Aku Tidak Mandul Ibu Mertua

Aku Tidak Mandul Ibu Mertua
Mengarang Cerita


__ADS_3

Di perjalanan Adira hanya diam, dirinya masih sangat syok bertemu dengan Kelvin, padahal mereka berdua sudah lama tidak bertemu, dan sekarang bertemu di rumah sakit secara tiba-tiba, membuat dada Adira menjadi sesak seperti susah bernafas. Sedangkan Delisa yang fokus melajukan mobil sedikit melirik pada Adira, Delisa faham bahwa Adira sedang memikirkan sesuatu.


"Apa laki-laki itu benar-benar mantan kekasihmu?." tanya Delisa secara tiba-tiba


"Ha..." Adira yang terkejut langsung menoleh ke arah Delisa. "Ah.. itu.. itu..." Adira yang bingung menjelaskan kepada Delisa.


"Jujur saja padaku, tidak masalah, lagi pula kan juga sudah mantan." pancing Delisa.


"Iya mbak, dia mantan saya 2 tahun yang lalu, sebelum aku mengenal mas Ardi." jawab Adira.


"Bukanya kamu mengenal Ardi 2 tahun yang lalu?." Delisa yang sedikit menoleh ke arah Adira.


"Iya mbak, setelah saya memutuskan hubungan dengan Kelvin." Adira yang keceplosan menyebut nama mantan kekasihnya.


"Oh.. jadi namanya Kelvin." Sahut Delisa. "Sudah berapa lama kalian pacaran?." Delisa yang terus mencari informasi antara Adira dan juga Kelvin.


"3 tahun mbak." Jawab Adira.


"Lumayan lama."


Tidak lama mereka berdua pun sudah tiba di rumah, Adira sudah turun dari dalam mobil, begitu pun Delisa.


"Terimakasih ya mbak Delisa, sudah mengantarkan saya." ucap Adira.


"Iya santai saja." Sahut Delisa yang sudah berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah.


Delisa sudah masuk ke dalam kamar, dia akan memberi tahu mamanya jika sudah menemukan cara untuk memisahkan Ardi dan Adira dan membuat mama Erlin membenci Adira lagi.


Tidak terasa hari semakin sore, Ardi baru saja tiba di rumah setelah seharian sibuk bekerja. Adira yang melihat suaminya sudah pulang pun segera mendekat. "Udah pulang mas?." tanya Adira.


"Iya ni sayang, aku capek banget di kantor banyak pekerjaan." jawab Ardi.


"Ya udah istirahat dulu." Adira yang sudah membawa tubuh Ardi duduk di sofa ruang tamu, sebagai istri yang patuh kepada suami, Adira sudah membuka sepatu dan kaos kaki suaminya, dan sudah melepas jas dan juga dasi yang di kenakan suaminya.

__ADS_1


"Bagaimana sayang, apa anak-anak daddy baik-baik saja?." Ardi yang mengusap perut sedikit buncit istrinya.


"Alhamdulilah baik-baik saja mas, untungnya tidak ada benturan yang keras." jawab Adira.


"Syukurlah sayang, kemarin aku begitu takut."


"Udah mas jangan khawatir, oh iya apa mas mau kopi?." tawar Adira.


"Boleh."


"Ya udah aku buatkan dulu ya di dapur." ucap Adira dan Ardi hanya mengangguk pelan.


Adira pun sudah berjalan menuju ke dapur. Ardi yang kepalanya merasa pusing, dan berat pun sudah memejamkan mata, lalu menyenderkan kepalanya di sofa, dengan satu tangan memijat pelipisnya. Sedangkan dari tadi di atas tangga Delisa sedang memperhatikan mereka berdua. Delisa yang melihat Adira pergi pun segera berjalan turun untuk menemui Ardi.


"Mas." panggil Delisa.


"Hem." jawab Ardi singkat masih memejamkan matanya.


"Apa? bicara saja." sahut Ardi lagi.


"Ini tentang Adira mas."


Ardi yang mendengar ucapan Delisa seketika langsung membukak matanya, dan kembali mendongakkan kepalanya menatap ke arah Delisa. "Kenapa Adira, apa terjadi sesuatu dengan Adira?."


"Tidak, Adira baik-baik saja, tapi apa mas tau, tadi di rumah sakit Adira bertemu dengan mantan kekasihnya."


"Mantan kekasih?." tanya Ardi.


"Iya mas, apa mas tau siapa mantan kekasih Adira?."


"Tahu." jawab Ardi.


"Namanya Kelvin?."

__ADS_1


"Iya." jawab Ardi.


"Apa jangan-janan mereka berdua, janjian bertemu ya mas di rumah sakit?."


"Tidak mungkin, mungkin mereka bertemu tidak sengaja di sana." sangkal Ardi.


"Kalau gak sengaja, gak mungkin pakai peluk-pekukan segala dong." Delisa yang terus memanasi Ardi.


"Pelukan?." Ardi yang seketika terkejut.


"Iya." jawab Delisa.


"Gak mungkin Adira berpelukan dengan laki-laki lain di belakangku, apa lagi bukan muhkrimnya."


"Mas gak percaya sama aku, aku lihat sendiri lo di depan mataku?." Delisa yang terus memanas-manasi Ardi.


Ardi pun seketika terdiam, ia mau percaya tapi tidak mungkin istrinya berbuat seperti itu, apa lagi berpelukan dengan mantan kekasihnya yang sudah lama berpisah, tapi jika tidak percaya Delisa melihat sendiri, karena tadi di rumah sakit bersama Delisa.


Adira pun sudah selesai membuatkan kopi untuk Ardi, dan sudah berjalan kembali ke ruang tamu.


"Tuh tanyakan sendiri pada istri pertamamu, kalau kamu tidak percaya sama aku, hati-hati mas, polosnya seorang istri itu harus di waspadai, apa lagi Adira lagi hamil." Delisa yang berbicara pelan di dekat telinga Ardi lalu berjalan pergi untuk kembali ke kamar. Delisa sedikit menatap sinis pada Adira saat Adira berjalan di depannya. Namun Adira bersikap biasa saja.


"Ini mas kopinya." Adira yang sudah menari secangkir kopi di atas meja.


"Adira." panggil Ardi menatap ke arah Adira.


"Iya mas."


"Mas, mau bicara dengan kamu." Ardi yang sudah menggenggam tangan istrinya untuk masuk ke dalam kamar.


"Bicara apa mas?." tanya Adira yang melihat raut wajah suaminya seketika berubah, yang tadinya bersikap santai sekarang begitu terlihat serius.


Delisa yang masih berjalan menaiki anak tangga terus saja menatap ke arah Ardi dan juga Adira. "Mampus gak lo wanita kampung, siap-siap lo bakal di curigai sama mas Ardi." ucap Delisa pelan. Delisa pun terus menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya. "Setelah mas Ardi masuk ke perangkapanku, giliran mama Erlin." lanjut Delisa dengan senyum kecut.

__ADS_1


__ADS_2