Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Mobil Tristan


__ADS_3

Jam tangan Arindi menunjukkan pukul dua siang. Balapan telah usai, satu per satu orang berjalan meninggalkan tribun, begitu juga ia dan Nadine.


"Rin ayo buruan berdiri," ajak Nadine.


"Iya sabar sih Nad, kenapa buru buru banget?" Arindi pun menutup buku sketsanya.


Arindi terus mengikuti langkah besar Nadine menuju parkiran. Tanpa aba-aba Nadine menghentikan langkahnya tiba-tiba, Arindi yang berjalan menunduk di belakangnya hampir saja menabraknya.


"Kenapa sih Nad?"


"Rin gue baru inget, jam 3 ntar gue ada acara klub motor."


"Lu baru inget? Ha? Becanda. Ya udah anterin gue pulang dulu," perintah Arindi.


"Haduh sory Rin, tapi acaranya ga jauh dari sini, udah gitu gue panitia acara. Lu tau kan kalo gue anterin lu balik, keburu kelar acaranya."


"Terus maksud lu gimana? lu ke acara trus gue?" tanya Arindi.


"Aduh gimana ya Rin...." Nadine berpikir, lebih tepatnya berpura-pura berpikir, ia sudah memperhitungkan semuanya. Jika perhitungannya benar maka sekarang pasti Rendi dan Tristan ada di belakang mereka. Dan benar semuanya tepat sesuai perkiraan Nadine.


"Rendyyy...."


Tiba-tiba Nadine berteriak sambil melambai ke Rendy yang sudah ada di belakang Arindi. Mendengar nama itu Arindi bisa langsung nyambung siapa yang ada di belakang. Ia pun membalik badannya untuk memastikan, ternyata benar sekarang Rendi dan Tristan lagi jalan ke arah mereka.


"Lu kenapa panggil mereka sih?" Arindi berbisik ke Nadine.


"Mau minta tolong," jawab Nadine cuek.


"Minta tolong apaan?"


Nadine tak menjawab pertanyaan Arindi karena Rendy dan Tristan sudah ada dibelakangnya.


"Kenapa Nad? Kita langsung ke sana kan?" tanya Rendy.


"Iya langsung kesana, kita kan panitianya. Masalahnya Arindi mau pulang, padahal acara kita bentar lagi. Kalo gue anterin dia, gue bakal ga bisa siapin acara kan?" jelas Nadine.


Arindi masih bengong melihat kelakuan sahabatnya yang dirasanya sangat aneh.


"Oowh... ehm gue sih nebeng mobil Tristan," jawab Rendy.


"Owh kebetulan. Yaudah sini deh Ren."


"Kebetulan?" batin Arindi.


Nadine tetiba menarik tangan Rendy, membuat Arindi makin heran, ia melebarkan matanya melihat Nadine yang menarik tangan Rendy dengan paksa.


"Lu bareng gue aja Ren, ouya Tan gue minta tolong anterin Arindi yak, sampe dia dapet taksi aja gapapa, tolong ya. Ayo Ren... Lu kan bukan panitia, bisalah dateng telat.. ya ya ya ya...."


Nadine menarik tangan Rendy makin kuat dan mengajaknya pergi naik motornya. Arindi masih bingung, mulutnya setengah menganga, ia masih sulit mencerna situasi sekarang. Dibelakang Arindi, Tristan juga merasakan hal yang sama tapi ia cepat mencerna keadaan.


"Tapi Nad, ini gue ... ya udah deh Tan gue sama Nadine, tar lu nyusul aja, anterin dia aja dulu," jawab Rendy begitu saja.


"Nad tapi...."


Arindi kehilangan kata-katanya, ia mencoba berteriak pada Nadine yang sudah berlari menjauh dan naik ke motornya. Tapi suaranya hilang ditelan suara knalpot racing itu.


"Situasi macam apa ini?" batin Arindi lagi.


Arindi memeluk buku sketsa yang dari tadi di pegangnya. Ia melihat ke bukunya lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu.


"Tunggu dulu... tas... tas gue? Kebawa juga?" Arindi baru menyadari kalau Nadine membawa serta tasnya. Ia menjadi sangat panik memikirkan semua hartanya didalam sana.


"Mau pulang sekarang?" Tiba-tiba Tristan berbicara, menyadarkan Arindi akan keberadaannya yang sedari tadi ada di belakang Arindi. Ia pun berbalik.


