Aku Tidak Mandul Ibu Mertua

Aku Tidak Mandul Ibu Mertua
Bibit unggul premium


__ADS_3

Ardi dan Adira pun sudah keluar dari ruang dokter kandungan, dan mereka berdua sudah berjalan menuju ke parkiran mobil, di sepanjang jalan, Ardi dan Adira begitu sangat bahagia, mereka berdua saling bergandengan tangan, dengan sesekali Ardi mencium tangan sang istri. Bahkan banyak orang yang melihat ke arah mereka, karena mereka begitu terlihat bahagia dan selalu tertawa.


"Sayang, aku tidak menyangka kita akan di karunia dua anak sekaligus." ucap Ardi menatap istrinya.


"Sama mas, penantian kita cukup lama dan akhirnya di beri dua baby sekaligus." sahut Adira dengan wajah begitu bahagia.


"Sehat-sehat ya baby twins mommy dan daddy." Ardi yang mengusap perut istrinya sambil berjalan.


Mereka berdua pun sudah masuk ke dalam mobil, dan mobil mewah berwarna hitam pun sudah melaju meninggalkan parkiran rumah sakit, di perjalanan Adira terus saja menyenderkan kepalanya di bahu suaminya, dengan satu tangan mengusap-usap perut rata nya.


"Kita ke mall dulu ga pak." ucap Ardi kepada pak Gatot supir pribadinya.


"Baik tuan." jawab pak Gatot sedikit melirik pada spion mobil di atasnya.


"Mau ngapain kita ke mall sayang?." Adira yang sedikit mendongakkan kepalanya menatap wajah Ardi.


"Beli susu hamil dong, kamu tidak dengar tadi dokter Sesil bilang apa, dua bayi kita harus sehat dengan mengonsumsi makanan yang bergizi dan tinggi serat."


"Tapi kan di Toserba juga ada sayang kalau cuman susu hamil, kenapa harus ke mall?."


"Bibit unggul punyaku ini, adalah bibit unggul premium, jadi nutrinya juga harus premium, harus mahal." jelas Ardi.


Adira yang mendengar ucapan suaminya menjadi tersenyum, begitu pun dengan pak Gatot yang mendengar ucapan majikannya.

__ADS_1


Tidak lama mereka berdua pun sudah tiba di sebuah mall, Mereka berdua pun sudah turun dari mobil, segera masuk ke dalam mall. Ardi dan Adira sudah menaiki lift untuk menuju ke lantai 2 tempat di mana para kebutuhan ibu hamil. Adira sudah berjalan sedang memilih beberapa susu ibu hamil, dengan Ardi berjalan di belakangnya.


"Sayang, ini aja, ini rasa coklat." Ardi yang sudah meraih susu ibu hamil dan memperlihatkan ke arah istrinya.


Adira yang mendengar ucapan suaminya pun langsung menoleh. "Engga ah.. aku gak suka rasa coklat, cepet bosen." tolak Adira.


"Kenapa, coklat enak lo."


"Gak mau, aku maunya rasa Vanila, itu juga harganya mahal." tolak Adira lagi.


"Justru yang baik itu yang harganya mahal sayang, sudah ini aja, aku masukin ke keranjang ya."


"Engga-engga, sayang harganya mahal itu belum tentu enak juga bahkan belum tentu cocok untukku dan kedua anak kita, kalau ntar cepet bosen dan muntah-muntah bagaimana, nanti malah baby kita tidak mendapat nutrizi." Adira yang menatap wajah suaminya.


Ardi yang mendengar ucapan Adira sedikit berfikir. "Begitu ya, yaudah kalau begitu tidak jadi saja." Ardi yang kembali menaro susu di rak susu.


"Sudah itu aja, kok cuman satu, beli sekalian lima." ucap Ardi.


"Yang mau minum itu cuman aku sayang, kenapa harus beli lima." Adira yang menatap aneh kepada suaminya.


"Ya kan yang di dalam perut ada dua." sahut Ardi.


Adira yang mendengar ucapan suaminya langsung menggelengkan kepalanya. "Besuk beli lagi kalau udah habis." ucap Adira lalu berjalan ke arah kasir.

__ADS_1


Ardi yang sudah melihat istrinya berjalan pergi, kembali mengambil susu mahal yang tadi di tolak Adira. Lima susu kardus berukuran besar pun sudah masuk ke dalam keranjang belanjaan.


Setelah selesai membayar, mereka berdua pun sudah kembali ke tempat parkir, semua belanjaan sudah di masukan ke dalam bagasi mobil. Adira yang melihat belanjaan begitu banyak sedikit berfikir. Seingatnya tadi dia hanya membeli susu ibu hamil, dan perlengkapan mandi saja, tapi kenapa sampai tiga tas belanjaan.


"Sayang, apa tadi kamu beli belanjaan yang lain, kenapa belanjaannya berubah banyak sekali?." tanya Adira.


"Tidak.. kan emang belanjaan kita banyak sayang, sudah ayo masuk." Ardi yang membawa tubuh Adira masuk ke dalam mobil.


Adira yang mendengar ucapan suaminya percaya saja, lalu masuk ke dalam mobil. Mobil pun sudah melaju meninggalkan besmen parkiran mall. Di sepanjang jalan Adira terus menatap lamat-lamat hasil cetak USG kehamilannya. Adira sudah tidak sabar untuk cepat sampai rumah dan menunjukan kepada ibu mertuanya, Delisa, dan seluruh dunia bahwa dirinya tidak mandul, tidak sama seperti yang mereka pikirkan selama ini. Adira akan balas ucapan-ucapan pedas mereka dengan hasil USG yang memperlihatkan dua janin yang masih samar-samar. Adira seketika menjadi berkaca-kaca mantap hasil cetak USG di tangannya, dia tidak menyangka akan di karunia bayi kembar di rahimnya.


"Apa mama akan menerimaku dan bisa bersikap baik kepadaku setelah kehamilanku ini ya mas?." Adira yang menatap ke arah suaminya.


"Insyaallah sayang, selama ini mama kan sudah menanti seorang cucu, mama selalu marah karena berfikir kita tidak bisa memberikan cucu." jelas Ardi.


"Tapi bagaimana kalau mama masih tidak suka denganku, dan tidak mau menerimaku?."


"Tidak sayang, percayalah kepadaku, aku yakin mama akan bahagia setelah mendengar kehamilanmu, apa lagi kamu akan memberikan dua cucu sekaligus dalam jangka satu tahun." Ardi yang sudah memeluk tubuh istrinya.


"Semoga saja sayang."


"Jangan takut ya, hari ini kita buktikan kepada mama dan Delisa bahwa kamu bisa memberikan keturunan." ucap Ardi.


"Iya sayang..." jawab Adira.

__ADS_1


Di dalam hati Ardi juga berkecambuk dengan perasaannya, ia berharap mamanya benar-benar bisa menerima Adira di keluarga Mahesa, dan bisa menyayangi Adira selayaknya anak kandungnya sendiri.


"Buka lah pintu hati mama ya allah, luntur kan kebencian dan keegoisan di dalam hatinya, jadikanlah mama seorang ibu yang menyayangi anak-anaknya, termasuk kepada Adira." Ardi yang berdoa di dalam hati.


__ADS_2