Aku Tidak Mandul Ibu Mertua

Aku Tidak Mandul Ibu Mertua
Jus Orange


__ADS_3

Siang pun telah berganti malam. Delisa sedang duduk santai di ruang tamu dengan kaki di angkat di atas meja dan kutek berwarna merah menyala ia balutkan di kuku-kuku cantiknya dengan pelan, sambil menyanyikan lagu kesukaannya yaitu lagu korea.


"Du.. du..du..." Delisa yang terus berdendang sambil meniup kutek-kutek di kuku tangan yang belum sepenuhnya mengering.


Tidak lama datanglah bik Sumi dengan membawa sebuah jus orange dan beberapa cemilan, bik Sumi berjalan sambil mendekat ke arah majikannya.


"Ini nona Delisa jus dan cemilannya." ucap bik Sumi sambil meletakkan jus dan cemilan di atas meja.


Namun saat bik Sumi baru saja meletakkan jus di atas meja, Delisa tidak sengaja menumpahkannya dengan kakinya yang sedang di taro di atas meja.


"Aaaa, kakiku! kamu ini gimana sih, bisa kerja ngga!." Delisa yang langsung mengangkat kakinya sambil menatap ke arah bik Sumi.


"Ahh.. maaf non, habisnya kaki non Delisa di atas meja."


"Jadi kamu menyalahkan saya?." Delisa yang tiba-tiba langsung beranjak dari tempat duduknya."Lihat-lihat, kutek ku hilang karena terguyur jus itu, dasar bodoh!." maki Delisa.


"Maafkan saya non, saya akan membersihkannya." bik Sumi yang langsung menarik beberapa sebuah tisu di atas meja, lalu berjongkok untuk membersihkan kaki Delisa yang basah karena jus.


"Ahh.. jangan menyentuh ku, aku tidak sudi di sentuh oleh tangan bau dan kotormu itu!." Delisa yang langsung mendorong bik Sumi hingga tubuhnya terhuyung kebelakang.


"Astaghfirullah." ucap bik Sumi pelan.


Delisa yang semakin kesal pun langsung mengambil sisa-sisa tumpahan jus yang masih di dalam gelas. "Nihhh minum!." Delisa dengan pelan mengguyurkan jus orange di atas kepala bik Sumi.


"Non jangan.. astaghfirullah..." ucap bik sumi sambil menutup wajahnya.


"Gimana, enak kan rasanya ketumpahan jus?."


"Delisa..!." teriak Ardi dari arah pintu depan.


Delisa yang melihat kehadiran Ardi pun seketika terkejut. "Mas Ardi?." Delisa yang menatap lekat-lekat wajah sang suami.


Ardi pun berjalan dengan sedikit cepat mendekat ke arah Delisa dan bik Sumi.

__ADS_1


"Bik Sumi?." Ardi yang mencoba untuk membantu bik Sumi untuk berdiri. "Bibik tidak apa-apa?." tanya Ardi.


"Tidak apa-apa tuan." jawab bik Sumi dengan menangis sambil mengusap jus yang sudah tumpah di wajahnya.


"Kamu benar-benar keterlaluan Delisa, apa kamu tidak tau etika dan sopan santun, bik Sumi itu orang tua!."


"Sudah tuan, jangan marah dengan nona Delisa, saya yang salah." bik Sumi yang tidak mau melihat dua majikannya bertengkar.


"Tidak bik, Delisa sudah keterlaluan."


"Tapi bik Sumi dulu yang salah mas." Delisa yang mencoba untuk membela diri. "bik Sumi gak pecus naro jus di atas meja, sampai-sampai menumpahi kakiku."


"Kalau kamu tidak menaro kakimu di atas meja, jus itu tidak akan tumpah!." sahut Ardi.


"Kamu tahu, kaki itu tempatnya di bawah, bukan di atas!, bagaimana bisa kamu menyalahkan orang lain, padahal itu karena kesalahanmu sendiri!." lanjut Ardi terus menerka-nerka di depan Delisa.


