
Arindi sedang sibuk mengetik sesuatu di laptopnya, ia sedang ada di gedung sekretariat BEM sekarang. Tampak selain Arindi dan Anggi ada dua orang anggota lainnya sedang fokus dengan laptop masing-masing. Anggota BEM lain turun ke lapangan langsung.
Hari ini adalah hari terakhir persiapan Gelaran Seni Budaya kampus mereka, salah satu acara tahunan yang diadakan bidang seni dan budaya, yang merupakan ajang bagi penggiat seni dan para seniman untuk mengekspresikan karyanya melalui pameran, ada beberapa pembicara dan narasumber terkenal dari dunia seni yang akan diundang, sehingga sudah beberapa ini semua anggota BEM terlihat sangat sibuk.
"Rin gue bisa minta tolong ga?" Suara Anggi membuat Arindi berhenti mengetukkan jarinya di keyboard.
"Apa kak?" jawab Arindi.
"Gue mau minta tolong print laporan ini di lantai bawah, trus ntar hasilnya kasih ke Tristan. Gue tiba-tiba ada urusan."
"Iya kak, gue selesain ini aja dulu ya." Arindi Nunjuk ke laptopnya.
"Duh Rin, ntar Tristan dah dateng, harusnya ini tuh diserahin kemarin, tapi kakak lupa, soalnya nyokap sakit dari kemarin, jadi kakak kurang fokus, udah gitu bokap tadi telepon bilang nyokap masuk rumah sakit. Gue juga gimana ini bingung." Anggi terlihat panik.
"Ohhh, ya udah kakak siap siap pulang aja, sini biar gue yang kerjain." Arindi bergerak cepat.
"Makasih ya Rin, tolong banget ya." Anggi Menyerahkan sebuah USB ke Arindi.
"Ga masalah kok kak, kalo kak udah beresan buruan pulang."
"Iyya sip," jawab Arindi.
Arindi pun bergegas turun ke lantai satu menuju tempat mesin printer berada, di ruang administrasi. Arindi memang bertemperamen buruk, ia gampang emosi tapi ia juga gampang bersimpati pada orang lain yang sedang kesulitan.
Arindi merapikan laporan yang sudah diprint, ia membaca sekilas judul laporan itu adalah laporan pertanggungjawaban keuangan. Setelah itu ia kembali menuju ke lantai dua, ia ingat laporannya juga belum selesai.
Sesampai diatas ruangan telah kosong, semua orang telah pergi turun kebawah. Arindi pun dengan cuek kembali pada kursinya dan tugasnya. Tak lama Tristan masuk, ia baru dari lapangan, ia melihat Arindi masih bekerja.
Tristan menegur Arindi. " Yang lain udah turun? Kenapa ga turun?"
"Oh kak, tanggung sih sedikit lagi." Arindi kaget tiba-tiba Tristan datang.
"Ga makan siang aja dulu, udah siang."
"Owh pantes dah pada sepi. Tar aja deh kak, oh ya ini titipan kak Anggi, ini USB sama print out laporannya." Arindi mendekat ke meja Tristan.
"Anggi kemana?" Tristan merasa heran Arindi memegang USB itu.
"Oh kak Anggi ada urusan keluarga, katanya nyokap...."
Tiba-tiba hp Tristan berbunyi, ia pun menjauh dari Arindi untuk menjawab telepon. Arindi pun tak melanjutkan kata-katanya, ia hanya meletakkan USB dan laporan di meja Tristan.
Tanpa sengaja Arindi melihat ke laptop Tristan yang tadi dibukanya. Layarnya menampilkan file-file photo dari memori kamera Tristan yang baru saja di sambungkannya ke laptopnya.
Ada banyak foto, tapi diantara foto itu ia bisa melihat dengan jelas gambar yang ia kenal. Ia pun duduk di kursi Tristan untuk melihat dari dekat. Ia memperbesar gambarnya.
"Foto gue? Kapan...," batin Arindi.
Itu adalah foto Arindi saat ia sedang melukis di pameran beberapa minggu yang lewat. Arindi terbengong melihat foto-foto itu, Tristan mengambil fotonya dengan sudut yang tepat, sehingga tampak seperti dilakukan oleh fotografer profesional.
"Wwaah keren banget... ini sih udah pro, kenapa bilang iseng doang, huummh rendah diri banget," gumam Arindi dalam hati.
Arindi masih duduk disana, sampai ia tak sadar Tristan sudah ada di sampingnya. Tristan melihat apa yang dilihat Arindi.
Klap!!
__ADS_1
Tristan menutup laptopnya dengan cepat, membuat Arindi kaget dengan kehadirannya.
"Bukannya ga sopan ngeliat isi laptop orang tanpa izin?" Tristan berusaha tegas, ia sedang menutupi rasa malunya pada Arindi.
