
Pihak kepolisian yang melihat dan mendengar video call juga percakapan itu merasa ditipu, sehingga mereka meminta maaf dan pergi meninggalkan rumah orang tua Nisa tersebut.
Setelah kepergian pihak polisi itu, papa Nisa kembali menelpon ulang no yang tadi dia telpon.
"Ya paman, gimana apa mereka percaya jika paman tidak melakukan hal yang ada di berita itu?"
"Ia nak, trimakasih y, karna sebelum polisi datang bibimu yang beri saran untuk meminta bantuanmu kalau tidak, paman ga tau harus gimana lagi sekarang."
"Lagian paman dan bibi gimana sih, ko bisa ada yang merekam kejadian itu juga dimana Nisa sekarang?"
"Paman juga ga tau dimana dan siapa yang membawanya. Tapi yang jelas ini belum berakhir, karna kami belum tau siapa dalang dibalik semua ini."
"Paman benar, bisa saja Nisa sendiri yang melapor ke pihak kepolisian.Karna itu kita harus mencari tau dimana Nisa dan membawanya kembali kalau tidak, kita semua akan masuk penjara."
"Paman tau, paman juga berpikir demikian. baiklah paman matikan telponnya dulu y!"
"Ia paman."
Setelah selesai dengan telponnya istri dan anak tirinya menghampiri damar papanya Nisa, dan mulai membantu gimana cara menemukan Nisa dan mencari tau siapa yang sudah membawa nisa dari rumah itu.
Aisah yang saat itu sedang memantau rumah Nisa dan sudah melihat kejadian itu hanya bisa melihat dari kejauhan, dia tidak percaya kalau pria paru baya itu akan melakukan apa saja demi keselamatan dirinya, termasuk dengan menjadikan orang lain sebagai Nisa palsu untuk menutupi kesalahannya.
Tapi aisah yang sangat membenci sipat seperti itu bertekad akan membuat mereka membayar dengan mahal akan perbuatan ketidak manusiawian mereka terhadap Nisa.
Aisah juga berpikir dia akan membalas perbuatan keluarganya terhadap kedua orangtuanya dengan perlahan lahan, karna dia tidak bisa terus berdiam diri membiarkan penjahat tidur dengan mimpi indah mereka ditengah penderitaan orang lain.
Aisah pulang kerumah dan mendapati Nisa yang sudah sadar dan menatap kosong langit-langit kamar tersebut, Aisah yang melihat itu mengerti bagaimana sedihnya perasaan gadis yang lebih muda darinya itu, karna dia juga pernah dan bahkan mengalami yang lebih dari apa yang dirasakan oleh gadis tersebut.
"Kau sudah sadar? bagaimana apa ada yang tidak bisa kau gerakkan?"
"Ka Aisah, apa mereka sudah ditangkap?"
__ADS_1
Nisa bertanya dengan lemah karna baru sadar dari pengaruh bius panjang.
"Belum, mereka bahkan memiliki Nisa yang lain jadi mereka dianggap tidak bersalah karna Nisa yang disana baik-baik saja dan sedang bermalas-malasan ditempat tidur."
"Maksudnya ada dua Nisa dan aku yang asli yang disiksa tapi yang palsu dimanja gitu?"
"Hummm."
Mendengar keterangan aisah, Nisa merasa tidak terima, dia berpikir bahwa papanya memang tidak mencintai dan menyayanginya karna Nisa palsu tersebut, dia menangis dengan posisi masih terlentang dan hanya bisa menatap langit-langit kamar itu.
Aisah pergi keluar kamar karna dia tau, Nisa butuh waktu untuk sendiri saat ini, Aisah menghampiri keempat kucing kesayangannya, dan disana dia hanya melihat kempat kucing kesayangannya itu sedang duduk memperhatikan dirinya.
Aisah berbaring di rumput dan menatap langit yang mulai gelap karna akan menjelang malam, dia menikmati tiupan angin yang berhembus dengan lembut, Aisah menitikkan air matanya, jujur dia sangat kesepian dia ingin sekali merasakan pelukan juga belaian kasih sayang kedua orangtuanya.
