
"Ayah, ibu, doakan AISAH disana y, semoga aku bisa jadi anak kebanggaan kalian, AMIN "
AISAH, gadis kecil yang hidup sebatang kara ditengah hutan, menerima takdirnya yang tidak memiliki siapapun, keluarga yang seharusnya saling mengasihi, menyayangi, mendukung dan merangkul, justru menjadi penderitaan tiada Tara dalam dirinya, untung dia terlahir dengan otak jenius, sehingga usia enam tahun, tapi pemikirannya sudah seperti anak usia 16, 17 tahun.
Ditengah hutan dia mulai memberanikan diri untuk keluar dari rumahnya, setelah dia mengurung dirinya berbulan bulan disana, hari ini dia membuat tombak dari sebuah belati yang tajam berbahan besi, dia membakar beberapa peratan yang terbuat dari plastik, dan meneteskan tetesannya untuk menyatukan sebuah kayu dan belati tadi.
Setelahnya, dia mulai berjalan ke arah paling dalam hutan yang dia tempati, dia membawa minuman botol yang agag besar dan beberapa buah roti, dia berjalan dengan sebuah golok ukuran sedang ditangannya, yang dia gunakan untuk menebas semak semak belukar yang dia lewati, semakin kedalam dia seperti mendengar suara letusan senapan, dia pun berpikir bahwa bukan hanya dia yang ada didalam hutan itu.
Dia mencoba mendekati asal suara letusan tadi dan mendapati seekor kucing besar dengan perut buncit berlari, tapi sepertinya kaki paha kucing besar itu terluka peluru senapan tersebut, dia pun mengikuti kemana kucing itu berlari, dan dia melihat bahwa kucing itu, masuk perangkap yang sepertinya sengaja dibuat para pemburu itu.
Aisah gadis kecil itu, tiba-tiba meneteskan air mata, dia membayangkan dirinya dan kucing itu, memiliki nasip hidup yang sama, kucing besar itu, mulai kelelahan dan darahnya mulai banyak yang keluar, Aisah mendekat dan mengikat kaki kucing yang sudah tidak berdaya itu, karna kucing itu, tidak punya kekuatan atau tenaga lagi untuk mencoba menerkam Aisah.
Setelah selesai mengikat kaki kucing itu, dia melepas jerat tersebut dari leher kucing besar itu, kucing itu hanya menatapnya dengan tatapan yang sudah lemah, dan seperti pasrah, Aisah melepas jerat itu dari pohon dan setelahnya dia membuat tandu, mengikatnya dengan jerat tadi, sedangkan para pemburu sedang memeriksa setiap perangkap yang mereka buat, tapi belum juga menemukan buruan yang tadi terkena peluru salah satu dari mereka.
Aisah yang sudah selesai membuat tandu itupun buru buru menarik badan kucing besar itu keatas tandu, tubuh kecilnya yang tak seimbang dengan besar kudung itu, tak menurutkan usahanya, dia tidak habis akal.
Dia mendorong kucing besar itu sekuat tenaganya dan, usahanya tidak sia sia, setelah dirasa aman dia berencana mau istirahat sebentar tapi, tiba-tiba dia mendengar suara para pemburu membuat dia mengurungkan niatnya untuk istirahat, dia memegang kedua sisi tandu tersebut dan menarinya sekuat yang dia miliki.
__ADS_1
Dia berjalan tertatih tatih, kaki kecilnya yang seharusnya masih dia gunakan untuk berjalan jalan ditaman dan bermain dengan anak anak seumurannya, justru dia gunakan untuk menopang tubuh kecilnya untuk membawa beban yang lebih besar dari tubuhnya.
Aisah , menempuh perjalanan sekitar dua jam sampai akhirnya dia tiba dirumahnya, dia menarik tandunya kearah belakang rumah dan menggulingkan kucing besar itu perlahan dari tandu, setelahnya dia mengambil air dan mencoba memberi minum kucing tersebut.
Para pemburu yang sudah tiba di perangkap bekas kucing itupun marah besar karna berpikir kucing itu mungkin meronta ronta sampai akhirnya jeratnya juga ikut terlepas, tanpa menyadari didekat tempat itu, ada bekas kayu yang dipotong dengan sebuah benda tajam.