Arindi pun berdiri, ia melipat tangannya. Jarak mereka dekat sekali sampai Tristan menjadi semakin gugup. Arindi tersenyum sinis. "Bukannya ga sopan ngambil foto orang tanpa izin?" ia membalas sindiran Tristan.
Tristan pun terdiam, omongannya terpatahkan. Ia kalah. Arindi malah tersenyum melihat Tristan gugup. Ia pun duduk kembali ke kursi Tristan dan membuka laptopnya. Tristan sudah terlambat bergerak untuk mengambil laptop itu.
"Lagian udah terlanjur di liat. Fotonya keren," ujar Arindi cuek. " Ih di kunci... buka dong kak kuncinya."
Laptopnya di beri kata sandi. Tristan merasa aman untuk sementara sampai akhirnya Arindi merengek seperti anak kecil karena ingin Tristan membuka kata sandi laptop-nya.
"Kak ayo buka... kak Tristan yang baik ayo dong buka."
Arindi menatap pada Tristan yang masih berdiri disampingnya, alisnya berkerut, mulutnya cemberut dan matanya seperti anak anjing yang sedang memelas menatap padanya.
Arindi membuat Tristan semakin gugup, bagi Arindi mungkin terlihat enteng, tapi melihat ekspresi Arindi seperti itu membuat jantungnya berdegup kencang tiba-tiba. Gadis itu benar benar meruntuhkan pertahanan dirinya tanpa menyadari apapun.
Tristan tak menjawab apa-apa, ia hanya menuruti saja permintaan Arindi bagai tersihir. Arindi memundurkan badannya sedikit memberi tangan Tristan ruang untuk mengetik di laptopnya. Arindi tak mencoba berdiri sedikitpun, ia takut Tristan akan mengambil laptopnya jika ia berdiri. Ia tak memikirkan kegugupan Tristan sama sekali saat mereka begitu dekat.
Tristan pun mengetikkan kata sandinya dengan canggung, karena jarak mereka yang terlalu dekat. Arindi membuka file foto itu lagi setelah kata sandi dimasukkan.
Tristan baru saja ingin berjalan menuju meja yang lain, tiba-tiba tangan Arindi menarik belakang kemeja Tristan. Tristan pun berbalik kaget menatap ke tangan Arindi yang masih memegang kemejanya.
Ia mengangkat satu tangannya karena tersentuh lengan Arindi yang berusaha menggapainya. Sedangkan Arindi sedikit pun tak melepaskan pandangannya pada laptop itu.
"Kak, ntar dulu, mau kemana? Ini fotonya keren banget, boleh ga minta filenya, kakak hebat loh motonya, udah kaya pro, harusnya tunjukin dari kemarin, kenapa sih pake malu segala," oceh Arindi
Ia terus mengoceh tanpa memperdulikan Tristan yang kaget. Ia melepaskan pegangannya saat Tristan kembali mendekat padanya. Tristan menjawab seadanya setiap pertanyaan Arindi, ia benar-benar gugup.
Tristan tertegun menatap Arindi, dari jarak sedekat ini ia bisa mencium aroma harum dari rambut gadis itu. Jantungnya berdegup tak terkendali. Sampai ia tak mendengar pertanyaan Arindi selanjutnya.
"Kak, kok ga jawab?" Merasa pertanyaannnya tak di jawab, Arindi pun menoleh ke Tristan. Wajahnya bertemu tepat dengan wajah Tristan yang menatap padanya. Kedua mata mereka bertemu. Entah sihir apa yang memantrai mereka, kedua mata itu makin menatap lebih dalam.
Tristan bisa merasakan jantungnya akan melompat, tapi ia tak ingin berpaling dari wajah itu, hasratnya mendorongnya untuk lebih mendekat lagi pada Arindi. Arindi pun tak bisa memalingkan wajahnya, ia tak tahu mengapa rasanya ia hanya ingin berdiam seperti itu.
Tiba-tiba. Braaak!
Suara pintu dipukul dengan kuat. Membuat Arindi dan Tristan kaget lalu menoleh ke arah asal suara.
"Celyn?" seru mereka berdua bersamaan.
Ternyata Celyn yang memukul pintu dengan tangannya.
Tristan berdiri tiba-tiba, ia menatap marah saat Celyn tiba-tiba masuk sambil memukul pintu. Arindi pun berdiri perlahan. Ia merasakan aliran kemarahan menjalar melihat gadis itu. Celyn berjalan mendekat ke meja mereka. Tristan cepat bergerak maju ke depan lebih dulu.
"Wuaaaah... mau jadi pahlawan cewek ****** itu ya... oh gue lupa, pa.car.lo.... wah jadi sekarang kalian pacaran?" suara Celyn melengking tinggi seolah di sengaja.
