Aku Menantimu: Cinta

Aku Menantimu: Cinta
Bab#5


__ADS_3

Malam ini, mili terlihat seperti gelisah, dia bahkan tidak bernapsu untuk makan, Aisah yang tidak mengerti apapun hanya melihat tanpa melakukan apa-apa, Heru yang kebetulan kebelakang melihat Aisah yang sedang duduk memperhatikan, kucing yang sedang gelisah itu, Heru melihat, sepertinya kucing besar itu akan melahirkan karna terlihat, sesekali kucing itu, menjilati v*s nya, herupun memperbaiki tempat kucing itu, dan membuat tempat itu sebersih mungkin.


Sang istri yang melihat itu pun langsung mengerti jadi membantu suaminya, membereskan tempat kucing besar itu, kucing besar yang sudah mengerti sifat ketiga orang itu,hanya melihatnya, sambil mengaum kecil, Heru pun menggosok gosok kepala kucing itu, dan mengajak semua orang keluar.


Setelah semua keluar, kucing itu berbaring dan mulai mengaum ngamung, sambil sesekali melihat kearah v*s nya, Aisah yang melihat itu pun bertanya.


"Ayah Mili kenapa, kenapa dia menangis terus?"


"Itu karna dia mau melahirkan anaknya sayang"


"Oh gitu, berarti sebentar lagi kita akan kekota kan yah, Bu?"


"Ia sayang, kamu suka?"


"Suka bu, suka Banget malah Bu"


"Ayah, ibu, setelah ini aku akan ikut ayah dan ibu baruku kekota, kalian jangan sedih lagi, kalian harus tenang dan bahagia disana mulai sekarang"


Ucap Aisah dalam hatinya, dia begitu bahagia karena akan keluar dari hutan itu, dia sudah tidak sabar untuk melihat tempat barunya, satu jam kemudian mereka melihat kucing besar itu, melahirkan tiga anak yang lucu dan imut, mereka bertiga begitu senang,Heru melap ketiga bayi kucing itu, dengan sebuah cairan dan membersihkannya, setelah selesai, ketiga bayi kucing besar itu, harum dan wangi, sementara Aisah dan ibunya, membersihkan kandang kucing itu.

__ADS_1


Setelah semua bersih, mereka kembali membuat tempat yang aman dan hangat untuk keempat kucing itu, setelah selesai, mereka juga masuk dan beristirahat, keesokan harinya, mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing, Heru dan Aisah mengurus sikucing dan bayinya, sedangkan siibu, memasak untuk sarapan.


Setelah semua kegiatan mereka selesai, mereka bersih bersih dan sarapan pagi, setelah itu, ayah dan Aisah pergi memancing untuk makanan sikucing dan bayinya, setengah jam kemudian, ayah dan Aisah kembali dan membersihkan ikan, sementara ibu memasak air untuk merebus ikan, baru nanti diberikan pada Mili dan anak -anaknya, setelah masak mereka memberi makan Mili supaya anak-anaknya bisa menyusu dengan kenyang.


sebulan kemudian, mereka semua sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kota B asal ibu dan ayah berada, Heru mulai berpikir bagaimana cara mereka semua untuk kembali, sedangkan saat ini, mereka tidak punya ponsel untuk menelpon orang rumah untuk menjemput mereka, Aisah yang melihat sang ayah sedang berpikir pun menghampirinya.


"Ada apa ayah, kenapa ayah seperti memikirkan sesuatu?"


"Ayah mau menelpon orang rumah, tapi ponselnya jatuh waktu itu di air sungai dan sekarang bagaimana kita menghubungi mereka?"


"Sebentar ayah"


Sang ayah pun memasukkan no seseorang dan menghubunginya, setelah selesai,dia mengembalikannya pada Aisah, sebelum berangkat kekota, Aisah mengajak ayah dan ibunya kereruntuhan rumah milik mereka dulu, dan disana ayah dan ibu barunya begitu merasa teriris hatinya.


