Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Pertemuan Dua pria (2)


__ADS_3

Pagi ini Tristan memacu kencang motor sport-nya menuju apartemen Arindi. Sepanjang perjalanan pikirannya tak henti memikirkan gadis itu.


Ia penasaran sekaligus takut secara bersamaan. Pertanyaan apa yang ia akan tanyakan saat bertemu Arindi nanti. Jawaban apa yang akan didapatnya setelah itu. Apakah ia akan berbohong atau berterus terang.


Ia sangat berharap jawaban yang diberikan Arindi bukanlah hal buruk seperti yang dipikirkannya. Namun bagaimana jika jawabannya sebaliknya. Siapkah ia mendengar semua itu.


Tidak. Tentu saja ia tidak siap. Ini bukanlah hal yang biasa ia hadapi dalam hidupnya. Tapi jika ia tidak menanyakannya, rasa penasaran itu sama seperti virus yang menggerogoti dirinya dari dalam. Perlahan tapi pasti membuatnya hancur dari dalam.


Tristan pun tiba di apartemen Arindi. Ia mengatur suaranya yang tiba-tiba serak dan meregangkan tangannya yang mulai gemetar.


Tristan menekan bel pintu apartemen dengan ragu-ragu. Cukup lama ia mematung, memandang kosong pada pintu dihadapannya. Tapi entah keberanian darimana ia pun mendapat kekuatan untuk menekan bel dan siap menghadapi apapun yang akan muncul dihadapannya.


Cklek. Pintu pun terbuka. Seseorang membukakan pintu untuknya. Seseorang yang keberadaanya tak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya. Seseorang yang membuat hatinya panas seakan terbakar api.


Matanya menatap tajam dan dingin pada sosok pria di hadapannya. Ingin rasanya ia berharap bahwa seseorang membangunkannya dari mimpi buruk ini. Tapi keberadaan sosok didepannya ini terlalu nyata untuk ia anggap sekedar mimpi.


Tangan Tristan mengepal. Jika ia tak menuruti akal sehatnya pasti tinjunya sudah melayang pada wajah pria yang saat ini tersenyum sok manis padanya. Namun ia tahu dirinya akan terlihat semakin buruk jika lebih mendahulukan otot daripada otaknya.


"Mau ketemu Arindi kan?" ujar pria di depannya ini, yang tak lain adalah Anggara yang masih bersikap manis.


Tristan tak menjawab pertanyaan Anggara. Darahnya semakin mendidih mendengar ia menyebutkan nama itu. Tatapannya tajam dan menusuk sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan barusan.


Melihat Tristan bersikap begitu, tentu saja membuat Anggara semakin ingin menambah kemarahan di tubuh Tristan. Anggara pun berdecak sinis. Wajah manisnya tadi langsung menghilang. Berubah jadi tatapan yang tak kalah dingin dan menakutkan.


"Sayang... Ada yang cariin kamu!" teriak Anggara pada Arindi. Dengan sengaja ia menambahkan kata 'sayang' pada kalimatnya.


Anggara memang tak tahu siapa pria yang datang ke apartemen adiknya ini pagi-pagi sekali. Namun ia bisa menebaknya bahwa ia pasti pria yang dekat dengannya. Ia tahu sifat Arindi, adiknya bukan orang yang mudah bergaul dengan pria. Jika pria ini tahu tempat tinggalnya maka mereka pasti sudah sedekat itu.

__ADS_1


Meskipun tidak tahu, tapi ia bisa menebak nama pria ini. Dia pasti pria yang namanya diberi simbol hati di kontak hp Arindi. Dari cara ia memandang dirinya, Anggara tahu itu adalah tatapan penuh curiga pada seseorang yang keberadaanya tidak seharusnya terlihat disini.


Kemarahan Tristan semakin menjadi mendengar kata-kata sok manis yang diucapkan Anggara barusan. Terlebih lagi saat Anggara berkata seperti itu, ia melihat Arindi yang baru keluar kamar dengan buru-buru. Terlihat sosok gadis itu dari belakang bahu Anggara.


Tristan memindai dari atas ke bawah bagaimana penampilan Arindi saat ini. Jubah mandi yang masih melekat dan lilitan rambut basah dikepalanya membuat pikiran Tristan kemana-mana.


Arindi yang sudah keluar dengan berlari cepat setelah membaca pesan yang diberikan Tristan, ternyata masih kalah cepat. Suara Anggara tadi membuatnya sangat syok. Sekarang dua pria yang saling berhadapan itu membuatnya seperti disambar halilintar. "Terlambat", batinnya.


