
Matahari bersinar cerah di pagi hari, Ardi begitu tampak bersemangat untuk menjemur putra dan putrinya. Dengan tangan kokohnya ia gendong Aidan dan Anaira sambil duduk di tepian kolam renang.
Ardi tatap lamat-lamat wajah mungil putra dan putrinya, mereka berdua tampak merasa nyaman saat matahari pagi menembus kulit mulus yang masih kemerahan, bahkan mereka sambil bergeliat mengangkat tangan kecilnya ke wajah.
Ardi begitu merasa gemas melihat dua wajah imut di gendongannya. "Hangat ya." ucap Ardi pelan.
Dari dalam rumah, datanglah wanita dengan tubuh yang masih bagus walaupun sudah beranak dua, dengan menggunakan daster dan rambut lurus di cemol ke atas Adira berjalan mendekat ke arah suaminya.
"Ayo daddy, sudah saatnya Aidan dan Anaira mandi." ucap Adira yang terus berjalan.
Ardi yang mendengar suara istrinya pun seketika menoleh. "Apa air hangatnya sudah siap sayang?." tanya Ardi.
"Sudah sayang." Jawab Adira sambil berdiri di belakang Ardi.
"Tapi mereka masih nyaman di sini sayang, sepertinya mereka berdua sangat menikmati sinar matahari di pagi hari."
"Ya sudah 10 menit lagi, habis itu kita masuk." Adira yang mengambil alih baby Aidan dari gendongan Ardi.
Ardi dan Adira pun duduk bersebelahan sambil menikmati suasana di pagi hari yang begitu cerah, sambil menikmati pemandangan di sekitar kolam renang dan taman, pohon-pohon kecil dan bunga pun saling bergoyang karena hembusan angin di pagi hari.
Adira pun menatap wajah tampan di pangkuannya, dan seketika membuat Adira berkaca-kaca.
"Aku tidak menyangka akan sampai sekarang rumah tangga kita mas." ucap Adira secara tiba-tiba yang masih menatap wajah putranya.
Ardi yang mendengar ucapan Adira seketika menoleh menatap wajah istrinya, lalu di ikuti Adira yang juga menatap wajahnya
"Aku masih tidak menyangka akan mempunyai keluarga seperti ini." ucap Adira lagi.
__ADS_1
"Apa kamu tidak pernah menyesal menikah dengan ku?." tanya Ardi.
"Tidak, justru aku akan menyesal jika tidak bisa memilikimu." jawab Adira terus menatap lekat wajah suaminya.
"Why?." lanjut Ardi.
"Jika aku tidak menikah dengan mu aku tidak akan memiliki anak se imut dan se gemas mereka berdua." jawab Adira sambil tersenyum.
"Tapi kau terlalu menderita menikah denganku sayang, dari kau korbankan pekerjaanmu demi menikah denganku, kau rela di olok-olok, di hina karena tak kunjung hamil, kau rela di kucilkan orang tuaku karena di kira mandul, kau rela di madu hanya ingin tetap bersamaku, dan kau rela angkat kaki dari rumah ini untuk kebahagian orang tuaku, namun sekarang kau masih mau kembali, dan mempertahankan anak kita."
"Mas." sahut Adira dengan suara sendu.
"Bahkan kau memberikan aku seorang putra dan putri yang sempurna, tidak hanya aku tapi keluarga Mahesa, bukankah kau terlalu baik untuk keluargaku."
"No.. justru dari keluarga ini aku belajar banyak hal, belajar arti bersabar, menerima, iklas, dan percaya, semua yang pernah aku alami, itu pelajaran untuk ku agar menjadi istri, ibu, menantu yang lebih kuat, karena kedepannya kita akan di hadapkan dengan masalah yang lebih sulit dari kejadian kemarin yang pernah aku alami."
"Kau benar-benar wanita yang baik Adira, aku memang tidak salah memilihmu untuk mendampingi hidupku hingga kelak nanti."
Ardi yang mendengar ucapan istrinya pun tersenyum. "l love you Adira." Ardi yang menggenggam jemari Adira.
"l love you more dad." jawab Adira yang juga tersenyum.
"Mari bulan depan kita liburan bersama?."
"Liburan mas?." tanya Adira.
"Iya.. bukankah kita sudah lama sekali tidak liburan."
__ADS_1
"Liburan kemana mas, Aidan dan Anaira masih kecil."
"Tidak perlu jauh-jauh, kita ke Bali saja, nanti kalau mereka berdua sudah besar, baru kita berlibur ke luar negri."
"Apa mama dan papa juga ikut?."
"Iya.. semua akan ikut, ibu juga ikut, bahkan baby siter Aidan dan Anaira pun juga ikut, kamu tidak perlu khawatir."
"Thank you sayang." Adira yang begitu tampak bahagia.
"Sama-sama sayang." jawab Ardi.
Matahari yang tadinya tampak cerah pun seketika redup, bahkan angin begitu sangat kencang, entah kenapa langit yang tadinya berwarna biru pun menjadi sedikit hitam. Bayi-bayi yang ada di gendongan Ardi dan Adira pun sedikit merengek karena dinginnya udara di luar.
"Eh, sepertinya panasnya udah hilang mas, dan kelihatanya mau hujan juga." ucap Adira sambil menatap langit yang mulai gelap.
"Iya sayang, ya sudah ayo masuk, mereka berdua juga sudah rewel, pasti juga sudah mengantuk."
"Iya mas."
Ardi dan Adira pun beranjak berdiri untuk masuk ke dalam rumah, karena suasana di luar semakin dingin, dan sudah saatnya untuk baby AA untuk mandi lalu tidur.
.
.
Yey.. akhirnya selesai cerita Ardi dan Adira. Maaf ya kakak-kakak, Author hanya sampai di sini menulis cerita Ardi dan Adira, tidak mau yang terlalu berat dan belibet ceritanya. Karena Author juga harus menulis cerita yang lainnya, masih banyak cerita yang belum di lanjutkan, semoga kalian suka dan tidak berpaling ya.
__ADS_1
Author juga mau memberitahu kalau Author akan fokus menulis cerita Surat Cerai Yang Ku Layangkan, yaitu kisah Riri dan Samuel, kisah yang penuh tanda tanya, bagaimana bisa? karena Samuel yang menyembunyikan sesuatu terhadap istri sahnya yaitu Riri. Jangan lupa mampir ya kakak-kakak, semoga kalian suka, dan menjadi favorit kalian.
Semoga kalian selalu sehat dan bahagia, peluk jauh dari Author š¤ cinta kalianā¤