"Ah Tris... Maksudnya... kak. I-iya. Iya mau pulang tapi bisa ga anterin sampe ketemu taksi tapi dompet gue ditas. Gue harus apa ini? Masa ia gue pinjem uang ke dia?"


"Kenapa?" tanya Tristan heran.


"Maaf kak tapi kaya yang kakak liat tadi... Tadi gue pergi ke sini sama dia tapi gatau...."


"Jadi... mau pulang sekarang atau tetap disini?" tanya Tristan lagi.


"Pulang sekarang. Woles aja bisa kan nanyanya. Sialan."


Arindi menjawab tegas mendengar pertanyaan Tristan yang sepertinya tidak perduli dengan alasan Arindi.


Tristan pun berjalan menuju ke tempat ia memarkirkan mobilnya, sedangkan Arindi mengekor dibelakangnya. Ia pun hanya mengikuti saja saat Tristan menyuruhnya masuk ke mobil.


Arindi masuk ke mobil, suasananya terasa canggung hingga ia terus memaki Nadine dalam hatinya. Ia duduk dengan kaku, memegang erat buku sketsa yang ada di pangkuannya dan hanya menatap lurus kedepan tanpa berbicara.


Tristan pun sebenarnya canggung tapi ia menahannya sebisanya. Ia hanya terus mengemudikan mobilnya tanpa berkata apapun.


Krucuukk!!


Tiba-tiba suara perut Arindi menghilangkan kesunyian sampai - sampai Tristan menoleh karena kaget. Arindi pun memalingkan mukanya menahan malu.


"Perut sialan, kenapa harus bunyi sih? Ga cukup punya sahabat malu-maluin, lu juga ikutan?" batin Arindi.


"Lo laper? belum makan?" Tristan tersenyum sedikit mendengar suara perut Arindi.


"Owhh... Makan? Kenapa emang?" Arindi menoleh sekilas ke Tristan.


"Barusan perut lo bunyi,'' ujar Tristan Terus terang.


"Pake di omongin. Ehm itu bukan ...."


Krucuuukkk!!


Belum sempat Arindi memberikan pembelaan, perutnya kembali bunyi. Ia pun hanya tersenyum kecut saat ia melihat Tristan menyunggingkan sedikit senyum di ujung bibirnya.


"Perut sialaaaannn...," makinya dalam hati.


"Mau beli sesuatu buat di makan?" tanya Tristan lagi.


"Oh engga usah kak. Dompet gue di Nadine, gue ga punya uang. Gue bayar makanan pake apa, gue laper tapi masa ia gue ngutang ke dia."


"Jalannya masih jauh, lo sama Nadine tinggal di apartemen yang sama kan?"


"I-iya kak, masalahnya bukan itu... ehm dompet ada di tas dan tasnya kebawa Nadine, jadi...."


"Biar gue yang bayar, mau makan apa?"


"Ga bakal menang ngomong sama dia. Uhm roti aja. Oh iya nanti gue bayar uangnya atau transfer ...."


"Ga usah," ujar Tristan jelas dan pasti.

__ADS_1


"Gue ga pernah punya hutang, jadi...."


"Kalo ada toko roti yang lu mau bilang aja, tapi masih bisa di tahan kan, kita kejebak macet, jam segini di akhir pekan pasti rame. Bisa kan?"


"Bi-bisa kak. Cih omongan gue di potong terus, kalo aja tas gue ada disini udah lama gue turun."


Kemacetan lumayan panjang, perjalanan dari sirkuit ke area pertokoan pusat kota memakan waktu dua jam dengan mobil. Arindi benar-benar kelaparan, beruntung area pertokoan ini dekat dengan komplek apartemennya, jadi ia berpikir untuk berjalan kaki ke apartemennya setelah membeli roti.


"Ke toko roti itu gimana?"


Tiba-tiba Tristan menunjuk sebuah toko roti yang cukup besar. Arindi hanya mengangguk, energinya benar-benar habis, bahkan untuk mengumpat dalam hati. Mereka pun turun dan menuju ke toko roti.


Saat mereka melangkah masuk, hp Tristan berbunyi, ia pun menyuruh Arindi masuk lebih dulu karena ingin mengangkat telepon.


"Ya Ren," sapa Tristan.


"Dimana lu?" tanya Rendy.


"Baru sampe anter Arindi, kejebak macet, kenapa?"


"Ga sih, ya udah nyusul aja kesini kalo udah. Acara mau mulai," jawab Rendy.


"Ok."


