
Setelah kepergian Mona, Aisah masuk kamar dan duduk disofa yang ada di balkon kamarnya, dia menatap sekitar taman disamping yang ditumbuhi bunga-bunga indah hasil karya sang bibi yang bekerja dirumah itu, disana ada banyak jenis bunga dan bunga yang mendominasi adalah mawar putih.
"Andai aku bisa memiliki kehidupan indah seperti bunga-bunga ini, aku mungkin akan merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini, tapi sayang aku tak bisa dan mungkin tidak ditakdirkan untuk hidup bahagia. Tuhan kenapa kau berikan hidup seperti ini padaku, apa kau sedang mengujiku, kalau iya aku akan terima dengan ikhlas, tapi kalau memang ini suratan untukku maka kumohon sudah cukup, akhirilah sampai disini, aku ga kuat lagi hiks.... hiks.!"
Aisah lagi-lagi hanya menangisi hidupnya, dia tidak tau mau apa lagi, karna setiap ada kebahagiaan menghampiri sudah langsung musnah sebelum sampai dalam sentuhan, terkadang iya merasa ingin mengakhiri hidupnya, tapi akan ada yang menghentikan dengan menunjukkan sebuah harapan tentang kebahagiaan tapi itu hanya sebentar.
Mona pergi menemui seseorang yang selama ini menjadi pimpinannya dan yang memerintahkan dia untuk selalu ada disisi Aisah, dia kembali melaporkan kejadian yang dialami oleh Aisah, dan orang itu hanya mendengar dan dia seperti sedang memikirkan sesuatu.
Setelah Mona selesai melapor, dia beranjak dari hadapan orang itu, dia juga bingung karna sang bos tidak mengatakan apa-apa dan itu menjadi pertanyaan besar bagi Mona.
Setelah kepergian Mona, orang itu lalu mengambil sebuah bingkai dari laci mejanya, dia meraba foto dibingkai itu dan air matanya menetes, dia sebenarnya ingin sekali menemui orang yang ada di foto itu tapi waktunya belum tiba, dan menunggu waktu yang tepat sebenarnya juga dia tidak tau kapan.
Ceklek, pintu terbuka dan masuklah seorang wanita cantik keruangannya dan duduk disamping orang itu, wanita itu mengusap usap punggung orang tersebut mencoba memberi ketenangan padanya, walaupun sebenarnya wanita itu juga sama dia juga sudah ingin sekali menemui orang yang didalam foto tersebut.
"Sampai kapan kita akan seperti ini? aku takut waktunya terlalu lama dan itu bisa mengakibatkan penderitaan bagi semua orang."
"Tapi kita belum tau apa saja yang sedang mereka rencanakan sayang, kita bisa gagal jika kita belum memiliki persiapan yang matang."
"Tapi dia bisa semakin tidak sanggup lagi mas, kita bisa kehilangan dia nanti!"
__ADS_1
"Aku tau sayang, tapi kita tunggu sebentar lagi, jika memang kita tidak mendapat sesuatu yang bisa menjadi kekuatan kita untuk menghancurkan mereka, maka kita akan menemuinya."
"Hum baiklah jika itu keputusanmu."
"Tunggulah sebentar lagi sayang, aku harap kau masih sanggup." suara hati orang itu.
sebulan kemudian, Kelvin sudah dioulangkan, dan saat ini dia sedang bersiap untuk kebandara, iya selama dirumah sakit dia sudah memutuskan akan tinggal diluar negri, dengan begitu dia mungkin bisa melupakan Aisah, dia juga membuat alasan kenapa kedua orang tuanya, jika dia ingin mengambil alih perusahaan yang ada disana.
David yang tidak mengetahui kepura-puraan putranya begitu juga dengan fati dan Abdi hanya mengiyakan dan sekarang mereka sudah siap berangkat, disepanjang perjalanan menuju bandara pribadi keluarga Abraham, Kelvin hanya diam, dia menikmati setiap yang dia lewati sambil mengingat Aisah gadis yang begitu dia cintai.
