Aku Tidak Mandul Ibu Mertua

Aku Tidak Mandul Ibu Mertua
Dua minggu pun berlalu


__ADS_3

Dua minggu pun berlalu, hari ini keluarga Mahesa sedang melaksanakan acara untuk kelahiran baby AA. Rumah megah tuan Malio pun sudah di penuhi dengan hiasan-hiasan seperti balon dan hiasan yang lainnya. Ardi yang sudah begitu rapi pun sedang berbincang-bincang dengan sesama rekan kerjanya, begitu pun dengan Adira yang berdiri tepat di samping Ardi sambil menyambut para tamu yang berdatangan.


Sedangkan mama Erlin dan ibu Suci, sedang sibuk menggendong cucu-cucu mereka. Acara begitu terlihat meriah, dan para tamu undangan pun terus berdatangan.


"Ardi?. " panggil tuan Malio.


Ardi yang mendapat panggilan dari tuan Malio pun seketika menoleh. "Iya pa." jawab Ardi.


Tuan Malio pun memperkenalkan rekan-rekan bisnisnya yang ada di Perancis kepada anaknya. Mereka semua pun saling berbincang-bincang bersama. Adira yang melihat suaminya sibuk dengan para koleganya pun berpamitan untuk melihat kedua anak kembarnya.


"Apa mereka rewel ma?." tanya Adira kepada sang ibu mertua.


"Tidak Dir, mereka berdua sangat lelap tidur, padahal di sini sangat ramai sekali." jawab ibu Suci sambil mencium pipi baby Aidan.


Namun baru saja di bicarakan tiba-tiba baby Anaira menangis di gendongan mama Erlin, seketika membuat mama Erlin, ibu Suci dan Adira terkejut. Anaira menangis begitu sangat kencang, sehingga membuat Aidan pun ikut menangis.


"Sutt.. cup.. cup.. aduh kalian tau ya kalau di bicarakan." ucap mama Erlin sambil mengayun-ayunkan tangannya agar Anaira tenang.


"Sepertinya mereka berdua haus ma, karena mereka terakhir minum asi tadi sore." sahut Adira.


"Iya sepertinya, ya sudah ke kamar dulu saja, biar mama yang menyambut para tamu undangan." mama Erlin yang memberikan baby Anaira kepada Adira.


Adira dan ibu Suci pun pergi meninggalkan tempat acara menuju ke kamar, karena Aidan dan Anaira sudah begitu sangat rewel.


Ardi yang dari tadi masih berbincang dengan koleganya pun menoleh saat mendengar tangisan kedua anaknya, Ardi yang baru saja menjadi seorang ayah pun seketika menjadi panik.


"Bentar ya pa, Ardi ke mama dulu, sepertinya ada sesuatu dengan Aidan dan Anaira." ucap Ardi.


"Iya.. biar papa yang menyambut para tamu." sahut tuan Malio sambil tersenyum kepada anak semata wayangnya.

__ADS_1


Ardi pun berjalan menuju ke arah mama Erlin, dengan wajah terus mendongak ke atas tangga melihat Adira dan ibu Suci sedang menggendong anaknya yang sedang menangis.


"Aidan dan Anaira kenapa ma?." tanya Ardi yang sedikit cemas."Tidak biasanya mereka berdua menangis kencang seperti itu?."


Tidak hanya Ardi saja ternyata yang terheran-heran dengan tangisan anaknya, tuan Malio dan beberapa tamu undangan pun menatap heran ke arah Adira dan ibu Suci karena Baby AA menangis sangat kencang.


"Tidak apa-apa Ar, mungkin Aidan dan Anaira hanya haus saja, karena terkahir minum Asi tadi sore, dan ini sudah hampir jam 7 malam, dan mungkin juga capek karena di gendong terus." jelas mama Erlin.


"Apa Adira lupa memberi Asi?." tanya Ardi.


"Tidak, karena memang dari tadi Aidan dan Anaira hanya tidur saja, dan fikir Adira mereka belum minta Asi, tapi entah kenapa mereka bisa menangis secara bersamaan."


"Yaudah.. Ardi ke atas dulu ya ma, Ardi khawatir." ucap Ardi.


"Iya, sana ke atas, tapi jangan lama-lama ya, karena sebagian kan mama tidak hafal betul tamu undangan kamu yang dari kantor."


Mama Erlin memaklumi anaknya jika khawatir, karena baru pertama kalinya mempunyai baby.


Mama Erlin pun mendekat ke arah tuan Malio yang sedang sibuk mengobrol dengan sesama pengusaha besar dari berbagai perusahaan.


Ardi pun seketika masuk ke dalam kamar begitu saja, namun saat masuk ke dalam kamar ternyata kedua anaknya sudah diam, dan tidur pulas di atas kasur.


"Sayang." panggil Ardi, seketika membuat Adira dan ibu Suci menoleh ke arah pintu.


"Sutsss.. pelan-pelan, jangan berisik." ucap Adira secara pelan yang baru saja meletakkan Anaira ke atas kasur baby.


"Iya-iya." jawab Ardi dengan suara yang cukup lirih.


"Mas kenapa ke atas?." tanya Adira sambil menatap wajah suaminya.

__ADS_1


Ardi pun berjalan masuk ke dalam kamar dengan pelan-pelan. "Kenapa mereka berdua menangis sayang?." tanya Ardi balik.


"Mungkin karena haus, dan di bawah terlalu rame mas." jawab Adira.


"Tapi kan dari sebelum acara di mulai mereka tenang-tenang saja."


"Mungkin karena tadi saat di bawa ke bawah mereka sedang tidur pulas Ar, dan belum faham dengan situasinya, dan saat bangun mereka menjadi terkejut." sahut ibu Suci.


"Iya bener mas kata ibu, mereka berdua tidak apa-apa kok, cuman terkejut saja, mas tidak perlu khawatir."


"Syukur lah kalau begitu." jawab Ardi bernafas dengan lega.


"Baby umur 2 minggu wajar saja kalau rewel Ar, pasti kalian juga banyak bergadang kan kalau malam, tidak perlu khawatir, dan seharusnya tadi jangan lama-lama juga di bawah, kasian mereka berdua menjadi terkejut."


Adira yang mendengar ucapan ibunya pun seketika tersenyum. "Maklum bu, ini pertama kalinya mas Ardi mendengar tangisan baby di rumah, jadi membuat dia sedikit panik, apa lagi yang nangis anaknya sendiri."


"Bukan agak sedikit panik tapi benar-benar panik sayang, aku kira kamu apain anak kita, habisnya nangis kenceng banget, biasanya gak sampe begitu." Sahut Ardi.


"Lalu kamu kira aku cubit, atau aku pukul, atau malah aku jatuhin ke lantai, ya kalik, dapetnya aja susah bro, apa lagi bawanya hampir sembilan bulan, terus ngeluarin nya penuh perjuangan masak iya mau aku cubit."


Ardi yang mendengar ucapan istrinya pun menjadi tersenyum. "Siapa tau, ya sudah kalau begitu, aku ke bawah lagi ya, masih banyak tamu yang belum aku sapa soalnya."


"Iya mas." jawab Adira.


Namun sebelum kembali ke lantai bawah, Ardi pun menyempatkan mencium putra dan putrinya.


"Raja dan Ratunya daddy jangan rewel ya, kasian mommy dan nenek nanti." ucap Ardi.


"Tidak daddy, kita berdua kan anak pintar." sahut Adira dengan tersenyum menatap ke arah kedua anaknya.

__ADS_1


__ADS_2