Klik. Sambungan terputus.


Tristan masuk ke toko roti, ia mencari sosok Arindi, yang ternyata sedang berjongkok menatapi etalase penuh cokelat. Ia pun mendekatinya.


"Dia ngapain? Ngeliatin cokelat? udah diambil yang lu mau beli?" Suara Tristan mengagetkan Arindi membuat ia langsung berdiri dan mengambil dua buah roti cokelat di rak belakangnya.


"Iya nih udah nih." Arindi pun berjalan menuju kasir. Tristan berjalan mendekati etalase yang tadi di lihatin oleh Arindi.


"Masnya pacar mbak Arindi ya?" Suara seorang pegawai wanita dibelakang Tristan membuat Tristan kaget.


"Oh...." Tristan bingung.


"Oh mas nya pasti kaget, mbak Arindi pelanggan di toko kami, dia doyan banget makan cokelat, ini cokelat kesukaannya," ujar pegawai tadi sambil nenunjuk etalase tadi. "Kalo beli cokelat pasti banyak banget."


Pegawai wanita itu terus mengoceh. Melihat sikap ramah pegawai itu akhirnya Tristan berinisiatif membeli beberapa.


"Kalo gitu minta yang ini sama yang ini."


Tristan menunjuk cokelat berbungkus putih dan berbungkus emas, ia tidak tahu mana yang Arindi lebih suka. Ia hanya asal pilih agar si pegawai toko berhenti berbicara. Pegawai itu pun terlihat gembira, ia membawa dua batang cokelat itu ke kasir.


"Nih mbak Arin cokelatnya," ujar pegawai wanita itu.


"Eh engga, gue ga beli itu!" seru Arindi kaget.


"Gapapa mbak, di bayarin pacarnya." pegawai itu Melirik Tristan.


"Pacar? Eh mbak, dia bu-bukan pacar gue." Arindi tergagap, ia merasa malu. Tristan hanya tersenyum berusaha bersikap ramah, lalu membayar belanjaannya. Mereka pun berjalan keluar toko dengan canggung.


"Eh maaf kak, pegawainya asal ngomong, dia...." Arindi berusaha menjelaskan.


"Gapapa." Tristan mencoba tetap tenang.


"Gapapa apaan? enteng banget, enak aja di bilang pacar cowo kaya lo? Kenapa lu ga bantah aja omongannya, malah bilang gapapa," batin Arindi.


"Ayo gue anter," lanjut Tristan.


"Anter? ga usah kak, dari sini bisa jalan aja, udah keliatan dari sini apartemennya. Owh iya terima kasih roti sama cokelatnya, ntar gue ganti uangnya. Terima kasih juga untuk tumpangannya hari ini kak. Kalo gitu gue pulang."


"Lo yakin? masih lumayan juga kalo jalan?" tanya Tristan.


"Ga usah kak, lagian udah jam setengah lima." Arindi melirik arlojinya. "Bukannya kakak harusnya pergi ke acara klub motor?"


"Iya sih, tapi lo yakin gapapa?"


"Emang selemah itu gue di mata lu? Iyya gapapa kak, gue pulang, bye."


Arindi pun meninggalkan Tristan yang masih ragu ragu. Entah kenapa ada perasaan tak ingin melihat gadis itu pergi. Tapi akhirnya ia pun masuk ke mobilnya, dan duduk menunggu. Ia hanya melihat Arindi dari kejauhan , setelah Arindi masuk ke gerbang kompleknya lalu ia menjalankan mobilnya.


...----------------...


"Halo Tan," sapa Rendy di telepon.


"Kenapa? Gue udah jalan."


"Bukan, Nadine mau ngomong ke elu."


"Ya kenapa?"


"Tan lu masih sama Arindi kan?" suara Nadine menyela.


"Ga, udah gue anterin dia pulang."


"Pulang kemana? Lu yakin dah liat dia masuk ke gedung?" tanya Nadine.


"Gga anterin sampe ke dalem juga, tapi gue dah liat dia masuk gerbang komplek."


"Astaga Tan...," suara Nadine cemas.


"Kenapa Nad?"


"Jadi gini pas gue cek isi tasnya Arin ternyata access card- nya juga ada di dalem tas, dia ga bisa masuk ke dalem ga ada itu."


Ciiiittt...


Tiba- tiba Tristan menepikan mobilnya. Ia terkejut mendengar kata Nadine.


"Access card? Di dalem tas? jadi...."


