tak bisa menghentikan langkah kakinya. Apakah karena gadis itu? Tapi saat gadis itu sudah menyapa ia hanya bersikap dingin dan lagi-lagi mengeluarkan kata kasar.


...----------------...


__ADS_2