Aku Menantimu: Cinta

Aku Menantimu: Cinta
A,M,C.2


__ADS_3

"Sepertinya gadis kecil itupun ikut serta dengan mereka"


"Biarkan saja ka, bukankah itu lebih baik?"


"Ia kau benar, ha-ha-ha"


Kemudian mereka pergi dengan tawa mereka, gadis kecil itu menunggu sampai kedua pamannya pergi jauh, setelah itu, dia keluar dari persembunyiannya, dia menatap rumahnya yang sudah dilahap habis oleh api, membuat dia kembali menangis, karna melihat betapa jahatnya semua orang, bahkan mereka yang dulu sering dibantu oleh orangtuanya pun tidak mau menolong orang tuanya.


Dia menangis dengan suara kecil karna takut ketahuan orang, dia menatap rumah itu dengan mata kecil miliknya,dia seakan melihat kalau ibunya beserta ayahnya berteriak kepanasan disana, dan itu mengundang tangisan yang begitu memilukan.


"Ayah.........ayah.......huhuhuhu.....ayah.......ibu......huhuhuhu....ibu.......aku takut.....aku takut bu.........huhuhuhu....... huhuhuhu......"


Setelah lelah menangis, dan nyala api mulai mengecil,dia melihat sekeliling, tiba-tiba dia ingat mungkin paman dan yang lainnya pasti datang untuk melihat rumahnya, dia langsung pergi ketempat dimana ibunya tadi mengantarkannya, sampai disana lagi-lagi dia menangis memanggil manggil ayah dan ibunya, malam itu berlalu dengan tangisan pilu yang menyayat hati, tapi sayang tidak ada yang mendengarnya, selain suara jangkrik dan binatang lain yang terdengar dimalam hari.


Keesokan harinya,gadis kecil itu membuka kardus yang disusun disana, dia menemukan ada banyak makanan disana, ada mie instan, ada kue kuean, ada roti dan minuman juga masih banyak yang lainnya,dia pun membuka minuman mineral botolan dan juga makan roti, setelah kenyang dia hanya duduk bersandar kedingding sambil memeluk lututnya.


Dia berdiri dan mengintip lewat celah celah kecil, karna mendengar seperti ada suara binatang, dia melihat ada monyet yang nangkring di dahan dekat dengan jendela, dia berlari kepintu dan menguncinya, dia juga menutupi semua gorden, takut dilihat monyet tersebut, dia memastikan tidak ada pintu yang terbuka, setelah itu dia kembali duduk kembali sambil memeluk lututnya.


Dia menangis dalam diam,bagaimana tidak takut, dia ada dirumah ditengah hutan lebat, entah itu rumah siapapun dia tidak tau, tapi dia benar-benar ketakutan sekarang, tanpa sadar dia tertidur dengan posisi masih duduk, dia terbangun karna lapar, dia lagi-lagi hanya makan roti dan minum air mineral botolan.


Dia mencoba pergi kedapur, dan ternyata disana lengkap dengan kompor gas juga peralatan lainnya, dia yang memang sering menemani ibunya didapur, sudah tau cara menggunakan semua yang ada disana, dia mencoba melihat beras dan melakukan seperti yang sering dilakukan ibunya, dan setengah jam kemudian, nasi sudah masak dengan telor ceplok juga mie instan sebagai sayurnya.

__ADS_1


Dia mulai memakan makanannya, tiba-tiba saja muncul bayangan sang ibu dan ayahnya yang tengah melihatnya dengan senyuman, tapi itu kembali membuat gadis kecil itu menangis, dia makan sambil sesenggukan memanggil manggil ibunya serta sang ayah, dia bahkan sampai terbatuk batuk, karna merasa susah menelan makanannya, bukannya berhenti menangis, justru tangisannya semakin kencang dan begitu memilukan dan menyayat hati yang mendengarnya.


Setelah acara makan yang begitu perih dan sedih, dia membuka bukunya dan membaca, karna dia memang memiliki otak yang jenius, dia bisa mengerti dengan mudah apa yang dia baca, setelahnya dia mencoba belajar berhitung dan pelajaran matematika lainnya, setelah bosan dia kembali tertidur.


