Aku Menantimu: Cinta

Aku Menantimu: Cinta
A,M,C#24


__ADS_3

Acara yang tadinya hikmat kini jadi riuh, karna kedatangan Nisa, dan hal itu membuat damar begitu malu begitupula Siska dan mamanya, mereka berdua tidak berani melihat siapapun karna sekarang semua orang menatap mereka dengan pandangan jijik.


Calon besan mereka yang juga adalah sahabat mereka yang memang mengetahui kejadian yang selama ini menimpa nisa sang pewaris sah hanya bisa berdiam dan berpura-pura tidak tahu apa-apa.


Damar menatap Nisa dengan pandangan kemarahannya, tapi Nisa yang sudah kebal dengan tatapan itu, tidak lagi takut justru Nisa menantang papanya dengan tatapan dinginnya yang juga penuh kebencian dan dendam.


Damar yang melihat keberanian putrinya, dan yang tidak seperti dulu akan selalu menunduk dan tubuh bergetar bila ditatap seperti itu, tapi kini justru kebalikannya, Nisa benar-benar tidak kenal takut lagi.


Satu persatu tamu meninggalkan tempat itu, begitu juga penghulu, mereka semua tedak Sudi mengikuti acara karna merasa marah dengan perbuatan keluarga damar pada nisa putri kandungnya sendiri.


Setelah semua orang pergi, Nisa berjalan kedalam rumah dan tidak menghiraukan pandangan orang-orang yang selama ini menyiksanya tersebut, dia berjalan dan duduk di ruang tamu bersama dengan Aisah, tidak lama kemudian, semua orang menghampiri mereka dan damar dengan kemarahannya berdiri didepan nisa, menarik gadis itu hingga berdiri dan mengangkat tangannya untuk menampar Nisa, tapi Nisa dengan cepat menangkap dan menggenggam tangan papanya dengan kuat.


Semua orang terkejut dan tak percaya jika gadis yang dulunya penakut dan akan tunduk jika dimarah, kini sudah berubah menjadi gadis pemberani dan juga tidak bisa diremehkan.


"Tuan damar, aku ingatkan jangan coba-coba melakukan sesuatu yang akan kau sesali dikemudian hari, karna aku bisa saja membuat anda kehilangan tangan anda ini mengerti!"


"Nisa kau berani mengancam papamu sendiri? apa kau sudah tidak punya sopan santun kepada orang tua?"


"Hahaha....sopan? anda bertanya padaku nyonya, lalu kau sebagai orang yang sudah tua, apa kau tau arti sopan santun?"


"Nisa jaga ucapanmu itu, biar bagaimanapun mamaku lah yang merawatmu sebelumnya sebelum kau kabur dari rumah."

__ADS_1


"Merawat? merawat atau menyiksaku seperti hewan bukan sih? ayolah, kalau merawat itu tidak dengan memukul, menampar, terus menekan kepalaku kedalam kolam sampai aku hampir mati disana, juga memberi makanan dengan cara menumpahkan dilantai lalu menyuruhku memakan dengan mulut dan tidak boleh pakai tangan, apa itu disebut merawat?"


Siska langsung terdiam dan tidak berani berucap sepatah katapun, melihat semua orang yang terdiam membuat Nisa tersenyum, tapi senyuman itu membuat semua orang berinding karna mereka semua tidak pernah melihat Nisa tersenyum tapi kali ini, gadis itu tersenyum dengan tatapan mata yang begitu dingin.


"Aku selama ini pergi dan tidak kembali karna aku sedang belajar dari seseorang yang juga sama seperti diriku, dimana dia juga diperlakukan dengan tidak manusiawi oleh keluarganya, dan aku kembali untuk mengambil apa yang menjadi milikku dan membuang mereka yang merusak milikku."


"Damar tertawa mendengar apa yang dikatakan putrinya, bukan karna bahagia tapi karna merasa Nisa tidak akan mendapat apapun, karna dia ingat bahwa surat kepemilikan harta atas nama Nisa ada padanya dan hanya dia yang tau dimana surat itu berada, tanpa tau kalau surat tersebut telah berada ditangan sang pemilik asli yaitu Nisa.


