Aku Tidak Mandul Ibu Mertua

Aku Tidak Mandul Ibu Mertua
Rencana tante Siska dan Delisa


__ADS_3

Pagi ini Delisa akan pergi menemui mamanya yaitu tante Siska. Mereka berdua sudah membuat janji dari tadi malam. Kehamilan Adira membuat geram dan tidak tenang untuk Delisa, bahkan setelah kehamilan Adira, mama Erlin bersikap berbeda kepadanya. Delisa yang mendapat perlakuan berbeda pun merasa tidak terima.


Delisa sudah begitu rapi dan bersiap keluar dari kamar. Kaki melangkah pelan menuruni anak tangga, saat Delisa tiba di ruang tamu, ia melihat mertuanya sedang berjalan dari arah dapur dengan tangan membawa segelas susu.


"Pagi ma." sapa Delisa terlebih dahulu.


"Pagi juga sayang." jawab mama Erlin yang berjalan di depan Delisa.


"Mama bawa susu buat siapa?." tanya Delisa.


"Buat Adira, ibu hamil paling bagus pagi-pagi minum susu setelah sarapan."


Delisa yang mendengar ucapan mertuanya pun semakin merasa benci pada Adira, bahkan baru pertama kali Delisa melihat mertuanya begitu perhatian kepada Adira. Walaupun Delisa masih di perlakukan baik di keluarga Ardi, tapi tetap saja, Delisa ingin dia yang menjadi menantu kesayangan di rumah itu, bukan Adira.


"Kamu sendiri mau kemana Delisa?." tanya mama Erlin balik.


"Ah.. ini ma, Delisa ada pekerjaan mendadak, ada pemotretan." jawab Delisa berbohong.


"Oh.. begitu.. yaudah hati-hati di jalan ya." ucap mama Erlin lalu berjalan menuju ke arah kamar Adira.


Delisa pun kembali berjalan keluar menuju ke mobil, hari ini Delisa memutuskan untuk pergi sendiri tanpa di antar oleh supir pribadi. Delisa dan tante Riska membuat janji di sebuah caffe elit di pinggir kota, lokasi yang cukup jauh dari kediaman Ardi. Setelah perjalanan hampir satu jam Delisa pun sudah tiba di caffe tersebut.


Dengan langkah cepat Delisa masuk ke dalam caffe, ia sudah melihat mamanya duduk tidak jauh dari pintu masuk, Delisa pun berjalan lalu duduk di depan mamanya sambil menaro tas branded miliknya di atas meja dengan sangat kasar.


"Kamu kenapa? kok tumben ngajak ketemu mama?." tante Siska yang terus menatap wajah anaknya.


"Ada hal penting yang mau Delisa sampein sama mama." ucap Delisa.


"Hal penting? apa?."


"Mama tau tidak, istri mas Ardi kampungan itu, dia hamil ma." ucap Delisa.


"What! maksut kamu Adira-Adira itu?." tente Siska begitu sangat terkejut.


"Iya.. bahkan Adira hamil bayi kembar ma, bukankah ini musibah untuk Delisa." Delisa yang merasa kesal.


"Bukankah dia mandul, bagaimana bisa hamil?."


"Dia tidak pernah mendapat diagnosa mandul, dan mandul itu hanya omong kosong, mereka berdua sama-sama sehat." jawab Delisa.

__ADS_1


"Lalu mertuamu bagaimana?."


"Jelas senang lah, memang yang di harapkan nenek tua bangka itu adalah seorang cucu, mama Erlin yang tadinya benci kepada Adira, seketika berubah 99 derajat, dan sekarang menjadi sangat perhatian dengan Adira." jelas Delisa.


"Sialan, dia akan mempersulit kita untuk mendapatkan harta keluarga Mahesa." ucap tante Siska.


"Bahkan sekarang seisi rumah hanya menyanjung-nyanjung Adira, semua seisi rumah perhatian kepadanya."


"Tidak bisa di biarkan ini." Tante Siska yang memukul meja.


"Lalu kita harus berbuat apa ma?." tanya Delisa kepada mamanya.


"Kita harus buat rencana, agar bisa menyingkirkan wanita itu."


