Aku Tidak Mandul Ibu Mertua

Aku Tidak Mandul Ibu Mertua
Garis merah dua


__ADS_3

Ardi sudah mendorong koper kecil ke arah mobil, dengan mama Erlin, Delisa, dan Adira mengantarkannya sampai depan rumah. Ardi sudah berpamitan kepada mama Erlin dan juga Delisa, dan yang terakhir dia berpamitan kepada Adira.


"Sayang, aku berangkat dulu ya?." ucap Ardi sambil mengecup kening istrinya.


"Iya sayang, kamu hati-hati di jalan ya, kabari aku kalau sudah sampai."


"Iya pasti, kamu jaga diri baik-baik di rumah, jangan capek-capek juga." Ardi yang sudah menggenggam kedua tangan istrinya.


"Iya sayang, kamu jangan khawatir."


"Ehem.. udah Ardi, cepat berangkat, ini bisnis penting, nanti kamu bisa terlambat." ucap mama Erlin cukup keras menatap tidak suka kepada Ardi dan Adira.


"Iya-iya ma, sebentar." sahut Ardi sedikit menoleh ke arah mamanya.


"Ya sudah, aku berangkat ya sayang."


"Iya sayang." Adira yang sudah mencium punggung tangan suaminya.


"Asalamualaikum." Ardi yang sudah mengucap salam.


"Waalaikumsalam." jawab Adira.


Mobil Ardi pun sudah keluar dari halaman rumah, di dalam mobil Ardi sudah melambaikan tangannya kepada Adira, dan Adira pun juga sudah melambaikan tangan kepada suaminya yang semakin tidak terlihat mobilnya keluar dari gerbang rumah.


Mama Erlin kembali masuk ke dalam rumah dengan mata sedikit menatap ke arah Adira dengan wajah tak suka. Delisa pun juga masuk ke dalam rumah mengikuti mertuanya.

__ADS_1


"Sok-sok an sakit, padahal sehat." sindir Delisa berjalan di samping Adira.


Adira tidak lagi mengindahkan ucapan Delisa, karena jika berantem dengan Delisa tidak ada habisnya. Adira pun sudah berlari buru-buru masuk ke dalam kamar. Saat tiba di dalam kamar, Adira segera menuju ke toilet karena ia kembali merasa mual. Bik Sumi yang sedang membereskan kamar Adira, yang melihat Adira kembali muntah-muntah segera mendekat.


"Nyonya Adira? apa nyonya mual lagi?." bik Sumi yang sudah memijat leher belakang Adira dengan pelan.


"Iya bik, kenapa ya saya akhir-akhir ini sering mual." jawab Adira sambil membasuh mulutnya dengan air.


"Apa tidak lebih baik nyonya periksakan saja ke dokter, saya takutnya nyonya_."bik Sumi yang sudah memberhentikan ucapannya.


"Takutnya apa bik?." Adira yang menjadi takut dengan ucapan ARTnya.


"Itu nyonya, kadang nyonya Adira kan mual, kadang juga tidak, dan muntah-muntah, itu seperti gejala orang sedang hamil muda nyonya, seperti saya dulu waktu muda saat hamil anak pertama." jelas bik Sumi.


"Gejala hamil muda?." Adira yang sedikit terkejut dengan ucapan bik Sumi.


"Tapi kan saya juga sering masuk angin dan pusing bik, dan setiap saya cek hasilnya nihil." Adira yang merasa kecewa jika mengingat berkali-kali menggunakan tespeck namun hasilnya Negatif.


"Di coba lagi saja nyonya, siapa tau, Allah sudah mengizinkan nyonya menimang seorang bayi." bujuk bik Sumi.


Adira seketika teringat, satu bulan lebih dia tidak datang bulan. Namun Adira tidak mau terlalu senang dan percaya diri dulu, siapa tau memang dia hanya masuk angin biasa karena kecapean dan telat makan.


"Baik bik, nanti biar aku coba cek lagi." ucap Adira yang setuju dengan ucapan bik Sumi.


"Iya nyonya, ya sudah saya keluar dulu, semoga yang di nantikan nyonya dan tuan benar-benar terkabul."

__ADS_1


"Iya bik, amin." jawab Adira sedikit tersenyum.


Bik Sumi pun sudah keluar dari kamar Adira. Adira pun seketika langsung mengambil beberapa tespeck di dalam laci, yang dulu pernah ia beli bersama Ardi. Di atas meja sudah ada tiga macam tespeck yang berbeda-beda, dari harga yang mahal hingga yang murah.


Rencananya Adira akan mencoba semua tespeck tersebut, untuk memastikan bahwa dirinya benar positif hamil atau tidak. Adira segera berjalan lagi ke arah kamar mandi. Tidak lama tiga tespeck pun sudah ia celupkan ke sebuah wadah kecil, lalu tiga benda itu di taro di atas wastafel. Jantung Adira berdebuk sangat kencang, berharap apa yang sudah ia tunggu-tunggu bersama sang suami satu tahun ini akan terkabul.


Dengan mata terus menatap ke arah tespeck, Adira terus berdoa dan memohon kepada Allah, agar mengabulkan doa-doanya, yaitu segera di beri momongan.


"Ya tuhan, di pagi hari ini aku berharap kepadamu, dan meminta kepadamu, kabulkan lah doa-doaku, berikan lah pernikahan kami seorang bayi yang lucu dan menggemaskan." Adira yang terus berdoa sambil menutup kedua matanya.


Setelah berdoa dan menunggu cukup lama, Adira pun sudah membuka matanya secara pelan-pelan, sedikit demi sedikit mata sudah terbuka. Ya Adira melihat tiga tespeck di matanya memperlihatkan garis merah dua semua yang berarti positif.


Seketika mata Adira berkaca-kaca, dengan tangan meraih tespeck di atas wastafel. Adira terus tatap lamat-lamat benda tersebut. Adira benar-benar tidak bisa berkata-kata, seketika air mata sudah jatuh membasahi pipinya. Adira benar-benar merasa terharu masih tidak percaya apa yang di lihatnya.


"Apa garis dua ini berarti positif? apa aku benar-benar positif hamil?." Adira yang menutup mulut dengan telapak tangannya masih tidak percaya.


Adira pun sudah kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa tiga tespeck di tangannya, lalu Adira langsung bersujud syukur di lantai.


"Terimakasih ya tuhan, kau telah mengabul kan doa-doaku." ucap Adira masih saja menitihkan air matanya.


Adira pun begitu bahagia, apa yang dia tunggu selama satu tahun akhirnya terkabul.


"Apa aku harus memberi tahu mas Ardi sekarang bahwa aku positif hamil." ucap Adira. "Ah jangan, mas Ardi baru saja berangkat, nanti kalau dia tau aku hamil, pasti tidak jadi pergi ke luar kota."


Adira akhirnya memutuskan memberi tahu Ardi saat dia kembali pulang dari dinas. "Aku akan memberi tahu mas Ardi saat dia sudah pulang saja, dan tespeck ini akan menjadi hadiah aniversery pernikahan kita yang ke satu tahun." ucap Adira yang mengingat dua hari lagi adalah aniversery pernikahan mereka.

__ADS_1


Adira kembali menyimpan tiga tespeck di dalam laci. "Sayang, sehat terus ya di perut mommy, kita buat suprise besuk buat daddy, atas kehadiranmu di rahim mommy." Adira yang sudah mengusap perut ratanya.


__ADS_2