Aku Menantimu: Cinta

Aku Menantimu: Cinta
A,M,C.4


__ADS_3

Aisah membawa wanita dan pria itu kerumahnya, dengan mendorong pria itu pake kerobak sampah yang ada dipinggir jalan, sesampainya ditengah hutan, wanita itu, begitu syok, karna melihat sekelilingnya adalah hutan rimbun, walau tidak terlalu lebat, dia menatap gadis itu dengan iba, karna hidup sendiri ditengah hutan.


Sesampainya didalam, terlihat disana ada banyak kardus yang berjejer, juga ada beberapa kotak yang terbuat dari kayu, yang entah apa isinya, Aisah keluar dari kamar mandi sudah bersih dan wangi, wanita itu kaget, karna tak menyangka jika gadis kecil kucel dan kotor tadi ternyata adalah seorang bidadari cilik.


Dia melihat Aisah membawa beberapa tanaman yang entah untuk apa, dia hanya melihat saja, dia melihat tangan kecil Aisah dengan telaten mengobati dan menjahit, juga membersihkan serta membalut luka suaminya, dia begitu salut, anak yang dia perkirakan berusia antara enam, tujuh tahun itu, sudah memiliki jiwa medis yang kuat.


"Tante, kita tunggu omnya sadar dulu y, menunggu om sadar aku akan masak buat kita, jadi Tante disini saja y"


"Nak, kau mau masak? emang bisa, biar Tante saja y, kau duduk saja ok"


"Tidak Tante, kalau Tante mau bantu ok lah, tapi untuk duduk aku kurang sanggup, karna sudah biasa memasak dan mengerjakan yang lain"


Mendengar jawaban gadis kecil itu, wanita itu pun bertanya.


"Siapa namamu nak?"


"Namaku Aisah Tante"


"Lalu dimana ayah dan ibumu? knp kau tinggal di hutan ini, dan kenapa Tante tidak lihat mereka dari tadi?"


"Mereka sudah disurga Tante, dan ibu yang mengantarku kesini sebelum mereka pergi ke surga"


"Mengantar? pergi maksudnya gimana Tante ga ngerti"


"Ibu mengantarku kesini, sebelum mereka dibunuh oleh orang-orang itu"


"Dibunuh, siapa yang membunuh mereka nak, dan, dan apa, apa maksudmu kamu tau siapa mereka?"


Wanita itu, begitu syok dan kaget, mendengar kata dibunuh, dia seakan merasa tidak terima dengan apa yang gadis kecil itu katakan, dia seakan begitu membenci kata dibunuh, bahkan sekarang dia menangis sambil memeluk tubuh kecil aisah.


"Sayang, siapa mereka nak, katakan pada Tante, Tante janji, setelah suami Tante sehat, Tante akan minta dia membantumu, kau harus menerima keadilan atas musibah yang menimpamu"


Aisah menatap mata wanita itu, dan tiba-tiba air matanya menetes, dia begitu merindukan ibunya, juga pelukan ibu dan ayahnya, dia merasa begitu senang dipeluk oleh wanita itu, dia merasa ada kehangatan dalam pelukan itu, sehingga diapun membalas pelukan wanita itu, sambil menangis memanggil ibunya.

__ADS_1


"Ibu......, aku kangen......., aku ingin dipeluk ibu"


"Sayang mulai sekarang kau boleh panggil aku ibumu hum, sekarang kau punya ibu, kau juga punya ayah, kau dengar hum"


Dua orang itu, terus sibuk dan asik dengan tangisan dan curhatan hati mereka, tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seseorang yang menyaksikan kesibukan kedua wanita beda usia itu, y dia adalah pria yang tadi terluka parah juga mendapat perawatan dari Aisah.


Dia juga merasa sakit dan pedih mendengar cerita gadis kecil itu, dia tidak habis pikir, bahwa ibu dan adik adik yang tega menganiaya saudara juga anak sendiri, hanya karna alsan yang belum diketahui penyebabnya.


Dia perhatikan gadis kecil itu, mungkin seumuran dengan putrinya yang begitu mereka cintai dan sayangi, dia bangun perlahan-lahan mendekati kedua wanita beda usia itu, dan bertanya.