"Tristan...," ujar Arindi sambil berjalan mendekat. Ia pun menggeser paksa tubuh besar Anggara. Anggara yang merasa menjadi penghalang diantara mereka pun semakin memiliki ide gila.


"Dia siapa sayang?" tanya Anggara tersenyum sok manis sambil melingkarkan lengannya di leher Arindi. Suaranya setengah berbisik pada telinga Arindi namun tetap terdengar jelas di telinga Tristan yang mulai menegang menatap rangkulan lengan Anggara.


"Anggara!!" bentak Arindi sambil berusaha melepaskan rangkulan Anggara.


"Kenapa kasar banget sih sayang," ujar Anggara lagi sambil menggoda pada Arindi.


"Lepasin ga!" ujar Arindi makin merasa risih dengan sikap kekanakan Anggara.


"Lo ga denger apa yang dia bilang?" ujar Tristan dengan suara menahan emosi. Matanya tak lepas dari mata Anggara yang terus memandang wajah kesal Arindi dengan sok manis.


"Sayang, dia siapa sih?" ujar Anggara lagi terus mengabaikan tatapan membunuh Tristan. Ia sengaja melakukannya karena ia ingin mendengar pengakuan Arindi secara langsung mengenai statusnya dengan pria ini.


"Dia pacar gue, lepasin ga tangan lo," ujar Arindi memandang kesal Anggara.


Tristan yang mendengar perkataan Arindi tadi langsung membeku. Ia tak menyangka gadis itu akan mengatakan hal itu dengan mudah seolah tak perlu menyangkal keberadaannya. Meskipun perasaannya kacau tak karuan sejak tadi tapi mendengar pengakuan Arindi tadi membuat seolah ada angin segar yang bertiup entah dari mana.


"Pacar ya, terus gue apa sayang," ujar Anggara makin menjadi-jadi.

__ADS_1


"Anggara berenti bercanda, gue capek ngerti ga," tegas Arindi.


"Capek abis ngapain sih say...," tambah Anggara lagi.


"Lo ga punya telinga? Lepasin tangan lo sekarang juga!!" ujar Tristan setengah membentak.


"Kalo gue ga mau?" ujar Anggara kemudian lalu memalingkan wajahnya ke Tristan. Matanya berubah menjadi tatapan tajam yang diarahkan langsung ke mata Tristan.


"Lo ga ngerti sopan santun ya? Lo ga ngerti kalo lo gini bisa gue laporin ke polisi," ujar Tristan langsung mencengkram erat pergelangan tangan Anggara yang masih melingkari leher Arindi.


Arindi mulai merasakan perasaan yang tidak enak. "Anggara lepasin cepet atau...."


"Atau apa?" ujarnya menatap lembut pada Arindi. "Ngomong yang bener dong sayang, baru dilepasin. Tangan ini sakit banget loh," ujarnya sambil melirik pada lengannya yang masih dicengkram Tristan.


Arindi menatap tegang pada Anggara. Tristan pun diam membeku, ia juga sangat menantikan bagaimana reaksi Arindi terhadap kata-kata Anggara tadi.


Arindi pun menyerah, ia tahu ini tak akan selesai jika ia terus bersikeras melawan Anggara. Meskipun mungkin Tristan akan kecewa, ia akan menjelaskannya nanti, pikir Arindi. "Kak Anggara tolong lepasin tangannya ya," ujar Arindi sambil menatap tajam.


Tristan menahan emosinya yang tiba-tiba ingin meledak mendengar kata-kata manis Arindi pada pria itu. Ia tak menyangka Arindi akan menuruti saja kata-kata pria itu.


"Senyum donk, masa ekspresinya gitu sayang," ujar Anggara lagi dengan manis pada Arindi. Ia merasa puas Arindi akhirnya menyerah pada dirinya.


"Lo udah melewati batas, dia udah ngikutin kata-kata elo, lepasin sekarang!" Tristan mengeraskan genggaman tangannya.


Arindi pun sekali lagi menyerah pada perintah Anggara. Dengan terpaksa ia pun tersenyum pada Anggara. Ia tak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Menjelaskan kesalahan pahaman pada Tristan jauh lebih mudah daripada melawan keinginan Anggara. Arindi tahu benar perasaan Tristan saat ini. Tapi yang terpenting sekarang adalah mencegah keduanya saling beradu pandang dengan tatapan saling membenci. Karena bagi Arindi kedua pria ini adalah pria yang penting dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2