Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Berpacaran


__ADS_3

Tiket online telah terverifikasi, Arindi dan Tristan pun berjalan masuk ke dalam galeri.


"Waahhh keren banget...."


Saat di dalam galeri, Arindi terus berceloteh mengenai kekagumannya pada keindahan barang dan karya seni yang dipamerkan di sana. Ia juga tak berhenti bertanya pada guide yang membawa mereka berkeliling galeri.


"Kakak tau engga?" ujar Arindi pada Tristan yang sejak tadi menjadi pendengar setia Arindi. Sejujurnya Tristan tidak terlalu paham dengan seni. Ia hanya suka antusias Arindi setiap kali Arindi membicarakan tentang karya seni yang dilihatnya.


"Kenapa Arin suka melukis?" lanjut Arindi. "Waktu itu kalo ga salah sih umur Arin 6 tahun. Uhm... tepat di hari ulang tahun Arin, papa ajakin Arin ke galeri seni. Arin langsung jatuh cinta sama apa yang Arin liat pertama kali disana dengan mata Arin. Arin bener-bener takjub ngeliatin lukisan disana sampe papa bilang Arin ga mau pulang padahal galeri udah mau tutup."


"Segitunya?" ujar Tristan merasa lucu.


"Iyah kak... Terus besoknya papa beliin Arin kanvas sama cat air. Arin sih ga tau cara pakenya dan harus gambar apa. Tapi Arin terus aja corat coret seharian sampe cat airnya habis. Dan terus berlanjut keesokan harinya, terus gitu setiap hari. Setiap hari papa pasti beliin Arin cat air baru. Sampe akhirnya Arin ikut lomba dan jadi juara pertama melukis tingat SD. Waktu itu Arin kelas 2 SD. Saat itu Arin baru sadar kalau ternyata Arin punya bakat melukis. Sampe sekarang melukis itu udah ibarat makanan sehari hari bagi Arin," jelas Arindi panjang lebar.


Tristan pun mengusap kepala Arindi tiba-tiba, membuat Arindi berhenti bicara, ia pun menatap Tristan heran.


"Kenapa berhenti?" tanya Tristan heran.


"Gapapa, kakak ga suka ya denger Arin ngomongin itu? cerita Arin bosenin ya kak?"


"Engga kok, justru itu karena kakak suka," ujar Tristan merasa bersalah.


"Suka? Suka apa?" tanya Arindi polos.


Tristan hanya terdiam, ia menatap dalam mata indah gadis itu. Sebenarnya sejak semalam ia menantikan momen ini, hari ini ia berencana ingin mengungkapkan perasaannya pada gadis itu.


Tapi entah kenapa kata-katanya tak kunjung keluar. Ia tiba-tiba menjadi tak percaya diri. Beribu pertanyaan aneh menusuk kepalanya saat ini.


"Apa ia pantas untuk gadis ini?"


"Apa Arindi akan menerima pernyataan cintanya?"


"Apa semua akan berubah jika ia mengatakannya?"


"Bagaimana jika ditolak?"


"Dia ga nganggap gue aneh kan?"


Apa...


Apa...


Apa...


Dan begitu banyak hujanan pertanyaan yang datang mendadak dan menyerang tepat pada kepercayaan dirinya.


"Kak... kakak Kenapa?" Arindi menatap lembut pada Tristan yang sedang bengong. "Kakak sakit? Tangannya sakit?"


"E-engga kok."


Ia bingung melihat Tristan yang hanya diam menatapnya. Tristan hanya tersenyum melihat kekhawatiran gadis itu padanya. Ia ingin menyentuh wajah itu, ia ingin mengucapkan kata-kata itu tapi... justru kata lain yang terucap dari mulutnya.


"Kita pulang ya," ajak Tristan kemudian.


"Ehm... pulang? sebenernya ada yang mau Arin tunjukin sebelum pulang, kakak mau ikut sebentar?"


"Kemana?"

__ADS_1


"Nanti kakak juga tahu," jawab Arindi sambil mengajak Tristan meninggalkan tempat itu.


Tristan tersadar, ia kehilangan momentum. Ia pun hanya tersenyum mengiyakan ajakan Arindi. Ada perasaan kecewa menggelayuti lubuk hatinya. Mengapa ia jadi sepengecut ini saat gadis itu sudah di depan matanya.


...----------------...


Tristan memacu mobilnya perlahan, ia tak berkata apa-apa, ia masih merasa kecewa pada dirinya sendiri. Arindi yang duduk di sebelahnya sedang menelpon Rasya.


"Gimana Sya bisa kan?" ujar Arindi pada Rasya.


