Aku Bukan Taruhan

Aku Bukan Taruhan
Kata-Kata Nadine


__ADS_3

Arindi berjalan malas menuju ke meja makan. Ia melirik pada Nadine yang sedang menopangkan satu tangannya ke dagu. Nadine sedang memikirkan sejauh apa kesalahan yang sudah dia perbuat pagi ini.


"Gue minta maaf Rin," ujar Nadine cepat saat melihat Arindi sudah kembali ke kursinya.


"Ehm," jawab Arindi singkat sambil menyendokkan bubur ke dalam mulutnya. Ia benar-benar kesal dengan perkataan Nadine pagi ini. Ia ingin marah tapi rasanya seluruh energi yang ia miliki telah menguap habis setelah melihat kesedihan di mata Tristan tadi.


"Rin lo marah ya ama gue?" tanya Nadine dengan sedikit ragu-ragu.


Arindi berpura-pura tak mendengar kata Nadine barusan. Ia berdiri dari kursinya menuju wastafel lalu mencuci peralatan makan yang ia gunakan bersama Tristan tadi.


Nadine sempat melirik ke mangkuk kosong milik Arindi sebelum Arindi membawanya. Hatinya merasa lega melihat sahabatnya telah menghabiskan sarapan paginya.


Peralatan makan yang terbuat dari porselen itu saling beradu. Suaranya meramaikan kesunyian diantara Arindi dan Nadine. Arindi sengaja melakukannya. Ia ingin menunjukkan betapa kesal hatinya saat ini.


"Rin...," ujar Nadine lagi. Suaranya terdengar mengiba. "Lagian kasian itu Rin piring-piringnya ga ada salah apa-apa," tambahnya lagi.


Arindi masih bertahan dengan sikap diamnya. Nadine mulai menyerah. "Mending gue lu gebukin deh Rin daripada lu diemin," ujar Nadine pelan sambil menempelkan dagunya ke meja makan yang dingin.


"Yakin lo sanggup?" ujar Arindi sambil berjalan mendekat pada Nadine. Di tangannya, Arindi membawa sebuah centong sayur bergagang panjang berbahan porselen. "Pake ini gapapa?"


Nadine yang kaget karena jawaban Arindi tiba-tiba akhirnya menegakkan kepalanya. "Rin... Tapi ga pake itu juga," ujarnya mulai ketakutan melihat apa yang ada di tangan Arindi. Nadine pun berdiri dari kursinya lalu berlari cepat menghindari Arindi.


"Sini lo! Lo bilang mending gue gebukin. Gue lagi pengen ngehajar orang hari ini," ujar Arindi dengan posisi siaga. "Lo tega-teganya ngomong gitu di depan orangnya."


"Ya kan gue ga tau Rin kalo makhluknya ada disana. Gue ngomong gitu kan karena gue khawatirin elo," jawab Nadine sambil terus menjauhi jangkauan Arindi.


Kini mereka berdua berdiri saling bersebrangan di meja makan bulat itu. Keduanya bertahan di posisi masing-masing sambil beradu mulut.


Dari ruang depan terdengar suara bel pintu apartemen di bunyikan. Arindi dan Nadine tidak beranjak dari posisi mereka meskipun bel itu mulai dibunyikan dengan tidak sabar. Mereka berdua tahu siapa yang membunyikan bel itu.


"Rin bukain sih Rin, itu pasti Rasya. Ntar dia panik kalo lo ga buka buka pintu apartemen," bujuk Nadine.

__ADS_1


Arindi mengalah. Ia pun bergerak untuk membukakan pintu dengan perasaan kesal. "Awas lo ya!" ancamnya pada Nadine. Nadine hanya membalas dengan senyum mengejeknya.


Cklek! Pintu pun terbuka.


"Eh sayangku... Lo udah baikan?" suara nyaring Rasya menyambut Arindi di depan pintu. "Gimana badan lo masih panas?" ujarnya memegang dahi Arindi dengan cepat.


"Ihhh... Gue udah baikan," ujar Arindi kemudian.


"Idih ni anak. Orang khawatir juga. Ini apaan?" tanya Rasya menunjuk pada centong yang dipegang Arindi. "Lo lagi masak? Pantes lama banget bukain pintu. Nih gue dah bawa bubur. Ngomong-ngomong kemana si Nadine?" ujarnya berjalan lurus menuju ruang makan.


Rasya meletakkan sebuah bungkusan plastik transparan ke atas meja makan. Dan dengan cekatan ia mengambil peralatan makan di rak piring. "Eh lu udah makan?" ujar Rasya melirik beberapa peralatan makan yang baru saja di cuci tersusun rapi di rak pengering.


Arindi yang berdiri di samping meja tak menghiraukan kata-kata Rasya. Ia sedang bolak-balik mencari mangsanya si Nadine. Sesekali ia memeriksa ke bawah meja.


"Arin lo ngapain sih, pertanyaan gue ga di jawab? Lo lagi nyari apa sih?" Rasya menoleh pada Arindi setelah pertanyaannya diabaikan oleh Arindi. Ia pun heran melihat kelakuan Arindi sekarang.


"Nadine!" ujar Arindi singkat.


