Aku Menantimu: Cinta

Aku Menantimu: Cinta
A,M,C#15


__ADS_3

Semua orang meninggalkan kedua pelayan itu bersama aisah dan keempat kucing besar kesayangan aisah tersebut, entah darah pembunuh yang melekat pada diri aisah atau karna kebencian dan dendam yang dia miliki kepada seluruh keluarga yang telah membantai kedua orang tuanya, aisah dengan kejam meminta kepada keempat kucing besar itu, untuk memangsa kedua pelayan itu.


Aisah melihat dengan tenang bagaimana keempat kucing itu, membunuh kedua pelayan tersebut, teriakan dan permohonan ampun dari mereka berdua tidak dihiraukan oleh aisah, dari balkon opa dan yang lain, melihat semua itu dan mereka syok bukan main, bahkan Oma dan Dinda sampai gemetar melihat perbuatan gadis kecil kesayangan mereka.


"Mas, apa, apa yang terjadi, kenapa putriku begitu mengerikan dan tidak punya belas kasih, dia bahkan dengan tenang menikmati semua yang terjadi didepan matanya, kenapa mas, kenapa dia jadi seperti itu?"


"Dinda, menurut papa. Dia pasti mengingat kejadian yang menimpa kedua orang tua kandungnya, dia melihat dengan matanya sendiri, dan itu akan terus melekat dalam dirinya."


"Maksud papa,aisah akan menjadi pembunuh karna semua kenangan mengerikan itu, begitu maksud papa?"


"Ya, tapi dia hanya akan melakukan itu pada orang yang mengganggu keluarga dan orang yang disayanginya"


"Tapi pa, mama merasa kita perlu bertanya dan menasehatinya"


"Apa mama lupa, dia bahkan bisa memiliki surat izin kepemilikan senjata, lalu apa kalian tidak merasa kalau dia telah mempersiapkan semua itu sejak kecil? dan itu dipicu oleh dendam dan penderitaannya"


"Tapi, apa yang dikatakan oleh mama benar pa. Kita perlu mengingatkan dia"


"Yah baiklah"

__ADS_1


Mereka semua turun dan menunggu aisah di ruang keluarga, tidak lama kemudian, aisah datang dan duduk didekat sang ibu, dia memeluk ibunya dan akhirnya menangis, karna sejujurnya dia tidaklah sekuat dan setabah yang dipikirkan oleh semua orang.


"Ada apa sayang? bukankah kamu sudah menghukum mereka? lalu kenapa kau menangis hum?"


"Ibu, apa aku jahat telah melakukan itu pada mereka? aku bahkan lebih mengerikan dari mereka bu"


"Sayang, terkadang ada kalanya orang harus jahat untuk melindungi diri mereka dan keluarganya, tapi ada juga orang yang pasrah dengan takdirnya, sehingga hanya mampu menerima penderitaan dan juga perbuatan jahat oleh lain"


"Lalu aku termasuk yang mana Bu?"


"Putri ibu adalah yang pertama, karna melakukan itu untuk menjaga orang-orang yang kamu sayangi nak"


Mendengar jawaban ibunya, aisah hanya menatap ibunya dan melihat kedalam mata itu, dan disana aisah melihat ketakutan dalam diri ibunya, dan aisah menebak itu semua karna kejadian yang baru saja mungkin telah dilihat ibunya.


Aisah meminta jawaban dari ibunya, karna dia tidak mau membuat ibunya ketakutan terus karna dirinya.


"Maaf sayang, tapi ibu baru saja melihat kejadian seperti itu, bahkan saat putri ibu sendiri dibunuh ibu tidak menyadarinya, jaadi jujur ibu takut nak, tapi bukan pada putri ibu, tapi ibu takut jika orang-orang yang mengirim mereka mengambilmu dari ibu, dengan cara yang sama, ibu, ibu tidak sanggup nak, hiks..... hiks...."


Mendengar jawaban ibunya, aisahpun mengakui sesuatu yang akan menentukan kehidupannya kedepan, apa akan kembali sendiri lagi atau masih diakui keluarga oleh orang tua angkatnya, aisah ingin tau seperti apa kesungguhan kasih sayang dan cinta ayah, ibu, opa, Oma dan uncle juga anty nya.

