Aku Tidak Mandul Ibu Mertua

Aku Tidak Mandul Ibu Mertua
Tragedi minyak goreng


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 23:00 WIB. Adira baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur, setelah membersihkan kamar dan menata barang-barang di kamar barunya. Sebenarnya Adira sangat sedih harus pindah kamar, bukan karena kamarnya sempit dan kotor, tapi karena harus meninggalkan kamarnya bersama Ardi selama satu tahun ini.


Adira sudah memejamkan matanya menghadap ke tembok, namun tak kunjung tidur, dia terus memikirkan dan membayangkan bagaimana suaminya akan menyentuh tubuh Delisa, seperti apa mereka akan bercinta, dan bagaimana suaminya mencium Delisa, apakah dengan cara lembut? seperti saat menciumnya?. Fikiran Adira terus berkelana ke mana-mana, rasa hatinya campur aduk, begitu cemburu membayangkan Ardi bercumbu dengan Delisa malam ini.


Adira mencoba untuk memaksakan tidur, dan alhasil akhirnya dia sudah terlelap dalam tidurnya. Namun belum lama memejam, tiba-tiba Adira merasa ada yang tidur di sebelahnya, dan merasa ada yang memeluk tubuhnya dari belakang. Adira pun seketika langsung membalikkan tubuhnya dan menyalakan lampu kamar.


"Sayang?." Adira yang terkejut dengan kehadiran Ardi di sampingnya.


"Sutss." Ardi yang memberi isyarat agar jangan berisik.


"Kamu ngapain ke sini? bukannya malam ini kamu harus tidur dengan Delisa?." ucap Adira secara lirih.


"Aku tidak mau tidur dengannya." jawab Ardi yang juga dengan suara lirih.


"Kenapa? nanti kamu dosa lo."


"Lebih baik aku dapat dosa, dari pada tidur sama nenek lampir kaya dia." ucap Ardi sedikit tersenyum.


Adira yang mendengar ucapan suaminya juga tersenyum. Malam ini Adira sengaja tidak mengunci pintu kamarnya, karena firasat nya mengatakan bahwa Ardi akan menyusulnya.


"Lalu apa Delisa tidak tau kalau kamu di sini?." tanya Adira terus menatap wajah laki-laki di depannya.


"Tidak.. tadi dia selalu mencoba mengajak dan menggoda ku untuk bercinta, tapi aku beralasan sedang sibuk mengerjakan pekerjaan kantor." jawab Ardi.


"Hihh.. kasihan tau sayang."


"Biarin, aku belum siap melaksanakan kewajibanku sebagai suaminya."


"Iya aku tau..." sahut Adira.


"Sudah ayo tidur, sudah malam." Ardi yang sudah memejamkan matanya.


"Tapi bagaimana kalau mama tau kamu tidur di sini?." Adira yang cemas akan mertunya, bisa-bisa dia kena semprot karena Ardi tidur bersamanya bukan bersama Delisa.


"Memang kenapa? kamu kan juga istriku, memang aku tidak boleh tidur dengan istriku."

__ADS_1


"Bukan begitu, tapi kan ini malam pertamamu dengan Delisa sayang."


"Sudah jangan di bahas, ayo cepat tidur, yang penting aku malam ini tidur bersamamu." Ardi yang sudah mengecup kening istrinya.


Adira pun hanya mengangguk, dan sudah menenggelamkan wajahnya di dalam dada suaminya. Adira begitu sangat nyaman di pelukan Ardi, hingga dia pun tidak terasa sudah tertidur dengan pulas.


*****


Pagi hari yang begitu cerah, matahari sudah memancarkan sinarnya cukup sempurna, seperti biasa kegiatan Adira di pagi hari yaitu menyiapkan sarapan untuk suami dan juga mertunya. Adira sudah menyibukkan diri dengan bik Sumi di dapur. Bib apron pun sudah terpasang sempurna di tubuh Adira. Dengan cekatan Adira memasak nasi goreng di padukan ayam goreng dan juga telur goreng.


