Aku Tidak Mandul Ibu Mertua

Aku Tidak Mandul Ibu Mertua
Dokter kandungan


__ADS_3

Seperti yang di bicarakan Ardi tadi malam, hari ini Ardi dan Adira akan pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan janin mereka. Adira sudah terlihat tapi menggunakan dres selutut, dengan rambut di biarkan terurai. Kecantikan Adira begitu terpancar saat sedang mengandung. Sedangkan Ardi menggunakan kaos polos berwarna putih di padukan dengan celana jins panjang. Mereka berdua sudah terlihat seperti sepasang suami istri jaman Now terlihat modis dan keren.


Dengan langkah kecil Adira sudah keluar dari dalam kamar, dengan di ikuti Ardi di belakangnya. Ardi sudah berjalan sambil menggenggam tangan sang istri. Namun saat Ardi dan Adira melewati ruang keluarga, mereka berdua melihat mama Erlin dan tuan Marlio sedang menonton TV.


Mama Erlin yang melihat Ardi dan juga Adira sudah begitu tampak rapi di pagi hari, menjadi bertanya-tanya. Mama Erlin pun sudah beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri mereka berdua.


"Ardi?." panggil mama Erlin semakin mendekat ke arah anaknya.


Ardi dan Adira pun sudah memberhentikan langkahnya karena mendapat panggilan dari sang ibu. Mereka berdua pun juga berjalan mendekat ke arah mama Erlin.


"Mama." Ardi yang sudah memeluk tubuh mama Erlin dengan raut wajah yang bahagia.


"Kamu kenapa tiba-tiba meluk mama seperti ini?." tanya mama Erlin yang melihat aneh kepada anaknya.


"Gak pa-pa ma, Ardi hanya ingin memeluk tubuh wangi mama, dan terimakasih ya ma, atas doa-doa yang sudah mama berikan kepada Ardi." ucap Ardi. Karena Ardi berfikir kehamilan Adira juga berkat doa seorang mamanya.


Mama Erlin yang mendengar ucapan Ardi tiba-tiba mengucapkan kata terimakasih semakin bingung. "Kamu ini kenapa? dan kalian mau kemana pagi-pagi sudah rapi?. tanya mama Erlin yang menatap ke arah Ardi dan juga Adira.


"Eh.. mau kemana kamu wanita mandul?." tanya mama Erlin dengan ketus menatap ke arah Adira.


"Ma.. Adira itu_." ucap Ardi, namun terhenti begitu saja karena mendapat senggolan dari Adira.


Adira memutuskan untuk tidak memberitahu ibu mertuanya terlebih dahulu sebelum Adira pergi ke rumah sakit, dan mendapat cetak hasil USG kehamilannya.


"Kita mau ke rumah sakit ma." jawab Ardi.


"Ngapain kerumah sakit? apa istri mandulmu ini masih sakit?." tanya mama Erlin.


"Engga ma, ada yang ingin kita tanyakan kepada dokter kandungan." jawab Ardi.


"Sudahlah Ardi, gak usah datang-datang ke dokter kandungan lagi, percuma saja, istrimu itu sudah mandul, dan mau menempuh jalan seperti apapun juga gak bakal hamil, buang-buang duit aja."

__ADS_1


"Engga ma, Ardi akan tetap datang ke rumah sakit, karena ini menyangkut rumah tangga Ardi." bantah Ardi."Ya sudah kita berangkat dulu ya ma, nanti Ardi pulang akan membawa kejutan untuk mama." Ardi yang sudah mencium punggung tangan ibunya, dan di saat Adira akan mencium tangan mama Erlin, mama Erlin menepis tangan Adira begitu saja. Mama Erlin merasa jijik di sentuh oleh tangan Adira.


"Aku akan buktikan kepada mama, bahwa aku tidak mandul seperti yang mama fikirkan." ucap Adira di dalam hati yang masih di perlakukan tidak manusiawi oleh mertuanya.


Ardi dan Adira pun kembali berjalan keluar dari rumah, dengan mama Erlin terus menatap kepergian mereka. Saat tiba di depan rumah, mereka berdua keluar bertepatan dengan kepulangan Delisa. Delisa baru saja turun dari mobil dengan menarik koper di tangannya. Delisa yang melihat Ardi dan juga Adira akan pergi seketika langsung membuka kaca mata hitamnya. Ardi dan Adira sudah berjalan berpas-pasan dengan Delisa yang akan masuk ke dalam rumah, dengan kedua mata Delisa terus menatap ke arah mereka berdua.


