Aku Tidak Mandul Ibu Mertua

Aku Tidak Mandul Ibu Mertua
Mual dan Pusing


__ADS_3

Di tempat ruang makan, semua keluarga Mahesa berkumpul untuk makan malam. Mama Erlin sudah duduk di dekat tuan Marlio yaitu suaminya, sedangkan Ardi duduk bersebelahan dengan Delisa. Namun Ardi tidak melihat istri pertamanya, membuat Ardi khawatir.


"Bik, Adira kemana? apa dia masih di kamar?." tanya Ardi pada bik Sumi yang masih menyiapkan beberapa masakan di atas meja.


"Iya tuan, sepertinya nyonya Adira sedang tidak enak badan." jawab bik Sumi.


"Tidak enak badan?." tanya Ardi sedikit terkejut.


"Iya tuan."


Ardi pun sudah beranjak berdiri dari tempat duduknya untuk menemui Adira, namun kembali di cegah oleh Delisa.


"Mau kemana mas?." Delisa yang menarik tangan Ardi.


"Lepasin." Ardi yang melepaskan tangan Delisa dengan kasar.


"Makanlah dulu Ar, biarkan saja Adira, nanti kalau lapar juga keluar." ucap mama Erlin.


"Adira sedang tidak enek badan ma." ucap Ardi menatap pada mamanya.


"Ya memang kenapa, Adira bukan bocah umur 7 tahun yang harus di suruh makan, duduklah kembali, makanlah dulu, nanti kamu sakit, kalau Adira sakit gak sakit sama saja tidak menguntungkan untuk keluarga ini."


"Maa!." ucap Ardi tidak terima mamanya berbicara seperti itu tentang Adira.


"Duduklah, jangan membantah mama!." mama Erlin yang menyuruh anaknya dengan tegas.


Delisa yang melihat mertuanya melarang Ardi bersikap perhatian kepada Adira menjadi bahagia, Delisa pun tersenyum kecut. Saat semua sedang menikmati makan malam, Adira sudah keluar dari kamar dengan wajah sedikit pucat. Ardi yang melihat kehadiran istri pertamanya seketika mendekat untuk membantu Adira duduk di kursi.


"Sayang, apa kamu tidak apa-apa?." tanya Ardi di samping Adira.


"Iya.. aku baik-baik saja mas." jawab Adira lalu duduk di sebrang Ardi.


"Ngapain aja kamu di kamar, udah gak butuh makan? kalau udah gak butuh makan gausah keluar sekalian saja dari kamar." ucap mama Erlin menatap ke arah Adira.

__ADS_1


"Maaf ma, tadi kepala Adira sedikit pusing." jawab Adira.


"Sudah ma, gak usah marah-marah terus sama Adira." bela tuan Marlio terhadap menantunya.


"Wanita mandul yang menyusahkan." celetuk mama Erlin lagi.


Delisa yang mendengar mama Erlin terus mengolok-olok Adira semakin tertawa di dalam hatinya.


Adira pun sudah mengambil makanan di atas meja dan sedikit demi sedikit di kunyahnya. Namun saat masih beberapa sendok masuk ke dalam mulut, Adira tiba-tiba merasa mual, ingin memuntahkan semua isi perutnya. Adira pun seketika langsung beranjak berdiri.


"Maaf semuanya, sepertinya saya harus ke belakang dulu." ucap Adira yang sudah menutup mulutnya lalu berlari ke dalam toilet.


Semua yang ada di meja makan melihat Adira berdiri begitu saja menjadi terkejut. seketika Delisa dan mama Erlin menatap aneh pada Adira yang berlalu pergi begitu saja dari meja makan sambil menutup mulutnya.


"Adira?." panggil Ardi.


"Aku harus mengejar Adira." lanjut Ardi yang berdiri mengejar istrinya.


"Mas!." teriak Delisa namun tidak di indahkan oleh Ardi.


Ardi yang melihat Adira muntah-muntah pun seketika menjadi khawatir. "Sayang, apa kamu baik-baik saja?."


