
Pagi ini Ardi akan mengunjungi Adira di rumah mertuanya, sudah 2 hari Ardi tidak menemui sang istri karena sibuk dengan pekerjaan di kantor, dan hari ini adalah hari minggu, kebetulan Ardi sedang libur. Setelah semua siap, Ardi berjalan keluar dari kamarnya dengan membawa kunci mobil di tangannya. Namun saat baru saja keluar dari kamar, ternyata Delisa sudah berdiri tepat di depan kamar.
"Ngapain di depan kamar aku?." tanya Ardi lalu menutup pintu kamar.
"Mas, mau ke mana?." tanya Delisa balik.
"Bukan urusanmu." jawab Ardi ketus, lalu berjalan begitu saja meninggalkan Delisa.
"Mas, mas mau ke mana?." tanya Delisa lagi, sambil menarik tangan Ardi.
Ardi yang mendapat tarikan dari Delisa seketika menoleh. "Aku ada kerjaan." jawab Ardi sambil menghempaskan tangannya.
"Ini hari minggu loh, masa kerja, aku gak percaya?."
"Terserah!." Ardi yang kembali berjalan.
Delisa pun mengikuti langkah Ardi, dan mencoba menghalangi Ardi untuk keluar dari rumah. "Mas, aku hari ini udah ada janji lo sama teman-temanku untuk arisan, kamu temenin aku ya, udah lama kamu gak nemenin aku keluar." rengek Delisa.
"Pergi aja sama pak Gatot." ucap Ardi.
"Tidak, aku maunya pergi sama kamu, plis ya sayang temenin aku." Delisa yang terus memohon kepada Ardi.
"Tidak, minta lah temani pak Gatot, aku sedang buru-buru." Ardi yang kembali berjalan tanpa mengindahkan Delisa lagi.
Delisa yang di abaikan begitu saja menjadi merasa geram, Delisa merasa bahwa Ardi berubah, dan lebih sering pergi, padahal dulu selalu di rumah, bahkan sekarang tidak mau makan di rumah.
"Mas Ardi dan Adira kan belum resmi bercerai, apa jangan-jangan mas Ardi diam-diam masih menemui Adira?." ucap Delisa lirih.
"Aku harus ikuti mas Ardi." Delisa yang berjalan cepat keluar dari rumah, dan segera masuk ke dalam mobilnya.
Dengan kecepatan sedikit kencang Delisa membuntuti mobil Ardi dari belakang, namun saat tiba di lampu merah, tiba-tiba mobil Ardi belok ke kiri.
"Bukannya seharusnya, mas Ardi belok ke kanan kalau mau ke kantor, kenapa dia belok ke kiri." Delisa yang semakin bingung, di dalam fikiranya penuh tanda tanya.
Delisa terus membuntuti mobil Ardi, sampai lah dia memasuki jalan kecil dan melewati hutan-hutan dan perkebunan. Delisa di situ semakin bingung, dia terus menatap jalan sekitar, baru pertama kali ia melewati jalan tersebut.
"Mau ke mana mas Ardi? dan ini mau ke daerah mana? kenapa jalannya begitu jelek dan becek." gerutu Delisa.
__ADS_1
Karena jalan yang rusak dan berlubang, Delisa pun tidak bisa mengemudikan mobilnya dengan kencang, dan jarak mobilnya dengan mobil Ardi semakin jauh. "Sialan, mobil mas Ardi semakin jauh bisa-bisa aku ke tinggalan jejaknya."
Saat tiba di tikungan, benar saja mobil Ardi sudah tidak terlihat. Delisa pun semakin melajukan mobilnya cukup kencang, hingga mobilnya berkali-kali beradu dengan jalan, karena jalan yang benar-benar super rusak. Mobil pun telah tiba di jalan perempatan, namun kini Delisa telah kehilangan jejak suaminya.
Seketika Delisa merasa bingung arah mana yang harus dia pilih. "Sialan harus ke arah mana aku pergi, lurus kah, atau belok ke kiri, atau malah belok ke kanan?."
"Kenapa mas Ardi cepat sekali melajukan mobilnya, terlihat begitu hafal dengan jalan sini."
"Mas Ardi sangat mencurigakan, kali ini kamu lolos mas, lihat saja besuk, aku akan tau apa yang kamu sembunyikan dari ku." ucap Delisa.
Delisa yang sudah ketinggalan jejak pun memutuskan untuk putar balik, kembali melewati jalan yang rusak, karena Delisa takut jika salah arah nanti malah nyasar, karena dia tidak tau jalan daerah pedesaan.