"Tapi bagaimana caranya?."


"Kita buat saja, Ardi menceraikan Adira."


"Tidak semudah itu mama, mama tau sendiri mas Ardi sangat mencintai gadis kampung itu, di tambah Adira sedang hamil, mana mungkin mereka bisa bercerai."


"Kalau tidak kita buat saja bayi di dalam kandungan Adira hilang dari dunia ini." ucap tante Siska dengan mata memicing menatap ke arah Delisa.


"Why?." tanya tante Siska.


"Mama tidak ingat, saat mama hamil aku di luar nikah, dan papa menginginkan mama menggugurkan aku yang ada di dalam kandungan mama, tapi mama tidak mau kan, karena aku tidak berdosa, jadi jangan sakiti bayi di dalam kandungan Adira, kita hanya benci ibunya bukan bayinya."


"Tapi bayi itu yang membawa petaka sayang, kalau tidak ada bayi itu, mertuamu akan tetap membenci Adira."


"Tetap saja ma, Delisa tidak setuju, bagaimana pun bayi itu tidak berdosa." Delisa yang mengingat dulu di dalam kandungan tidak pernah di inginkan oleh ayah kandungnya sendiri.


"Baiklah kita cari cara lain." tante Siska yang mengalah dari anaknya. "Bantu mama berfikir jika kamu tidak setuju dengan rencana mama tadi." lanjut tante Siska.


Delisa pun seketika berfikir bagaimana dia bisa memisahkan Adira dengan Ardi, tante Siska pun juga sama, namun saat mereka sedang sama-sama berfikir, tiba-tiba ponsel Delisa berbunyi di atas meja. Seketika membuat tante Siska dan Delisa pun sama-sama menatap ke arah ponsel.


Delisa yang melihat ponselnya berbunyi seketika segera mengangkatnya, dan tidak lama Delisa mengangkat telfon nya, telfon pun kembali terputus.


"Siapa?." tanya tante Siska.


"Sepertinya Delisa harus pergi ma, ada panggilan kerja mendadak." jawab Delisa.

__ADS_1


"Baiklah, pergilah, mama yang akan cari cara untuk memisahkan suamimu dengan Adira."


"Iya ma, yaudah Delisa pergi dulu ya." Pamit Delisa yang sudah beranjak berdiri dari tempat duduknya.


"Hati-hati di jalan, dan mama akan segera menghubungi mu jika sudah mendapatkan caranya."


"Oke ma." Delisa pun sudah berjalan pergi ke luar dari caffe sambil menenteng tas mewahnya.


****


Sedangkan di rumah mama Erlin sedang menemani Adira di kamar. Ini baru pertama kalinya Adira di perlakukan begitu manis oleh mertuanya. Mama Erlin sudah duduk di samping Adira, dan terus saja mengusap perut rata menantunya.


"Hay cucu-cucu oma, kalian sehat terus ya di dalam perut mommy, oma udah gak sabar buat ketemu sama kalian berdua." ucap mama Erlin.


"Iya oma.. doain kita terus ya oma, agar selalu sehat di perut mommy." sahut Adira.


"Pasti.. oma akan selalu doain kalian."


Saat mama Erlin dan Adira saling bercanda, tiba-tiba ponsel Adira berdering di sampingnya. Adira yang melihat ponsel berdering segera mengangkatnya.


"Hallo sayang." Ardi yang sedang melakukan Video call.


"Ada apa mas, tumben di kantor video call?."


"Aku merindukan mu sayang, apa kamu tidak merindukanku?." tanya Ardi.


"Aku sedang bersama mama mas, jangan seperti itu." Adira yang tersipu malu.


"Apa kamu sedang bersama mama?."


"Iya." jawab Adira.


"Yaudah lanjutin lagi ngobrolnya sama mama, maaf kalau ganggu." ucap Ardi.


"Yaudah.. aku tutup ya."


"Iya sayang, love you."


"Love you too." jawab Adira, dan video call pun sudah terputus.

__ADS_1


Mama Erlin yang melihat Ardi dan Adira begitu saling menyayangi seketika tersenyum. "Kalian menjadi mengingatkan masa saat muda berpacaran dengan papa Marlio."


__ADS_2