"Jadi... Gue juga ga tau, hp nya di gue, kunci mobilnya di gue, udah gitu Rasya pulang malem, Vivian di luar kota. Ya jadi kayanya Arindi ga bisa pulang kemana mana... Kalo boleh gue minta tolong...."


Tuuuut.


Tristan memutuskan panggilannya. Ia memutar balik mobilnya dengan cepat. Tiba-tiba ada perasaan aneh mengaliri jantungnya membuat jantung itu berdetak cepat.


"Jadi dia kemana?" Tristan panik.


Mobil Tristan masuk ke gerbang komplek, ia memperlambat mobilnya sambil melihat ke kanan dan kiri mencari sosok Arindi.


"Kemana dia?"


Tristan melirik jam tangannya, jarum jam menunjukkan pukul lima sore. Ia semakin khawatir, tangannya mulai berkeringat.

__ADS_1


"Kalo dia sadar kartunya di Nadine pasti dia udah keluar dari apartemennya lagi, trus dia ke...."


Tristan melihat sebuah taman tak jauh dari apartemen. Di bagian pojok taman ia melihat dari kejauhan sosok yang dia cari. Arindi disana sedang duduk di bangku taman di bawah sebuah pohon besar.


Tristan pun memarkirkan mobilnya tak jauh dari taman. Ia bergegas menghampirinya. Arindi sedang sibuk dengan buku sketsanya, ia sedang melukis cokelat dan roti yang di taruhnya secara aestetik di bangku taman sehingga tak menyadari seseorang mendekatinya.


"Emang bisa kenyang kalo cuma diliatin?" suara Tristan mengagetkan Arindi.


"Ah... Loh Tris... Kak Tristan? ngapain disini? bukannya kakak udah pergi?"


Arindi menyadari tatapan Tristan ke buku sketsa di pangkuannya dan lalu menatap ke Arindi dengan tajam.


"Kenapa gitu sih ngeliatin gue? Apa udah mau nagih utang gue?" batin Arindi.


"Kenapa ga bilang ke gue kalo lu ga bisa masuk?" suara Tristan dingin dan tegas.


"Dia kenapa sih? Ah itu, masalahnya gue juga baru inget pas mau masuk gedung." Arindi tersenyum kecut. "Dia tahu gue ga bisa masuk?"


Arindi meneguk ludahnya saat suara Tristan mulai meninggi, ia merasa seperti baru saja kepergok berbuat dosa.


"Kenapa? otak ni anak udah rusak ya? Dateng dateng nyolot banget, padahal ini tuh hampir pencapaian yang luar biasa satu hari tanpa di omelin lu. Ngomong-ngomong uhm a-apa ga jadi pergi?" tanya Arindi pelan takut di marah .


Tristan mendesah pelan, ia baru tersadar kalau ia bicara dengan kejam lagi pada gadis itu. Ia merasa heran kenapa ia begitu apa karena jantungnya dari tadi berdetak kencang.


"Kenapa gue selalu gini? Kenapa dia selalu buat gue khawatir? Rasanya sesak. Oh itu a-acaranya udah lama mulai." Tristan berusaha natural. "Kalo gue dateng ntar telat juga jadi tanggung. Trus juga Nadine tadi telpon dan bilang kalo kartu akses lo di dia. Jadi gue... mau mastiin kalo lu ga kenapa-napa."


"Hah?", Arindi heran.


"Jadi lu belum makan cokelatnya?" ujar Tristan berusaha santai.


"Ohh iya belum." Arindi masih belum nyambung.


"Kenapa? Ga suka? Kenapa di beli kalo...."


"Gue suka kok," ujar Arindi sambil senyum karena takut kena semprot.


Tristan tersentak saat Arindi bilang suka, entah kenapa kata-kata itu membuat Tristan bingung, dan menyalah artikannya. Ia hanya menatap ke arah mata Arindi yang tersenyum menatapnya. "Ha? Suka?"


"Cokelatnya, iya gue suka," jawab Arindi.


"Ohh hah cokelat. Kalo gitu simpen aja coklatnya, gue... tiba-tiba laper, mau makan yang lain aja?" tanya Tristan tiba-tiba.


"Tiba-tiba? Seenak enak idup lu aja ya, marah, laper. Makan?" batin Arindi.


"Iya, atau lu mau nunggu di taman ini sampe malem?" tanya Tristan lagi.


"Uhm ga sih, heeemmhh ya udah makan."