Sedangkan Ardi baru saja tiba di rumah mertuanya, saat turun dari mobil, dirinya sudah di sambut oleh sang istri dengan perut yang semakin membesar. Karena usia kandungan yang sudah memasuki ke 5 bulan.
"Kok baru ke sini mas?." tanya Adira yang berjalan mendekat ke arah suaminya.
"Iya sayang, maaf kemarin sibuk di kantor, karena mengurus proyek baru." ucap Ardi lalu mengecup kening sang istri.
"Ya sudah ayo masuk, aku sudah masakin makanan ke sukaan kamu." ucap Adira.
"Iya mas." jawab Adira sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong ibu ke mana sayang? apa tidak ada di rumah?." tanya Ardi.
"Ibu sedang di rumah tetangga mas, karena ada hajatan." jawab Adira, dan Ardi pun hanya mengangguk pelan.
Kebetulan Ardi yang belum sarapan dari rumah, Ardi pun begitu terlihat lahap menyantap masakan Adira yang begitu banyak di atas meja makan.
"Gimana sayang, hasil periksa kamu kemarin ke dokter?." tanya Ardi sambil menikmati sarapannya.
"Dokter bilang, mereka berdua sehat sayang, dan perkembangannya semakin baik, cuman tidak boleh terlalu lelah saja." jawab Adira.
"Nah.. makanya sekarang gak usah ngerjain pekerjaan rumah lagi, nanti aku cari aja ART buat bantu-bantu di rumah."
"Gak usah sayang, aku paling juga ngapain sih, cuman masak sama nyapu, kan ibu hamil harus banyak bergerak."
"Iya-iya.. tapi janji jangan capek-capek ya." Ardi yang mengusap pipi mulus Adira.
__ADS_1
"Iya Daddy." jawab Adira, dan Ardi pun hanya tersenyum.
"Ah iya mas, katanya ada yang mau mas katakan sama aku, tentang apa?." Adira yang menatap wajah Ardi yang duduk di depannya.
"Iya sayang, tapi nanti aja setelah makan, kita lanjutin makan dulu, gak baik ngobrol sambil makan."
"Iya mas, nanti kita ngobrol di kamar saja."
Setelah sarapan Ardi ikut membantu Adira untuk memberesi semua sisa makanan yang ada di atas meja, karena Ardi tidak mau istrinya terlalu capek. Setelah semua sudah beres, mereka berdua pun akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar untuk berbincang-bincang.
Adira pun sudah duduk di atas ranjang, dengan tubuh bersender pada bantal, sedangkan Ardi duduk tepat di samping Adira, dengan kaki ia luruskan.
"Jadi mau bicara apa sayang?." tanya Adira yang menoleh ke arah Ardi di sampingnya.
"Aku mau menceraikan Delisa." jawab Ardi.
"Hah.. kenapa?." Adira yang sedikit terkejut.
"Kenapa nya bagaimana, kan kamu tau sendiri, dari dulu aku tidak pernah mencintai Delisa, boro-boro mencintai, menginginkannya saja tidak."
"Tapi kan nama Erlin sangat suka dengan Delisa sayang."
"Aku tidak perduli, lagi pula dalang dari kehancuran rumah tangga kita itu adalah Delisa."
"Apa?." Adira yang semakin terkejut menatap wajah suaminya.
"Iya sayang, kemarin-kemarin aku sudah mencari info, sebenarnya yang menyuruh kelvin mendekati kamu adalah Delisa, dan Delisa sengaja menjebak kamu saat di mall waktu itu, agar dia bisa mendapatkan foto-foto kamu bersama Kelvin, lalu menghasut mama, agar mama tidak lagi percaya sama kamu, dan mengira bayi yang ada di dalam kandungan kamu adalah anak Kelvin, bukan anak aku." jelas Ardi.
"Astaghfirullah, ya allah, kenapa Delisa tega sekali melakukan itu." Adira yang tidak menyangka bahwa kemarin adalah perbuatan Delisa.
"Tapi aku sudah ada firasat mas, pasti ini ada kaitannya dengan Delisa." lanjut Adira.
"Makanya itu, lebih baik aku segera menceraikan siluman ular itu."
"Tapi bagaimana dengan mama? mama tidak akan setuju jika mas menceraikan Delisa."
"Kamu tidak usah khawatir, mama biar aku yang mengurusnya." Ardi yang memeluk tubuh Adira sambil mengecup kening Adira.
__ADS_1