
Ardi yang sedang terburu-buru baru saja keluar dari kamar untuk berangkat ke kantor. Dengan Adira bersiap mengantarkan kedepan.
"Sayang, nanti kamu minta anterin pak Gatot aja ya ke rumah sakit, maaf aku gak bisa nganterin karena nanti ada meeting sama perusahaan Adhitama Grub." ucap Ardi depan Adira.
"Iya sayang gak masalah, nanti aku bisa ke rumah sakit sendiri."
Delisa terus melangkah pelan turun dari tangga, dan mendengar bahwa Ardi tidak bisa mengantar Adira ke rumah sakit. Delisa pun semakin berjalan cepat untuk mendekat ke arah mereka.
"Nanti biar aku saja yang anatar Adira mas." ucap Delisa di belakang Ardi.
"Ah tidak perlu mbak Delisa, nanti aku bisa sama pak Gatot saja."
"Tidak apa-apa, lagi pula aku hari ini juga senggang tidak ada acara." sahut Delisa.
"Iya sayang, tidak apa-apa biar nanti Delisa yang antar kamu ke dokter, biar baby kita cepat di periksa, karena kamu jatuh kemarin." Ardi yang setuju agar Delisa mengantarkan istrinya.
"Iya mas." Adira yang menurut dengan kata suaminya.
"Yaudah, aku berangkat dulu ya." Ardi yang sudah mengecup kening Adira, dan Adira hanya menggeleng pelan.
"Aku titip Adira ya, awas kamu sakitin dia." Ardi yang juga mengecup kening Delisa.
"Iya-iya mas tenang, gak usah khawatir." jawab Delisa.
Ardi pun sudah kembali melangkahkan kakinya untuk berangkat ke kantor, dua wanita yang hanya selisih dua tahun tersebut sudah mengantarkan suami mereka di depan rumah.
"Mau ke rumah sakit jam berapa?." tanya Delisa.
"Habis ini mbak, siapa-siap dulu." jawab Adira menatap ke arah Delisa.
__ADS_1
"Yaudah gih siap-siap, aku udah mandi, tinggal ganti baju aja." perintah Delisa.
"Iya mbak." Adira yang kembali berjalan masuk ke dalam rumah.
Waktu sudah menunjukan pukul 09:00 WIB. Adira sudah siap begitu pun dengan Delisa. Mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil dan siap untuk berangkat ke rumah sakit. Hari ini Adira memutuskan untuk memeriksakan kandungannya setelah kemarin jatuh karena tertabrak seseorang di mall, sehabis pulang dari mall mereka tidak sempat untuk ke rumah sakit karena cuaca yang tidak mendukung hujan begitu deras.
Di dalam perjalanan Adira terus fokus menatap pada jalan, dan Delisa pun fokus melajukan mobilnya melewati jalan yang begitu sangat padat di pagi hari.
"Ini hari apa sih, padat bener jalanan." gerutu Delisa di dalam mobil.
"Hari senin mbak." jawab Delisa menatap ke arah Delisa.
"Iya aku tau." sahut Delisa tanpa menoleh ke arah Adira.
" Tetus jika tau ngapain tanya tadi." gerutu Adira di dalam hati.
Tidak lama hanya 30 menit mobil pun sudah tiba di parkiran rumah sakit. Adira dan Delisa pun sudah turun dari mobil, hari ini Delisa mau mengantarkan Adira karena di rumah begitu sangat gabut karena gak ada kerjaan, Delisa begitu bosan di rumah sendiri, karena mama Erlin sedang ada arisan di rumah temannya.
"Kalau begitu saya pamit, dan terimakasih ya dok." ucap Adira.
"Iya buk, hati-hati ya di jalan." jawab dokter Sesil.
Adira dan Delisa pun sudah kembali keluar dari ruangan dokter Sesil, untuk kembali pulang, namun saat Adira dan Delisa melewati ruang tunggu, tiba-tiba ada laki-laki yang mendekat ke arah Adira.