"Nadine?" Rasya masih belum memahami situasi yang dikatakan Arindi. "Kalian berdua main petak umpet? Hellllloooo usia kalian berapa sih masih maen begituan?" tanya Rasya mulai kesal.


"Baiklah... Sabar juga ada batasnya," ujar Rasya pelan pada dirinya sendiri. "Nadineeeeee... Keluar!!" suara nyaringnya melengking tinggi meneriakkan nama Nadine.


Cklek. Suara pintu toilet tak jauh dari meja makan terbuka. Nadine pun keluar dari dalamnya dengan senyum tak berdosa.


"Owh haaah... Ngumpet disana lo rupanya ya," ujar Arindi berusaha mengejar Nadine. Nadine berlari cepat kebelakang Rasya meminta perlindungan Rasya.


"Stoooooooop!!!" teriak Rasya lagi. Siapapun yang mendengar teriakan itu pasti akan cepat-cepat menutup telinga. "Kalo kalian berdua ga diem, gue akan teriak terus sampe tetangga apartemen dateng kesini," ancam Rasya pada mereka berdua.


...----------------...


Lima belas menit berlalu. Suasana di apartemen Arindi hening. Arindi, Nadine dan Rasya duduk berkumpul di depan televisi. Rasya telah mendengar keseluruhan cerita mengenai kekacauan yang terjadi pagi ini.

__ADS_1


"Huuuuuft Pfiuuuuuh," ujar Rasya menarik dan menghembuskan nafas panjang bergantian.


"Tristan emang ga akan bilang. Tapi gue bisa liat kalo dia kecewa dan sedih Sya," ujar Arindi kemudian. Ia tertunduk lesu.


"Ehem ehm... Rin gue minta maaf, andai gue tahu kalo dia masih disini gue ga akan sembarang ngomong kok," suara Nadine penuh penyesalan.


"Gue ga marah sama lo Nad, cuma gue gregetan aja sama bacot lo. Pengen gue cabik-cabik rasanya, ergh...," ujar Arindi menatap kesal pada Nadine membuat Nadine refleks menutup mulutnya dengan tangannya.


"Udah udah kalian berdua," ujar Rasya kemudian. "Kalo gue jadi Tristan pasti kecewa banget ama diri gue sendiri. Semua kejadian dan kekacauan yang terjadi di sekitar lo Rin, secara tidak langsung emang terjadi semenjak kehadiran dia kan?".


"Sya kok lu malah bilang gitu sih?" ujar Arindi yang makin lemes setelah mendengar kata-kata Rasya.


"Nggak gitu Rin. Gue nggak ada maksud buat lo makin sedih. Tapi semuanya udah terlanjur terjadi kan. Jadi yang paling penting sekarang itu adalah kita harus mikirin gimana caranya nyelesaiin kekacauan ini biar nggak makin runyam masalahnya," jelas Rasya kemudian.


"Udah gue mau hubungin Tristan sekarang," ujar Arindi lalu mengambil ponselnya cepat.


Tapi Rasya langsung menahan tangannya. "Enggak Rin kasih dia waktu. Lu tahu kan dia sekarang pasti sedih. Dan lu juga tahu kan kalau dia nggak akan menyerah hanya gara-gara kata-kata itu. Jadi kalau menurut gue Tristan sekarang itu sedang merasa sangat bersalah ke elu. Dan sekarang dia pasti lagi mikirin gimana sih caranya supaya dia bisa minta maaf ke elu dan lebih baik lagi ke elu," jelas Rasya lagi.


Arindi terdiam mendengarkan nasehat Rasya. Ia membenarkan apa yang baru saja dikatakan oleh Rasya di dalam hatinya. "Jadi gue harus gimana sekarang?" ujar Arindi kemudian.


"Ehmm ntar aja lu hubungin dia. Beri dia sedikit waktu lagi dan...."


Rasya tidak melanjutkan kata-katanya karena saat ini dari arah pintu masuk terdengar suara perangkat access control reader berbunyi nyaring. Seseorang baru saja menempelkan ******access card****** agar bisa masuk ke dalam apartemen dan suara nyaring tadi berarti access card diterima.


Ketiga sahabat itu saling bertatapan. Terlebih Arindi yang menatap tegang pada Rasya dan Nadine. Mereka bertiga terdiam dalam duduknya seolah terintimidasi dengan suara nyaring perangkat itu.


Arindi tahu benar access card yang ia miliki saat ini bukan satu satunya access card yang bisa digunakan untuk masuk ke apartemennya. Pihak manajemen memberinya sepasang kartu, yang dipegang oleh Arindi salah satunya, lalu satu lagi ada di tangan papanya.


Arindi membuka paksa ingatannya selama seminggu terakhir. Seingatnya papanya tak pernah membuat janji untuk datang mengunjunginya.


Cklek! Pintu apartemen pun terbuka. Suara langkah kaki yang berat menapak masuk ke dalam apartemen.

__ADS_1


"Sayang... kamu di rumah?" ujar sebuah suara baritone pria. Suara itu menggaung memenuhi ruangan dan telinga ketiga gadis itu sekarang. Mereka bertiga juga tahu benar siapa pemilik suara baritone ini tanpa harus melihat wajah pemiliknya.


Dia adalah...


__ADS_2