Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Janji Bertemu


__ADS_3

Arindi berjalan menuju aula gedung seni. Sebentar lagi pukul satu siang, akan diadakan movie screening disana.


Arindi ingin membenarkan kunciran rambutnya, ia sedikit kesulitan karena buku agenda yang ada ditangannya. Ia mencoba menjepitnya ke dagunya tapi karena buku itu licin maka terus meleset dari dagu Arindi. Ia mencoba menjepit di lengannya tapi tangannya tak bergerak bebas, akhirnya ia membiarkan rambutnya terurai.


"Sini biar kakak yang pegang." Tristan tiba-tiba sudah ada disamping Arindi, ia mengambil buku agenda Arindi yang ada di genggamannya.


Arindi pun tersenyum melihat pria itu yang selalu bisa menemukannya dimanapun. "Kak Tristan? eh tolong ya kak, dari tadi susah banget."


Arindi pun melanjutkan menguncir rambutnya lagi. Tristan melirik sebentar saat gadis itu mulai mengangkat tangannya. Ia melihat tengkuk gadis itu yang dipenuhi beberapa anak-anak rambut halus. Hal itu membuat jantungnya berdegup kencang lagi.


"Udah ga usah dinkuncir." Tristan pun menarik kunciran yang telah berhasil di pasang Arindi.


"Eh eh kenapa? Ini tuh gerah loh Kak... Serius...," ujar Arindi meyakinkan Tristan sambil kebingungan.


"Ga usah, udah cantik kaya gini aja," tambah Tristan sambil memasukkan kunciran Arindi ke kantung celananya.


Akhirnya Arindi menurut saja. Ia juga malu dibilang cantik lagi. Mereka pun mendapatkan tempat duduk di kursi bagian depan, mereka duduk bersebelahan.


Penonton mulai ramai, aula mulai padat, Tristan menggeser kursinya agar lebih mendekat pada Arindi.


Pemutaran film pun dimulai. Arindi tampak serius selama acara berlangsung. Sedangkan Tristan tak benar- benar bisa fokus karena mereka duduk sangat dekat bahkan tangan mereka bersentuhan. Matanya ingin terus melihat ke arah Arindi. Sesekali ia melirik ke arahnya.


Arindi mulai mencatat hal penting saat diskusi dimulai, ia mengibaskan rambutnya ke samping agar tak mengganggunya menulis.


"Tuh kan kak, susah nulisnya kalo rambutnya ga dikuncir." Arindi setengah berbisik pada Tristan. Tristan hanya tersenyum, ia harus benar-benar menahan perasaannya. Entah mengapa ia jadi suka menjahili gadis itu.


"Ya udah sini kakak yang tulis," tangannya bergerak cepat ingin mengambil pena yang ada di tangan Arindi.


"Jangan, biar Arin aja," jawab Arindi cepat. Ia mengerucutkan bibirnya. Arindi tahu lengan Tristan masih terasa tak nyaman jika digunakan untuk menulis.

__ADS_1


Arindi kembali sibuk memperhatikan. Tristan hanya tersenyum melihatnya. Ia senang setiap kali gadis itu bersikap manja padanya. Ia juga senang Arindi tak merasa sungkan lagi padanya.


Setelah beberapa lama pemutaran film pun selesai. Arindi dan Tristan pun berpisah.


...----------------...


"Weits udah kaya sepasang kekasih aja Tan," ujar Rendy menggoda Tristan yang dari tadi melihat Tristan dan Arindi bersama. Rendy melingkarkan tangannya di bahu Tristan. Tristan menepisnya, membuat Rendy tertawa.


"Sirik aja nih bocah satu," jawab Tristan.


"Bukan gitu Tan, kapan di umuminnya hubungan lo berdua?" tanya Rendy penasaran.


"Hubungan apaan?"


Rendy terus menggoda Tristan yang selalu berusaha untuk menghindari pertanyannya. Sedangkan Tristan mulai memikirkan kata yang diucapkan Rendy terakhir kali.


...----------------...


Tristan


_________________________________________________


Tar jangan pulang dulu ya 19.20


^^^Ok kak. Arin tnggu di mbil 19.20 _________________________________________________^^^


Tak lama menunggu Tristan pun muncul. Arindi sangat bersemangat melihat sosok itu. Bahkan meskipun gelap Tristan begitu bercahaya di mata Arindi. Entah sejak kapan ia melihat Tristan begitu.


"Maaf ya nunggu."

__ADS_1


Ujar Tristan sambil terus berjalan hingga menyisakan satu langkah kecil dari posisi Arindi berdiri. Arindi pun membesarkan matanya ia menahan napasnya, lalu ia pun tersenyum melihat dari dekat wajah Tristan yang sangat bersinar dimatanya.


Tristan menelisik ke setiap sudut wajah Arindi. Melihatnya begitu dekat membuat Tristan tak bisa menahan tangannya untuk tak menyentuh wajah gadis itu.


Kali ini ia pun mengangkat tangannya dan mengusap lembut kepala Arindi. Membuat Arindi lagi-lagi menahan nafasnya. Ia menyukai setiap kali Tristan menyentuh kepalanya seperti itu. Perasaan hangat ini meniup hatinya.


"Udah mau pulang?" tanyanya pada Arindi.


"Kenapa ngliatinnya gitu sih? Oh jantung kuat donk... kuat... kuat... Iya kak, kakak udah selesai juga kan?"


Deg deg deg!! Suara jantung Arindi. Sikap Tristan yang berubah menjadi sangat lembut akhir-akhir ini membuat ia tak bisa menahan laju degupan jantungnya.


"Hemh... Besok malam pulang dari acara ada kerjaan?" tanya Tristan tiba-tiba.


"Besok? Malam minggu? Uhhmm belum ada rencana sih kak. Tunggu... malam minggu? Besok malam minggu? Kenapa kak?" Arindi berpura-pura bertanya, ia ingin memastikan sesuatu.


"Kakak mau ajak Arin ke suatu tempat," jawab Tristan.


"Kemana?" Arindi bertanya malu-malu.


"Uhhm besok ya, sekarang pulang dulu gih."


Tristan membuka pintu mobil Arindi, tangannya menahan di atas kepala Arindi agar tak mengenai kap mobil, ia pun mempersilahkan Arindi masuk mobil.


Arindi membuka kaca jendela mobilnya. Tristan membungkukkan tubuhnya mendekatkan kepalanya ke wajah Arindi. Ia tahu pasti gadis itu penasaran dengan rencananya tadi.


"Kemana sih kak? Kasih tahu sekarang aja napa? Lama kan kalo nunggu besok?" Arindi memohon melalui tatapan matanya pada Tristan.


"Besok ya...." Ia benar-benar tak kuat melihat wajah Arindi. Ia pun memainkan helaian rambut Arindi yang menjuntai mengenai jendela mobil. "Besok gak usah bawa mobil biar kakak yang jemput. Udah pulang sana," ujar Tristan cepat lalu menjauhkan tubuhnya dari mobil.

__ADS_1


"Ya udah deh, kalo gitu Arin pulang dulu ya Kak."


Ia tak rela berpisah dengan Tristan. Begitupun Tristan tak ingin rasanya melihat gadis itu pergi. Tapi hal-hal baik harus menunggu waktu yang tepat untuk dibicarakan.


__ADS_2