"Kau ingin mengambil apa yang menjadi milikmu? apa kau pikir kau bisa mengambil tanpa surat kepemilikan? asal kau tau saja, aku sudah memusnahkan surat tersebut dan sekarang semua harta ini adalah milikku putri kecilku."


"Anda begitu percaya diri y tuan damar? tapi sayang anda akan sangat kecewa jika tau bahwa aku memiliki semua surat tersebut, bahkan surat kepemilikan saham 5% milik mama juga ada padaku, apa papa mau lihat?"


Damar masih tersenyum karna merasa Nisa sedang membual, jadi dia dengan percaya diri mengiyakan perkataan Nisa untuk menunjukkan surat kepemilikan tersebut.


"Tuan, jika anda tidak percaya cobalah lihat ditempat anda menyimpan surat itu, apakah masih ada atau sudah hilang?"


Damar langsung berlari keruang kerjanya dan menurunkan lukisan tersebut dan dia begitu syok karna surat itu memang sudah tidak ada lagi, dia mengepalkan tangannya dan keluar dari ruang kerja dengan tatapan kemarahan.


"Dimana surat itu, dan kapan kau mengambilnya hah?"


"Oh, apa anda sudah percaya tuan jika Anda sudah tidak punya surat itu lagi? ya surat itu ada padaku dan surat itu diambil dihari dimana anda menyiksaku dengan gesper malam itu."

__ADS_1


"Nisa kembalikan surat itu pada papa karna kalau tidak kau akan tau akibatnya, jadi sebelum terlambat cepat kembalikan surat itu!"


"Siska, kau ini bicara seakan kau itu punya hak dirumah ini, ingat kau itu hanyalah anak tiri dan mamamu adalah istri kedua jadi kalian tidak punya hak untuk mengoceh padaku mengerti!"


"Kau...., kau memang sama seperti ibumu wanita ja**ng itu, selalu saja menyusahkan orang lain, asal kau tau kau itu hanyalah anak pembawa sial karna terlahir."


Plak........, sebelum mama tirinya meneruskan ucapannya Nisa langsung menampar wajahnya dengan kuat, dan membuat wanita paru baya itu tersungkur dilantai dan bibirnya mengeluarkan darah karna kuatnya tamparan yang Nisa berikan.


"Ja**ng teriak ja***ng, ingat karna janda sepertimu mamaku kecelakaan dan meninggal, jadi jangan pernah menyebut mamaku ja**ng atau aku akan merobek mulut kotormu ini mengerti!"


Semua orang tercengang melihat kejadian tersebut, bahkan damar tidak percaya kalau Nisa mengetahui banyak hal yang terjadi dahulu, yang menyebabkan mamanya meninggal.


Nisa yang sudah muak dengan semua orang yang ada di sana segera menelpon seseorang dan tidak lama kemudian terdengar suara mobil dan turunlah beberapa pihak kepolisian dan menangkap damar, istrinya juga Siska, mereka ditahan atas tuduhan penyiksaan/ penganiayaan juga pencurian harta milik almarhum Susilo.


Setelah semua selesai, Nisa pun berencana menjual rumah itu, dan membeli yang baru, karna dia tidak ingin tinggal dirumah yang seperti neraka baginya.


Aisah juga sudah kembali kerumahnya tanpa Nisa, karna Nisa sudah menyelesaikan masalahnya, kini Aisah hanya berpikir kapan dan bagaimana juga dengan cara apa dia membalas dendamnya, supaya dia bisa hidup tenang tanpa dibayang-bayangi luka dan dendamnya terhadap keluarga Wirajaya.


Hari ini Aisah pergi ke mall untuk sekedar berjalan-jalan juga membuang rasa bosannya, karna setelah lulus juga wisuda, Aisah sudah aktif di perusahaan yang dia bangun tiga tahun lalu.


Aisah berjalan melihat-lihat orang yang datang dengan keluarganya juga ada yang dengan pacar atau mungkin istrinya, mereka semua terlihat begitu bahagia, tapi lihat dirinya, dia berjalan sendiri tanpa keluarga apalagi pacar, sungguh hidupnya memang sangat miris.

__ADS_1


Aisah menarik nafas panjang untuk menghalau sungai yang akan meledak jika terus memikirkan tentang kebahagiaan, karna masih berusaha mengendalikan sesak didadanya dia tidak memperhatikan jalannya dan bruk.


__ADS_2