"Adira?." ucap laki-laki tersebut yang entah datangnya dari mana.
Adira yang mendapat sentuhan di tangannya sedikit terkejut, lalu menatap ke arah laki-laki tersebut.
"Adira, kamu di mana saja selama ini?." ucap laki-laki itu lagi yang langsung memeluk tubuh Adira.
__ADS_1
Adira pun seketika terkejut saat melihat laki-laki yang memeluknya adalah Kelvin, mantan kekasihnya 2 tahun yang lalu. Adira pun seketika langsung memberontak untuk bisa lepas dari pelukan Kelvin.
"Lepasin aku!." ucap Adira.
Delisa yang berjalan lebih dulu dari Adira, mendengar suara Adira seketika langsung menoleh dan memberhentikan langkahnya. Delisa begitu sangat terkejut melihat ada seorang pria yang tiba-tiba memeluk tubub Adira.
"Kamu kemana saja selama ini Dir, aku sudah lama mencarimu." ucap Kelvin semakin memeluk erat tubuh Adira.
"Lepasin aku." Adira kembali memberontak, Adira begitu takut melihat kehadiran Kelvin di depannya. Kelvin adalah mantan kekasih Adira 2 tahun yang lalu, dulu saat Adira menjalin hubungan dengan Kelvin, Kelvin selalu memukulnya, dan sempat untuk memperkosa dirinya. Bahkan pernah juga mengancam Adira dan juga keluarga Adira, jika dia tidak mau menikah dengan Kelvin, ia akan membunuh keluarga Adira, bagaimana bisa Adira mau menikah dengan laki-laki yang super protektif, egois, dan selalu memukul dirinya, maka dari itu Adira menghilang dari kehidupan Kelvin, namun hari ini entah musiabah apa, Adira harus bertemu dengan matan kekasih gilanya itu lagi.
Delisa yang melihat laki-laki itu tidak mau melepaskan tubuh Adira segera mendekat. "Eh kamu siapa? main peluk-peluk tubuh orang." ucap Delisa menarik begitu kencang tubuh Kelvin.
"Lha emang kamu siapa, kenapa kamu ikut campur?." ucap Kelvin.
"Eh.. lo yang siapa, main peluk-peluk Adira." sahut Delisa lagi dengan nada jengkel.
"Berarti dia benar Adira kan?." tanya Kelvin yang tidak salah orang.
"Iya.. memang kamu siapa?." tanya Delisa.
"Saya mantan kekasih Adira nona?." jawab Kelvin.
Adira tidak mau Delisa semakin mengenal mantan kekasihnya tersebut. Adira pun langsung menarik tangan Delisa untuk pergi keluar dari rumah sakit. Dengan langkah cepat Adira menjauh dari Kelvin.
"Adira tunggu, aku belum selesai bicara." Kelvin yang sudah menarik tangan Adira.
"Lepaskan! kita tidak saling kenal!." ucap Adira ketus lalu kembali berjalan untuk keluar dari rumah sakit.
Delisa pun semakin bingung dengan situasi ini. Ia terus berjalan dengan tangan di tarik oleh Adira. "Eh lepasin tangan gue, enak aja lo tarik-tarik tangan gue, lo kira gak sakit." ucap Delisa, lalu Adira pun langsung melepaskan tangan Delisa.
__ADS_1
"Maaf mbak." ucap Adira.
Saat akan masuk ke dalam mobil Delisa lagi-lagi berfikir, berkutik dengan fikirannya sendiri. "Laki-laki itu tadi bilang jika Adira mantan kekasihnya, jika memang mantan kekasihnya bakal seru nih, sepertinya laki-laki itu juga sangat merindukan Adira, bahkan tidak mau melepas tubuh Adira, sepertinya tu laki-laki bisa buat senjata gue untuk memisahkan mas Ardi dan juga Adira." ucap Delisa di dalam hati sedikit melirik pada Adira yang berjalan di sampingnya.