"CINTA, kapan aku bisa merasakannya? cinta yang tulus dari siapa saja aku ingin sekali merasakannya, aku benar-benar sangat kesepian, aku....aku hiks... hiks juga ingin dicintai kenapa tidak ada yang mau menerimaku, kenapa mereka semua membenciku? apa...apa aku ini moster menakutkan sehingga mereka menjauhiku?"
Aisah tersedu-sedu di rumput dekat kandang kucing miliknya, inilah yang selalu dia tangisi dan pertanyakan, apa dia tidak ditakdirkan untuk cinta , lalu dia hidup untuk apa?.
Sementara itu, dikediaman kelvin, pemuda itu sudah berbaring bersiap untuk menjemput mimpi, tapi seperti biasa dia akan tersenyum sendiri membayangkan wajah cantik gadis kecil yang mencuri hatinya, dia kadang malu sendiri pada dirinya, karna mencintai gadis yang masih beranjak remaja.
Tapi semua itu dia abaikan begitu saja dan tetap bertekad bahwa Aisah adalah masa depannnya, dia tidak perlu memikirkan pendapat orang lain karna cinta tak mengenal usia itulah yang selalu dia tanamkan dihati dan pikirannya, memang kalau sudah cinta tidak akan peduli dengan apapun itulah yang dikatakan cinta itu buta.
"Kakak kau terlihat Kren dan luar biasa membuatku takut menjauh darimu."
"Sayang, dengar y. aku ini milikmu dan tidak akan pernah bisa dimiliki siapapun juga karna disini dihati ini hanya ada namamu yaitu AISAH percayalah."
"Benarkah, apa aku boleh memegang dada kakak?"
"Tentu saja kenapa tidak, tapi itu tidak gratis."
"Lah harus bayarkah?"
__ADS_1
"Ia dengan ini."
plak......
"Aduh, sakit bangat sih, kenapa juga harus ditampar?"
"Oh, jadi maksudmu aku akan biarkan kau mengambil milikku hah?"
Mendengar suara papanya Kelvin terbangun dari mimpinya dan melihat tangannya yang melingkar indah dipinggang mamanya dan mendapat tatapan membunuh dari papanya, menyadari sesuatu yang akan merugikan, Kelvin melepaskan pelukannya perlahan-lahan dan brak.
Kelvin berlari dan membanting pintu kamar mandi meninggalkan suami istri yang saat ini terdiam melihat pintu yang tertutup didepan mereka, suami yang merajuk minta di bujuk malah ditinggal begitu saja oleh istrinya, dan hal itu membuat sang suami kesal sehingga menendang pintu kamar mandi dan mengagetkan seseorang yang sedang berada didalam.
"Ma ko aku ditinggal sih, kan aku juga pengen dipeluk ke Kelvin tadi?"
"Udah deh jangan manja dah tua juga, ingat umur pa."
"Tapi Kelvin tadi meluk mama loh, dia juga dah dewasa kan?"
"Ia, tapi dia itu putraku, lahir dari rahimku, papa kenapa sih makin tua makin menjadi?"
"Biasa ma, iri dia itu Ama anak ganteng mama ia kan pa?"
"Aku ga dimanja juga ma?"
Semua orang mengalihkan pandangannya pada gadis kecil yangasih berseragam putih merah yang saat ini menuruni tangga dan menaiki kursi untuk bisa menjangkau pipi semua orang, diawali dari mama, papa dan terakhir kakaknya, itulah kebiasaan princess keluarga tersebut.
"Tentu putri papa yang utama karna dia adalah princess."
Semua orang memang sangat memanjakan gadis tersebut apalagi Kelvin pemilik adik, yang memiliki jarak umur yang begitu jauh dari adiknya, bagai mana tidak, dia meminta memiliki adik setelah dia dulu sudah berseragam putih biru.
Kehidupan keluarga itu berjalan begitu indahnya dilandasi cinta dan kasih sayang juga keharmonisan, baik pihak mama maupun papanya, semua orang tidak ada yang salingenjatuhkan, berbanding terbalik dengan kehidupan yang dimiliki Aisah dan Nisa.
__ADS_1