Aku Tidak Mandul Ibu Mertua

Aku Tidak Mandul Ibu Mertua
Aku baik-baik saja sayang


__ADS_3

Satu bulan pun berlalu, semakin hari semakin lama perut Adira semakin membuncit, dan semakin banyak juga Delisa membenci Adira, hingga satu bulan pun tante Siska dan Delisa belum menemukan cara untuk memisahkan Ardi dengan Adira. Sampe-sampe Delisa sangat geram melihat perlakuan manis mertuanya kepada Adira, apa lagi Ardi begitu sangat perhatian, setiap hari hanya menyempatkan waktu untuk Adira.


Hari ini adalah hari minggu. Mama Erlin memutuskan untuk pergi ke mall mengajak kedua menantunya dan juga anaknya karena Ardi juga libur bekerja. Ini adalah momen yang di tunggu-tunggu Ardi setelah sekian lama, mama dan menantunya saling menyayangi satu sama lain, bahkan Ardi juga bahagia, akhirnya mama Erlin bisa bercanda dengan istrinya.


Mereka ber empat pun sudah masuk ke dalam mobil, mereka akan menuju ke mall besar tanpa di antar oleh supir pribadi. Di jalan Ardi terus saja menggenggam tangan Adira dengan satu tangan fokus melajukan mobilnya, bahkan sesekali Ardi mengusap perut sang istri yang sudah terlihat sedikit menonjol. Delisa yang melihat dua makhluk saling bermesra-mesran begitu sangat mual, semakin benci Delisa menatap ke arah Adira.


"Seharusnya aku yang duduk di samping mas Ardi, bukan wanita kampungan itu." ucap Delisa di dalam hati.


Dan akhirnya mereka berdua pun sudah tiba di sebuah mall, dengan sangat hati-hati mama Erlin lebih dulu turun dari mobil untuk membantu Adira membukakan pintu mobil. "Ayo Adira." ucap mama Erlin sambil mengulurkan tangannya.


"What buka mobil aja, pake di bukain segala?." Delisa yang menatap ke arah mertuanya dan juga Adira.


"Seharusnya mama gak perlu repot-repot bantu Adira, Adira bisa sendiri ma."


"Tidak apa-apa." jawab mama Erlin.


Saat mama Erlin dan Adira sudah berjalan lebih dulu, kini kesempatan Delisa untuk berjalan dengan Ardi di belakang. "Mas." Delisa yang sudah melingkarkan tangannya di tangan Ardi.


"Hem." jawab Ardi lalu melepaskan tangannya dari tangan Delisa.


Mereka berdua pun sudah jalan beriringan, untuk mengikuti mama Erlin dan juga Adira.


"Mas kapan kita akan program hamil? udah hampir dua bulan lo kita menikah?." tanya Delisa.


"Untuk apa kita melakukan program hamil?." Ardi yang menatap malas kepada Delisa.


"Ya kan aku pingin cepat punya momongan."


"Ya kan gak perlu program hamil juga Delisa, kita juga baru menikah selama dua bulan, bahkan setiap kamu minta malam hari aku selalu memberikannya."


"Tapi tetap aja mas." rengek Delisa.


"Sudah lah, jangan mulai menyebalkan." Ardi yang begitu malas mendengar rengekan Delisa karena itu membuat kuping nya merasa sakit.

__ADS_1


Delisa yang mendengar ucapan Ardi seketika semakin kesal, namun ia terus bermanja-manja di tangan ber otot milik suaminya. Delisa sengaja tidak memberikan celah untuk Adira bersama Ardi, walaupun Ardi selalu menarik tangannya dan sedikit menjauh dari Delisa.


Saat mama Erlin dan Adira sedang memilih-milih beberapa pakaian ibu hamil, tiba-tiba Delisa menarik tangan Ardi untuk menjauh dari mereka berdua.


"Ayo mas, kita pilih-pilih baju di sana."


"Engga Delisa, mama dan Adira aja di sini." tolak Ardi.


"Iya.. kita gak akan jauh kok, cuman di sana." Delisa yang terus menarik tangan Ardi hingga Ardi pun menurut juga.


Dengan malas Ardi menemani Delisa memilih beberapa pakaian, yang tempatnya tidak jauh dari tempat mama Erlin dan Adira memilih baju. Tempat mereka hanya bersebrangan. Delisa sudah mengambil beberapa pakaian dan menunjukan kepada Ardi apakah itu cocok untuknya, namun Ardi hanya membalas dengan kata-kata, iya, hem, itu saja, hanya itu yang Ardi ucapan tanpa menoleh ke arah baju yang di perlihatkan Delisa kepadanya, tatapan Ardi terus saja menatap ke arah Adira yang juga sedang memilih beberapa pakaian.