__ADS_1


"Ibu dan semua yang ada disini, aku ingin mengatakan kalau orang yang menculik kalian waktu itu adalah paman dan nenekku, mereka juga yang telah membunuh kedua orang tuaku, dan juga aku adalah putri dari Syam Wirajaya yang kalian ceritakan tadi"


Semua orang langsung berdiri dan menjauhi aisah, mereka menatap gadis remaja yang selama ini mereka besarkan dan sayangi dengan tatapan yang sulit dimengerti, aisah yang melihat sikap semua orang yang ada disana langsung berdenyut nyeri, dia merasa tiba-tiba sakit seperti saat dia melihat tatapan mata orang-orang yang menyaksikan kedua orang tuanya di aniaya waktu itu.


Melihat reaksi semua orang, aisah pun buka suara, walau hatinya sakit, dadanya sesak juga air matanya sudah siap tumpah hanya dengan satu kedipan mata saja.


"Ayah, hiks jika, hiks jika kalian juga akan menolakku, aku tidak akan menyesal, sungguh, aku justru berterima kasih karna selama ini, kalian telah merawatku juga memberiku kasih sayang, walau hanya beberapa tahun. Aku berterima kasih, aku juga berterima kasih pada opa, Oma dan uncle juga anty, terimakasih hiks.. hiks... hiks"


Semua orang terdiam, tidak ada yang berkomentar ataupun menatap aisah, karna sekarang semua orang telah memalingkan wajah mereka, tapi beda dengan Dinda, dia menunduk dengan air mata yang sudah mengalir dari kedua pelupuk matanya.


Aisah masih sesenggukan sambil menatap semua orang yang dulu begitu menyayanginya, kini seakan tidak mengenalnya, kini luka yang dulu mulai sembuh kembali terbuka dan semakin melebar, perih seperti tersiram air asam, sungguh sakitnya tidak bisa dikatakan lagi.


Aisah berdiri dengan tangiisnya yang ditahan tapi menyisakan sesenggukan dan derai air mata, dia berjalan menuju kamar yang dia tempati selama tujuh tahun belakangan ini, dia membuka pintunya dan masuk, dia menatap sekeliling kamar itu, dia meraba setiap sudut kamar tersebut disertai tangisan yang tidak bisa dia tahan lagi.


Setelah selesai mengelilingi kamar itu, aisah melihat sebuah bingkai foto, dimana disana ada semua orang, mulai dari opa, Oma dan yang lainnya, disana mereka semua tersenyum bahagia dan itu tepat dihari ulang tahunnya yang keenam, dia mengambil bingkai tersebut dan keluar dari kamar.


Aisah melihat semua orang sudah duduk diruang tamu, dia mendekati mereka dan menatap mereka tapi kini hanya tersisa Dinda yang masih tetap menatapnya, sementara yang lain memalingkan wajahnya, dia melihat mata sang ibu yang sudah memerah dan dia tersenyum kecil, karna melihat masih ada yang menyayanginya walau mungkin hanya sedikit.


"Tuan besar dan nyonya besar juga tuan Heru dan nyonya Dinda terimakasih atas semua yang telah kalian berikan padaku selama ini juga tuan muda, aku ucapkan terimakasih atas semuanya dan ini kartu yang pernah kalian berikan padaku aku kembalikan, karna aku tidak layak untuk memiliki semua ini."

__ADS_1


Setelah menaruh kartu dan juga berterimakasih aisah menatap wajah semua orang yang dulu begitu menyayanginya, tapi kini mengabaikannya. Dia kembali meneteskan air matanya, dia berputar dan melangkah keluar dari rumah itu, dipintu dia kembali melihat kebelakang, dia berharap kepergiannya di perhatikan atau dilihat walau hanya sebentar, tapi itu cuma harapannya saja karna kenyataannya tidak ada yang melihatnya, bahkan Dinda pun sekarang juga tidak menatapnya.


Aisah pergi dengan tangisan yang menyayat hati, dia semakin menangis kencang karna mengingat dulu juga dia pergi dengan tangisan dan hanya sendiri, dia melangkah dengan kaki yang bergetar dan kini keempat kucing kesayangannya itu mengikutinya, mili harimau tua itu menatap rumah itu dan mengikuti aisah yang juga diikuti ketiga anaknya.


__ADS_2