
Waktu sudah menunjukan pukul setengah 5 pagi, setelah sholat subuh mama Erlin pun siap eksekusi untuk membuat sarapan, karena bik Sumi sedang ijin pulang kampung selama 3 hari, mau tidak mau mama Erlin yang harus membuat sarapan.
Namun pagi ini mama Erlin akan meminta bantuan kepada menantunya yaitu Delisa, karena selama Delisa menjadi istri Ardi, dia tidak pernah memasak. Dengan langkah pelan mama Erlin menaiki anak tangga menuju ke kamar Delisa.
"Tok.. Tok..." mama Erlin yang mencoba mengetok pintu secara pelan.
"Delisa?." panggil mama Erlin.
"Delisa.. bangun.. ayo bantuan mama buat sarapan?." panggil mama Erlin lagi, namun tidak ada respon dari Delisa.
"Delisa..." panggil mama Erlin yang semakin kencang.
Delisa yang masih tertidur dengan pulas, sedikit terganggu dengan suara mertuanya yang terus me manggil-manggil namanya. "Ngapain tu sih nenek lampir pagi-pagi udah bangunin orang." Delisa yang langsung menarik selimut untuk menutup kuping nya.
"Delisa, ayo bantu mama buat sarapan, soalnya bik Sumi lagi pulang kampung."
Delisa yang terus di panggil-panggil pun menjadi risih, seketika langsung beranjak bangun dari tidurnya. "Sialan, baru jam setengah 5 udah teriak-teriak ngapain sih." Delisa yang seketika merasa kesal karena masih merasa ngantuk.
Mau tidak mau Delisa pun berjalan untuk membukakan pintu. "Iya ma, sebentar." teriak Delisa dari dalam kamar.
Tidak lama pintu kamar pun terbuka. "Ceklak."
"Ada apa ma?." tanya Delisa dengan mata masih sayub-sayub karena mengantuk.
"Ayok bangun, bantuin mama masak di dapur." ucap mama Erlin.
"Sekarang ma?." tanya Delisa.
"Iya sayang, masa besok."
Sebenarnya Delisa sangat malas, apa lagi suasana masih sangat dingin. "Yaudah mama tunggu Delisa aja di bawah, Delisa cuci muka dulu."
"Ya udah mama tunggu di dapur ya."
"Iya ma..."
Mama Erlin pun berjalan pergi meninggalkan Delisa menuju ke dapur. Sedangkan Delisa kembali masuk ke dalam kamar. "Ah.. apa dia fikir aku ini pembantu." Delisa yang begitu sangat malas masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi.
Setelah cuci muka dan gosok gigi selesai, Delisa pun sedikit memoles bibirnya dengan lipstik agar tidak terlihat pucat, dan sedikit memakai parfum. Yang tadinya Delisa malas dan mengantuk sekarang menjadi bersemangat. Delisa ingin menunjukan kepada ayah mertuanya dan juga Ardi bahwa dirinya bisa memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah.
__ADS_1
Dengan jiwa yang penuh semangat, Delisa berjalan keluar dari kamar untuk menuju ke dapur. Setibanya di dapur Delisa melihat mertuanya sedang mencuci beberapa sayuran seperti wortel, dan bayam.
"Hari ini masak apa ma?." tanya Delisa yang mendekat ke arah mamanya.
"Banyak sayang, sini bantuin mama masak sayur bayam ya."
"Siap ma, masak sayur bayam ma gampang."
Delisa pun sudah menyibukkan diri dengan mempersiapkan beberapa bumbu-bumbu untuk memasak sayur bayam, seperti bawang putih dan bawang merah. Delisa pun memasukan bayam yang sudah di cuci kedalam panci yang sudah terdapat airnya.
"Kok udah di masukin, nanti dulu, tunggu mendidih, masukin bumbunya baru bayamnya."
"Sama aja ma, nanti jadinya juga enak."
Mama Erlin yang sedang sibuk menggoreng ayam, terus memperhatikan gerak-gerik Delisa.
"Udah di kasih garam belum Delisa?." tanya mama Erlin.
"Ehh.. udah belum ya, Delisa lupa ma?."
"Coba di cicipin dulu." perintah mama Erlin.
"Mending kamu goreng ayam aja deh, biar mama yang lanjutin masak sayur bayam nya."
Mama Erlin pun mengambil alih memasak sayur, sedangkan Delisa menggoreng ayam.
"Itu udah panas banget minyaknya, cepat di masukin ayamnya." perintah mama Erlin.
Delisa pun langsung memasukan Ayam namun dengan cara di lempar. Seketika membuat minyak meledak-ledak.
"Mama-mama." teriak Delisa menjauh dari kompor.
"Delisa.. masukin ayamnya jangan dari jauh dong, dari deket, masukin secara perlahan, biar minyaknya gak meledak-meledak."
"Delisa takut ma." ucap Delisa.
Mama Erlin pun segera mengecilkan kompor, dan kembali mengangkat ayam yang terlihat gosong.
"Aduh.. tanganku panas karena kena minyak, dasar ayam sialan." gerutu Delisa sambil meniup tangannya.
__ADS_1
Ardi yang baru saja sampai rumah melihat tingkah masak Delisa pun seketika tersenyum. "Masih untung tu muka glowingnya gak kena minyak, coba kalau kena." ucap Ardi yang sedang mengambil air minum di dalam kulkas.
Mama Erlin dan Delisa yang melihat ke hadiran Ardi seketika menoleh bersamaan.
"Mas Ardi?." ucap Delisa.
"Ar.. kok kamu baru pulang, kemana aja?." tanya mama Erlin.
"Kemarin Ardi ada kerjaan ma, di rumah temen Ardi, awas tu nanti ayamnya gosong lagi." ucap Ardi sambil tertawa.
Ardi pun kembali berjalan keluar dari dapur, dan di ikuti oleh Delisa.
"Bentar ya ma, ada yang mau Delisa bicarakan sama mas Ardi." ucap Delisa dan mama Erlin pun hanya mengangguk.
"Mas..." panggil Delisa, namun Ardi tidak merespon.
"Mas Ardi." Delisa yang menarik tangan Ardi.
"Apa sih, udah sana bantuin mama masak, belajar biar bisa masak."
"Mas dari mana? kenapa tadi malam gak pulang, aku nungguin mas loo."
"Tadi kan udah aku jawab, aku ada kerjaan di rumah temen."
"Bohong!."
"Terserah, minggir, aku mau mandi terus berangkat ke kantor."
"Apa mas masih menemui Adira secara diam-diam?." tanya Delisa secara tiba-tiba.
"Memang kenapa, toh juga bukan urusanmu."
"Jadi bener, mas masih menemui Adira?."
"Udah ah minggir! aku muak setiap hari berdebat denganmu" Ardi yang melepas tangannya dari genggaman Delisa secara kasar.
"Mas Ardi..?."
Ardi tidak lagi merespon Delisa dan masuk ke dalam kamar begitu saja, sedangkan Delisa begitu terlihat sangat marah. "Aku harus cari tau, apa benar mas Ardi masih menemui wanita kampung itu."
__ADS_1