"Sayang, bangun yo, ini dah pagi loh"


"Ia bu, tunggu sebentar lagi ya"


"Tapi ini, dah terang sayang"


"Hum, baiklah aku bangun bu"


Dia mandi dan berganti, terus makan roti untuk sarapan, setelah itu,dia mencoba pergi ke kampung, dia mau melihat apa lagi yang terjadi disana, sesampainya disana dia melihat rumahnya yang terbakar itu, dikelilingi dengan benda kuning bertuliskan garis polisi, dia melihat sekeliling rumahnya dan mendapati tetangga tetangganya berkata bohong, dengan mengatakan.


"Kami tidak tau kenapa bisa seperti ini pak"


"Ia benar, biasanya istrinya itu orangnya teledor sih pak, mungkin dia lupa mematikan kompor, jadi y begini lah, kebakaran"


"Ia pak, kami juga sudah berusaha memadamkan apinya, tapi kami kalah cepat dengan apinya pak"


"Huhuhuhu....., kenapa jadi begini nak, kamu memang tidak beruntung menikah dengan wanita itu, sekarang kamu meninggalkan kami semua, huhuhuhu....."

__ADS_1


Mendengar semua itu, gadis kecil itu, hanya bisa menangis, dia tidak menyangka kalau semua orang, berbohong tentang kejadian yang menimpa orang tuanya, dia pergi dengan tangisnya, dan meninggalkan tempat itu, dia merasa ada yang memperhatikannya, jadi dia mencarinya dan melihat disana ada bayangan ibunya yang menangis menatapnya, diapun menangis dan mendekati bayangan itu, lalu dia melihat ayahnya yang juga sama-sama menangis.


"Ayah, ibu mereka semua berbohong, kenapa mereka tidak mengatakan kalau kalian dipukuli juga dijambak, kenapa mereka bilang ibu yang membuat rumah kebakaran kenapa?"


Gadis kecil itu,bertanya dengan tangisan pilunya, tapi ayah dan ibunya hanya diam sambil terus menangis, melihat itu, gadis kecil itu sadar bahwa itu hanyalah bayangan, diapun kembali berbicara.


"Ayah, ibu aku janji, kelak aku akan melakukan yang benar dan membela yang lemah, aku akan menjadi gadis yang kuat"


Dia berkata dengan semangat dan senyuman manis yang dia miliki, mendengar dan melihat itu, bayangan kedua orangtuanya pun ikut tersenyum dan perlahan-lahan menghilang, setelah bayangan orang tuanya pergi, gadis kecil itu melangkahkan kaki kecilnya meninggalkan tempat itu.


Sesampainya dirumahnya ditengah hutan, dia kembali melakukan aktivitas biasanya yaitu belajar, memasak dan makan, itulah kesibukannya setiap hari dirumahnya.


Setelah tujuh bulan berlalu, hari ini, genaplah usianya enam tahun, dia bangun pagi masak lalu bersiap makan.


Dia membayangkan nasi didalam piringnya adalah kue kesukaannya yang selalu disediakan kedua orangtuanya, disaat dia berulang tahun, dia memotong nasi membentuk kue yang di potong potong kecil dan memakannya perlahan lahan sambil mengucapkan ulang tahun untuknya.


Lagi air matanya menetes,mengingat kedua orangtuanya, yang tidak ada bersamanya, ini adalah yang pertama diulang tahunnya dia tidak ada ayah dan ibunya, tetesan tetesan air matanya masuk kepiringnya dan itu, menambah kepiluan dihatinya, sungguh siapa yang bisa hidup sendiri ditengah hutan diusianya yang hari ini genap enam tahun, tapi itulah yang terjadi pada gadis kecil itu.


Ayah, ibu, doakan AISAH disana y, semoga aku bisa jadi anak kebanggaan kalian,. AMIN.


Sungguh hati ini sangat tidak kuat untuk melanjutkan ceritanya, kalau teman-teman semua belum memberi dukungan dan komennyaπŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2