Aku Menantimu: Cinta

Aku Menantimu: Cinta
A,M,C#9


__ADS_3

Tampa membung buang waktu, dia turun dari atas motor dan memberi isyarat kepada ketiga kucing besar itu untuk bersiap jika ada bahaya, ketiga kucing itu mengerti dan bersembunyi dibalik bunga yang rimbun didalam halaman luas itu, Aisah melangkah untuk masuk kedalam, tapi belum juga sampai di pintu masuk, dia mendengar teriakan sang ibu yang begitu kuat, seakan sedang menahan atau melihat hal yang menakutkan.


Aisah bergegas masuk dan dia begitu syok, melihat sang ayah dan opanya yang sudah tergeletak bersimbah darah, juga unclenya yang sedang dihajar oleh beberapa pria berbadan besar, dia juga melihat Nuni sang pelayan duduk manis di samping wanita tua yang dia sebut dulu sebagai nenek, juga kedua pamannya dan kedua bibinya.


Dia melihat ibunya Dinda yang saat ini dirantai disebuah tiang ditengah tengah ruangan tersebut, hal itu membuat kemarahannya memuncak, dia mengingat dulu kedua orang tua kandungnya juga diperlukan seperti ini,dan orang-orang hanya menonton tanpa berniat membantu.


Dia pun mengambil sebuah Gucci dan melemparkannya kepada sang pelayan yang saat ini tersenyum melihat penderitaan keluarganya, prang.......suara pecahan Gucci yang mengenai kening pelayan tersebut, hal itu membuat semua orang berhenti dari kesenangan mereka dan melihat kearah seorang gadis berkerudung dan memakai cadar.


Wanita tua yang sedang duduk menikmati siksaan dan teriakan tadi menjadi marah karna merasa terganggu dengan hal tersebut, juga dia semakin marah karna ternyata Gucci itu bukan barang murah tapi impor, dia menatap gadis bercadar itu dengan mata yang memancarkan kemarahannya, tapi Aisah sama sekali tidak terpengaruh, karna dia lebih marah sekarang ini.


Aisah tidak habis pikir, kenapa semua orang dari keluarga ayah kandungnya ini, memiliki sifat yang aneh dan termasuk gila, karna hobby menyiksa orang tanpa alasan,


dia merasa kalau semua orang ini adalah PHYSICOPAT, karna kalau tidak, tidak mungkin mereka memiliki hobby aneh itukan.


Sang nenek berjalan mendekati gadis bercadar tersebut, dan menelisik pakaian juga tubuh Aisah sambil berkeliling, setelahnya nenek itu pun bertanya.


"Apa kau tidak tahu sopan santun saat bertamu nona, dan lagi? kenapa kau membuat keributan di rumahku hum?"

__ADS_1


"Heh, sopan santun? apa kau sedang bertanya padaku atau pada dirimu sendiri wahai wanita tua?"


"Kau, beraninya kau bicara dengan tidak hormat padaku, apa kau tidak tahu siapa aku hah?"


"Jangan berteriak hai nenek tua, kasihan urat-urat mu nanti putus!"


"Kurang a....r minta maaf pada ibuku karna kalau tidak"


"Kalau tidak kenapa hah? apa kalian akan menyiksaku sama seperti mereka, heh dasar physicopat, kalian semua yang akan mendapatkan hadiah dari hari ini, jadi jangan banyak bicara"


Mendengar ucapan gadis bercadar itu, mereka semua tidak terima dikatakan physicopat, akhirnya paman pertama Aisah berjalan mendekati Aisah dan mengangkat tangannya ingin menampar aisah, tapi Aisah dengan cepat menangkap tangan itu dan memutarnya lalu menggunakan punggungnya sebagai sandaran paman pertama dan Aisah dengan mudah membanting tubuh pamannya itu kelantai bruk.


"Jangan banyak bicara, lepaskan mereka semua dan minta maaf pada mereka dengan bersujud!"


Mendengar perintah Aisah, mereka semua tertawa terbahak-bahak, karna merasa lucu dengan permintaan gadis berkerudung itu, hal itu membuat sang nenek meminta anak-anaknya untuk menghajar semua orang yang saat ini sudah tak berdaya itu, Aisah yang melihat semua itu, mengepalkan tangannya, dan tanpa terasa air matanya menetes, dia melihat bayangan ayah dan ibunya dulu yang disiksa sama seperti yang dilakukan saat ini kepada keluarganya itu.


