Aku Tidak Mandul Ibu Mertua

Aku Tidak Mandul Ibu Mertua
Harmonis


__ADS_3

Suasana di kediaman keluarga Mahesa pun tampak harmonis, pagi-pagi sekali Adira sudah menyibukkan diri di dapur untuk membuat sarapan bersama ibu mertuanya yaitu nyonya Erlin. Adira begitu sangat cekatan dalam hal memasak, bahkan ia begitu bahagia bisa melaksanakan kewajibannya sebagai istri di kediaman mertuanya, apa lagi sekarang mama Erlin sudah bisa menerima dirinya kembali sebagai menantunya.


"Adira, seharusnya kamu tidak perlu membantu mama, nanti kamu capek." ucap mama Erlin yang sedang memotong beberapa sayuran yang tidak jauh dari menantunya.


"Tidak apa-apa ma, justru Adira sangat merindukan dapur ini, membuat sarapan untuk mas Ardi, mama dan papa." jawab Adira sambil menatap wajah sangat mertua.


"Terimakasih ya ma, sudah menerima Adira kembali sebagai anak mama."


Mama Erlin yang mendengar ucapan Adira pun seketika berkaca-kaca, mama Erlin tatap wanita sederhana di sampingnya dengan perut yang semakin tambah besar namun sangat menggemaskan.


"Seharusnya mama yang ber terimakasih kepadamu sayang, terimakasih sudah memaafkan kesalahan mama, dan masih bersedia kembali ke rumah ini, serta terus bersedia di samping Ardi."


"Adira akan tetap di samping mas Ardi ma, dalam posisi apapun itu." jawab Adira sambil tersenyum.


Mama Erlin pun seketika meletakkan pisau yang di gunakan untuk memotong sayur lalu berjalan mendekat ke arah Adira. "Pantas saja Ardi mempertahankan mu, kamu memang wanita yang luar biasa Adira, mama kagum kepadamu." mama Erlin yang memeluk tubuh Adira, sambil mengusap bahu menantunya.


Saat mama Erlin dan Adira sedang mengharukan biru, Tiba-tiba Ardi datang dari arah ruang makan.


"Sayang.. mana sarapan aku, aku lapar..." ucap Ardi sambil berjalan.


Ardi yang melihat mama serta istrinya saling berpelukan seketika terkejut.


"Eh mas, iya ini sebentar lagi nasi gorengnya di siapkan." jawab Adira lalu melepaskan pelukan dari mama Erlin.

__ADS_1


"Iya-iya kalian itu udah baikan, tapi kan gak perlu pelukan setiap hari dong, ada Ardi sama papa yang harus di kasih makan." bercanda Ardi.


"Yee.. biarin dong, lagi pula ini juga masih pagi, ngapain kamu udah ke dapur, biasanya juga masih tidur, bangun-bangun kalau udah siap semua masakan di atas meja, ganggu mama sama istrimu saja." sahut mama Erlin.


"Yee.. biarin dong, suka-suka Ardi, Ardi kan gak sabar nyicipin masakan istri Ardi, udah lama gak nyicipin." sahut Ardi kembali.


Adira yang mendengar perdebatan ibu mertua dan suaminya seketika tersenyum. "Yaudah mas tunggu dulu ya di meja makan, sebentar lagi maskaannya selesai." ucap Adira.


"Siap sayang, aku tunggu di meja makan ya, l love you, emmuahh." Ardi yang mencium Adira dari jauh.


"Eh anak nakal, yang masakin kamu gak cuman Adira aja, mama juga, masak yang dapat ucapan cinta cuman Adira saja." goda mama Erlin sedikit sinis.


Ardi yang mendengar ucapan mamanya seketika tertawa. "Jadi mama iri ni." Ardi yang menatap sang mama.


"Menurut kamu." sahut mama Erlin jutek.


"Love you too dad." jawab Adira.


"Love you too anak nakal." jawab mama Erlin sambil tersenyum.


Ardi pun seketika berjalan meninggalkan dapur, sedangkan mama Erlin dan Adira kembali menyibukan dirinya di dapur, untuk membuat beberapa sarapan kesukaan Ardi dan juga tuan Malio. Setelah beberapa jam, masakan pun sudah selesai dan sudah di hidangkan di atas meja makan dengan rapi. Keluarga Mahesa pun sudah berkumpul untuk menikmati sarapan pagi bersama. Setelah mengambilkan sarapan untuk suaminya, Adira pun bersiap untuk mengambilkan nasi untuk sang ayah mertua.


"Biar Adira yang ambilin pa." Adira yang meraih piring di depan tuan Malio.

__ADS_1


"Eh.. tidak perlu sayang, biar mama saja, sudah kamu duduk saja dan nikmati sarapannya, ini tugas mama." mama Erlin yang mengambil alih piring berwarna putih di tangan Adira.


"Tidak apa-apa ma."


"Iya Adira, kamu makan saja, kamu pasti juga sudah capek dari tadi pagi masak, biar mama mu ini yang meladeni papa, karena sekarang mama sudah jarang meladeni papa." sahut tuan Malio.


"Baik pa." jawab Adira.


"Hati-hati sayang." Ardi yang memegangi tempat duduk Adira, karena Adira begitu terlihat kesusahan untuk bergerak karena perut buncit nya.


"Terimakasih sayang." ucap Adira, dan Ardi pun hanya mengangguk sambil tersenyum.


Mereka ber empat pun menikmati sarapan dengan begitu lahap sambil ber cengkraman dan bercanda bersama, Adira tak bisa berhenti tertawa, karena lelucon dari sang ayah mertuanya, yang bercerita tentang dulu bagaimana tuan Malio bisa mendapatkan nyonya Erlin, ternyata dulu tuan Malio juga tidak mudah untuk bisa mendapatkan nyonya Erlin, yang terlahir dari keluarga bangsawan, yang jelas mempunyai kedudukan yang berbeda dari tuan Malio, namun tuan Malio bisa membuktikan kepada keluarga nyonya Erlin, dan bisa memberikan apapun yang di inginkan nyonya Erlin dengan kerja kerasnya.


Di dalam rumah orang-orang sedang menikmati sarapan dan bercanda tawa bersama, beda halnya dengan dua security di rumah megah tersebut, mereka berdua sedang mati-matian menghentikan Delisa yang sedang mengamuk, memaksa untuk bisa masuk ke dalam rumah.


"Nona, nona tidak bisa masuk begitu saja ke dalam rumah, ini adalah perintah nona." ucap salah satu security.


"Minggir, ini juga rumah ku, apa kalian gila melarangku untuk masuk, kalian lupa siapa saya!." Delisa yang terus mencoba melawan dua security untuk masuk ke dalam rumah.


"Tidak bisa nona, saya di perintahkan untuk melarang nona masuk ke dalam rumah."


"Saya tidak perduli, minggir brengsek!." Delisa yang mencoba melepaskan tangannya dari genggaman dua security.

__ADS_1


"Sebaiknya nona pergi saja, jangan membuat keonaran di sini, nona sudah tidak di Terima di rumah ini."


"Tutup mulut mu brengsek, aku adalah menantu satu-satunya di keluarga Mahesa, jadi lepaskan aku, aku mau masuk!." ucap Delisa yang semakin meronta-ronta.


__ADS_2