"Ya bisa lah, masa untuk sahabat sendiri ga bisa. Btw mau nunjukkin ke siapa? Tristan? Lu sama Tristan?" suara nyaring Rasya terdengar di ujung telepon.


"Pelanin suara lo," ujar Arindi berbisik.


"Hahahahah." Rasya justru tertawa lepas. "Ya udah kesana aja, tapi gue ga lagi di studio, nanti ada orang kok disana, yang penting jangan lebih dari jam 9 ya."


Arindi melirik arlojinya, pukul 8.15. Arindi tahu studio Rasya akan otomatis terkunci pada pukul 9 malam, sistem keamanannya akan aktif. Hanya Rasya yang bisa membukanya jika terkunci.


"Iyya tahu, cerewet banget," jawab Arindi.


"Dan inget jangan aneh-aneh di studio gue, itu tempat suci gue. Gue ga mau tempat itu ternoda," ujar Rasya menambahkan seolah memberi ultimatum.


"Aneh-aneh? Sialan ni orang. Lagian mau aneh-aneh apa coba. Awas lo tar ya. Ya udah bye."


Arindi menutup cepat teleponnya. Ia tak ingin Rasya mengatakan hal yang aneh lagi. Suara nyaringnya terdengar dengan jelas meski Arindi sudah menurunkan volumenya.


Arindi pun mengajak Tristan untuk melihat hasil lukisannya yang ada di studio Rasya. Sebenarnya lukisan itu sudah selesai beberapa hari yang lalu. Ia hanya belum punya kesempatan memperlihatkannya pada Tristan.


.


.


Arindi yang diikuiti Tristan di belakangnya masuk ke ruangan di lantai dua studio tepat dimana lukisan itu berada. Sebuah lukisan besar, hasil karya coretan tangan Arindi terpampang di salah satu sisi ruangan.


Lukisan Tristan sedang bermain gitar di tenda pengungsian waktu itu, disekelilingnya berkumpul anak-anak pengungsian. Semuanya dibuat sama persis seperti nyata, bahkan hingga detail terkecil keadaan sekeliling tenda.


Melihat lukisan besar itu membuat Tristan terpana. Ia benar-benar takjub melihat hasil goresan tangan Arindi di kanvas itu.


"Ini waktu di pengungsian?"


"Iyya. Gimana, jelek ya kak?"


"Wow... ini luar biasa. Detail banget lukisannya. Kakak bener-bener takjub ngeliatnya."


Tristan berjalan mendekat, ia benar-benar tidak percaya lukisan itu adalah dirinya ditambah lagi Arindi membuatnya tampak mirip dengan kenyataan. Ia benar-benar mengagumi bakat gadis itu dan memujinya dalam hatinya.


"Eh kak tunggu. Stop!!" Arindi menghentikan langkah kaki Tristan yang terus ingin melangkah mendekati lukisan. Ia menepuk kedua lengan Tristan dari belakang. Tristan hanya berdiri kebingungan.


"Ini adalah jarak pandang ideal untuk melihat lukisan besar seperti ini," jelas Arindi memberitahukan alasan atas sikapnya barusan.


Arindi pun berdiri disamping Tristan. Ia tersenyum melihat Tristan yang tampak mulai mengerti. Mereka berdua menatap dalam pada lukisan mencoba menghayati makna yang ingin disampaikan lukisan itu.


"Harusnya lukisan sebagus ini di pamerin di galeri," seru Tristan tiba-tiba.


"Heemh... Tapi Arin belum pede," ujar Arindi sedikit menarik napas panjang.


"Dicoba aja dulu."

__ADS_1


"Pengennya sih punya galeri seni sendiri kak."


"Pemikiran kamu bagus. Berarti kamu udah ada tujuan untuk kedepan. Kakak pasti dukung kok apapun yang kamu mau," jawab Tristan meyakinkan Arindi.


"Haa...?" Arindi menatap pada Tristan. Ia bingung dengan maksud perkataan pria itu barusan.


Tristan pun menoleh lalu menghadapkan badannya ke Arindi. Entah keberanian dari mana yang didapat Tristan kali ini. Ia akan mengatakannya sekarang. "Hmm... sebenernya ada yang mau kakak bilang?" ujar Tristan pelan.


"Apa kak? Dia mau bilang apa? Jangan bilang dia... Duuh kenapa gue jadi gugup banget, gue...."


"Kakak suka sama Arin...."


Daar!!! Rasanya ada ribuan kembang api yang meledak mengiringi kata-kata tersebut keluar dari mulut Tristan.