Sementara Aisah ia mulai mengobati luka kucing itu, dengan mencongkel puluru itu dari paha kucing itu,
kucing besar itu hanya terdiam sambil menatap Aisah yang sibuk dengan luka dikakinya, tidak bertenaga atau karna insting kucing itu tau kalau Aisah mau menolongnya, membuat kucing itu menuruti kemana tubuhnya digeser dan dibalik Aisah.
Hari ini, sebulan sudah Aisah mengurus kucing besar tersebut, dan kini lukanya juga sudah sembuh, juga kucing itu sudah tau kalau Aisah adalah penolongnya, Aisah setiap hari pergi berburu juga memancing dan memberikan hasil buruan dan pancingannya untuk makanan sikucing.
tanpa sepengetahuan Aisah kucing besar miliknya mengikutinya lewat semak semak sehingga Aisah tidak menyadarinya, sesampainya dia dikampung, tepat didepan puing puing rumah mereka yang terbakar, dia menatap tempat itu dengan tatapan sayunya, perlahan lahan air matanya keluar saat dia mengingat bagaimana ayahnya ditendang dan dipukuli juga sang ibu yang rambutnya dijambak.
Lalu ditarik dan kepala sang ibu dibenturkan berkali kali ketembok tampa belas kasih, dia bahkan bisa melihat dan mendengar jeritan dan teriakan kesakitan kedua orang tuanya, dan dia juga masih mengingat semua orang yang ada disana, hanya menatap tapi tidak ada yang membantu ayah dan ibunya, Aisah mengepalkan kedua tangannya, dia ingin rasanya berteriak memaki semua orang, tapi sayang dia hanya anak kecil yang terbuang karna ayah dan ibunya sudah tiada.
Dia berputar balik pergi meninggalkan tempat itu, tapi dia melihat ada sebuah mobil yang dikelilingi oleh banyak orang, dia mencoba mencari sesuatu yang bisa membuat orang, tidak mengenalinya, dia menatap puing puing rumahnya dan menemukan ide, setelah dirasa sudah selesai, dia mencoba melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
Disana dia melihat seorang wanita sedang memangku kepala seorang pria, dan juga meminta tolong pada para orang orang disana, tapi tidak ada yang mau memberi pertolongan, entah apa yang terjadi pada kedua orang itu, tapi Kenapa orang-orang disini membiarkannya begitu saja.
Satu persatu orang-orang itu pun pergi meninggalkan wanita yang berteriak-teriak minta pertolongan itu, tapi Aisah mendengar jawaban orang-orang itu, yang mengatakan alasan tidak punya uang untuk membantu membawa kerumah sakit, ada juga yang bilang mereka nsibuk dan masih banyak alasan yang tidak jelas.
wanita itu, menangis sejadi jadinya, karna tidak ada yang mau membantunya, semua orang sudah pergi tapi Aisah masih berdiri disana sambil menatap wanita dan pria yang sepertinya sudah pingsang itu, dia pun mendekat dan bertanya.
"Tante mau minum?"
"Ia, Tante haus sekali nak"
"Nih, minumlah, setelahnya kita bawa om kerumah sakit y"
Wanita itu menatap Aisah dengan hati yang begitu tersentuh, ia berpikir dari semua orang, ada gadis kecil yang sangat kucel dan kotor menawarkan bantuan, sungguh ia merasa gadis kecil ini seperti malaikat baginya.
"Tapi nak Tante Tidak punya uang, mereka merampok semua milik Tante dan membuat suami Tante begini, jadi rumah sakit tidak akan mau menerima kita nanti"
"Kalau begitu kita bawa saja kerumahku, disana kita coba obati, Tante mau?"
__ADS_1
"Ia Tante mau nak"
Mananih dukungannya, yang udah mampir jangan lupa untuk kembali y, karna masih banyak kisah yang akan kita nikmati disini ok, dan yang belum mampir aku doain semoga cepat datang dan langsung beri dukungan terbaiknya ok🙏🙏🙏🙏🙏🙏🤲🤲🤲🤲🤲👍👍👍👍😜😜😜😜😍😍😍😍😍🤩🤩🌹🌹🌹🌹🌹