"Kenapa mas membela bik Sumi, aku ini istri mas?."


"Mau istri, ibu, atau anak, kalau salah tetap salah, kamu itu lebih muda dari bik Sumi, seharusnya kamu bisa sopan dengan orang tua, bagaimana rasanya kalau orang tuamu di perlakukan seperti yang kamu lakukan tadi kepada bik Sumi, apakah hatimu tidak terluka?."


"Kalau kamu ingin di hargai orang lain, hargai lah orang lain dan orang-orang di sekitarmu, maunya di hargai, tapi kalau gak bisa menghargai, jangan harap orang lain bisa menghargaimu."


"Kenapa mas jadi berbicara panjang kali lebar?." Delisa yang lama-lama muak dengan celotehan Ardi.


"Percuma kamu berilmu, tapi tidak punya sopan santun!, seperti tong kosong berbunyi nyaring!." sahut Ardi dengan tegas.


"Ayo bik kita pergi, percuma kita berbicara dengan orang yang sama sekali kosong pikirannya, buang-buang tenaga aja!." Ardi yang siap berjalan sambil menyentuh lengan bik Sumi.


"Mas.. ini bukan sepenuhnya salah aku." Delisa yang menarik tangan Ardi.


"Lepaskan, aku tidak sudi di sentuh oleh tangan kasarmu itu!." Ardi yang langsung mengibaskan tangannya untuk bisa lepas dari genggaman Delisa.


Ardi pun berjalan menuju ke belakang untuk mengantarkan bik Sumi menuju ke kamarnya. Sedangkan Delisa terus menatap ke arah Ardi.

__ADS_1


"Kurang ajar, bagaimana bisa aku ketawan bersikap kasar di depan mas Ardi, dan tidak biasanya mas Ardi marah-marah seperti ini, apa terjadi sesuatu, ah entahlah mungkin mas Ardi sedang capek?." ucap Delisa pelan.


Setelah mengantarkan bik Sumi ke kamarnya, Ardi pun kembali menuju ke kamarnya sendiri untuk membersihkan diri, namun saat baru membuka pintu kamar, Ardi sudah melihat Delisa sedang duduk di tepi ranjang tempat tidur.


"Mau apa kamu di sini, keluarlah, aku sudah tidak mau berdebat, percuma saja, kamu tidak akan paham dengan ucapan-ucapan ku tadi."


"Maksut mas aku bodoh?." tanya Delisa.


"Lalu apa kalau bukan stupid, kalau orang yang cerdas dia akan tau pentingnya etika dan sopan santun."


"Kan tadi aku sudah bilang, kalau itu bukan sepenuhnya kesalahanku."


"Sudah keluarlah, aku sedang capek." Ardi yang berjalan untuk masuk ke dalam toilet, namun di cegah oleh Delisa.


"Aku pijitin ya, biar capeknya hilang." peluk Delisa dari belakang.


"Minggir Delisa, aku sedang malas di ganggu." Ardi yang mencoba melepaskan pelukan dari Delisa.


"Nggak mau." tolak Delisa.


"Lepaskan!."


"Mas ini kenapa? cuman kesalahan seperti itu, sampai marah."


"Keluarlah dari kamarku, aku ingin mandi."


"Kita mandi berdua ya." ucap Delisa sambil mengeringkan mata kanannya.


"Tidak, ayo keluar..." Ardi yang menarik tangan Delisa untuk keluar dari kamar.


"Aku mau tidur sama mas malam ini." rengek Delisa.


"Tidak, tidurlah di kamarmu sendiri!."

__ADS_1


"Brakkkkk!!." Ardi yang langsung menutup pintu kamar dengan kencang.


"Amit-amit aku tidur sama mak lampir penipu kaya dia." ucap Ardi sambil masuk ke dalam toilet.


__ADS_2