"Mas, mau kemana?." tanya Delisa yang sudah memberhentikan langkahnya.


"Rumah sakit." jawab Ardi singkat dan padat.


"Ngapain? aku baru saja pulang loh, kok kamu malah pergi."


Ardi tidak lagi merespon ucapan Delisa. Mereka berdua terus berjalan dan masuk ke dalam mobil yang akan di antarkan oleh sopir pribadi Ardi menuju ke rumah sakit.


"Mas Ardi?." teriak Delisa yang bersiap mengejar Ardi, namun mobil sudah melaju begitu saja meninggalkan halaman rumah.


Delisa pun sudah berjalan untuk mendekat ke arah mama Erlin yang sedang berdiri di ambang pintu.


"Tadi kan udah di jawab sama Ardi, kalau mau ke rumah sakit, kok masih tanya sama mama." jawab mama Erlin.


"Iya sih, tapi mau apa mereka ke rumah sakit?."


"Apa kamu tidak tau setiap dua minggu sekali Adira datang ke dokter kandungan untuk berkonsultasi agar cepat hamil." jawab mama Erlin.


"Berarti mereka hanya berkonsultasi saja ke dokter kandungan?." tanya Delisa lagi.


"Ya iya lah, masak cek kandungan." mama Erlin yang sudah masuk ke dalam rumah begitu saja.


"Hiss, tumben tu nenek-nenek hari ini galak banget." grutu Delisa. "Pulang-pulang bukannya di sambut suami, malah di buat gak mood." Delisa yang kembali berjalan masuk ke dalam rumah.


Di sepanjang jalan Ardi begitu sangat bahagia, begitupun dengan Adira. Ardi terus menggenggam jemari istrinya yang duduk di sebelahnya. Dan tidak lama hanya 20 menit, mobil pun sudah tiba di parkiran rumah sakit.

__ADS_1


Ardi dan Adira pun sudah berjalan masuk ke dalam rumah sakit untuk menuju ke ruang dokter kandungan. Setelah menunggu beberapa menit karena mengantri, kini giliran Ardi dan Adira untuk masuk ke dalam ruangan dokter Sesil, yaitu dokter spesialis kandungan.


"Ada yang bisa saya bantu bapak dan ibu?." tanya dokter Sesil kepada Ardi dan Adira.


Adira pun sudah menjelaskan semuanya kepada dokter Sesil dari dirinya sakit, pusing, mual, muntah-muntah dan hasil tespeck positif hamilnya.


"Baiklah.. saya periksa dulu ya bu, mari." dokter Sesil yang sudah beranjak berdiri lalu di ikuti oleh Adira.


Adira pun sudah merebahkan tubuhnya di ranjang pemeriksaan. Dokter Sesil pun sudah meletakan sebuah alat ke perut rata Adira. Di sebuah komputer 3D benar memperlihatkan adanya janin yang masih berkembang, walaupun belum terlihat sangat jelas.


Setelah pemeriksaan selesai, Adira pun kembali duduk di sebelah suaminya.


"Bagiamana dok, apa istri saya benar-benar hamil?." tanya Ardi yang duduk di depan dokter Sesil.


"Selamat ya pak, bapak akan segera menjadi seorang Ayah, dan benar ibu Adira sedang hamil, dan memasuki usia 7 minggu." jelas dokter Sesil.


"Berarti jalan 2 bulan ya dok?." tanya Adira.


"Iya ibu benar." jawab dokter Sesil.


"Lalu bagaimana, apa janin nya sehat dokter?." tanya Ardi lagi, yang memastikan bahwa anaknya sehat di dalam kandungan istrinya.


"Iya pak, janinnya alhamdulilah sehat semua, tanpa adanya gangguan, bahkan juga berkembang sangat baik, detak jantungnya juga baik." jelas dokter Sesil lagi.


"Bentar dok, sehat semua, maksut dokter bagaimana?." Adira yang belum mengerti dengan ucapan dokter Sesil.


"Ah iya buk, ibu sendang mengandung bayi kembar, jadi yang ada di dalam kandungan ibu, terdapat dua janin."


"Bayi kembar? jadi saya akan punya anak kembar gitu dokter?." Ardi yang tidak percaya.


"Iya pak, benar." Dokter Sesil yang mengangguk pelan sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2