
"Maaf nyonya dan tuan mengganggu sebentar." ucap bik Sumi sedikit menunduk.
"Ada apa bik?." tanya mama Erlin yang menatap ke arah bik Sumi, tidak terkecuali tuan Malio, Ardi dan juga Adira.
"Maaf nyonya di luar ada nona Delisa yang mengamuk, karena memaksa untuk masuk ke dalam rumah."
"Bukankah ada Security?." tanya tuan Malio.
"Iya tuan, namun tetap saja, nona Delisa memaksa untuk masuk ke dalam rumah dan ingin bertemu dengan tuan muda Ardi."
"Baiklah, kamu bisa pergi sekarang."
"Baik tuan." jawab bik Sumi sedikit menunduk.
"Kalian lanjutkan sarapannya saja, biar papa yang menemui Delisa." ucap tuan Malio.
"Tidak usah pa, biar Ardi saja yang menemui Delisa, papa lanjutkan sarapan saja." tolak Ardi yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Sebentar ya sayang." Ardi yang mengusap rambut lurus Adira.
Tanpa mendapat persetujuan dari tuan Malio, dan Adira, Ardi langsung melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan untuk menemui Delisa.
"Ayo ma, kita juga harus menemui Delisa, Adira kamu juga harus menemuinya." perintah tuan Malio.
"Mama sudah malas pa melihat wajahnya, untuk apa lagi dia datang ke rumah ini, setelah berbuat ulah dan mencoba menghancurkan keluarga kita." mama Erlin yang terlihat marah.
"Ma, papa tau perasaan mama, tapi kita harus menyelesaikan masalah anak kita, karena Delisa juga masih istri sah Ardi, kita tidak bisa diam saja, ayo kita temui dia dulu."
Tuan Malio, mama Erlin, dan juga Adira pun berjalan untuk menyusul Ardi yang sedang menemui Delisa di depan rumah. Saat tiba di depan rumah, Adira melihat Delisa sedang memeluk tubuh Ardi begitu erat, namun Adira juga bisa melihat bahwa Ardi mencoba untuk melepaskan dan menjahuinya.
"Lepaskan aku Delisa!." tolak Ardi yang mencoba untuk melepaskan kedua tangan Delisa.
"Tidak mas, aku minta maaf atas kesalahanku, aku tidak mau bercerai dari mu, aku sangat mencintaimu mas." Delisa yang terus memeluk erat, seakan tidak mau lepas dari sosok Ardi.
__ADS_1
"Lepaskan aku, aku tidak bisa bernafas!." ucap Ardi lagi.
"Untuk apa kamu datang ke rumah ini lagi?." tanya mama Erlin yang berdiri sambil mendorong kursi roda suaminya.
"Mama?." ucap Delisa lalu melepaskan tangannya yang sedang memeluk tubuh Ardi.
"Apa yang kalian kerjakan, bagaimana bisa wanita ini sampe di sini." Mama Erlin yang marah kepada dua security di rumahnya.
"Maaf nyonya, kita sudah mencoba untuk mencegahnya, namun nona Delisa tetap bersikeras untuk masuk." jawab salah satu security sambil menunduk.
"Ma.. pa.. maaf in Delisa, Delisa menyesal, Delisa mengaku salah dan menyesal." Delisa yang seketika berlutut di bawah kaki tuan Malio dan mama Erlin.
Mama Erlin yang melihat perilaku Delisa seketika sedikit menjauhkan tubuhnya. "Untuk apa kamu berlutut, tidak usah susah payah berlutut untuk bisa menerimamu lagi, itu tidak akan mengubah apapun, dan aku tidak akan percaya dengan drama licikmu itu lagi." ucap mama Erlin.
"Maafkan Delisa ma, Delisa benar-benar minta maaf, tapi jujur Delisa tidak bisa meninggalkan mas Ardi ma, Delisa sangat mencintai mas Ardi." Delisa yang terus memohon.
"Berhentilah membuat drama, dan lebih baik kau pulang saja, keluarga Mahesa sudah tidak bisa menerimamu lagi." lanjut mama Erlin.
"Ihh minggir, jangan pernah menyentuhku!."
"Bangun lah Delisa, jangan seperti itu, tidak ada gunanya, lebih baik kita bicarakan secara baik-baik." sahut tuan Malio.
"Bicarakan secara baik-baik? tidak ada yang perlu di bicarakan secara baik-baik lagi pa."
"Sudah ma, kita ini orang tua, kita harus menjadi penengah untuk mereka bukan malah menjadi api, masalah tidak akan selesai jika dengan emosi, dan mencaci maki."
Mama Erlin yang mendengar ucapan suaminya seketika terdiam, dan mencoba untuk menurut.
