
"Mau makan dulu sebelum pulang?" tanya Tristan pada Arindi yang baru saja masuk ke dalam mobil. Jam menunjukkan pukul delapan malam, Arindi baru selesai dari studio seninya.
"Boleh," jawab Arindi singkat. Ia terlihat sangat lelah setiap kali menyelesaikan project di studio tak terkecuali malam ini. Namun, tak seperti hari-hari sebelumnya. Saat ini ada senyuman hangat yang menyambutnya hingga rasa lelahnya menguap begitu saja jika menatap senyuman itu.
"Capek ya sayang?" Tristan mengusap lembut kepala Arindi.
"Engga kok kak. Tapi... Kita mau makan dimana?"
Tristan pun melajukan mobil di jalanan malam ini setelah menyebutkan tempat makan yang akan mereka tuju.
.
.
"Kita duduk disini aja," tunjuk Tristan pada sebuah meja dengan empat kursi kosong.
"Disana ada yang kursinya dua kak," ujar Arindi setelah melihat ke sekitar yang ternyata masih ada tempat dengan dua kursi kosong saja.
"Ntar ada yang dateng," jawab Tristan cepat. Membuat Arindi bingung dengan dua orang yang dimaksud Tristan.
Tak lama kemudian. "Nah tuh dateng orangnya." Yang tak lain adalah Joe dan Rendy.
"Yo Tan, wah ada Arindi juga. Halo cantik," sapa Joe langsung mengambil tempat duduk di depan Arindi. Arindi hanya bingung dengan kedatangan dua sahabat Tristan ini lalu membalas sapaan Joe dengan sopan.
Tristan memasang wajah datar pada Joe yang mulai bermulut manis, ia memberinya tatapan tajam. Jos berpura-pura tak melihatnya.
"Gitu amat Tan ngeliatin Joe. Kenapa sih, padahal lo yang ngundang kita kesini," sahut Rendy mulai menggoda Tristan.
"Kakak sengaja ngajakin mereka?" bisik Arindi pada Tristan.
"Gapapa kan?" balas Tristan setengah berbisik pula.
"Ya gapapa sih kak," ujar Arindi tenang.
"Ck. Bisik-bisik. Kakak jadi cemburu lo," goda Joe lagi.
"Joe... Peka dikit napa?" sahut Rendy lagi.
"Peka kenapa?" Joe memandang heran pada Rendy dan Tristan. Lalu ia tersadar sesuatu. " Tunggu, kalian pacaran?" tudingnya pada Tristan dan Arindi.
__ADS_1
Arindi yang mendengar kata-kata Joe merasa malu hingga pipinya memerah.
"Alesan gue ngajakin kalian makan disini ya karena gue pengen ngasih tahu sama kedua sahabat gue yang katanya paling jago kalo soal pacaran. Bahwa sekarang gue juga udah punya pacar," jelas Tristan sambil menatap Arindi yang sudah diam seribu bahasa karena pipinya terasa mau meletus.
"Haaaa? Serius ini Ren?" tanya Joe tak percaya.
"Kalo gue sih udah bisa nebak lah ya. Selamat ya Tan. Akhirnya setelah sekian purnama...." ledek Rendy.
"Gue mau pulang," ujar Joe seraya berdiri.
"Eits mau kemana lo?" Rendy mendudukkan Joe kembali ke kursinya.
"Gue patah hati Ren, mau pulang aja. Mau nangis di pojokan."
Arindi hanya tertawa melihat kelakuan ketiga pria ini yang saling beradu mulut dan saling melempar candaan meskipun mulut mereka penuh dengan makanan sepanjang malam ini.
Setelah beberapa menit makanan yang mereka pesan ludes tak terkira. Hanya menyisakan minuman di gelas masing-masing yang sudah berkurang setengahnya.
"Gimana... Ada lagi yang mau dimakan?" tanya Tristan pada Arindi sambil mengusap lembut rambutnya.
Belum sempat Arindi menjawab, tiba-tiba jus mangga yang baru saja dihisap Joe mengalir keluar dari mulutnya. Matanya tak lepas dari tangan Tristan yang mengusap rambut Arindi.
"Kenapa sih, lo sakit?" tanya Tristan kemudian sambil menyodorkan wadah tissue ke wajah Joe.
"Kak, airnya keluar," ujar Arindi cepat.
