
Pukul 8 malam, malam sabtu, Apartemen Arindi.
Arindi ingin memejamkan matanya, akhir pekan biasanya tubuhnya selalu kehabisan energi karena rentetan tugas kuliah yang tak ada habisnya. Sahabatnya Nadine dan Rasya sedang sibuk menyelesaikan maket mereka. Vivian sedang merayakan kepulangannya dari luar kota dengan klub cyber-nya. Jadi Arindi bisa segera memejamkan mata tanpa gangguan mereka malam ini.
Tapi bayangan kejadian di perpustakaan tadi siang membuat ia sulit memejamkan mata, akhirnya ia hanya bolak balik di tempat tidurnya.
"Apa gue minta maaf aja biar tenang?"
"Kok ini lebih dari berasa punya utang sih?"
Ia terus menatap layar hp-nya dan berkata kata sendiri. Tiba-tiba satu obrolan grup masuk. Ting!.
:::::::
BEM Kampus
Kepada semua anggota BEM diharapkan besok dapat mengikuti rapat darurat di gedung sekretariat.
Pembahasan mengenai peduli bencana tanah longsor.
::::::::
Setelah membaca obrolan itu, Arindi pun menarik selimutnya.
"Kalo ga tidur sekarang besok gue bakal tamat."
"Lagian besok gue bisa ngomong langsung ke dia."
Ia pun memaksa matanya tidur, dari pesan itu ia bisa memprediksi kesibukan yang bakal terjadi besok. Lebih dari itu ia ingin menguatkan dirinya untuk menghadapi sosok itu besok.
...----------------...
Arindi membereskan buku catatan yang ia pakai untuk mencatat hasil rapat tadi. Rapat BEM baru saja selesai, ia bergegas memasukkan semua alat tulisnya kedalam tasnya karena ada hal yang ingin ia lakukan setelah ini, yaitu menemui Tristan dan meminta maaf.
Semua anggota telah keluar dari ruang rapat. Arindi melihat Tristan sedang berbicara pada petinggi BEM lainnya dalam ruangan, ia pun memutuskan menunggunya diluar.
Tak berapa lama Tristan berjalan keluar bersama Rendi. Arindi yang sedari tadi gelisah semakin gelisah ketika melihat sosok itu didepan matanya. Entah kenapa ada perasaan gugup dalam dirinya.
Ia tak pernah kesulitan berbicara dengan orang tapi setiap kali menghadapi Tristan ia selalu merasa kesulitan. Akhirnya ia tak maju atau juga mundur dari posisinya, tapi hanya diam mematung melihat ke arah Tristan.
"Hai Rin, kenapa? Mau ngomong sama Tristan?" tanya Rendy.
Rendy yang menyadari tatapan Arindi menegur Arindi tiba-tiba saat mereka sudah dekat, sedangkan Tristan hanya diam melihat.
"Oh iya kak." Arindi kaget.
"Tan gue duluan ya, ntar gue kabari lagi kalo sudah siap."
"Hhemhh, ok Ren," jawab Tristan.
Suasana semakin canggung saat Rendi telah pergi dan meninggalkan mereka berdua. Hari ini sabtu, tak banyak orang yang datang ke kampus karena sabtu tak ada kegiatan perkuliahan.
"Ada perlu apa?"
Tristan menjaga nada bicaranya. Melihat Arindi yang menemuinya saat ini membuat ia memikirkan alasan kemarin saat Arindi menemuinya. Alasan itu masih saja membuat perasaan sesak mengendap di tenggorokannya hingga kini. Ia tidak ingin memikirkannya tapi ia terus merasa terganggu.
Jika masih dengan alasan yang sama mungkin ia akan mendorong perasaan sesak itu keluar dan membuat gadis didepannya ini semakin membencinya, tapi ada perasaan yang tak bisa ia tolak setiap kali gadis itu berada dalam pandangannya jadi ia ingin menelan semua perasaan menyakitkan itu sendiri.
"Soal yang kemarin, gue bener-bener minta maaf kak. Ga ada niat juga buat kakak merasa ga enak atau apa."
Arindi meminta maaf dengan tulus, ia bahkan tak berani menatap ke mata lawan bicaranya. Mendengar pernyataan tulus yang keluar dari mulut Arindi, Tristan seolah merasakan ada angin segar berhembus di setiap rongga pernapasannya, perasaan sesak menyakitkan itu hilang bersama angin. Ia pun hanya menatapi Arindi tanpa berkata apapun.
"Oh ya soal punggung kakak, kemarin tertimpa gulungan itu, apa gapapa?"
Arindi pun teringat soal itu, ia punya keberanian melihat Tristan saat rasa bersalahnya lebih besar daripada rasa gugupnya.
"Itu... gapapa." Tristan kaget di tatap balik.
"Apa ga ada rasa sakit?" tanya Arindi lagi.
"Ga ada."
__ADS_1
"Kakak yakin?"
"Ya." Tristan terkesima melihat gadis itu mengkhawatirkannya.
"Syukurlah. Terima kasih kak, kemaren bahkan ga sempet bilang terima kasih karena uhm... lu kemaren ngeselin."
