Aku Tidak Mandul Ibu Mertua

Aku Tidak Mandul Ibu Mertua
Aku akan tetap menjagamu


__ADS_3

Adira terus di bawa oleh pak Burhan. Sedangkan Alif membawa koper dan tas milik Adira, mereka terus berjalan menuju ke gerbang pintu keluar.


"Lepaskan Ardi ma." Ardi yang terus memohon kepada sang mama.


"Kalau kamu mau mengejar wanita murahan itu, mama akan berlari ke atas, dan kamu akan melihat mayat mama di depan sini." mama Erlin yang menunjuk ke halaman rumah.


"Kenapa mama selalu mengancam Ardi seperti itu, kenapa mama selalu egois?."


"Karena kamu susah untuk di kendalikan." teriak mama Erlin.


"Mama yang tidak pernah faham akan isi hati Ardi dan kebahagian Ardi."


"Sekarang kamu pilih mama atau wanita itu?."


"Mana mungkin Ardi bisa memilih di antara mama dan juga Adira."


"Kamu pilih mama, atau wanita itu?." tanya mama Erlin lagi dengan tegas.


Ardi pun seketika terdiam, ia menunduk, dia bingung dengan kejadian semua ini, kenapa kejadian ini tiba-tiba bisa terjadi. Bahkan dirinya berat harus memilih di antara wanita yang sama-sama berharga di hidupnya.


"Kalau kamu pilih wanita itu, kejarlah, tapi jangan pernah kembali ke rumah ini, dan jangan pernah kamu anggap mama sebagai mamamu, dan tinggalkan perusahaan, mulai sekarang kamu bukan anak mama lagi." mama Erlin yang sudah berjalan akan masuk ke dalam rumah, namun di cegah oleh Ardi.


"Ma.. baiklah, Ardi turuti kemauan mama, tapi izinkan Ardi untuk mengantarkan Adira pulang dulu ke rumahnya malam ini, bagaimana pun Adira masih istri Ardi." ucap Ardi sambil menarik tangan mamanya.

__ADS_1


"Jangan lama-lama." ucap mama Erlin yang mengizinkan Ardi untuk mengantarkan Adira. "Malam ini adalah hari terkahir kamu bertemu dengan Adira, mama akan transfer uang sebesar 2 M untuk bayi di dalam kandungan Adira, terserah Adira mau gugur kan kandungan itu atau di pertahankan, aku sudah tidak perduli, dan jika bayi itu lahir, kamu harus segera menceraikan Adira."


Ardi yang mendengar ucapan mamanya seketika merasa sakit hati. Ardi begitu marah dengan Kelvin, jika saja tidak ada foto tersebut, mungkin keluarga dan rumah tangganya baik-baik saja.


Ardi tidak lagi menjawab ucapan mama Erlin, ia langsung berlari untuk mengejar Adira. "Lepaskan istriku, atau leher kalian akan ku patahkan detik ini juga!." teriak Ardi yang berjalan mendekat ke arah Adira, pak Burhan, dan Alif.


Pak Burhan dan Alif sudah memberhentikan langkahnya dan langsung melepaskan tangan Adira. Pak Burhan dan Alif begitu takut dengan ancam Ardi, karena Ardi jago silat, selalu mendapatkan juara satu di tingkat Nasional. Pak Burhan dan Alif pun langsung berjalan mundur menjauh dari mereka berdua.


"Mas Ardi." Adira yang langsung memeluk tubuh suaminya, sambil menangis.


"Kamu tenang ya, aku akan mengantarkan mu pulang ke rumah ibu Rosita." Ardi yang mengusap pundak istrinya.


"Apa mama Erlin benar-benar mengusirku mas?." tanya Adira.


Tidak lama mobil pun sudah tiba di gerbang, Ardi sudah membukakan pintu mobil untuk Adira, dan Adira pun sudah masuk ke dalam mobil, dan di susul oleh Ardi.


"Maafkan kami berdua nyonya Adira, tadi kami tidak mempunyai pilihan lain." ucap pak Burhan kala berdiri di dekat mobil.


"Tidak apa-apa pak, saya pamit pergi dulu ya." ucap Adira.


"Iya nyonya, hati-hati dan selalu jaga kesehatan." sahut pak Burhan, dan dua security pun langsung menundukan kepalanya.


Sebenarnya pak Burhan dan Alif tidak tau apa masalah keluarga majikannya, hingga mama Erlin mengusir menantunya dari rumah besar tersebut.

__ADS_1


Mobil pun sudah melaju meninggalkan kediaman mama Erlin, malam ini Adira akan pulang ke rumah orang tuanya, yang jaraknya tidak terlalu jauh, di perjalanan Ardi terus menggenggam jemari istrinya, untuk meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Tidak lama mereka berdua pun sudah tiba di depan rumah yang begitu sangat sederhana, namun terlihat sangat nyaman.


Ardi sudah turun lebih dulu dari Adira, dan tidak lama Adira pun juga turun dari mobil. Sebelum Ardi dan Adira masuk ke dalam rumah, Ardi masih berdiri di depan istrinya. "Sayang." Ardi yang menyentuh kedua pundak Adira.


Mereka berdua saling bertatapan, tatapan yang bermakna saling menyayangi dan mengasihi. "Dengarkan aku, walaupun mama mengusirmu dari rumah, aku tidak akan pernah berubah sayang, aku akan tetap mencintaimu, dan akan selalu menjagamu."


"Apa mas tidak marah kepadaku, lalu akan menceraikanku?."


Ardi pun langsung mengusap rambut istrinya. "Aku tidak marah sayang, aku percaya kamu tidak akan pernah selingkuh, dan pasti ada seseorang yang menjebakmu, dan aku juga tidak akan pernah menceraikan mu."


"Jagalah anak kita dengan baik, hingga anak kita lahir nanti, walaupun kita berpisah, aku akan tetap datang ke sini untuk menemui mu dan menemui anak kita, kamu jangan khawatir." ucap Ardi lagi.


"Maaf kan aku sayang, gara-gara aku, rumah tangga kita menjadi seperti ini." Adira yang langsung memeluk tubuh suaminya, dan kembali menitihkan air matanya.


"Tidak, ini tidak salahmu, pasti ada dalang di sebalik kejadian ini, dan aku akan segera mencari tahu, siapa yang berani mengusik dan merusak rumah tangga kita, awas saja jika orang itu sudah ketangkap olehku!." Ardi yang begitu terlihat sangat marah.


Adira semakin memeluk erat tubuh suaminya. "Aku mencintaimu mas." ucap Adira. "Dan makasih sudah mempercayai ku, dan tetap menerima ku."


"Iya sayang, aku juga mencintaimu, dan kamu jangan pergi ke mana-mana ya, aku takut ada seseorang yang akan men celakaimu, karena aku tidak akan mungkin setiap hari datang ke sini, mama Erlin pasti akan curiga." jelas Ardi.


"Iya sayang, aku akan menjaga diriku dan anak kita dengan baik." ucap Adira.


Adira pun sudah melepas pelukannya, kala pintu rumah terbuka, di ambang pintu sudah ada ibu Rosita, yaitu mama Adira yang juga mertua Ardi. Ardi dan Adira pun sudah berjalan untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Adira.. Ardi..." teriak ibu Rosita.


__ADS_2