"Lo ngomong apa tiba-tiba?" bentak Tristan.
"Kenapa? Kok kaget banget?"
"Lo kenapa sih?" tanya Tristan mulai kesal.
"Woi na***." Ia melihat Arindi. "Lo pengen gue kasih selamat karena udah jadi pacar Tristan?" ujar Celyn cuek pada Tristan.
__ADS_1
"Celyn stop!! Lo ngomong apaan dari tadi." Tristan benar benar marah.
Arindi pun maju mendekat ke Celyn. Kemarahannya sudah tak terbendung. Ia hanya menahannya saja saat Celyn menyebutnya dengan kata kasar. Ia ingin mencabik cabik wajah itu.
"Lu kalo punya mulut di jaga ya, gue diem bukan karena takut sama lu." Arindi menunjuk Celyn dengan kesal.
Tristan pun bergerak cepat menengahi mereka berdua. "Arin, Arindi udah, ok?" pintanya pada Arindi.
"Lu yang punya bacot ga di jaga. Bisa bisanya bacot lu ngaku ngaku jadi pacar Tristan," cecar Celyn lagi.
"Lu ngomong apa sih dari tadi?" Tristan makin tak mengerti apa yang dikatakan Celyn.
"Heh, maksud lu apa? Lu jangan asal ngomong ga jelas ya," bentak Arindi kemudian.
"Ga jelas? oooh perlu bukti? nih liat." Celyn mengangkat hp nya, layarnya menampilkan sebuah pesan obrolan, ia mendekatkannya ke wajah Arindi. Arindi membaca pesan itu. Ia pun melihat nomor pengirim pesan yang tak lain adalah nomor hp nya.
________________________________________________
+628**********
^^^Heh cewek ******, lo jangan lagi ganggu gue, gue ini pacar Tristan, kalo ga percaya ke BEM sekarang, liat pake mata ***#**# lo itu. Dasar cewek ****#*##* 12.00^^^
________________________________________________
"I-tu bener nomor gue, kapan gue ngirim pesan itu? Ini maksudnya apa?" Arindi bingung menatap ponsel Celyn, jelas jelas ia tak pernah mengirimi pesan itu ke Celyn. Ia bahkan tak tahu nomor hp Celyn.
"Halah gaya lo, lo yang ngirim, masih pura-pura ga tau!!! Nih Tan lu liat, cewek yang ngaku-ngaku pacar lu... dasar cewek ga tau malu...," ujar Celyn mencibir.
Arindi masih bengong. Ia tak percaya dengan isi pesan itu. Arindi pun bergegas menuju meja dimana hp nya diletakkan, ia membuka kotak pesannya dan benar ada pesan terkirim dari hpnya yang sama dengan yang dibacanya di hp Celyn.
Tristan pun membaca pesan di hp Celyn. Ia lalu menatap tajam pada Arindi seolah meminta penjelasan atas kebenarannya. Arindi pun hanya menggelengkan kepala menatap Tristan berharap Tristan mempercayainya.
"Engga... ini bukan gue...." Arindi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Cel, lu keluar, gue juga ada urusan." Tristan berkata cepat.
"Tapi Tan, ini tuh... Ga bener kan, lu ga pacaran beneran kan sama cewek gila ini, iyya kan Tan, Taan...." Celyn berusaha mendapatkan pengakuan Tristan.
"Keluar!!" Tristan meninggikan suaranya. Semuanya akhirnya terdiam.
Celyn pun yang merasa malu segera berlalu sambil memberi tatapan sinis ke Arindi. Arindi hanya diam melihat ke Tristan, ia masih bingung kenapa jadi seperti ini. Tristan pun menutup laptopnya, ia tak sedikit pun menoleh ke Arindi.
"Kak, ini bisa gue...."Arindi mencoba memberi penjelasan.
"Gue masih banyak urusan, ga ada waktu buat main-main." Dengan dingin Tristan meninggalkan Arindi, bahkan tanpa melihat Arindi sedikit pun. Ia berjalan melewati Arindi.
Tsaaaaaaaa...
Angin dingin bertiup, Arindi pun mematung. Mulutnya membeku, fikirannya kosong, hatinya terasa sakit, berdenyut seakan tertusuk ribuan jarum hingga membawa suatu aliran panas menyeruak ke bola matanya, bibirnya pun berkedut, tangannya gemetar.
"Rasa sakit apa ini?" batin Arindi.
Ia tak mengerti perasaan yang ia rasa sekarang. Ia terduduk di kursinya. Kepalanya terasa sakit menahan semua itu. Bergegas ia memberesi barangnya lalu keluar dari sana.
...----------------...
__ADS_1