Bagaimana tidak, mereka membayangkan bagaimana kedua tubuh itu, terbakar disana, kalau seandainya yang terbakar ada mayat mungkin tidak begitu menderita, tapi ini, tubuh itu mungkin belum melepaskan nyawa masih ada walaupun cuma sedikit, sungguh membayangkan itu, membuat ibu menangis begitu pilu, sambil dipeluk sang ayah yang juga menangis melihat puing puing rumah itu.


Aisah kembali meneteskan air matanya dalam diam, dia menepuk nepuk dadanya karna sesak, tapi belum lepas rasa rindunya, dia seperti melihat kerumunan orang-orang dan juga pamannya, dia menarik ayah dan ibu barunya pergi dari sana.


Ayah dan ibunya yang ditarik ingin bertanya, tapi tidak jadi karna melihat segerombolan orang-orang yang datang kerumah itu, Aisah membawa keduanya bersembunyi dibalik tembok runtuh yang ditumbuhi rumput liar, disana mereka memperhatikan apa yang dilakukan oleh orang-orang itu.

__ADS_1


Aisah dan kedua orangtuanya itu begitu kaget, karna melihat mereka semua ternyata sedang melakukan siaran langsung, dan disana pamannya dan penduduk kampung mengatakan kebohongan, bukan hanya itu saja, tapi disana juga ada polisi yang Pernah memeriksa kejadian itu pertama kalinya, Aisah tidak percaya kalau semua orang begitu dibutakan oleh uang.


Bahkan dengan gamblangnya semua orang berkata, kalau semua penghuni rumah itu, tewas karna kerasukan dan membakar diri mereka sendiri dan rumah itu, dan berkata setiap malam pasti akan membuat masyarakat resah.


Pamannya itu juga berkata begitu menyayangkan dan keprihatinannya pada sang kakak, Aisah begitu sedih, terluka, kecewa pada semua orang, padahal dulu kedua orang tuanya selalu membantu banyak orang dikampung itu, tapi sekarang mereka semua dengan tega melakukan kebohongan hanya karna uang sedikit.


"Ibu....., kenapa mereka semua berbuat ini, padahal dulu mereka semua selalu minta bantuan kalian,hiks.... hiks.....ibu.....aku benci mereka semua...... mereka semua jahat....huhuhuhu"


Heru dan istrinya begitu sakit mendengar tangisan dan juga jeilritan kekesalan bercampur dendam itu, sungguh hanya manusia bi.......p yang tega melakukan itu semua, terhadap keluarganya sendiri, entah apa penyebabnya dan tujuan mereka juga belum ada yang tau.


Setelah semua orang itu, pergi ayah mengajak istri dan Aisah kereruntuhan rumah itu, dan bertanya dimana letak kedua orang tua Aisah saat itu, saat dapat jawaban, Heru mencari sebuah plastik atau sesuatu yang bisa dibuat untuk membawa tanah bekas jenazah kedua orang tua Aisah, dan berencana akan membuat makam untuk mengingat kenangan kedua orang tua Aisah.


Setelah empat jam mereka kembali kerumah hutan, dan diperbatasan hutan dan kampung Heru melihat mobil pesanannya datang, dia menghampirinya bersama istri dan Aisah, dan meminta semua orang yang ada disana ikut mereka untuk membantu mengangkat barang barang yang akan mereka bawa pulang, dan Heru hanya menyuruh tiga orang yang tinggal disana untuk mengawasi mobil.


Sesampainya mereka semua dirumah hutan semua orang begitu takjub dengan bangunan kuno itu, dan saat masuk kedalam mereka semua terperangah, karna didalam begitu rapih, saat sibuk menikmati keadaan rumah dan mengangkat barang barang yang akan dibawa kekota, tiba-tiba.


Aaaaaaaaaaakh........ semua orang yang disana kaget mendengar teriakan itu, tapi tidak dengan tiga orang yang tau penyebab teriakan itu, siapa lagi yang membuat orang kaget kalau bukan Mili.


Mohon beri dukungan kalian semua untuk karya aku ini, 🀲🀲🀲🀲🀲🀲 like, komen juga rate saya mohonπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­

__ADS_1


__ADS_2