"Selamat tinggal Aisah, selamat tinggal cinta, semoga dengan ini, aku bisa melupakanmu dan menemukan penggantimu, maaf kalau aku lagi-lagi membuat luka di hatimu dan hidupmu, maafkan aku sayang maaf."
Sesampainya dibandara, pesawat sudah siap dan hanya menunggu pemiliknya, Abdi naik lebih awal disusul oleh Kelvin, sebelum masuk kedalam lagi Kelvin berbalik dan menatap sekeliling seakan dia sedang melihat negaranya untuk terakhir kalinya, dia pun menatap kejauhan dan berguman.
"Aisah, aku akan selalu menyimpan namamu di hatiku, selamat tinggal sayang."
pesawat mulai bergerak untuk terbang meninggalkan Indonesia tercinta, Kelvin melihat lewat jendela tapi tiba-tiba saja dia kaget karna melihat Aisah disekitar bandara dan menatap padanya.
Kelvin berdiri dan menempelkan tangannya pada kaca, dia melihat Aisah yang entah kenapa berlari mengejar pesawat yang membawa Kelvin tersebut, Aisah berlari dan terus berlari bahkan dia beberapa kali terjerembab karna dia hanya fokus melihat pesawat.
__ADS_1
Kelvin yang melihat kejadian itu sungguh tidak sanggup lagi, apalagi dia melihat seperti ada noda merah dicelana yang digunakan Aisah, karna Aisah menggunakan celana warna krem, Kelvin berlari kedepan kemudi, dan meminta pilot menghentikan pesawat, para pilot yang bertugas kebingungan, karna mereka tidak paham dengan maksud sang majikan.
Para pilot berpikir kalau majikannya itu sedang eror, apakah Kelvin berpikir pesawat seperti mobil bisa dihentikan kapan saja, tapi biar bagaimanapun majikan akan selalu benar dan harus dituruti.
Setelah usaha yang begitu sulit, pilot pun berhasil menghentikan burung besi itu.
Kelvin langsung berlari keluar setelah pintu terbuka, dia berlari menuju Aisah yang masih berlari mengejar pesawat tersebut, Setelah dekat, Kelvin langsung memeluk Aisah dengan erat, mereka berdua menangis bersama sambil berpelukan, Kelvin tidak bisa menghentikan air matanya yang memang sudah mengalir dari sejak berangkat dari rumah ke bandara.
Iya Aisah dapat kabar kalau sebenarnya Kelvin tidak lupa ingatan, Kelvin berpura-pura lupa ingatan hanya untuk menepati janjinya pada Aisah untuk melupakan gadis itu.
Aisah yang mendengar itu mendatangi rumah Kelvin dan disana dia mendapat kabar bahwa Kelvin akan menetap diluar negri, dan Aisah berkesimpulan kalau Kelvin sengaja pergi untuk melupakan dirinya.
Dan sekarang disinilah mereka berdua, mereka yang tidak bisa melupakan satu dengan yang satu, Aisah memang berkata tidak ingin berhubungan dengan Kelvin apa lagi keluarganya, tapi jika cinta sudah berkata dia maka apa yang bisa dilakukan selain mengalah dengan ego.
"Kenapa, kenapa kau pergi, aku ingin mati rasanya jika harus terus seperti ini, aku ga sanggup lagi kak."
"Maaf, maafkan aku Aisah, aku juga sakit, tapi kita sulit untuk menembus tembok pembatas itu, dan aku juga tidak bisa melupakan perbuatan keluargaku, maaf, maaf sayang hiks... hiks."
"Aku ga peduli semua itu ka, aku butuh kakak dalam hidupku, aku ga mau hidup sendiri terus ka, aku ga mau huhuhu."
__ADS_1
Kelvin menatap wajah yang kini terlihat lelah itu, dia bisa menebak pasti Aisah tidak bisa beristirahat atau pun tidak dengan baik, dan semua itu karenanya, lagi-lagi Kelvin membuat gadis itu menderita, tapi kali ini, dia bersumpah, dia tidak akan pernah membuat itu terulang lagi, dan dia akan berusaha membuat gadis itu tersenyum.