
Di dalam kamar Delisa sudah terlihat begitu rapi, menggunakan dres berwarna silver. sore ini Delisa memutuskan untuk pergi ke kantor Ardi. Delisa sedikit curiga kepada Ardi kenapa akhir-akhir ini sering pulang larut malam. Dengan langkah cepat Delisa menuruni anak tangga. Namun saat melewati ruang keluarga, tiba-tiba tuan Malio memanggilnya.
"Mau ke mana kamu Delisa?." tanya tuan Malio.
Delisa yang mendengar suara ayah mertuanya pun seketika menoleh. "Ini pa, ada pemotretan mendadak." jawab Delisa.
"Haruskah sore-sore begini?." tuan Malio yang terus menatap wajah Delisa.
"Iya pa, tapi hanya sebentar."
"Papa coba percaya sama kamu, tapi awas saja jika kamu membohongi papa dan mama."
"Iya pa, ya sudah Delisa pamit pergi dulu, sudah di tunggu soalnya."
"Hem." jawab tuan Malio, lalu pergi begitu saja, saat Delisa ingin berpamitan.
"Dasar si tua bangka menyebalkan!." ucap Delisa di dalam hati, lalu kembali berjalan keluar dari rumah.
Mobil berwarna merah pun sudah melaju meninggalkan halaman rumah untuk menuju ke kantor Ardi. Dengan kecepatan tinggi Delisa melajukan mobilnya melewati jalanan yang tidak terlalu rame. Saat Delisa baru saja tiba di kantor suaminya, Delisa melihat mobil Ardi baru saja keluar dari dalam kantor. Namun lagi-lagi Ardi pergi melawan arah, yang seharusnya arah pulang adalah ke kanan, namun Ardi pergi ke arah kiri. Dengan cepat Delisa mengikuti mobil suaminya.
"Jangan sampai kamu kehilangan jejak lagi Delisa, mati saja kau jika kehilangan jejak." ucap Delisa pada dirinya sendiri.
Delisa terus membuntuti Ardi dari belakang, namun dengan jarak cukup jauh, karena Delisa takut, kalau Ardi tau bahwa dirinya sedang membuntutinya.
__ADS_1
Tidak lama mobil pun sudah masuk ke jalan yang kemarin Delisa lewati, yaitu jalan yang rusak dan berlubang yang membuat Delisa sedikit kesulitan melajukan mobilnya, namun Delisa tidak mengindahkan itu, ia terus terobos jalan berlubang tersebut, dan tibalah Delisa di jalan bercabang. Delisa melihat Ardi berbelok ke kiri, dengan sigap Delisa juga berbelok ke kiri.
Setelah melewati beberapa sawah-sawah dan jalanan yang rusak, Delisa melewati perkampungan yang terlihat masih asri dan alami, tidak lama Delisa melihat mobil Ardi berhenti tepat di depan rumah yang sederhana.
"Rumah siapa itu, dan ngapain mas Ardi ke rumah itu?." Delisa yang semakin bertanya-tanya.
Delisa melihat Ardi sudah turun dari mobil, dengan membawa beberapa kantong plastik besar, entah apa yang ada di dalam kantong plastik tersebut.
Delisa melihat Ardi sedang berbincang-bincang dengan seorang perempuan paruh baya, namun Delisa tidak melihat dengan jelas siapa wanita itu, Delisa yang semakin penasaran pun memutuskan untuk turun dari mobil, dan mengendap-endap bersembunyi di balik pohon.
Delisa melihat, Ardi begitu terlihat akrab dengan wanita paruh baya tersebut. Delisa terus melihat gerak-gerik Ardi bersama wanita tua tersebut, saat Delisa sedang menatap fokus melihat ke arah Ardi, tiba-tiba keluarlah wanita sederhana dengan perut buncitnya.
"Adira?." ucap Delisa sangat terkejut melihat istri pertama suaminya.
"Ini tidak bisa di biarkan, ternyata mas Ardi telah membohongiku."
Delisa yang merasa kesal pun langsung mengambil ponsel di tas kecilnya. "Kalian tidak boleh bersama lagi, dalam ke adaan apapun." Delisa yang mengambil beberapa foto Ardi saat mencium perut buncit Delisa, lalu mengirimnya ke mertuanya yaitu mama Erlin.
"Siap-siap kalian, ini akibatnya kalian bermain di belakangku."
Setelah mengetahui bahwa Ardi masih menemui Adira, Delisa pun kembali masuk ke dalam mobil, dan memutuskan untuk pulang. Mobil pun kembali melaju meninggalkan perkampungan tersebut. Di dalam mobil Adira begitu sangat kesal, namun di sisi lain Delisa juga bahagia, karena Ardi akan benar-benar kehilangan Adira, dan rumah tangganya akan benar-benar hancur, dan Ardi akan seutuhnya menjadi miliknya, dan tidak bisa menemui Adira lagi.
"Siap-siap kau Adira, mama Erlin, akan semakin membencimu."
__ADS_1
Saat Delisa masih fokus melajukan mobilnya, tiba-tiba ponsel berdering, Delisa kira itu telfon dari mama Erlin tapi ternyata dari Axcel kekasihnya.
"Iya sayang, ada apa?."
"Di mana sayang, aku ingin bertemu, dan ingin tidur bersamamu malam ini." ucap Axcel di dalam telfon.
Delisa seketika terdiam, kalau dia bertemu dengan Axcel, pasti akan pulang larut malam, dan ayah mertuanya pasti akan semakin mencurigainya.
"Besuk saja ya sayang kita ketemunya, ini sudah malam." ucap Delisa.
"Oh begitu, kamu sekarang sudah gak cinta sama aku, kamu lebih memilih suamimu yang tidak mencintai kamu itu."
"Bukan begitu sayang."
"Ya sudah, kita akhiri saja hubungan ini, lebih baik aku mencari wanita lain, dan akan ku buka semua kebusukan mu di depan suami dan mertuamu itu."
"Jangan sayang, baiklah aku akan pergi ke apartemen mu sekarang."
"Nah gitu dong, jangan lama-lama, aku tunggu, joni ku sudah berdiri dari tadi menunggumu."
"Iya sayang, sebentar lagi aku sampai."
Delisa semakin menambah laju kecepatannya, untuk menuju ke Apartemen milik Axcel, yaitu tempat di mana Delisa dan Axcel selalu berjumbu, menghabiskan waktu bersama, sebenarnya Delisa sedikit malas menemui Axcel, karena Axcel hanya membutuhkannya saat nafsu saja, dan Delisa tau bahwa dirinya hanya pemuas nafsu di ranjang, tapi Delisa tidak mempunyai pilihan lain, karena Axcel tau semua kebusukan Delisa, bahkan Axcel juga tau, bahwa Delisa tidak hanya tidur bersama Axcel saja, melainkan suka bergonta ganti peria.
__ADS_1