
Ardi baru saja keluar dari kamarnya dengan menggunakan kaos putih polos yang menempel pas pada tubuh atletisnya, di padukan dengan celana jinas panjang berwarna hitam. Hari ini Ardi memutuskan untuk menemui Adira di rumah mertuanya. Ardi begitu rindu dengan sosok istri pertamanya tersebut, apa lagi dengan dua calon jabang bayinya yang masih semayam di perut sang istri.
Dengan langkah pelan Ardi melangkah melewati ruang keluarga, sambil mendekat ke arah mama Arlin yang sedang membaca sebuah majalah fashion di ruang tamu.
"Good morning mom." ucap Ardi sambil memeluk tubuh sang mama dari belakang.
"Eh.. good morning juga sayang." mama Erlin yang sedikit menolehkan wajahnya ke arah Ardi. "Wangi bener, mau kemana? bukannya hari ini hari minggu?." tanya mama Erlin kepada anaknya.
"Iya ma.. Ardi mau main ke rumah salah satu temen deket Ardi, sudah lama tidak ke sana." jawab Ardi berbohong.
"Tapi.. istrimu Delisa belum juga bangun, dia pasti akan mencarimu."
"Mama katakan saja, Ardi sedang ada acara, lagi pula Delisa itu juga sudah dewasa." Ardi yang berjalan lalu duduk di samping mamanya.
"Tapi kan kamu tau sendiri Ar, tadi malam Delisa habis muntah-muntah, sepertinya dia tidak enak badan."
"Dia itu bukan tidak enak badan ma, tapi karena kebanyakan minum alkohol, Alisa minuman keras, jadi teler kaya gitu, biarkan saja, itu kan salah dia sendiri."
"Ar... mungkin saja Delisa seperti itu karena lagi pusing, dan banyak fikiran" sahut mama Erlin.
"Maa.. wanita yang baik, dan istri yang baik, dan calon sosok ibu yang baik, dia akan paham, mana perilaku yang baik, dan mana yang buruk, sepusing apapun dan se setres apapun, alkohol bukan solusinya, sudah lah ma, Ardi sudah terlambat, kalau begitu Ardi pergi dulu ya." Ardi yang langsung mencium punggung tangan mamanya.
"Ardi.."panggil mama Erlin lagi.
"Ardi mencintai mama." Ardi yang sudah mengecup kening sang mama, lalu berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya. Mama Erlin yang melihat perilaku anaknya hanya menarik nafasnya.
Belum lama Ardi pergi dari rumah, Delisa baru saja bangun dari tidurnya, ia baru saja beranjak dari ranjang tempat tidur, dengan jalan sempoyongan. Delisa merasa bahwa kepalanya begitu pusing dan berat, bahkan hidungnya merasa pengar.
"Astaga.. apa tadi malam.. What! apa yang kamu lakukan Delisa, berani-beraninya kamu pulang ke rumah ini dengan ke adaan mabuk, dan di kuasai oleh minuman keras." Delisa yang seketika teringat dengan kejadian tadi malam, bahwa dirinya berkali-kali mengeluarkan isi perutnya.
Delisa pun sudah berdiri di depan cermin meja riasnya, dan menatap wajahnya sendiri. "Kau benar-benar gila Delisa, bagaimana kalau mama Erlin dan papa Malio marah, kau benar-benar kacau." Delisa yang semakin mengusap-usap rambutanya yang berantakan.
Delisa pun seketika mengendus tubuhnya sendiri, memang benar bahwa dirinya berbau alkohol, bahkan begitu sangat menyengat. Delisa pun memutuskan untuk segera membersihkan diri, dan segera turun menuju ke lantai satu. Setelah hampir 1 jam, Delisa pun sudah terlihat begitu rapi, segar dan wangi. Delisa sudah keluar dari kamar dan menuruni anak tangga dengan pelan, walaupun sebenarnya kepalanya masih pusing karena banyak minum alkohol. Delisa terus berjalan menuju ke ruang makan, karena pasti ke dua mertuanya sedang serapan pagi di sana.
Delisa dengan pelan dan sedikit takut menuju ke ruang makan, apa yang harus ia katakan kepada mertuanya dengan kejadian semalam. Saat Delisa masih berjalan sambil menunduk ternyata mama Erlin sudah melihat kehadirannya.
__ADS_1
"Ehh Delisa.. kamu sudah bangun nak, ayo sini sarapan." ajak mama Erlin.