Sedangkan Adira pun sudah menemukan dres yang bagus khusus ibu hamil, dan sudah mengambilnya dan mencoba untuk di tunjukan ke arah suaminya.


"Mas, ini bagus kan?." tanya Adira menoleh ke belakang untuk mencari keberadaan Ardi, namun ternyata Ardi tidak ada. Seketika Adira langsung melihat di toko di depannya melihat suaminya sedang bersama Delisa. Adira terus menatap suaminya yang berdiri tidak jauh dari nya, dan begitupun Ardi terus menatap ke arah istri pertamanya.


"Itu bagus sayang, itu aja." ucap Ardi begitu lirih sambil mengacungkan jempol, mengisyaratkan bahwa dia suka dengan baju yang di pilih Adira.


Adira pun langsung paham apa yang di maskut suaminya, Adira pun seketika tersenyum kepada Ardi, walaupun mereka berbeda tempat namun Ardi selalu memperhatikan dirinya.


"Tidak.. cepat pilih lah bajumu, dari tadi hanya di coba-coba saja tanpa di beli." grutu Ardi tanpa menatap ke arah Delisa.


"Ya mas dari tadi bilang semuanya bagus dan cocok untukku, lalu aku bingung harus pilih yang mana."


"Pilih yang menurutmu bagus saja, jangan menurutku, selera kita berbeda, kamu wanita dan aku peria." jawab Ardi begitu sangat ketus.


Delisa yang mendengar ucapan Ardi semakin merasa kesal. Padahal Delisa paham dari tadi Ardi hanya menatap ke arah Adira tanpa mengindahkannya. Delisa pun menjadi tidak mood untuk belanja.


Adira terus memilih-milih beberapa pakaian begitu pun dengan mama Erlin, namun saat Adira ingin menunjukan baju selanjutnya kepada Ardi, tiba-tiba ada seorang laki-laki menabrak tubuh Adira begitu saja dari arah dalam toko.


"Bruakk!." seketika Adira terjatuh di lantai.


"Auuuu." teriak Adira yang sudah duduk di atas lantai, dengan satu tangan menjadi tumpuannya.

__ADS_1


"Maaf mbak, maaf, saya buru-buru karena istri saya mau melahirkan." ucap laki-laki yang menabrak Adira dan mencoba untuk menolongnya.


Ardi yang melihat Adira jatuh pun segera berlari untuk menghampirinya, begitu pun dengan mama Erlin, mereka menjadi panik mendengar teriakan Adira.


"Adira?." Ardi yang berlari untuk mendekat ke arah istrinya.


Mama Erlin pun juga sudah berjalan cepat mendekat pada menantunya.


"Sayang, apa kamu tidak apa-apa?." Ardi yang begitu khawatir menatap wajah Adira.


"Aku baik-baik saja mas." jawab Adira yang sudah beranjak berdiri.


"Mas ini bagaimana, jalan itu liat-liat dong, apa gak lihat orang sebesar ini!." Ardi yang sudah marah-marah.


"Maaf mas, saya tidak sengaja, karena saya buru-buru, istri saya mau melahirkan di rumah." sahut laki-laki tersebut.


"Ehh.. kalau istri mau melahirkan tu makannya jangan di tinggal ngelayap, istri udah bunting gede, di tinggal-tinggal, ini kan hasilnya merugikan orang lain, bagaimana kalau menatu saya terluka, dia juga sedang hamil muda, kamu mau tanggung jawab jika kehamilannya kenapa-kenapa?." mama Erlin yang terus mencerotos.


"Maaf nyonya, sekali lagi saya minta maaf."


"Sudah-sudah mas, ma, Adira baik-baik saja kok, mas ini kan bilang gak sengaja dan juga sudah minta maaf juga, mungkin dia juga sangat panik."


"Udah sana pergi, dari pada gua gampar lo di sini." ucap Ardi.


"Teimakasih mas." dan laki-laki itu pun kembali berlari secepat mungkin.


"Kamu benar gak kenapa-kenapa sayang?." tanya Ardi yang masih belum yakin.


"Aku baik-baik saja sayang, kamu tidak perlu khawatir."


"Kita harus kerumah sakit, mama takut Adira kenapa-kenapa." sahut mama Erlin.


"Tidak usah ma." tolak Adira.

__ADS_1


"Jangan ngeyel sayang." sahut Ardi.


__ADS_2