Aku Menantimu: Cinta

Aku Menantimu: Cinta
A,M,C#8


__ADS_3

Setelah hari itu, Aisah tidak lagi diikuti pengawal yang selama ini, diperintahkan sang ayah, dia merasa lebih nyaman dan tenang, karna tidak ada lagi yang membuat dia menjadi perhatian utama banyak orang, dia juga bisa latihan secara diam diam tanpa diketahui oleh keluarganya, semakin hari dia semakin terlihat kuat, dan dia terus mengasah kemampuannya supaya kelak dia bisa melindungi keluarganya.


Dia juga sering keluar masuk perpustakaan umum yang ada dipusat kota, disana dia juga menyempatkan waktu untuk mempelajari banyak hal, baik bahasa bahasa asing, bisnis juga banyak lagi yang dia pelajari, karna dia yang memiliki Q yang tinggi dan sangat luar biasa, dia dengan mudah mengerti apa saja arti dari semua yang dia pelajari di perpustakaan juga sekolah.


Tampa sepengetahuan keluarganya dia juga mendirikan usaha kecil kecilan, dan dia selalu memakai topeng saat masuk ketempat usahanya tersebut, dan sampai saat ini, tidak ada yang mengenali wajahnya disana, karena dia tidak ingin dianggap remeh oleh orang-orang yang bekerja ditempat tersebut.


Usaha yang dia bangun itu sudah berjalan setahun lebih tiga bulan dan penghasilannya juga lumayan, dan semua itu , dia berasal dari uang bulanan pemberian ayah dan ibunya juga opa dan Oma ya, Aisah yang memang tidak suka berfoya foya seperti kebanyakan anak remaja dan anak muda, memudahkan ia menabung dan membuka usaha.


Bagaimana tidak, dia mendapat jatah jajan dari sang ayah enam juta perbulan, dari ibunya empat juta perbulan, dari Oma lima atau kadang sepuluh juta perbulan, sementara sang opa memberi dia tujuh juta perbulan, itulah mengapa dia bisa membuka usaha miliknya itu.


Kadang dia juga sering memberi uang kepada sang uncle bila sedang dihukum sang opa, tapi sang uncle selalu menolaknya, dengan jurus andalannya sang uncle akan mengambil kembali uang itu dari Aisah, karna jurus pamungkas Aisah adalah diam dan menunduk, dan itu tidak bisa dilihat oleh sang uncle tersayang.


Hari ini, Aisah merasa gelisah selama pelajaran yang, dia selalu kepikiran ibunya DINDA, entah mengapa mengingat ibunya itu, jantungnya berdetak kencang dan terkadang dia seperti merasa ketakutan, tangannya juga berkeringat, dia terus menatap kedepan tapi pikirannya kepada ibunya, sampai saat dipanggil guru pun dia tidak juga mendengarnya.


Sang guru pun menghampiri kekursi Aisah dan guru itu menyadari keadaan Aisah yang tidak baik, karna Aisah sampai sedikit gemetaran karna terlalu memikirkan sang ibu, guru pun menepuk pundaknya dan hal itu membuat Aisah kaget.


"Aisah, kamu sakit? kalau ia, kamu bisa pulang lebih awal karna tidak baik memaksakan ikut belajar tapi kamu seperti ini"


"Apa,. apa boleh bu?"


"Ia tentu, kamu pulang lah sebelum kamu semakin tidak kuat nanti y"


"Ia Bu, terimakasih"

__ADS_1


Setelah mendapat izin dari guru, Aisah keluar kelas dengan terburu-buru dan langsung tancap gas, dia mengendarai motor kesayangannya dengan kecepatan tinggi, karna firasatnya berkata bahwa telah terjadi sesuatu kepada sang ibu tercinta.



Motor besar kesayangan Aisah, yang harganya begitu fantastis, dia membawa motor itu melaju menuju kekediaman mereka, dan dalam waktu lima belas menit, dia sampai dirumah dan langsung mencari sang ibu, Oma yang berada di ruang keluarga terkejut, karna mendengar teriakkan sang cucu, dia melihat bahwa sang cucu datang dengan terburu-buru juga Oma melihat jam, dia juga melihat kalau ini belum waktunya pulang sekolah.