Deg deg deg deg deg! Jantung Arindi berdetak kencang, mulutnya bergetar mendengar pernyataan hati Tristan barusan. Ia tak bisa berkata. Ia bahagia tapi tak bisa mengekspresikannya.


Tristan pun merasakan yang sama, tapi ia memberanikan dirinya, ia tak ingin menahan perasaannya lagi. Ia melihat gadis itu kaget, ia pun meraih kedua tangan Arindi, memegangnya dengan lembut, mengusapkan perlahan ibu jarinya ke punggung tangan gadis itu dan menatap mata Arindi yang sedang memandang lurus padanya.


"A-Arin...." Arindi mencoba memberi jawaban tapi entah kenapa suaranya tergagap.


"Kakak tahu ini tiba-tiba. Tapi kakak ga minta Arin jawab sekarang...." Tristan memotong kata-kata gadis itu, ia tak bisa membayangkan seandainya kalimat penolakan yang keluar dari bibirnya. Ia mencoba tetap tersenyum meskipun hatinya bergejolak.


"Kakak cuma ingin Arin mengetahui perasaan kakak, maaf kalau...."


"Arin juga suka sama kakak...." Arindi memotong kata-kata Tristan dengan cepat. Ia juga tak ingin berpikir dua kali. Ia telah menyadari perasaannya.


Arindi pun tersenyum memandang pada Tristan yang terlihat gugup. Kegugupan yang dirasakan Arindi menguap begitu saja saat melihat wajahnya yang tulus dan gugup itu. Ia ingin mengatakan semua perasaannya saat ini.


"Arin suka saat kakak menatap Arin, saat kakak sentuh rambut Arin, saat kakak sebut nama Arin, saat kakak pegang tangan Arin, saat kakak...."


Tristan merengkuh wajah Arindi dengan kedua tangannya lalu mencium bibir Arindi tiba-tiba, ia mengecup bibir gadis itu dengan lembut meskipun cepat hingga Arindi tak bisa melanjutkan kata-katanya.


Tristan menarik kepalanya sedikit mundur, ibu jariya mengusap lembut pipi Arindi. Meski telah melepas ciumannya tapi tangannya tak bisa melepas wajah Arindi. Wajah mereka benar-benar dekat sekarang bahkan Arindi bisa mendengar dengan jelas nafas Tristan yang memburu.


Ia takut Arindi tak suka dengan sikapnya barusan. Ia pun menatap ke dalam mata Arindi. Ia sedang mencari jawaban atas kegelisahannya saat ini.


Arindi hanya diam membeku, matanya menegang, ia merasakan sensasi yang luar biasa saat bibir hangat Tristan menyentuh bibirnya. Ia tahu saat ini Tristan berusaha menahan dirinya. Tapi ia ingin Tristan mengetahui bahwa ia tak menolaknya, ia ingin menyambut sentuhan hangat itu.


Arindi pun memejamkan matanya, ia juga menginginkannya. Tristan menerima sinyal itu. Matanya tertuju pada bibir merah Arindi. Ia pun mengecupkan bibirnya pada bibir Arindi sekali lagi.


Tristan menyudahi kecupannya di bibir Arindi. Ia membuka matanya lalu memundurkan wajahnya perlahan. Matanya menatap gadis itu yang sedang perlahan membuka mata. Mereka saling menatap lalu tersenyum. Tristan pun memeluk Arindi, ia mendekap gadis itu dalam pelukannya menenggelamkan tubuh kecil Arindi.


"Apa kita berpacaran sekarang?"


Arindi yang masih dalam dekapan Tristan memberikan pertanyaan konyol karena ia masih belum percaya ia berpacaran dengan Tristan. Tristan tersenyum mendengar pertanyaan gadis itu. Ia menatapnya lalu mencium dahi Arindi, tangannya masih melingkar di pinggang Arindi.


"Emangnya ada orang yang berciuman tapi tidak pacaran?"


Arindi tersenyum sedikit tertawa mendengar jawaban Tristan. Kata-kata berciuman membuat ia mengingat bibir hangat Tristan tadi.


Tristan kembali memeluk Arindi bahkan lebih erat. Arindi pun membalas pelukannya. Jika bisa ia ingin waktu berhenti berputar, membiarkannya seperti ini lebih lama lagi. Tapi Arindi teringat kata Rasya tadi.


"Kak bentar lagi jam 9, kita harus keluar kalo ga pengen kekunci disini," ujar Arindi tiba-tiba.


"Oh iya bener, yok pulang."


Tristan pun menggenggam tangan Arindi, menjalinkan jarinya ke jemari gadis itu. Mereka pun keluar dari studio lalu pulang.

__ADS_1


__ADS_2