Aisah yang sudah tidak sanggup lagi melihat siksaan yang dilakukan pada keluarganya, mengeluarkan senjata api miliknya dan dor.......satu peluru bersarang dikaki paman kecilnya, hal itu membuat semua orang histeris dan berlari keluar dari rumah tersebut.

__ADS_1


"Wah gadis kecil, apa kau tau bahwa memiliki senjata adalah ilegal dan kau bisa masuk penjara"


"Hanya mereka yang tidak memiliki surat izinlah yang akan masuk penjara, tapi aku tidak akan pernah masuk penjara karna aku memiliki surat izin, bukan hanya dinegara ini, tapi keseluruh negara aku bisa menunjukkan sentaku, lagi pula, berbicara tentang hukum, apa kau lupa bahwa kau sendiri menjadikan polisi sebagai orang jahat hanya karna uang? jadi tidak perlu bicara tentang hukum padaku"


Mendengar jawaban Aisah yang mengatakan bahwa dia memiliki izin untuk memiliki senjata api, membuat mereka merasa kalau saat ini, mereka kalah dari gadis bercadar itu, tapi sang nenek sangat tidak menunjukkan rasa takut, dia mendekati Dinda dan langsung menusukkan pisau buah keperut dinda, dan Aisah yang melihat itu pun habis kesadaran dia langsung menembak dada sang nenek dan membuat wanita tua itu langsung tergeletak dan tak sadarkan diri.


Semua anak-anaknya pun berteriak memanggil ibu mereka yang sudah tak membuka mata itu.


"Kau, tunggu saja pembalasanku nanti"


Aisah yang sudah marah itu tidak peduli dengan ancaman paman pertama, dia justru menembaki mereka semua satu persatu, sehingga setiap orang mendambakan satu hadiah timah panas dari aisdh.


Aisah pun yang melihat semua orang pergi untuk menyelamatkan diri mereka, membuat dia memiliki kesempatan untuk melepaskan dan membawa keluarganya untuk diobati dan dirawat, dia membawa ayah, opa uncle dan ibunya dengan kendaraan miliknya yang sudah dirancang sedemikian rupa.


Ya motor milik Aisah sudah dimodifikasi juga sudah dirancang untuk hal hal darurat, motor itu bisa berubah bentuk menjadi mobil sport yang memiliki empat kursi, juga bisa menyelam jika di daerah yang memilki air yang dalam, setelah mereka semua sudah duduk diposisi aman, Aisah pun melajukan mobilnya dan didepan dia telah ditunggu tiga kucing kesayangannya.


Dia pun memencet sebuah tombol dan keluarlah satu roda tambahan dan diatasnya ada seperti bentuk sangkar persegi empat, pintu kecil terbuka dan satu persatu kucing itupun masuk dan mereka mengambil posisi ternyaman mereka didalam, Aisah melajukan kendaraan hebat miliknya dan dalam waktu satu setengah jam dia sampai ditempat bermain Mili dan anak-anaknya itu, Aisah membawa mereka semua masuk keruangan kecil itu, dan mereka disuruh berbaring di atas karpet berbulu miliknya.

__ADS_1


Sang Oma yang melihat keadaan semua orang begitu terkejut, dan dia melihat dengan pandangan bengong karna tidak mengerti apa yang terjadi, dia menatap Aisah meminta jawaban tapi Aisah hanya membalas tatapan Omanya dan menggelengkan kepalanya, karna dia juga tidak tau apa yang terjadi sebenarnya.


Aisah dan Oma merawat mereka semua dengan baik, setelah selesai mengurus luka juga memberi obat, Aisah mencoba menelpon sang aunty, setelah mendapat jawaban, dia pun mengirim pesan pada seseorang setelah itu, dia baru bisa beristirahat sejenak dan mulai berpikir, sebenarnya apa yang terjadi, tapi dia hanya bisa bertanya dan bertanya dalam hati, tapi tidak mendapatkan jawaban.


__ADS_2