Aku Menantimu: Cinta

Aku Menantimu: Cinta
A,M,C#30


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju kerumah kelvin hanya melihat kearah luar, Abdi yang melihat Kelvin seperti itu bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi saat pertemuan dua orang tadi.


"Apa sebenarnya yang mereka bicarakan, dan kenapa Kelvin menangis? trus apa sangkut pautnya dengan paman dan bibi y?"


Abdi hanya bisa bertanya dalam hati, karna tidak berani bertanya langsung pada Kelvin yang saat ini seperti sedih tapi juga marah, dan entah kenapa Abdi juga bingung.


Sesampainya dirumah, Kelvin masuk dan melihat papa dan mamanya sedang berada diruang keluarga, tanpa basa-basi lagi Kelvin langsung bertanya kepada papanya mengenai identitas papanya yang baru dia tau dari Aisah direstoran.


"Kelvin kau sudah pulang, ada apa kenapa kau menatap kami begitu nak?"


"Apa benar papa adalah pembunuh bayaran?"


Pranggg, gelas yang dipegang fati ibu dari Kelvin terlepas dan pecah, karna fati kaget dan refleks melepaskan genggamannya.


Abdi juga tidak kalah bnr syoknya mendengar pertanyaan Kelvin, dia tidak pernah menyangka ada rahasia seperti itu tentang sang paman, Abdi melihat pamannya yang tiba-tiba berubah raut wajahnya, dan itu menandakan bahwa pertanyaan Kelvin benar.


"Jawab pa, apa itu benar? kalau itu benar lalu kenapa papa bersikap seperti itu pada Aisah malam itu, seakan papa adalah orang suci dan tak punya dosa kenapa pa kenapa?"


Kelvin berteriak diakhir pertanyaannya, karna sungguh dia masih ingat bagaimana respon papanya malam itu, setelah mendengar identitas asli Aisah, dan itu membuat Kelvin kecewa karna papanya memakai topeng sehingga tidak dikenali olehnya.


"Apa bedanya papa dengan keluarga Wirajaya, kalian sama-sama pembunuh, bahkan mungkin korban papa lebih banyak dari Wirajaya, tapi apa ada yang menghakimi papa seperti apa yang terjadi pada Aisah?"


"Kelvin cukup. sejak kapan kau berani berbicara begitu terhadap papamu, ingat dia itu papamu bukan musuhmu!"

__ADS_1


"Heh, bukankah mama juga memakai topeng dengan gamis dan krudung itu ma? karna mama juga tidak beda jauh dengan papa ya kan? wah ini sangat luar biasa, semua orang menutupi kebusukan masing-masing dengan nama pengusaha, hebat bukan?"


Lagi-lagi Abdi terkejut,tadi pamannya sekarang bibinya setelah ini apa masih ada lagi rahasia itulah yang sedang dinanti oleh Abdi sebagai pendengar setia.


"Hahaha keluarga kita memang keluarga yang sangat luar biasa ya, penuh misteri, aku jadi merasa bisa saja Wirajaya membunuh nenek dan bibi karna dendam bukan? tapi kalian mengkambing hitamkan Wirajaya sebagai Iblis yang berwujud manusia padahal kalian juga sama seperti mereka."


Setelah mengatakan itu, Kelvin berlalu dan masuk kembarnya dengan membanting pintu, brakkk daun pintu yang beradu dengan tembok penyangga.


Sementara Abdi juga pergi tanpa pamit karna dia juga sedang bingung dengan semua yang dia dengar, Kelvin langsung masuk kamar mandi dan berdiri dibawah shower dia menyiram tubuhnya yang masih lengkap dengan pakaian kerjanya, dia tidak habis pikir, ternyata selama ini, dia bisa jadi seorang pemimpin Mafia karna memiliki darah pembunuh, dan itu membuat dia tersenyum bodoh.


Setelah puas dengan siraman air ditubuhnya, Kelvin langsung bersih-bersih dan mengganti pakaiannya, dia langsung membaringkan dirinya di kasur sambil memikirkan Aisah dan cintanya yang mungkin akan berakhir untuk selamanya.