"Gue gapapa, jadi ga masalah," jawab Tristan kemudian.
Arindi pun tersenyum, ia tanpa sadar tersenyum melihat Tristan tidak mempermasalahkan hal itu. Ada perasaan lega, lega karena ternyata ia bisa meminta maaf dengan lancar padanya.
Melihat Arindi tersenyum, Tristan menjadi gugup. Ia ingin membalas senyuman itu tapi ia terlalu kaku sekarang.
"Owh iya kak, soal penggalangan dananya dan pemberian bantuan, gue ikutan ya kak."
"Uhm soal itu, lu yakin gapapa, bakal banyak yang mau dikerjain dan ga tau jam berapa bakal kelar dan...."
"Owh jangan khawatir kalo soal itu kak, kakak pernah bilang kan kalo gue cuma perlu tunjukkin loyalitas gue sebagai rasa terima kasih ke kak, nah ini saatnya gue bakal tunjukin itu. Lagian gue bawa mobil, mungkin bisa membantu."
Tristan menyunggingkan sedikit senyum di ujung bibirnya mendengar penjelasan Arindi. Ia mulai merasa santai berbicara dengan gadis ini sekarang. Apa karena ia merasa senang melihat gadis itu merasa bersalah atau karena ia senang Arindi mengerti maksudnya.
"Ya udah kalo gitu, anak anak udah nunggu di lokasi," ajak Tristan.
Arindi dan Tristan berjalan bersisian turun menuju luar gedung. Mereka berjalan menuju tempat parkir.
"Kak, naik apa?" tanya Arindi kemudian.
"Motor." Tristan menunjuk ke arah motornya yang tak jauh dari mobil Arindi.
"Owh naik mobil gue aja, bukannya ntar kita langsung ke lokasi bencana kan? Lumayan jauh kan jalannya," ujar Arindi sok baik.
"Ia jauh, tapi ga bisa naik mobil itu, medannya ga bagus, yang ada mobil lu bisa rusak," jawab Tristan.
"Oh gitu. Trus kita kesana naek apa?"
"Naek motor bisa sih. Tapi kalo pulang malem takutnya agak sedikit bahaya. Jadi kita naek mobil, ntar gue bawa yang dobel gardan, Andrew sama Rangga bawa masing-masing satu karena ada banyak barang sumbangan yang akan dibawa. Jadi cuma sekitar 12 orang yang bisa ikut kalo mobilnya dipenuhin. Trus lu yakin ga papa ikut?" tanya Tristan lagi.
"Humh, yakin kok. Jadi gimana? oh kalo gitu mobil gue biar disini, gue ikut motor kakak aja ke sana?" ujar Arindi santai.
"Gapapa kan kak?" ujar Arindi polos. "Bilang aja gapapa udah, bagaimana pun lu itu target gue, mumpung ada kesempatan, gue ga akan sia-siain. Selama harta gue selamat apapun bakal gue lakuin."
"I-iiya gapapa, tapi gue bawa helm cuma satu... Ehm nih lo aja yang pake," ujar Tristan kemudian.
"Jangan kak, kakak aja yang pake, gue kan dibelakang gapapa kakak aja."
"Gapapa lu aja. Gue biasa kena debu jalanan," tolak Tristan.
"Kakak apaan sih, emang gue ga biasa?" balas Arindi.
"Udah pake aja." Tanpa sadar Tristan berjalan mendekati Arindi, ia mengangkat helmnya ke atas kepala Arindi dan ingin memasangkannya tapi ketika melihat ke wajah Arindi yang menatap kaget padanya. Ia pun menyadari kalau ia bersikap yang tak seharusnya.
"Sini kak, gue pake kalo gitu."
Arindi tiba-tiba menarik kebawah helm itu dan memasangkannya dikepalanya. Tristan nenarik tangannya, ia merasa serba salah dan canggung, ia mengumpat kedalam dirinya sendiri. Gimana bisa kakinya mengkhianatinya tadi.
"Apa yang gue pikirin, bikin malu." Batin Tristan.
"Bikin kaget aja, ya udah kalo lu maksa." Itu yang dipikirkan Arindi.
Tristaaann!!
Tiba -tiba suara nyaring Celyn berdenging di belakang Arindi. Ia mendekati Arindi dan Tristan yang baru saja akan naik ke motor. Celyn berdiri mendekat ke Tristan dan memandang Arindi dengan tatapan tajam, lalu mengamatinya dari kepala hingga ujung kaki.
Melihat pandangan itu ditambah lagi ingatan tak baik tentang kelakuan Celyn ke sahabatnya, membuat Arindi menatap tak kalah tajam ke matanya.
Tristan mulai tak tenang, ia panik karena ia tahu dengan baik temperamen kedua gadis didepannya ini. Sama sama buruk.
"Mau kemana sayang?"
Celyn menatap Tristan sambil merangkulkan tangannya ke tangan Tristan lalu melirik ke Arindi. Arindi masih tak melepaskan tatapan matanya dari mata Celyn. Ia tahu benar arti rangkulan itu, ia ingin menunjukkan pada Arindi batasan yang tak boleh ia lewati itu.