Joe pun membersihkan mulutnya yang penuh tetesan jus tanpa rasa malu. "Anak ini beneran baru pertama kali pacaran ya Ren?" ujarnya menatap pada Rendy.
"Lo kan tau sendiri, pake nanya lagi," jawab Rendy.
"Tapi kok kaya pro ga sih. Lo kok tega Tan gitu di depan kita," ujar Joe memasang tampang sedih.
"Kenapa? Lo mau gue elus juga?" tanya Tristan sambil mengangkat tangannya ke arah Joe.
"Jijik," elak Joe membuat Arindi dan Rendy terkekeh geli.
Malam berlalu tanpa terasa. Pernyataan Tristan pada temannya tadi bukan sekedar deklarasi. Tapi ia ingin menunjukkan pada Arindi betapa bangganya ia memiliki gadis itu disisinya.
...----------------...
__ADS_1
Arindi dan Tristan tiba di apartemen.
"Masuklah. Besok ada kuliah kan?"
Arindi mengangguk. Ia tak memberi jawaban lewat kata-kata. Matanya sibuk memandang wajah tampan Tristan. Merasa di pandangi oleh Arindi membuat ia jadi salah tingkah.
"Kenapa ngeliatin?" Akhirnya Tristan bertanya karena heran.
"Emang ga boleh ngeliatin pacarnya sendiri?" goda Arindi kemudian.
"Ga mungkin ga boleh." ujar Tristan lalu lebih mendekat pada Arindi. Ia mencondongkan wajahnya pada gadis itu dan mengecup dahi gadis itu dengan lembut. "Cuma gue ga kuat kalo diliatin terus gitu. Hati bertahanlah," batin Tristan dalam hatinya.
.
.
Arindi masuk ke dalam apartemennya dengan perasaan bahagia setelah berpisah dengan Tristan. Matanya menyapu bersih setiap sudut ruangan mencari sosok seseorang.
"Kak Anggara," panggilnya tanpa sadar. Ia lupa bahwa Anggara malam ini tak akan pulang ke apartemennya lagi. Ia menemukan sebuah memo kecil tergeletak di atas meja. Di atasnya tulisan tangan Anggara terukir indah.
Arindi pun duduk di sofa dan membaca pesan itu.
'Jangan sedih karena gue tinggal. Apartemen lo ga cocok untuk pria setampan dan sesibuk gue. Hubungi gue kalo lo pengen keluar dari zona nyaman.
P.S. ♥️♥️♥️♥️♥️Anggara♥️♥️♥️♥️♥️'
"Pesan macam apa ini? Siapa yang sedih kalo pesannya isinya ngajak berantem kaya gini?" gumamnya. Ia menyangkal rasa sedih dalam hatinya. Walaupun hanya beberapa hari, ia kehilangan sosok menyebalkan itu rupanya.
Arindi berjalan cepat mengelilingi seisi apartemennya mencari sesuatu yang berhubungan dengan Anggara. Arindi berpikir mungkin saja ia membohonginya seperti keusilannya selama ini.
Namun, setelah berkeliling kesana kesini ia tak menemukan apapun bahkan sehelai rambut Anggara pun tak tertinggal jejaknya disana.
Arindi pun duduk lemas di tempat tidurnya. Ia menatap ponselnya lalu membuka kontak di ponselnya. Ia mencari nama Anggara. Setelah menemukannya, Arindi merasa heran karena namanya telah diubah sama seperti yang tertulis di bagian akhir memo.
"Kapan dia ngeubah ini? Waktu itu ya," gumam Arindi lagi. "Tunggu jadi maksudnya 'kakak dengan sepuluh hati' itu ini?" Arindi teringat kata-kata Anggara waktu itu saat ia menyebut dirinya begitu.
"Kenapa dia ganti namanya jadi gini? Apa jangan-jangan dia lihat nama Tristan. Berarti saat Tristan datang waktu itu, dia udah tau?"
Arindi jadi mengingat kembali saat pertama Tristan dan Anggara bertemu pertama kalinya. Akhirnya Arindi menyadari bahwa Anggara waktu itu bisa menerka bahwa Tristan adalah pacar Arindi dan perbuatannya waktu itu ia sengaja bukan karena ia tidak tahu siapa Tristan. Tapi justru karena ia tahu.
__ADS_1