Aku Tidak Mandul Ibu Mertua

Aku Tidak Mandul Ibu Mertua
Siapa dalang dari semua ini


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Ardi sudah siap, dan baru saja keluar dari kamar, ia sudah berjalan menuju ke ruang tamu sambil berkutik dengan benda pipihnya. Delisa dari arah dapur sudah membawakan secangkir kopi untuk Ardi.


"Udah mau berangkat mas?." tanya Delisa masih berjalan mendekat ke arah Ardi.


Ardi yang mendengar ucapan Delisa tidak menjawab, dia masih sibuk mengirim pesan kepada Adira. Delisa yang melihat Ardi tidak menjawab pertanyaannya dan senyum-senyum sendiri menjadi geram.


"Mas!." panggil Delisa lagi.


"Eh.. iya ada apa?." Ardi yang langsung menoleh ke arah Delisa.


"Ini kopinya?." Delisa yang sudah menaro secangkir kopi di atas meja.


Ardi pun seketika langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa, namun di kira Delisa Ardi akan menikmati kopi buatannya, tapi malah cengar-cengir tetap fokus pada ponselnya.


"Di minum kopinya, nanti keburu dingin mas." ucap Delisa lagi.


"Iya." Jawab Ardi singkat, lalu menaro ponsel di atas meja, ia pun dengan pelan menyerutup kopi buatan istri keduanya.


"Enak gak mas?. tanya Delisa.


"Biasa aja." jawab Ardi, memang benar kopi buatan Delisa tidak se enak buatan Adira. Kopi yang di buat Adira mempunyai ciri khas sendiri bagi Ardi, tidak ada gantinya.


"Mas gak sarapan dulu, ini masih pagi lo, sarapan juga sudah siap." ucap Delisa terus menatap ke arah Ardi.


"Siapa yang masak?." tanya Ardi namun tidak menatap ke arah Delisa, ia kembali meraih ponsel yang bergetar di atas meja.


"Bik Sumi." jawab Delisa.


"Tidak, nanti aku sarapan di kantor saja."


"Tapi kan mas gak pernah sarapan di kantor, selalu sarapan di rumah."


"Mama kemana?." tanya Ardi, tidak mengindahkan ucapan Delisa yang tadi.


"Kerumah sakit, nganterin papa." jawab Delisa mulai kesal, karena Ardi begitu cuek dan acuh kepadanya.


Ardi pun seketika teringat dengan kejadian kemarin malam, dari mana Delisa bisa mendapatkan foto Kelvin dan Adira, Ardi merasa ada yang menjanggal dengan kejadian kemarin, dan sedikit curiga dengan Delisa.


Ardi sudah menaro ponsel di saku jasnya dan langsung menatap ke arah Delisa, Delisa yang dari tadi menatap Ardi seketika sedikit takut, karena tatapan Ardi berubah menjadi tajam dan mengintimidasi.


"Mas kenapa menatapku seperti itu?." tanya Delisa.


"Kemarin dari mana kamu mendapat foto Kelvin memeluk dan mencium Adira, apakah kamu yang mengambil foto itu sendiri?."

__ADS_1


"Iya mas." jawab Delisa.


"Bagaimana bisa kamu mengambil foto mereka berdua, bukankah kamu terus bersama Adira?."


"Saat itu aku sedang ke toilet, yang tempatnya tidak jauh dari tempat Kelvin dan Adira berciuman, dan saat aku akan keluar dari toilet, aku sangat terkejut melihat Adira sedang berpelukan dengan mantan kekasihnya." jelas Delisa.


"Terus?."


"Ya awalnya aku juga tidak percaya, Adira akan melakukan itu, akan berselingkuh di belakangmu, tapi memang begitu kenyataannya, dan di saat itu juga aku langsung berfikiran untuk mengambil foto mereka, untuk memberi tahu ke mama dan kamu atas kebusukan Adira, aku mengambil foto itu untuk bukti, bukankah kemarin mas tidak percaya saat aku bilang Adira bertemu dengan Kelvin di rumah sakit."


Ardi terus saja mendengarkan penjelasan dari Delisa. "Apakah foto itu benar?." tanya Ardi. "Apa tidak di buat-buat, atau ada dalang di sebalik foto itu?."


Delisa yang mendengar ucapan Ardi seketika membuat Delisa sedikit gugup. "Da_lang.. dalang apa maksutmu, apa mas menuduhku, kalau aku yang menjebak Adira, untuk apa aku menjebak Adira? seharusnya mas itu berterimakasih kepadaku, karena berkat ku mas bisa tau kebusukan Adira di belakang mas!." Delisa yang seketika menjadi marah.


"Aku tidak menuduhmu Delisa, dan terimakasih atas kerja kerasmu, untuk mengungkap kebusukan Adira."


"Hanya terimakasih saja?."


"Lalu?."