Delisa yang mendengar ucapan mertuanya tanpa ada nada ketus atau marah seketika langsung mendekat dan duduk di samping mertuanya.
"Sini duduk." mama Erlin yang sudah menggeser kursi untuk Delisa.
"Makasih ma." ucap Delisa.
"Iya sayang." mama Erlin yang mengulum senyum.
"Ma.. maaf, soal kejadian tadi malam, tadi malam itu.. Delisa..." Delisa yang terbata-bata, ingin menjelaskan kepada sang ibu mertua.
"Ah.. iya-iya.. mama sudah tau, kamu tidak perlu menjelaskan, mama bisa memaklumi jika kamu sedang setres karena kerjaan, dan membutuhkan hiburan." ucap mama Erlin.
"Iya ma." jawab Delisa dengan pelan, namun hati Delisa merasa sangat senang, ternyata ibu mertuanya itu, gampang sekali untuk di kadali.
"Sudah ayo makan." ucap mama Erlin yang mengambilkan piring untuk Delisa.
Namun Delisa saat itu melihat ke arah tuan Malio, bahwa ayah mertuanya itu sedikit melampirkan raut wajah yang tidak suka kepada Delisa. Tatapan tuan Malio begitu sangat tajam, seakan-akan tuan Malio tau bahwa Delisa bukanlah wanita yang baik.
"Oh.. Itu.. Suami..." Mama Erlin yang belum selesai berbicara dan tiba-tiba di potong oleh suaminya.
"Delisa." panggil tuan Malio.
"Ehh.. iya pa." jawab Delisa, yang mau tidak mau kembali menatap ayah mertuanya.
"Papa ingin memberitahu mu, di keluarga mahesa, tidak ada yang kenal dengan minuman alkohol, menyentuh saja tidak pernah, apa lagi mengonsumsinya, jadi kendalikan perilakumu, dan pergaulanmu."
"Pa.. Delisa seperti itu hanya merasa setres saja." sahut mama Erlin.
"Apapun alasannya, minuman itu di larang, entah itu kamu pusing, setres, depresi, atau gila, atau hanya untuk bersenang-senang, tidak ada yang membenarkan bahwa alkohol adalah obatnya." tuan Malio yang terus berkata tegas sambil menatap mata Delisa.
"Iya pa, maaf kan Delisa, dan kejadian itu, akan menjadi kejadian yang terakhir."
"Jika kamu mengulanginya lagi, keluarga mahesa tidak bisa menerima seseorang yang kecanduhan alkohol, karena rumah ini bukan tempatnya seperti itu, apa kamu paham!." ujar tuan Malio lagi.
__ADS_1
"Iya pa, Delisa paham." jawab Delisa pelan tanpa berani menatap mata tuan Malio.
"Sudah pa.. Delisa kan sudah bilang tidak akan mengulanginya lagi, sudah papa lanjutkan makan." ucap mama Erlin.
"Papa sudah tidak nafsu makan lagi, ayo antarkan ke kamar." ucap tuan Malio.
"Ya sudah, mama antar ke kamar." mama Erlin yang sudah beranjak dari kursinya. "Delisa lanjutkan sarapanmu, mama nganterin papa dulu ke kamar."
"Iya ma..." jawab Delisa sedikit tersenyum.
Mama Erlin pun sudah berjalan sambil mendorong kursi roda tuan Malio, untuk menuju ke kamar, sedangkan Delisa yang melihat dua orang tua yang menyebalkan seketika langsung mengubah raut wajahnya, yang tadinya pura-pura tersenyum sekarang menjadi sinis.
"Kurang ajar, berani-beraninya tua bangka itu mengancamku, udah mau mati aja, sok-sokan belaku, lo mau gue buat lompuh total, bahkan tidak bisa bicara." ucap Delisa di dalam hatinya yang begitu merasa kesal.
.
.
.
.
Hay kakak-kakak apa kabar kalian semua.
Semoga selalu sehat dan bahagia ya.
Lama kita tidak jumpa..
Maaf, beribu maaf, kemarin author sangat sibuk, dan ada keperluan, yang mengakibatkan vakum sebentar dari Novel.
Tapi sekarang Author kembali lagi, untuk menghibur kalian.
Yuk, yang sudah lama menunggu, jangan lupa untuk like, komment, dan Votenya.
Terimakasih.. sudah selalu menunggu ❤
__ADS_1