Oma pun bertanya kenapa sang cucu pulang dan berteriak seperti itu.


"Sayang ada apa, kalau pulang itu salam dulu bukan malah teriak teriak sayang"


"Maaf Oma, assalamualaikum"


"Waalaikum salam, nah sekarang katakan, kenapa Hem?"


"Ibumu tadi pergi ke mall Ama Nuni pelayan baru kita, emang kenapa sayang?"


"Oma, aku merasa gelisah dan seperti ketakutan, aku terus saja memikirkan ibu"


"Oma juga ga ngerti, ibumu pergi dari jam delapan tadi, tapi sampai sekarang belum juga pulang"


"Apa Oma ada menelpon atau bertanya pada Nuni Oma?"


"Tadi Oma udah telpon, tapi ibumu kirim pesan katanya mereka mau jalan jalan dulu katanya"

__ADS_1


"Jalan-jalan? kenapa aku merasa itu bukan pesan ibu y Oma? karna ibu, bukan tipe orang yang ingin bepergian tanpa ngajak siapapun setau aku?"


"Oh ia, Oma juga baru ingat, kamu benar sayang ibumu bukan orang seperti itu, lalu kenapa sekarang jadi gini y?"


"Ai rasa ada yang tidak beres Oma, oh ia Oma opa dan uncle kemana?"


"Mereka pergi, katanya ada urusan penting gitu, ayahmu juga ikut opa"


Mendengar Jawaban sang Oma, Aisah merasa bahwa telah terjadi apa-apa dengan ibunya dan opa, uncle juga ayahnya pasti pergi juga karna hal itu, akhirnya Aisah memutuskan membawa sang Oma ketempat bermain Mili dan ketiga anaknya, dia berencana untuk menyembunyikan sang Oma disana karna dia juga akan mencari tau apa yang terjadi.


"Oma tinggallah disini untuk sementara waktu y, nanti aku akan menjemput Oma kembali. Oma tenang saja tempat ini aman dan tidak diketahui oleh siapapun jadi Oma tidak perlu kuatir lagi y!"


Oma yang paham kalau situasi sedang tidak baik pun menurut, dia masuk kesebuah ruangan yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, disana juga ada tempat tidur kecil dan beberapa cemilan juga minuman, Mili juga ikut masuk untuk menjaga Oma, sementara Aisah, Jes, jas dan jos,pergi mencari keberadaan ibunya.


Jes, jas dan jos adalah ketiga anak Mili sekarang mereka sudah besar dan juga memiliki tubuh yang gagah dan sehat, mereka semua sudah dilatih oleh Aisah untuk bertempur melawan musuh, keempat kucing besar milik Aisah juga sudah diberi penawar racun juga obat bius, itu dilakukan oleh Aisah untuk mewanti wanti jika ada yang berniat meracuni juga membius keempat kucing besar miliknya.


Aisah mengendarai motor kesayangannya yang diikuti oleh ketiga kucing miliknya, Aisah dari jalan raya, dan kucing besar itu dari pinggir jalan, menghindari orang yang supaya tidak mengetahui keberadaan mereka, Aisah terus melaju sambil mengotak Atik ponselnya untuk mencari keberadaan ibu juga ayah, opa dan unclenya.


Dan akhirnya Aisah mendapatkan posisi keberadaan orang-orang tersayangnya disatu tempat, tapi Aisah sedikit bingung, karna melihat areal tempat itu, seperti tidak asing baginya, karna itu berada di daerah yang begitu dia benci juga rindukan, yaitu kampung halaman dia dan kedua orang tua kandungnya.


Dia mempercepat laju motornya dan dalam waktu satu setengah jam dia sampai ditujuan, padahal biasanya dari kota ke tempat itu memakan waktu tiga jam, tapi Aisah menempuhnya dengan begitu cepat, karna dia yakin bahwa ada masalah besar yang menimpa keluarganya.


Dia berhenti disebuah halaman yang luas dan juga sangat dia kenal, dan kembali dia teringat kejadian enam tahun lalu, karna saat ini dihalaman rumah itu berkumpul banyak orang yang sepertinya sedang menyaksikan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2