Aku Tidak Mandul Ibu Mertua

Aku Tidak Mandul Ibu Mertua
Sindiran papa mertua


__ADS_3

Tidak terasa hari sudah malam, setelah tadi mengikuti acara arisan bersama teman-temanya, Delisa baru saja sampai rumah, saat Delisa masuk ke dalam rumah, ibu mertua dan ayah mertua pun sedang santai di ruang keluarga.


Tatapan tuan Malio terhadap Delisa sedikit sinis, berbeda dengan mama Erlin yang terlihat santai tanpa ada benci sedikit pun.


Mama Erlin yang melihat ke hadiran menantunya pun langsung mendekat. "Loh kamu gak pergi sama Ardi?." tanya mama Erlin.


"Engga ma, katanya tadi mas Ardi ada pekerjaan mendadak." jawab Delisa.


"Ahh.. begitu rupanya."


"Statusmu sekarang kan sudah menjadi istri, dan menantu kita, cobalah habiskan waktumu untuk keluarga, dan melayani suami, contohnya memasak, atau bersih-bersih rumah, bukan hanya main ke sana, ke sini tidak jelas, malu di lihat sama tetangga." sahut tuan Malio.


"Papa ini ngomong apa sih?." mama Erlin yang menoleh ke arah suaminya.


"Tugas istri itu melayani suami ma, buat apa di jadikan istri jika tidak bisa melayani suami, saat Adira di sini Adira tidak pernah keluar rumah sampai selarut ini."


"Jangan bicarakan wanita murahan itu lagi pa."


"Terserah mama saja, suatu saat mama juga tau, pilihan mama itu benar atau salah." ucap tuan Malio, tanpa menoleh ke arah istrinya.


"Sudah sayang, jangan dengerin ucapan papa, mandilah, habis ini kita makan malam bersama, sambil menunggu suamimu pulang." mama Erlin yang mengusap rambut lurus Delisa.


"Iya maa.."


Delisa pun berjalan meninggalkan mertuanya, saat masuk ke dalam kamar, Delisa seketika langsung menutup pintu kamar dengan kasar.

__ADS_1


"Tua bangka itu benar-benar kurang ajar, beraninya dia menyamakanku dengan Adira, ya kita jelas sangat beda, bagaikan langit dan bumi."


Delisa begitu kesal dengan perkataan ayah mertuanya, setelah membersihkan diri, Delisa pun segera turun untuk makan malam bersama kedua mertuanya, sebenarnya Delisa malas, lebih baik di makan di luar saja, dari pada harus makan bersama kedua mertuanya yang super cerewet, dan menyebalkan, terutama ayah mertuanya itu.


Dengan pelan Delisa menuruni anak tangga menuju ke meja makan, di sana Delisa bisa melihat sudah ada mama Erlin dan tuan Malio, namun Delisa tidak melihat kehadiran Ardi.


"Apa mas Ardi belum pulang juga?." ucap Delisa pelan.


Semua makanan pun sudah tertata rapi di atas meja makan, Delisa pun sudah duduk di samping mama Erlin, sambil menikmati makan malamnya.


"Apa mas Ardi belum pulang juga ma?." tanya Delisa.


"Belum, mungkin Ardi sibuk, tadi mama telfon juga tidak di angkat, padahal tidak biasanya Ardi seperti ini, jarang di rumah, jarang makan di rumah, sesibuk apapun pasti dia pulang." mama Erlin yang merasa bahwa anaknya berubah.


"Bagaimana Ardi mau betah di rumah, istrinya saja jarang di rumah, gak pernah melayani kebutuhan suami, gak pernah masak, taunya cuman dunia luar saja, papa sebagai suami pasti jiga tidak mau, mending jajan di luar." sindir tuan Malio.


"Husst, papa ini bicara apa sih, buktinya Ardi sama Delisa kan baik-baik saja, iya kan Delisa?." tanya mama Erlin.


"Iya ma, tadi pagi sebelum mas Ardi pergi, juga pamit dulu sama aku." ucap Delisa.


"Tuh papa dengerin, kalau papa seperti itu, itu namanya papa se uzon sama anak dan menantu papa sendiri."


Saat mama Erlin dan tuan Malio sedang berdebat tiba-tiba ponsel Delisa berbunyi di sampingnya. Ternyata itu telfon dari Axcel kekasih Delisa.


"Sebentar ya ma, pa, Delisa angkat telefon dulu, ini penting soalnya." ucap Delisa yang sudah beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Iya sayang." jawab mama Erlin.


Delisa pun sedikit menjauh dari mertuanya, dan melirihkan suaranya.


"Lihat lah ma, apa mama tidak merasa curiga dengan menantu kesayangan mama itu, dari semua perilaku dia, dia menunjukan bahwa bukan wanita yang baik." ucap tuan Malio.


"Kenapa sih papa ini selalu berfikir jelek terhadap Delisa, maklum saja lah pa kalau Delisa itu sering ke luar rumah, secara Delisa adalah wanita karir, model papan atas, banyak yang mengenalnya, dan meminta kerja sama dengannya, beda halnya dengan Adira yang hanya wanita pengangguran, tidak punya teman, ya pantas saja lah di rumah terus, pekerjaannya hanya memasak, nyapu dan ngepel."


"Bukankah dulu Adira juga wanita karir, bekerja di bank, Adira berhenti bekerja juga karena keinginan anak kita ma, karena Ardi ingin Adira di rumah memenuhi semua kebutuhannya, dan mama juga setuju dengan hal itu, lalu kenapa sekarang mama merendahkannya, bukankah mama sendiri yang bilang kalau ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang paling mulia."


"Kenapa papa jadi menyalahkan mama?."


"Papa tidak menyalahkan mama, tapi seharusnya mama itu sadar, bahwa apa yang mama lakukan kepada Adira adalah salah."


"Salah bagaimana? apa semua kurang jelas dengan bukti-bukti waktu Adira belanja bersama Delisa di mall, Adira bertemu dengan mantannya, dan hamil dengan laki-laki lain."


"Foto itu belum tentu benar ma, apakah ada bukti yang lainnya, bagaimana kalau bayi yang di kandung Adira itu adalah anak Ardi, apa mama tidak akan menyesal, banyak tuduhan yang mama lontarkan kepada Adira, dari dia mandul lah, itu lah, tapi tidak terbukti, kenyataanya Adira bisa hamil."


"Bela terus saja itu wanita murahan." mama Erlin yang seketika juga tidak nafsu makan.


"Dari dulu mama itu tidak pernah berubah, selalu meninggikan ego, dan kemauan diri sendiri, lihat lah sampai-sampai anak kita sekarang jarang di rumah, jarang makan di rumah, jarang tidur di rumah, karena apa, karena itu ulah mama."


"Salah kan saja terus mama pa, salah kan saja terus, mama muak dengan celoteh papa!." teriak mama Erlin lalu beranjak pergi meninggalkan tuan Malio begitu saja.


"Mama." panggil tuan Malio.

__ADS_1


"Terserah!." sahut mama Erlin yang terus berjalan pergi dari meja makan.


Delisa yang dari jauh, menyaksikan perdebatan kedua mertuanya, seketika tersenyum bahagia. "Akan ku buat keluarga ini hancur, hingga aku bisa menguasai harta keluarga mahesa." ucap Delisa dengan senyum kecutnya.


__ADS_2