"Lo mau makan apa? Di restoran mana atau kafe atau...." Tristan berjalan menuju mobilnya, Arindi hanya mengekor.


"Tunggu kak, ga usah naik mobil."


"Trus?" Tristan merasa heran.


"Udah sini ikut." Gantian Arindi yang berjalan mendahului.


"Dimana?"


"Di seberang komplek, oh iya ada makanan yang ga bisa dimakan atau ga di sukai?" tanya Arindi.


"Ga ada, gue ga pilih pilih makan."


"Ya udah ikut aja kalo gitu." Arindi mengajak Tristan makan soto yang lokasinya tak jauh dari kompleknya.


Selesai makan mereka kembali ke taman. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Arindi kembali duduk di bangku taman, ia sedang menikmati cokelatnya. Soto tadi sudah membuatnya kenyang tapi cokelat itu menggoda indra pengecapnya.


Tristan sedang bertelponan dengan seseorang tak jauh darinya. Setelah menelpon, Tristan mendekati Arindi.


"Nadine sebentar lagi sampe," ujar Tristan kemudian.


"Oh, uhm baguslah," jawab Arindi.


Tristan pun duduk di ayunan yang ada di taman tak jauh dari Arindi.


"Nnih orang kenapa malah duduk, ga mau pulang apa? Oh kak, kakak pulang gapapa kok."


"Gapapa," jawab Tristan singkat.


Arindi menjadi serba salah. Ia ingin Tristan pulang tapi tidak mungkin juga mengusirnya setelah dibelikan makanan, takut Tristan berpikir ia cewek yang kurang ajar. Tapi kalau Tristan disini dia juga bingung mau ngomong apa yang ada nanti ia emosi mendengar kata-kata dinginnya.


"Owh iya terima kasih untuk makanannya tadi, ntar gue balikin uangnya," ujar Arindi.


"Hem," Tristan menjawab singkat.


"Singkat amat, kalo cape pulang sono," batin Arindi.


Tristan hanya diam, ia melipat kakinya, lalu tangannya dan menundukkan kepalanya. Ia bukannya lelah, dia hanya merasa canggung dengan kondisi saat ini. Dia tak habis pikir kenapa bisa dia disini sekarang.


Arindi tak lagi bertanya. Ia melihat sosok Tristan dengan tersenyum. Ia pun menghabiskan cokelatnya lalu membuka buku sketsanya. Ia mulai menggambar sosok pria didepannya itu di bawah lampu taman yang temaram.


Ia sedang serius memberi sentuhan akhir pada gambarannya tanpa menyadari Tristan sudah berdiri didepannya. Melihat bayangan Tristan yang menutupi cahaya, ia pun kaget.


"Apa itu gue?"


Walau sekilas Tristan bisa melihat siluet dirinya di gambaran itu. Arindi pun mendongak, dalam gelap, Arindi bisa melihat tidak ada tatapan tajam di wajah itu, hanya tatapan kaget ke arah bukunya. Arindi menutup buku sketsanya tiba-tiba.


"Ahh." Arindi tersenyum. "Maaf, tapi itu tadi... Gue bosen dan...."


"Boleh gue liat?"


"Tapi kak...."


"Kalo ga mau gapapa, kalo gitu utang lu lunas, anggap aja itu bayarannya," ujar Tristan.


"Ah apaan? nih...." Arindi buru-buru merobek kertas yang dimaksud Tristan lalu memberikanya padanya. Arindi tak ingin memberikannya tapi kalau Tristan menganggap dengan menjadikannya model lukisannya bisa membuat hutangnya lunas maka ia lebih baik merelakan lukisan itu daripada dia dianggap mencari kesempatan.


"Ga kok, gue ga niat buat gitu, nih lukisannya buat kakak aja, utangnya tetep gue bayar ntar."


Tristan pun mengambilnya. Ia tersenyum mengamati coretan tangan Arindi, ia mengaguminya.


"Detail banget. Nadine udah di depan, lo masuk gih, gue mau pulang," ujar Tristan.


"Haah? Sejak kapan? Oh iya kalo gitu, terima kasih kak, utangnya nanti gue bayar."


"Ya udah masuk sana."

__ADS_1


"Oh iya... bye."


Arindi cepat cepat berlari menuju apartemen. Ia ingin segera menyudahi pertemuan dengan Tristan yang merupakan hari memalukan baginya. Tristan masih mengagumi coretan di kertas itu lalu berlalu pergi.


__ADS_2