Saat Adira masih sibuk menyiapkan beberapa bahan dan rempah-rempah, tiba-tiba Delisa datang menghampirinya.


"Masak apa kalian?." tanya Delisa yang berdiri tidak jauh dari Adira.


"Masak nasi goreng dan ayam goreng non." jawab bik Sumi.


"Emnga kamu bisa masak Adira?." tanya Delisa sedikit mengejek.


"Nyonya Adira sangat pintar memasak non, bahkan masakan yang dia buat selalu enak, tuan muda sangat suka dengan masakan nyonya Adira." jawab bik Sumi.


"Iya non, maaf." ucap bik Sumi sedikit menunduk.


"Aku yang harus menyiapkan sarapan untuk Ardi, agar Ardi kagum dan semakin cinta padaku." ucap Delisa di dalam hati.


"Minggir.. biar aku saja yang goreng daging ayamnya, pasti masakanku lebih enak dari masakanmu." Delisa yang sudah mendorong tubuh Adira agar menyingkir dari depan kompor.


Delisa pun sudah memakai Bib apron seperti Adira, lalu sudah berdiri di depan kompor, bersiap untuk memasukan daging ayam ke dalam wajan.


"Itu minyaknya sudah panas mbak, mbak bisa masukin dagingnya sekarang." ucap Adira yang melihat minyak sudah muncul sedikit asap.


"Iya aku tau, gak usah sok ngajarin deh!." sahut Delisa.


Delisa pun sudah mengambil beberapa potongan daging Ayam lalu di masukan ke dalam wajan, namun seketika minyak panas muncrat keluar begitu saja dari wajan penggorengan, karena Delisa memasukan daging Ayam dengan cara di lempar, langsung saja mengenai wajah Delisa.


"Aaa.. panas-panas.. aduh wajahku sakit!." teriak Delisa menutup wajahnya sedikit berjalan mundur.

__ADS_1


Adira yang melihat wajan semakin berkeluar asap, langsung saja mematikan kompor. Dan menjauhkan tubuh Delisa dari kompor.


"Mbak Delisa kamu tidak apa-apa? tanya Adira yang menyentuh tubuh Delisa.


"Ihh.. jangan sentuh tubuhku!." Delisa yang kembali mendorong tubuh Adira. "Aduh wajahku panas, wajah glowingku bisa rusak ini!." Delisa yang mengibas-ngibaskan tangan di wajahnya agar tidak semakin panas.


"Nona Delisa, lebih baik nona segera obati wajah nona."ucap bik Sumi yang melihat wajah Delisa memerah karena cipratan minyak panas.


"Ini gara-gara Ayam goreng sialan!." umpat Delisa.


Mama Erlin dan juga Ardi yang mendengar teriakan Delisa pun langsung berlari menuju ke dapur. "Ada apa ini? kenapa pagi-pagi sudah ada keributan?." tanya mama Erlin.


"Ada apa Adira? bik Sumi?." tanya Ardi.


"Ini mas, Delisa kena minyak panas saat memasukan Ayam ke wajan." jawab Adira.


"Hemtsssss." Ardi yang menahan tawa langsung menutup mulutnya.


"Kenapa kamu malah ketawa mas, lihatlah wajahku rusak?." rengek Delisa.


"Mama." Delisa yang berlari mendekat ke arah mama Erlin.


"Bagaimana bisa wajahmu kena minyak goreng?." tanya mama Erlin pada Delisa.


"Itu karena dia gak pinter masak ma." celetuk Ardi.


"Ardi!." ucap mama Erlin menatap tajam pada anaknya.


"Sudah ayo mama obati di kamar, dan kalian lanjutkan masaknya." mama Erlin yang sudah menunjuk bik Sumi dan Adira lalu membawa Delisa pergi dari dapur.


"Hahaha, minyak goreng aja gak mau sama dia." ucap Ardi yang terus tertawa.


"Mas, gak boleh gitu, orang kena musibah malah di ketawain." Adira yang sedikit memukul tubuh suaminya.


"Itu balasan untuk orang resek sayang." Ardi yang menatap wajah istrinya.

__ADS_1


__ADS_2