Aku Tidak Mandul Ibu Mertua

Aku Tidak Mandul Ibu Mertua
Ini salah faham


__ADS_3

Delisa dan Adira baru saja tiba di rumah. Adira yang hamil muda menjadi merasa cepat lelah, karena terkadang juga masih mual dan muntah. Adira sudah berjalan untuk masuk ke dalam rumah, namun saat akan masuk Adira melihat mertuanya sudah berdiri di ambang pintu dengan koper dan tas ada di depannya.


"Apakah mama mau pergi?." tanya Adira berjalan mendekat ke arah mertuanya.


"Bawa barang-barang mu pergi dari sini sekarang, dan jangan pernah kembali." ucap mama Erlin.


Adira yang mendengar ucapan mertuanya seketika menjadi bingung. "Maksut mama?."


"Jangan panggil aku mama lagi, aku tidak sudi mempunyai menantu menjijikan sepertimu!." teriak mama Erlin.


Delisa yang baru saja turun dari mobil sudah melihat adegan yang sudah ia tunggu-tunggu dari sepanjang jalan pulang, Delisa pun berjalan mendekat ke arah mama Erlin dan Adira.


Adira melihat tatapan mama Erlin seperti dulu lagi, yaitu tatapan penuh kebencian, dan kekecewaan. "Apa Adira mempunyai salah ma?." tanya Adira yang tidak mengerti kenapa mertuanya kembali membencinya.


"Kamu masih tanya apa salahmu?." ucap mama Erlin lalu menyalakan ponselnya. "Lihat, lihat wanita murahan, bagaimana bisa kamu berpelukan dan berciuman dengan seorang laki-laki di mall." mama Erlin yang menunjukan foto Adira bersama Kelvin tadi di mall.


Adira yang melihat foto tersebut seketika terkejut. Adira pun bertanya-tanya dari mana mertuanya bisa mendapatkan foto tersebut. "Ma, foto itu bukan seperti yang mama fikirkan, itu tidak benar." sangkal Adira.


"Kurang benar apa? Delisa yang mengirim foto ini kepadaku tadi.. apa kamu masih ingin mengelak!." teriak mama Erlin lagi.


Degg..


Adira pun seketika menatap ke arah Delisa yang berdiri tidak jauh dari mama Erlin. Delisa yang melihat wajah Adira pun seketika menaikan ujung bibirnya tersenyum sinis, dan mengangkat kedua alisnya merasa bahwa dirinya menang.


"Ternyata ini perlakuan Delisa, ternyata aku di jebak oleh Delisa." ucap Adira di dalam hati.


"Foto itu tidak benar ma, ini salah faham, pasti Delisa sudah menjebakku." ucap Adira yang kembali menatap ke arah mertuanya.


"Eee.. enak aja kamu menuduhku seperti itu, jelas-jelas itu foto kamu berselingkuh, udah salah, malah nuduh orang lain, tidak punya malu sekali." Delisa yang pura-pura berakting tidak mau di salahkan.


"Keluar sekarang kamu dari rumahku, aku sudah tidak mau menampung wanita menjijikan sepertimu!." mama Erlin yang sudah menendang tas milik Adira begitu saja.


"Ma.. Adira tidak bersalah, mama harus percaya Adira." Adira yang seketika langsung menitihkan air matanya.


"Pergi kamu, pergi jauh dari rumahku." mama Erlin yang sudah menarik-narik tubuh Adira agar angkat kaki dari rumahnya.


Mobil Ardi baru saja tiba di halaman rumah, karena Ardi baru saja pulang dari meeting mendadak dengan koleganya. Ardi yang melihat istrinya di tarik-tarik oleh mamanya seketika langsung keluar dari mobil.


"Bakal tambah seru nih." ucap Delisa pelan kala melihat Ardi sudah pulang.


"Astaghfirullah, mama ini apa-apa an." Ardi yang sudah berlari lalu meraih tubuh Adira.


"Lepaskan wanita itu Ardi, dan segera ceraikan dia!." ucap mama Erlin sambil menunjuk ke arah Adira.


Adira tidak henti-hentinya menangis, baru saja mertuanya menyukai dan bisa menerimanya di keluarga Mahesa, namun kini telah sirna, hilang begitu saja karena tuduhan Delisa.


"Mama ini kenapa, kenapa mama tiba-tiba marah-marah kepada Adira, apa salah Adira?". tanya Ardi yang sudah memeluk tubuh Adira.

__ADS_1


"Apa mas belum liat, aku sudah mengirim foto kepada mas." sahut Delisa mendekat ke arah Ardi dan juga Adira.


"Foto apa?." Ardi yang sudah meraih ponsel di saku celananya. Karena saat Delisa mengirim foto, Ardi belum sempat untuk melihatnya karena sore itu sangat sibuk meeting hingga larut malam.


Ardi sudah menyalakan ponsel, lalu membuka pesan dan menatap foto yang di kirim oleh Delisa. "Foto apaan ini?." Ardi yang masih menatap foto tersebut dengan lamat-lamat, namun Ardi sudah tau bahwa itu adalah foto istrinya yang di cium oleh Kelvin.


"Mas, foto itu tidak benar, mas harus percaya sama aku, aku hanya di jebak mas." Adira yang masih menangis.


"Di jebak apa? jelas-jelas kamu sudah berselingkuh dari anakku!." sahut mama Erlin.


"Katakan yang sejujurnya Adira, apa arti dari foto ini?." ucap Ardi lirih, sudah melepaskan tubuh Adira.