"Papa minta bangunlah Delisa, jangan seperti itu." perintah tuan Malio sekali lagi.
Delisa yang mendapat perintah dari ayah mertuanya pun seketika langsung beranjak berdiri di depan, tuan Malio, nyonya Erlin, Ardi dan juga Adira.
"Papa tau ini juga kesalahan keluarga Mahesa, sampe-sampe kamu bertindak sejauh ini, seharusnya sebagai ayah serta orang tua, dulu papa tidak akan memaksa Ardi untuk menyetujui pernikahan kalian, seharusnya pernikahan kalian tidak pernah terjadi."
__ADS_1
"Aku juga menyesal, menikahkan anakku dengan siluman ular sepertimu." sahut mama Erlin namun enggan melihat wajah Delisa.
"Delisa mencintai mas Ardi pa, sampai-sampai Delisa berani melakukan ini."
"Itu bukan cinta Delisa, melainkan Ego, keserakahan, dan kedengkian, papa sudah berkali-kali memperingatkan mu jangan berbuat di luar batasmu sebagai istri ke dua, seharusnya kamu menyadari itu, sadar bahwa posisi mu adalah istri kedua, tapi kamu bertindak se akan-akan pemilik keluarga besar Mahesa."
"Delisa minta maaf pa, sekali lagi Delisa minta maaf, Delisa akan menjadi menantu sekaligus istri yang baik di keluarga Mahesa."
"Papa sudah memaafkanmu Delisa, mama pasti juga sudah memaafkanmu, tapi semua keputusan papa berikan kepada Ardi, jika Ardi masih ingin mempertahankan rumah tangga kalian, papa akan tetap menerima mu dengan baik, namun jika tidak, semua proses perceraian akan segera di laksanakan, dan kamu berhak meninggalkan keluarga Mahesa." jelas tuan Malio yang terus menatap wajah Delisa.
"Pa kenapa harus menunggu persetujuan Ardi, Ardi jelas-jelas sudah tidak mau." mama Erlin yang merasa keberatan.
"Suttts.. sudah mama diam saja, Delisa masih istri Ardi, dan Ardi yang berhak menentukan." jawab tuan Malio.
Tuan Malio pun seketika menatap Ardi anaknya yang sedang menggandeng istri kesayangannya yaitu Adira. "Bagaimana Ardi, apa keputusanmu? papa harap kamu bisa mengambil keputusan yang terbaik." tanya tuan Malio.
"Setelah Ardi melihat perilaku Delisa, Ardi merasa keberatan pa, dan ke salahkan Delisa menurut Ardi sudah fatal, Ardi memutuskan untuk bercerai." jawab Ardi.
"Mas.. aku tidak mau bercerai, tidak, jangan ceraikan aku." Delisa yang seketika menitihkan air matanya.
"Maafkan aku Delisa, aku tahu ini juga salahku, seharusnya aku tidak menjadikanmu istri kedua ku, pasti semua tidak akan pernah seperti ini, namun sejujurnya aku tidak pernah mencintaimu, dan aku hanya mencintai Adira, dan sebentar lagi kita akan di karunia buah cinta kita, jadi aku harap kamu bisa menerima keputusanku, kau berhak memilih Delisa begitupun dengan aku, kau berhak bahagia Delisa, begitu pun dengan aku, hari ini aku sudah resmi menalakmu, dan aku akan segera mengirimkan surat cerai kita, selamat bertemu di pengadilan." ucap Ardi lalu berjalan masuk ke dalam rumah begitu saja dengan satu tangan menggenggam jemari sang istri.
"Ayo sayang." Ardi yang membawa Adira untuk masuk ke dalam rumah.
"Sebentar mas." Adira yang sedikit berjalan mendekat ke arah Delisa.
"Delisa, aku sudah memaafkan semua kesalahanmu, aku harap kamu juga memaafkan semua kesalahnku, semoga kau bahagia, dan menjadi wanita yang lebih baik lagi kedepannya." ucap Adira sedikit memberi sanyum lalu berjalan masuk bersama Ardi.
"Mas Ardi.. mas Ardi.. jangan ceraikan aku!."
"Semua keputusan sudah di tentukan Delisa, bahwa Ardi memilih bercerai, kamu sudah tidak mempunyai alasan lagi untuk datang ke rumah ini, kita semua mempersilahkan kamu untuk pulang, dan Hati-hati di jalan." ucap tuan Malio, dan dengan sigap mama Erlin pun mendorong kursi roda suaminya untuk masuk ke dalam rumah tanpa berbicara apapun.
"Kenapa kalian tega membuangku, kalian tega, kalian tega!." Delisa yang terus berteriak, namun dua Security dengan sigap segera menyeretnya pergi dari kediaman keluarga Mahesa.
__ADS_1