
Ardi dan Adira baru saja tiba di rumah mama Erlin. Adira kembali menginjakkan kaki di rumah mertuanya, yang dulu telah mengusirnya, namun Adira juga faham bahwa mama Erlin melakukan seperti itu karena ulah dari Delisa yang sengaja mengadu domba.
Saat Adira turun dari mobil, ia sudah di sambut oleh kedua mertuanya yaitu mama Erlin dan tuan Malio. Dengan langkah pelan, sambil memegangi perut buncitnya Adira mendekat ke arah mertuanya. Namun dengan sigap mama Erlin lebih dulu mendekat ke arah Adira.
"Adira." mama Erlin yang memeluk tubuh Adira begitu saja.
Adira pun menerima pelukan hangat dari sang mertua. "Mama apa kabar, apa mama sehat?." tanya Adira.
"Alhamdulilah mama sehat sayang, bagaimana dengan dirimu dan calon cucu mama." Mama Erlin yang melepas pelukannya lalu menatap wajah menantunya.
"Alhamdulilah kita juga sehat ma, bahkan mereka semakin aktif di dalam perut." Adira yang mengusap perut buncitnya.
"Maaf kan mama ya, maaf jika mama tidak pernah memperlakukan mu dengan baik."
"Tidak ma, Adira tau mama melakukan semua ini karena ingin mas Adi mendapatkan yang terbaik."
"Tidak Adira, kamu lah yang terbaik untuk Ardi, namun mama yang selalu tertutup oleh ego, dan kurang nya bersyukur hingga tidak pernah melihat kebaikanmu dan ketulusanmu."
__ADS_1
"Adira masih belajar untuk menjadi istri yang baik, dan menantu yang baik ma."
"Kamu sudah cukup baik sayang, tinggal lah lagi di rumah mama ya, sampai cucu-cucu mama besar nanti."
Adira yang mendengar ucapan mama Erlin pun hanya mengangguk pelan, dan kembali memeluk ibu mertuanya. Sedangkan tuan Malio yang melihat istri dan menantu kesayangannya kembali baik pun sangat bahagia, akhirnya keluarga mereka pun kembali, dan sedang menantikan penerus keluarga Mahesa.
Tidak hanya tuan Malio, Ardi pun ikut berbahagia, akhirnya mama dan istrinya kembali akur dan saling menyayangi, Ardi benar-benar merindukan keluarga yang damai dan bahagia, tenang tanpa gangguan dari siapa pun.
"Kejadian kemarin buat lah pelajaran untuk kita semua, agar semakin mempererat tali keluarga, jangan mudah goyah mendengar ucapan sana dan sini, karena ucapan belum tentu sama dengan kenyataan, terutama papa dan mama ini, pengalaman kita berumah tangga lebih lama dari Ardi dan Adira, seharusnya kita bisa memberi contoh, dan bisa mengayomi, bukan malah memperkeruh suasana dan mengadu domba, jangan memilih yang benar menjadi salah, dan yang salah menjadi benar." jelas tuan Malio yang duduk di kursi rodanya.
"Pa.. maaf kan mama selama ini mama tidak pernah mendengarkan ucapan papa." mama Erlin yang langsung memeluk suaminya.
"Papa sudah memaafkan mama, dan papa minta ubahlah sifat egois mama, dan lebih lah menghargai pendapat dan perjuangan orang lain, jangan mudah terbawa emosi, mama sudah tua, tidak muda lagi, mama ini untuk contoh buat anak-anak mama, tidak semua orang harus seperti yang mama minta dan yang mama inginkan, jalan hidup orang itu berbeda-beda, tidak bisa di samakan, bahkan takdir orang pun juga berbeda-beda."
"Iya pa, mama akan mengubah sifat mama."
"Dan untuk kamu Ardi, papa selalu mengajarkan kepada mu bahwa laki-laki harus bisa tegas dan berdiri pada prinsipnya, jangan mudah goyah, dan gampang menerima keadaan begitu saja, jika pilihan papamu atau mama mu salah, bukan terbaik untukmu, kamu berhak membantahnya, karena kamu berhak memilih dengan pilihan yang menurutmu lebih baik, jadi papa minta jangan mudah menerima keinginan orang lain."
__ADS_1
"Iya pa.. Ardi akan selalu ingat kata-kata papa." jawab Ardi.
"Untuk Adira, selamat datang di rumah ini lagi, dan tetap lah menjadi wanita yang rendah hati, jujur,dan sebentar lagi kan juga menjadi seorang ibu, lebih di kuatkan hatinya, dan jangan pernah mau di salahkan jika memang kamu tidak bersalah, wanita juga harus kuat, tidak boleh lemah."
Masukan-masukan dari tuan Malio pun seketika membuat mereka ber tiga pun menjadi terharu. Mereka ber tiga pun mendekat ke arah tuan Malio dan saling berpelukan.
"Terimakasih pa, sudah menjadi papa, mentor, sekaligus teman Ardi, papa sangat luar biasa, semoga papa cepat sembuh seperti sedia kala."
"Iya Ar, sama-sama, ya sudah ayo masuk, kita gak boleh sedih, mending kita makan, mama sudah masakin makanan kesukaan kalian berdua." ucap tuan Malio, dan seketika semua melepaskan pelukannya dari tuan Malio.
Saat Adira masuk ke dalam rumah, Adira melihat rumah masih tetap sama belum ada yang berubah, bahkan Adira juga melihat makanan sudah tertata rapi di atas meja, Adira begitu sangat bahagia, akhirnya ia kembali di terima di keluarga Mahesa.
"Ayo sayang duduk." Ardi yang menarik kursi untuk istrinya. "Hati-hati."
"Makasih sayang." Adira yang sudah duduk, dan di susul oleh Ardi yang juga duduk di sampingnya.
Tuan Malio, mama Erlin, Ardi, dan juga Adira pun menikmati makan malam bersama, bahkan mereka pun saling bercanda tawa, membahas hal yang penting hingga yang tidak penting, sampai-sampai Adira merasa sakit perut karena terus tertawa.
__ADS_1