"Aku di jebak mas, aku tidak mungkin akan memeluk dan berciuman dengan Kelvin." jelas Adira.


"Oh.. ternyata laki-laki itu namanya Kelvin, lalu kalau kau tidak selingkuh dengannya, mana mungkin kau tau nama pria itu!."


"Laki-laki itu adalah mantan kekasih Adira ma, dan kemarin dia juga sudah bertemu di rumah sakit, dan sekarang bertemu lagi di mall, apa jangan-jangan anak yang ada di dalam kandungan Adira itu adalah anak Kelvin." Delisa yang terus memanasi mama Erlin dan juga Ardi.


"Jaga ucapan mu mbak Delisa!." Adira yang tidak terima, janin di rahimnya di katakan anak pria lain.


"Kenyataanya." jawab Delisa sambil menaikan satu pundaknya.


"Sudah! jangan kebanyakan bicara, pergilah sekarang dari rumah ini wanita pe*lacur!." mama Erlin yang kembali mendorong tubuh Adira.


"Ma.. hentikan, Adira itu sedang hamil." ucap Ardi.


"Ar.. apa kamu buta, wanita ini sudah berselingkuh darimu, dan anak di dalam kandungannya belum tentu anakmu, untuk apa kamu masih membelanya!." mama Erlin yang terus menerka-nerka.


"Tidak mas, tidak.. aku berani bersumpah, apa kamu tidak percaya denganku?."


"Tapi kamu sudah dua kali bertemu dengan Kelvin."


"Aku juga tidak tau tiba-tiba Kelvin muncul begitu saja di mall itu, dan tiba-tiba memeluk dan menciumku." jelas Adira sambil menangis. "Untuk apa aku berbohong mas, apa gunanya aku berbohong, aku hanya mencintaimu, apa kau lupa seperti apa kita berjuang untuk mendapatkan seorang anak, lalu kau anggap anak ini juga bukan anakmu? apa kau tega?."


"Bukan begitu Adira, aku percaya anak di dalam rahimmu adalah anakku."


"Security.. Security..." teriak mama Erlin. Dan tidak lama dua security berbadan besar-besar pun datang.


"Iya nyonya." jawab dua security bersamaan.


"Seret wanita murahan ini untuk keluar dari rumah ku!." perintah mama Erlin.


"Nyonya Adira maksutnya nyonya?." tanya salah satu security yang bernama Burhan.


"Iya.. cepat!."


"Mama tidak bisa mengusir Adira begitu saja ma, Adira masih sah menjadi istriku, apa lagi dia hamil, apa mama tega?." Ardi yang masih menggenggam tangan Adira.

__ADS_1


Burhan dan temannya Alif pun seketika menjadi bingung, bagaimana bisa dia akan mengusir Adira, karena Adira selama ini begitu baik kepada mereka berdua, Burhan dan Alif merasa tidak tega jika harus mengusir istri dari majikannya.


"Cepat, Burhan! Alif!." teriak mama Erlin lagi. "Atau kalian saya pecat sekarang juga jika tidak mau!."


Burhan dan Alif pun seketika mendekat ke arah Ardi dan juga Adira. " Maaf kan kami tuan Ardi, kami harus membawa nyonya Adira, atas perintah nyonya besar Erlin." ucap pak Burhan.


"Ma.. aku yakin Adira tidak bersalah, ini pasti salah faham." Ardi yang terus membela Adira, kala Burhan dan Alif mulai menarik tubuh Noora dari pelukannya.


"Cepat, bawa wanita itu, tunggu apa lagi kalian!." teriak mama Erlin.


"Mama..!." Ardi yang semakin meninggikan suaranya, namun mama Erlin tidak lagi memperdulikannya.


"Jangan bawa Adira, lepaskan, dia istriku." Ardi yang terus mencegah Burhan dan Alif.


"Maaf kan kami tuan, ini sudah perintah." ucap Alif.


"Adira..." Ardi yang berteriak kala Adira sudah berhasil di bawa oleh pak Burhan dan Alif.


"Mas Ardi.. tolong aku mas..." teriak Adira terus bercucurkan air mata.


"Adira.. jangan pergi." Ardi yang akan mengejar Adira, namun di cegah oleh mama Erlin.


"Biarkan dia pergi Ar."


"Tidak ma, Adira tidak bersalah, mama yang keterlaluan!." Ardi yang tadinya tenang, seketika juga menitihkan air matanya, kala melihat istrinya di usir secara paksa.


Adira terus berjalan dengan kedua tangan di tarik oleh pak Burhan dan Alif, Adira yang tadinya menatap Ardi pun seketika berubah menjadi menatap ke arah Delisa. "Tuhan tidak tidur, dan karma tidak akan pernah salah untuk pulang, saya bersumpah kamu akan merasakan lebih-lebih yang saya rasakan hari ini, tuhan akan menghukummu Delisa!." teriak Adira dengan mata terus bercucuran air mata menatap Delisa.


Delisa yang mendengar ucapan Adira, hanya menaikan ujung bibirnya. Dia hanya tersenyum sinis, sambil melambaikan tangannya.


"Good bay." ucap Delisa tanpa mengeluarkan suara.


.


.


.


.


Adira 😭


Duh.. terharu..


Yuk kakak-kakak jangan lupa, tinggalkan jejak ya..


Agar tidak ketinggalan Ardi dan Adira..

__ADS_1


Klik, like nya, commend dan Vote juga..


Terimakasih ❤


__ADS_2