Mendapat pertunjukkan seperti itu bukan melemahkan Arindi tapi justru membuat Arindi ingin mencabik-cabik rambut Celyn. Entah kenapa ia semakin marah melihatnya. Tristan melepaskan perlahan rangkulan itu.
__ADS_1
"Kenapa Cel, gue sibuk sekarang," jawab Tristan.
"Sibuk? Sama dia?" ia menunjuk ke muka Arindi.
Kepala Arindi mulai mendidih, telinganya terasa panas, telunjuk yang mengarah ke wajahnya bisa dengan mudah ia patahkan tapi ia masih berusaha menahannnya.
"Bisa lo singkirin tangan kotor lu dari muka gue?" tanya Arindi.
"Hah dia bisa ngomong? gue pikir patung tadi," ejek Celyn.
"Udah Cel, gue sibuk sekarang, lu pulang aja kalo ga ada keperluan," usir Tristan.
"Tristan kenapa sih, gue kan pengen sama elu, kencan gitu. Dan lu siapa?" ia melihat Arindi. "Kenapa lu pake helm Tristan?" lalu menjentik helm Tristan di kepala Arindi.
Taak! Rasanya tak sakit dikepala Arindi tapi berdenging hingga ke seluruh hatinya dan hingga hatinya mau meledak sekarang. Ia masih menatap tajam pada Celyn.
"Celyn, apa apaan?" ujar Tristan dengan nada tinggi.
"Kenapa sih Tan, lu belain dia? Dia ini...," nunjuk muka Arindi lagi.
Takk!
Secepat kilat tangan kanan Arindi memegang pergelangan tangan Celyn, ia memegangnya sekuat tenaga.
"Tangan ini, apa udah ga ada gunanya?" suara Arindi bergetar emosi.
"Awwww... Sakit. Lepasin! Cewe sial!"
Celyn berusaha menarik tangannya, ia pun menggunakan satu tangan lainnya untuk melepas cengkeraman Arindi, tapi itu sia sia, karena Arindi sudah memusatkan seluruh tenaganya pada tangannya.
"Rin...."
Tristan tidak bisa tinggal diam, hal buruk bakal segera terjadi jika dia hanya diam. Ia pun memegang pergelangan tangan Arindi. Ia melingkarkan telapak tangannya yang besar, tidak terlalu kuat hanya memberi sedikit tekanan di ujung jarinya.
Arindi tak terganggu dengan sentuhan itu, seluruh kemarahannya meluap bagai gunung berapi memuntahkan lava pijarnya.
"Lepasin, sialan... Tan tolong gue Tan." Celyn masih berusaha narik tangannya.
Tristan mulai sangat panik sekarang. "Rin, Arindi."
Arindi masih belum bisa mendengar suara Tristan. Ia ingin melihat Celyn kesakitan, ia harus memberinya peringatan bahwa ia salah memilih lawan.
"Rin, gue mohon liat gue... Rin ... Arindiii," Tristan pun berteriak.
Arindi kaget, ia pun melihat ke Tristan. Ia melihat wajah Tristan yang sedang panik menatapnya.
"Tristan."
Seakan baru tersadar dari mimpi, ia menyebutkan nama itu begitu saja. Ia sekarang merasakan sentuhan tangan Tristan dipergelangan tangannya. Akhirnya perlahan ia membuka cengkeramannya di tangan Celyn lalu menarik paksa tangannya dari tangan Tristan.
"Cewek sialan, lu berani...."
"Celyn cukup!!!"
Celyn pun terdiam saat Tristan membentaknya. Celyn hanya memegang pergelangan tangannya yang masih kesakitan.
Arindi melepaskan helmnya dengan paksa. Ia mendorongnya ke tubuh Tristan. Tristan tak siap menerima helm itu yang begitu keras membentur dadanya karena dorongan kemarahan. Tristan seperti tak bernapas dalam hitungan detik, tenaga itu sangat besar. Tapi ia tak menunjukkannya, ia justru mengkhawatirkan pandangan Arindi padanya.
Arindi tak berkata apa apa, ia hanya berjalan cepat menuju mobilnya. Lalu menghidupkan mesinnya dan ia pun pergi. Tristan tak bisa mencegahnya pergi. Ia pun beralih pada Celyn lalu menatap dingin padanya. "Apa apaan sikap lo?"
"Tan lu marah ke gue, harusnya gue yang marah ke elu, kenapa elu akhir-akhir ini deket terus ke dia?" teriak Celyn.
"Itu ngeganggu elu? Elu lupa kita udah ga ada hubungan apa-apa?"
"Tapi Tan gue masih suka sama elu."
"Itu urusan elu dan lu inget jangan pernah sedikit pun sentuh dia."
"Tan elu kenapa belain dia? Tristaaaannn...."
Tristan tak perduli pada jeritan Celyn, ia pun memasang helmnya dan berlalu pergi meninggalkan Celyn yang masih penuh dendam dan makian.
__ADS_1