
Sementara ditempat Kelvin, tepatnya dikediaman David Kelvin saat ini sedang berdiri di hadapan semua keluarganya, tapi Kelvin sama sekali tidak mendengar setiap pertanyaan yang dilontarkan para keluarga padanya, karna Kelvin saat ini hanya memikirkan Aisah, dia tidak tau apakah cinta yang sudah tumbuh itu masih ada atau kah Aisah akan melupakannya untuk selamanya atau apa.
David yang melihat dan menyadari kalau Kelvin sama sekali tidak mendengar apa yang ditanyakan menjadi marah, dan untuk pertama kalinya dia membentak putranya tersebut, tentu fati sebagai ibu merasa sedih karna dia melihat kemarahan Dimata suaminya untuk sang putra.
"Kelvinnnnn, apa kau pikir semua orang yang ada di sini adalah patung tak berguna, sejak tadi semua orang bertanya tapi kau mengabaikan kami dan lebih memikirkan wanita itu?"
"Pa jangan terlalu keras padanya, ingat dia itu putra kita pa!"
"Ma apa aku pernah marah jika dia tidak bersalah, tidak kan? jadi kali ini aku harus membuat dia sadar biar dia menjauhi gadis itu."
Kelvin melihat papanya dan berkata.
"Pa, Aisah tidak bersalah dia itu juga korban pa, aku tau dia juga keturunan Wirajaya, tapi dia juga kehilangan orang tuanya orang yang sangat dia sayangi dan dia sekarang hidup sebatang kara, karna tidak ada yang mau menerima dirinya pa."
"Itu sudah takdirnya, dan kau jangan pernah berpikir untuk membawanya kerumah ini, apalagi berpikir menjadikan dia sebagai menantu keluarga ini mengerti!"
Kelvin terdiam mendengar perkataan mamanya, seumur-umur baru kali ini mamanya melarang dia untuk sesuatu dan dia yang tidak pernah membantah apakah harus membantah sekarang demi wanita yang dia cintai itu, Kelvin menjadi serba salah dalam memilih, antara ibu dan cintanya.
Sementara dirumah sakit ini sudah satu Minggu sejak insiden malam itu, dan sekarang kondisi Aisah sudah pulih dan dia sedang bersiap untuk pulang kerumah, tapi, dia terlihat seperti tidak bernyawa, pandangannya kosong, dia juga jadi pendiam dan Mona pun mengerti betapa berat beban yang dipikul nonanya tersebut.
Sesampainya dirumah pun, Aisah tidak mengatakan apa-apa, dia langsung masuk kedalam kamar dan tidak keluar-keluar lagi, Mona pun langsung kembali kekantor dan mengani pekerjaan, karna dia tidak ingin ada orang yang memanfaatkan kondisi nonanya yang lemah, dan menjadikan rival-rivalnya dalam dunia bisnis menjalankan penghianatan atau penipuan.
Dan kali ini, Mona akan berangkat kesuatu tempat yang tidak diketahui oleh siapapun dan disana dia akan bertemu seseorang yang selama ini, memerintahkan dirinya untuk selalu berada disamping Aisah.
Setibanya Mona ditempat tujuannya dia menghadap orang tersebut dimana orang itu sedang duduk melihat sebuah layar yang menunjukkan wajah seseorang yang begitu dirindukan.
__ADS_1
"Bagaiman, apa ada yang ingin kau jelaskan tentang semua ini?"
"Bos aku hanya mengikuti perintahnya dan tidak bisa membantah bos."
"Lalu kenapa kau tidak menggunakan cara lain untuk menghentikannya?"
"Maaf bos, aku...aku tidak terlalu memperhatikan yang lain karna saat itu posisinya tidak menguntungkan bos, maaf."
"Apa aku perlu menggantimu dengan yang lain, karna kau telah ceroboh dan membuat dia hampir tiada."
"Bos aku mohon jangan gantikan posisiku bos, aku janji setelah ini, aku akan lebih sigap untuk mengatasi masalah aku janji bos, jadi tolong beri aku satu kesempatan lagi bos."