"Hoekkk.. Hoekkk.." Adira yang terus memuntahkan isi perutnya.


Ardi pun sudah memijat-mijat leher Adira dengan sangat pelan, saat Adira sudah merasa mendingan, Adira langsung mencuci mulut dengan air yang mengalir dari wastafel, wajah Adira begitu sangat pucat.


"Sayang, wajahmu pucat?." Ardi yang langsung memeluk tubuh istrinya.


"Aku baik-baik saja sayang." jawab Adira dengan suara pelan.


"Baik bagaimana, wajahmu pucat, besuk kita kerumah sakit ya."


"Tidak.. aku hanya masuk angin biasa sayang, hanya pusing dan mual, nanti minta di urut sama bik Sumi juga langsung sembuh." Adira yang menatap wajah Ardi dengan sangat lemah.

__ADS_1


"Ya sudah ayo ke kamar." Ardi yang membantu Adira berjalan menuju ke kamar.


Delisa yang melihat Ardi begitu sangat perhatian dengan Adira merasa sangat jengkel dan cemburu. Dengan tatapan sinis Delisa menatap istri pertama suaminya.


"Kenapa istrimu Ar?." tanya tuan Marlio dengan suara lirih.


"Adira sedang tidak enak badan pa, tadi muntah-muntah." jawab Ardi.


Ardi sudah merebahkan tubuh Adira di ranjang tempat tidur, lalu menyelimuti tubuhnya sampai di bawah leher, Ardi juga sudah meminta kepada bik Sumi untuk membuatkan bubur hangat. Namun seketika Ardi teringat bahwa besuk dia ada perjalanan bisnis di luar kota selama dua hari, namun melihat keadaan Adira membuat Ardi tidak tega untuk meninggalkan Adira di rumah. Namun jika Ardi tidak pergi siapa yang akan menyelesaikan bisnis keluarganya. Karena itu adalah bisnis penting.


Tidak lama bubur pun sudah jadi, dan Ardi segera menyuapi Adira yang sudah duduk bersender pada bantal empuk di belakangnya.


"Makan dulu ya sayang, aku suapi." ucap Ardi, dan Adira hanya mengangguk pelan.


Sesendok bubur hangat pun sudah masuk ke dalam mulut Adira, dan tidak lama bubur di dalam mangkok pun sudah habis. Setelah selesai makan Adira pun kembali merebahkan tubuhnya di ranjang, dengan Ardi terus menemani di sampingnya.


Ardi terus mengelus-elus kening sang istri, dengan tangan kanan menggenggam tangan sang istri. Ardi ingin berpamitan kepada Adira jika besuk harus pergi keluar kota karena bisnis, tapi lagi-lagi mulutnya berat untuk berbicara.


"Sayang, kamu kenapa?." tanya Adira yang mengetahui suaminya sedang memikirkan sesuatu.


"Engga sayang, tidurlah, aku akan menemanimu di sini."


"Sepertinya ada yang ingin kamu katakan, katakan saja sayang, jangan di pendam." ucap Adira seketika menggenggam erat jemari suaminya.


Ardi pun masih terdiam lalu menarik nafasnya."Besuk aku ada perjalanan bisnis di luar kota sayang selama dua hari, tapi aku tidak mungkin pergi dengan keadaanmu seperti ini." jelas Ardi.


"Pergilah sayang, aku tidak apa-apa, besuk pasti juga sudah sembuh, jangan khawatirkan aku, ini juga menyangkut perusahaan keluargamu, mama pasti akan marah jika kamu tidak pergi."


"Tapi kamu bagaimana? kamu sedang sakit."Ardi yang terus menatap lamat-lamat wajah pucat istrinya.


"Percaya lah padaku, aku akan baik-baik saja, dan segera sembuh."


"Tapi aku tetap_."

__ADS_1


"Pergilah sayang, aku tidak apa-apa." Adira yang terus menyakinkan suaminya.


"Baiklah, jika kamu memaksa, aku janji setelah selesai, aku akan segera pulang sayang." ucap Ardi lalu mencium kening istrinya.


__ADS_2