"Apa tidak ada yang peduli padaku, kenapa aku ditinggalkan sendiri disana, apa aku ini hanya orang yang tak dianggap?"


"Papa, papa kau sudah sadar, apa masih ada yang kau rasa belum mendapat pengobatan, ayo katakan pa"


"Aku baik-baik saja, kalian begitu serius sampai tidak menyadari kalau aku sudah terbangun"


"Siapa namamu preri kecil, apa kau yang mengobati ku?"


"Namaku Aisah om, ia aku yang obati, apa om tidak suka?"


Dia merasa kalau dia, akan ditinggalkan lagi, padahal tadi dia sudah berpikir akan punya keluarga baru yang menyayanginya, dan punya tempat untuk bersandar dan bermanja manja, tapi sekarang dia akan ditinggalkan dan, kembali sendiri ditemani kucing besarnya.


"Ia, aku tidak suka, karna kau memanggil dia ibu"


Mendengar ucapan itu, sungai itu akhirnya banjir dan membasahi pipinya, dia tidak bisa lagi menahannya, dia menunduk, dan memilin milin bajunya, hatinya sakit, sedih, dan dadanya sesak, akhirnya ketakutannya terbukti kalau dia akan ditinggalkan.


"Tapi....., kalau kau panggil aku ayah, aku akan menyukaimu, bahkan akan mengangkatmu menjadi putri kami"


Aisah menatap pria itu, dan dia pun langsung menghampiri pria itu dan memeluknya.


"Ayah......., huhuhuhu.....aku ....


aku .....mau ayah dan ibu......

__ADS_1


,huhuhuhu"


Pasangan suami istri itupun memeluk Aisah bersama sama, tapi tiba-tiba.


"Aaaaaaaaaaakh....ha...ha..harimauuuu....."


Mendengar istrinya menjerit dan berkata harimau pria itu pun, menoleh dan dia begitu syok dan ketakutan, dia membawa Aisah dan istrinya kebelakang tubuhnya, mencoba melindungi mereka berdua, sambil mencari sesuatu yang bisa dia pakai untuk membunuh harimau tersebut.


Aisah yang melihat ketakutan ayah dan ibu barunya pun menegur kucing kesayangannya itu.


"Mili, kenapa kau menakuti ayah dan ibuku, kau mau kupukul?"


Kedua orang dewasa itu, menganga mendengar Aisah berbicara pada kucing besar tersebut.


"Sekarang minta maaf dan salim ayah juga ibuku ok"


Kucing besar itu, berjalan mendekati kedua orang dewasa itu, dan menyodorkan kaki depan bagian kanan kepada ayah, dan ayah pun menerima uluran kaki itu, kucing itu menggosokkan hidungnya tanda santun pada ayah begitu juga kepada ibu baru Aisah, setelahnya, kucing besar itu malah duduk didekat kaki sang ayah baru aisah, kadang menggosokkan kepalanya kadang juga meletakkan kepalanya dikaki sang ayah baru.


"Ayah, aku belum tau nama ayah, boleh kah aku tau nama ayah dan ibu?"


"Tentu sayang, panggil aku ibu DINDA dan panggil ayah dengan ayah HERU , dan kau akan menjadi putri kami, yaitu NANA AISAH HERU BASKORO"


"Tapi bu, namaku Aisah, kenapa ada Nana nya"


"Nana itu, nama pemberian ayah dan ibu untukmu, apa kau tidak suka?"


"Suka bu, aku suka, terimakasih bu, ayah"


"Sama sama sayang"


Mereka bertiga begitu bahagia, tidak lupa kucing besar itu, begitu betah meletakkan kepalanya diatas kaki sang ayah.


Satu Minggu kemudian, kondisi Heru sudah membaik, hanya tinggal bekas lukanya yang belum hilang, dan mereka juga sudah sepakat, akan kembali ke kota, asal ayah Heru dan istrinya tinggal, setelah Mili melahirkan anaknya.

__ADS_1


terimakasih buat yang sudah memberi dukungannya, semoga sehat selalu dan tetap setia mendukung karya karya aku yang lain juga🙏🙏🙏🙏🙏😜😜😜😜🤲🤲🤲🤲🤲🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2