"Hum, baiklah tapi ingat ini yang terakhir dan tidak ada yang ketiga paham!"
"Paham bos."
"Ada apa, kenapa sejak tadi kau berdiri disana dan seperti ingin menyampaikan sesuatu hum?"
"Bos, nyonya meminta untuk mengirim beberapa orang untuk melindunginya dari jauh bos."
"Hum dia benar, baiklah segera kirimkan 20 orang yang paling kuat untuk menjaganya dari jauh, dan ingat jangan sampai dia menyadarinya. Dia memiliki insting yang kuat jadi suruh mereka untuk lebih waspada!"
"Baik bos."
Tak...tak..tak..tak..suara sepatu yang beradu dengan lantai, dan muncullah seorang wanita cantik dan duduk disamping orang tersebut.
__ADS_1
"Apa kita belum ada rencana untuk menunjukkan diri padanya?"
"Belum waktunya sayang, sabarlah kita harus melihat siapa-siapa saja yang akan menjadi musuh kita selanjutnya, dan untuk David dan istrinya, kita perlu memberi mereka kejutan biar dia tidak terlalu sombong dan angkuh."
"Ya terserah kau saja."
"Sayang, aku tau kau sudah tidak sabar tapi kali ini, tolong mengertilah hum?"
"Hum..."
Aisah duduk dikamarnya dan menatap kosong keluar jendela, seakan dia begitu menikmati pemandangan dikejauhan, bibi datang untuk bertanya apakah mau makan dikamar atau diluar tapi Aisah hanya menggeleng sebagai jawaban, dan bibi begitu sedih melihat gadis baik yang sudah memberi mereka tumpangan juga biaya hidup selama ini, bibi keluar dari kamar dengan keadaan yang tidak bersemangat karna kondisi nonanya.
Sementara aisah dia teringat kejadian pada malam dimana Kelvin menamparnya juga bagaimana ibu Kelvin memperlakukannya, dia mengepalkan tangannya karna dia begitu sakit dan merasa tidak dianggap manusia oleh mereka semua.
"Kenapa aku bisa memiliki perasaan pada pria yang ternyata adalah binatang buas itu, kenapa aku begitu mudah tertipu oleh sikapnya selama ini, kenapa.. hiks... hiks kenapa?"
Aisah menangis karna dia merasa dirinya begitu gampang lupa tentang siapa dirinya dan seperti apa orang menganggapnya, padahal dulu dia selalu bertekad untuk bersikap waspada terhadap orang baru begitu juga terhadap Kelvin tapi dia lupa saat pertemuan mereka di mall saat itu, dan kini dia kembali merasa kecewa karena kebodohannya.
Sementara itu Kelvin sedang berada di kantor tapi dia sama sekali tidak bisa pokus dengan pekerjaannya, dan Abdi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, abdi tau kalau Kelvin hanya memikirkan Aisah karna sejak hari itu, Kelvin memutuskan untuk melupakan Aisah dan memilih sang mama, tapi sampai sekarang, Kelvin sama sekali tidak bisa melupakan wanita kecilnya itu.
"Kel, aku tau kau begitu mencintai Aisah, tapi ingat dia adalah keturunan Wirajaya dan dia adalah musuh bukan cinta!"
"Di, aku yakin Aisah tidak bersalah dan juga aku sangat yakin kalau bukan kedua orangtuanya pelaku pembunuhan selama ini, dan kalau pun memang mereka terlibat aku yakin pasti ada alasan tertentu."
"Ya, tapi kita tidak bisa hanya mempraduga saja kan, kita juga harus punya bukti barulah kita bisa menyimpulkannya."
__ADS_1
"Di , kalau soal bunuh membunuh, bukankah kita juga sama? kita juga banyak membunuh orang, tapi kita tidak pernah diperlakukan seperti apa yang Aisah terima kan? lalu kenapa semua orang memusuhi dirinya dan menyalahkan dirinya seakan-akan dialah yang menjadi pelaku semua kejahatan dimuka bumi ini?"