"Minta maaf lah." sahut Delisa.


Ardi pun seketika berdiri, dan mendekat ke arah Delisa, Ardi sedikit menundukkan kepalanya, wajahnya ia dekatkan ke wajah Delisa. "Aku minta maaf ya Delisa sayang." Ardi yang udah mengusap rambut Delisa, sambil menatap ke dua mata Delisa. "Tapi.. jika kamu berbohong kepadaku, kamu tau kan, apa yang akan aku lakukan kepadamu?." lanjut Ardi.


"Tidak, aku tidak mengancam mu sayang, aku hanya memastikan saja bahwa kamu berkata jujur."


"Aku sudah jujur!." Delisa yang semakin marah.


"Baiklah.. aku percaya.. tapi jika ada dalang di balik foto Kelvin dan juga Adira, aku akan membantainya, dan membuat hidupnya sengsara."


Delisa yang mendengar ucapan Ardi seketika merasa terancam, dan takut, bagaimana kalau dirinya ketawan oleh Ardi bahwa dia lah dalang di balik foto Kelvin dan juga Adira.


Di saat Ardi masih menatap kedua mata Delisa yang terlihat marah namun juga ada ketakutan di matanya, langsung beranjak berdiri karena ponsel di saku jasnya tiba-tiba berdering. Ardi pun seketika langsung meraih ponsel di saku jasnya.


"Terimakasih atas kopinya ya sayang." Ardi yang mengusap pipi Delisa sangat halus.


Ardi pun sudah berjalan keluar sambil mengangkat telfonya, mobil di luar sudah siap, Ardi pun sudah masuk ke dalam mobil, dan mobil pun sudah siap melaju menuju ke kantor dengan di antar oleh supir pribadi Ardi.


"Hallo." Ardi yang sudah mengajar telfon.


"Hallo tuan, tuan sudah bisa melihat hasil CCTV kemarin di mall."


"Apa di sana ada orang lain selain istri-istri saya dan lelaki yang bernama Kelvin?."

__ADS_1


"Maaf tuan, kemarin mall begitu tampak rame, dan banyak yang berlalu lalang, jadi saya tidak bisa memastikan yang mana istri tuan dan juga Kelvin." sahut penjaga CCTV di mall.


"Baiklah, nanti sore saya akan ke sana, setelah dari kantor." ucap Ardi.


"Baik tuan." sambungan terlefon pun langsung terputus begitu saja.


"Aku tidak sabar melihat siapa dalang dari semua ini, awas saja, jika orang itu adalah orang terdekatku, akan aku musnahkan dia." ucap Ardi pelan.


Ponsel yang ada di genggaman Ardi pun seketika kembali bergetar, dan itu adalah pesan dari Adira. Ardi sudah tidak mau membalas pesan dari Adira, ia langsung saja melakukan Video Call.


"Tut.. Tut..." Video Call yang sudah tersambung.


"Hay mas." sapa Adira terlebih dahulu.


"Hay sayang, kamu lagi apa?." tanya Ardi.


"Biasa, pagi-pagi sibuk masak." jawab Adira yang hanya terlihat wajah cantiknya saja.


"Aku belum sarapan sayang, aku rindu masakan kamu." rengek Ardi.


"Loh kok belum sarapan, biasanya setiap pagi selalu sarapan."


"Masakan bik Sumi tidak se enak masakan mu, apa lagi masakan Delisa, gak karu-karuan." jawab Ardi.


"Ya sudah mampir sini, sarapan dulu, nanti sekalian aku bawain bekal, ini kan juga masih pagi." ucap Adira.


"Aku sebenarnya pingin mampir sayang, tapi ada meeting pagi hari ini, dan sepertinya aku hari ini juga sangat sibuk, besuk saja aku ke sana."


"Ya sudah, jangan lupa makan dan jaga kesehatan." Adira yang begitu perhatian kepada suaminya.


"Iya sayang, mana nih calon anak-anak Daddy?". tanya Ardi sambil tersenyum.


Adira pun sudah mengarahkan ponselnya ke arah perut yang semakin hari semakin membuncit. "Ini daddy, aku sekarang sudah mulai aktif lo, sering nendang-nendang perut mommy." jawab Adira.


"Wah.. kalian berdua makin besar aja, sehat-sehat terus ya sayang di perut mommy."


"Emuahh." Ardi yang mencium perut Adira dari layar ponsel.


"Iya daddy, pasti, daddy juga harus sehat terus ya."


"Pasti sayang, yaudah daddy tutup dulu ya video callnya, besuk kita ketemu."


"Iya sayang sampai ketemu besuk." jawab Adira, dan Ardi pun hanya mengangguk pelan, dan video call pun langsung terputus.

__ADS_1


Ardi kembali memasukan ponselnya ke dalam saku jasnya, karena sebentar lagi dia akan tiba di kantor.


__ADS_2