Memikirkan tentang cintanya, lagi-lagi air matanya menetes, Kelvin begitu rapuh karna dia tidak bisa membayangkan seperti apa dia akan menghadapi Aisah jika bertemu ditempat-tempat tertentu apa dia bisa mengendalikan dirinya, apa lagi jika nanti Aisah sudah menemukan penggantinya, apa hatinya sanggup melihat gadis itu dengan pria lain.


"Aisah...aku merindukanmu, aku ingat saat pertama kali kita bertemu, Haha iya waktu itu kau masih kecil tapi aku langsung jatuh cinta, apa lagi saat kau marah karna teriakanku, sungguh pipimu juga bibirmu itu membuatku gila. Aisah masih ada kah kesempatan untukku menggapai hatimu?"


Sementara papa dan mama Kelvin sedang berada dikamar mereka, mereka sedang berpikir siapa yang tau latar belakang mereka dan juga bagaimana orang itu bisa mengetahuinya, apa kah ada musuh yang selama ini mengincar mereka, semua itu, hanya ada dalam pikiran mereka karna tidak tau, siapa yang menyampaikan hal itu pada putra mereka.


"Pa, siapa yang tau tentang kita dan pekerjaan kita selama ini? bukankah kita sudah menutupinya dengan baik, bahkan kita tidak pernah menunjukkan diri kita yang seperti itu, ditempat umum apa lagi di tempat tertentu, lalu siapa yang menyampaikannya pada Kelvin pa?"


"Papa juga ga tau ma, ini yang aku takutkan selama ini, jika ada musuh yang mengenali kita, maka anak-anak yang akan mereka jadikan kelemahan dan umpan untuk memancing kita keluar."


"Lalu bagaimana mana sekarang pa, apa kita perlu mengirim princess ketempat aman, kalau Kelvin mama lihat dia kuat dan bisa melindungi dirinya, tapi princess, dia masih kecil pa?"

__ADS_1


"Kita tidak bisa gegabah ma, kita harus waspada mulai saat ini, soal princess, aku akan suruh pengawal menjaganya dari jarak jauh, supaya tidak mengundang perhatian musuh."


"Iya papa atur saja yang penting princess aman dan Kelvin bagaimana pa? kita juga harus menjaganya, mama ga mau dia kenapa-napa pa!"


"Setahuku, Kelvin itu bisa bela diri jadi dia tidak terlalu mencolok dan papa yakin dia mampu ma."


"Semoga saja pa."


Dikamar Kelvin, dia sedang mencoba menghubungi no ponsel Aisah dan Aisah menerimanya karena itu memang no baru, Aisah berpikir itu no orang penting atau no Mona juga mungkin no Nisa, Kelvin yang melihat telponnya diangkat membuat dia senang dan bahagia karna berpikir Aisah masih mau menerima telponnya.


"Halo, siapa ini?"


Deg....jantung Kelvin berdengup kencang mendengar suara yang begitu lembut bagai sutra, suara yang begitu dia rindukan.


"Halo, siapa ini? ko diam?"


"Halo Aisah ini aku Kelvin, aku."


"Untuk apa anda menghubungiku malam-malam begini, apa anda ingin membicarakan pekerjaan kalau iya, kita bahas besok saja!"


Aisah langsung memotong ucapan Kelvin karna dia malas berurusan dengan pria tersebut.


"Aisah aku merindukanmu, aku..aku tidak bisa tidur karna memikirkanmu Aisah, tolong jangan begini aku mohon, aku..aku sungguh-sungguh Aisah, aku mencintaimu dan tidak akan pernah melupakanmu sampai kapan pun."

__ADS_1


"Terserah anda, itu bukan urusanku. Lagi pula itu hakmu jadi lakukan sesukamu."


Aisah langsung mematikan telponnya setelah selesai dengan kalimatnya, sementara kelvin, pria itu begitu sedih karna diabaikan oleh gadis pujaannya, dia memegang dadanya yang berdenyut nyeri karna penolakan Aisah.


__ADS_2